Sejak awal tahun 2020 dunia dikagetkan dengan kemunculan virus yang penyebarannya mendunia, diawali dari kota Wuhan, China. Kekuatiran, kepanikan, ketakutan menjadi reaksi umum apalagi dengan korban berjatuhan. Bukan hanya korban jiwa tetapi juga efek lain di bidang sosial dan ekonomi yang terancam krisis. Segala tatanan kehidupan seakan dijungkirbalikkan. Berbagai tindakan seperti lockdown, karantina wilayah, penerapan protokol kesehatan dilakukan untuk membendung penyebaran. Setelah setahun dunia dilanda pandemi covid, kabar baik datang dengan ditemukannya vaksin. Dunia termasuk Indonesia memasuki tahapan baru dalam usaha mengatasi pandemi ini dengan program vaksinasi.

Pencanangan Program Vaksinasi

Pada 1 Februari 2021 saya mengikuti pencanangan program Vaksinasi tingkat Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) di RSUD Reda Bolo, Sumba Barat Daya, NTT. Pencanangan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati SBD, Bapak Kristian Taka. Dalam sambutannya, ia memberikan peneguhan bahwa “vaksin diciptakan untuk melindungi hidup kita, bukan untuk membunuh. Semoga dengan dimulainya program vaksinasi, pandemi covid-19 segera teratasi sehingga kita bisa menjalani aktivitas secara normal. Karena itu jangan takut divaksin. Penegasan ini penting karena ada pro-kontra tentang vaksin yang disebabkan oleh banyaknya berita hoax yang menyebarkan kekuatiran dan ketakutan. Mestinya kita sambut dengan penuh syukur program vaksinasi ini sebagai langkah penting untuk mengendalikan dan mengatasi pandemi covid 19.

Pater Agus MB., CSsR Bersama Wakil Bupati Sumba Barat Daya

Dalam acara ini sekaligus dilaksanakan vaksinasi perdana untuk perwakilan 10 tokoh masyarakat yaitu Pemda, DPRD, TNI-Polri, Tokoh-tokoh agama. Vaksinasi terhadap 10 tokoh ini dimaksudkan untuk memberi contoh/teladan bagi masyarakat supaya tidak takut vaksin. Dari pihak Gereja Katolik Keuskupan Weetebula, saya mewakili Bapa Uskup untuk mengikuti vaksinasi mengingat Bapa uskup sudah berusia 70 tahun.  Pada awalnya program vaksinasi (dengan vaksin sinovac) ini memang ditujukan bagi mereka yang berusia 18-59 tahun. Vaksinasi tahap dua juga sudah kami laksanakan pada 15 Februari 2021.

Reaksi Tubuh Setelah Disuntik Vaksin

Setelah penyuntikan vaksin tahap pertama, reaksi tubuh seperti biasa. Bahkan suntikan jarum pun hampir tidak terasa. Sekitar 30 menit setelahnya saya merasa ngantuk. Beberapa kali menguap sambil menyetir mobil kembali ke keuskupan. Reaksi hari pertama praktis hanya mengantuk. Pada hari kedua sampai keempat badan terasa demam dan rasa nyeri pada kedua telapak kaki. Saya mencari informasi media mainstream di internet bahwa reaksi tubuh seperti ini normal karena tubuh merespon “benda asing” (baca: vaksin) yang masuk. Maka saya memutuskan untuk tidak konsultasi ke rumah sakit. Saya hanya minum obat dan vitamin serta istirahat yang cukup. Pada hari keenam tubuh berangsur pulih dan kembali normal.

Penerimaan Vaksin Tahap Pertama

Setelah vaksin tahap kedua pada tanggal 15 Februari 2021, tak ada reaksi tubuh sama sekali. Semuanya berlangsung normal. Rupanya tubuh sudah beradaptasi dengan vaksin yang dilakukan pada tahap pertama.

