SEKALIPUN BANGUNAN INI ROBOH, AKU TAK AKAN GOYAH

Perjalanan menuju Stasi Lukuwingir ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam 10 menit, untuk merayakan Ekaristi Prapaskah I. Sesaat tiba di lokasi, air mata menetes menyaksikan pemandangan kondisi bangunan yang sudah tua dan rusak karena dihantam badai angin dan derasnya hujan. Dinding-dinding berjatuhan dan atap-atap beterbangan. Dalam suasana hati tak menentu, kuberdoa dalam hati, “Tuhan teguhkan hati umat-Mu. Berikanlah jalan terbaik bagi kami”.

Kemudian kami merayakan Ekaristi bersama umat sekalipun suara atap seng terus diterpa badai angin yang memecah kebisuan di tengah padang sabana itu. Saya harus mengeluarkan suara yang keras, bahkan beberapa kali saya harus berteriak untuk memastikan suara saya dapat didengar umat dan mengalahkan suara yang menganggu. Untuk mengurangi energi dan kebersamaan saya memutuskan membawakan renungan dengan turun dari mimbar dan berdiri di tengah-tengah umat. Sekalipun demikian, akhirnya saya pun harus meneguk air untuk membasahi kerongkongan yg kedengaran mulai mengeluarkan suara serak. Selama perayaan Ekaristi berlangsung saya terus berujar dalam hati, semoga dinding-dinding yang masih ada dan terus bergetar dihantam angin tidak roboh disaat kami sedang berdoa. Terima kasih Tuhan, akhirnya kami boleh merayakan Ekaristi hingga selesai.

Bacaan Injil pada perayaan Prapaskah I ini mengisahkan tentang Yesus berada di Padang Gurun selama 40 hari dan dicobai iblis. Walau cobaan-cobaan silih berganti menghampiri Yesus namun Ia tidak pernah tergoda dan jatuh. Ia terus berjuang mengatasi cobaan-cobaan itu dan akhirnya ia berhasil.


Peristiwa menarik dan mengharukan yang saya alami hari ini adalah sebuah cobaan bagi saya dan umat Stasi Lukuwingir sendiri. Namun perlu diingat bahwa Iman seorang Katolik bukan terletak dari megah dan indahnya sebuah bangunan. Iman seorang Katolik terletak pada diri sendiri yang mau dan mampu menghadapi cobaan-cobaan dunia. Bangunan yang roboh atau rusak bisa kita cari jalan keluar untuk memperbaikinya.

Banyak umat yang selalu bermurah hati bersedia untuk berbagi kasih bagi yang membutuhkan apalagi di masa Prapaskah ini, sebagai laku tobat mereka. Tapi jika iman kita goyah hanya karena bangunan gereja rusak, akan lebih sulit untuk membangunkannya kembali. Sekalipun bangunan gereja roboh, janganlah iman kita ikut goyah.


Maka saudara/i ku, jangan pernah menjadikan megah dan indahnya bangunan gereja sebagai ukuran kekuatan imanmu. Tapi ukurlah imanmu dengan apakah mampu menghadapi cobaan kehidupan atau tidak. Karena Tuhan tidak pernah memberikan cobaan melampaui kemampuan manusia. Toh dengan cobaan-cobaan, iman kita semakin lebih kokoh dan dewasa.

Sembari kita berdoa memohon rahmat kekuatan bagi diri kita sendiri, marilah kita juga berdoa kepada Tuhan memohon rahmat kekuatan dan ketabahan bagi semua umat Katolik di tempat-tempat yg sulit semoga mereka pun diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi setiap cobaan hidup.

Salam sehat dalam Kristus Sang Penebus