Ayo Solider – Jangan takut

“Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga” (GS. art. 1). Kutipan dokumen gereja di atas menegaskan sikap gereja terhadap situasi yang melanda dunia saat ini. Itulah mengapa gereja terus mendukung dan bersama pemerintah bekerjsama mengatasi pandemi. Gereja tak hidup di ruang hampa. Gereja hidup dalam dunia. Karena itu gereja bekerjasama dengan semua pihak yang berkehendak baik untuk membuat dunia ini menjadi rumah bersama yang layak dihuni. Kerjasama itu dijiwai oleh rasa solidaritas. Ikut program vaksinasi adalah wujud nyata solidaritas itu. Jangan takut!

Seorang ibu anggota salah satu group Whatsapp berencana mendaftarkan diri ikut program vaksinasi tetapi masih memiliki keraguan dan takut atas keamanan vaksin. Beliau meminta kesaksian sekaligus peneguhan karena saya sudah mengikuti program vaksinasi. Saya mengatakan kepadanya “Tidak usah takut. Vaksin aman. Saya lebih takut terpapar corona daripada takut divaksin”. Masih banyak orang memiliki perasaan ragu dan takut seperti ini.

Dari pengalaman mengikuti program vaksinasi, saya mau mengatakan kepada kita semua untuk tidak takut vaksin. Vaksin itu aman. Beberapa survei yang dilakukan oleh lembaga CSIS, Indikator menunjukkan bahwa cukup banyak warga tidak percaya dan tidak mau ikut program vaksinasi terutama dari generasi milenial. Tentu hal ini sangat memprihatinkan mengingat kita semua sudah lelah dengan pandemi covid 19 yang tak kunjung teratasi.

Saya mengingat kata-kata Paus Fransiskus daLam konteks pandemi covid 19, “Kata kunci untuk melewati masa sulit ini adalah SOLIDARITAS”. Kita sudah berusaha solider dengan sesama sepanjang masa pandemi ini untuk merawat kehidupan melalui perilaku disiplin menerapkan protokol kesehatan, berbagi alat pelindung diri (APD), menyalurkan sembako dan lain-lain. Tentu hal ini baik, tetapi tidaklah cukup. Puncak solidaritas kita justru ditantang ketika memasuki tahap vaksinasi. Tahap vaksinasi memberi perlindungan bagi diri kita sendiri dan pada saat yang sama melindungi keluarga dan sanak saudara dari resiko terpapar covid yang bisa merenggut nyawa. Sudah layak dan sepantasnya kita bersyukur kepada Tuhan yang menganugerahkan kemampuan kepada pemerintah, lembaga-lembaga penelitian dan lembaga-lembaga kesehatan untuk segera menemukan vaksin yang baik untuk mengatasi pandemi ini.  

Penerimaan Vaksin Tahap Kedua

Himbauan Bapa Uskup, Mgr. Edmund Woga, CSsR

Uskup Keuskupan Weetebula, Mgr. Edmund Woga, CSsR langsung mengeluarkan surat himbauan kepada semua Pastor Paroki di wilayah Keuskupan Weetebula untuk bersama pemerintah mensukseskan program vaksinasi di wilayah tugas masing-masing. “Presiden Jokowi adalah orang indonesia pertama yang menerima suntikan vaksin ini. Dengan cara ini bapak Presiden sebagai orang nomor satu di negara kita mau menunjukkan bahwa suntikan vaksin adalah mutlak perlu dan sangat penting. Bapak Presiden juga menunjukkan bahwa tidak ada bahaya jika disuntik vaksin ini” demikian tertulis dalam surat himbauan.

Bapa Uskup mengajak semua imam dan umat katolik sekeuskupan Weetebula berpartisipasi dalam program vaksinasi. “Ini adalah salah satu cara kita menjalankan perintah untuk saling mengasihi dengan saling menjaga kesehatan kita karena kita percaya bahwa hidup kita ini berasal dari Allah yang Mahakasih” tegas Bapa Uskup.

Kontributor: P. Agust MB., CSsR