Setetes Embun oleh: Ptr. Kimy Ndelo, CSsR

Film “The Passion of Christ” (2004) karya Mel Gibson adalah sebuah karya monumental yang terus diingat dan ditonton sampai saat ini. Selain kisah tentang pemeran utama sebagai Yesus, Jim Caviezel, yang penuh inspirasi, ada kisah lain tentang Veronica yang juga tak kalah mengesankan.

Pemeran Veronica, wanita yang mengusapi wajah Yesus, adalah seorang aktris Italia bernama Sabrina Impacciatore. Walau lahir dan bertumbuh dalam suasana Katolik, dia telah lama tidak mempraktekkan imannya. Pada saat film ini dibuat dia berada pada titik iman paling rendah. Dia ingin percaya tapi dia tidak bisa.

Ketika tiba  shooting adegan Yesus jatuh ketiga kalinya dia harus berakting memandang wajah Yesus dan mengusapinya. Di tengah desakan kerumunan orang yang berteriak menghujat Yesus dan memukulinya, dia terus gagal memerankan bagiannya dengan baik. Veronica selalu bingung dan gagal fokus pada moment dia harus menunjukkan rasa belaskasih dan cinta kepada Yesus. Shooting diulang sampai dua puluh kali.

Setelah pengambilan gambar yang keduapuluh kali, dia berhasil berlutut di depan Kristus yang menderita, memandang matanya dan memanggil dia “Tuhan”. Dia merasa ada sesuatu yang berkecamuk dalam dirinya, begitu kesaksiannya belakangan. Ketika menatap langsung ke wajah Yesus, dia bisa percaya.

“Untuk sesaat” katanya “saya sungguh percaya”. Dia tidak lagi melihat seorang aktor yang berperan sebagai Yesus tapi dia melihat wajah Yesus yang sesungguhnya. Pada moment itu sepertinya bukan dia yang mengusapi wajah Yesus tetapi Yesus yang mengusapi wajahnya sehingga mata imannya yang tertutup selama ini menjadi terbuka. Pengalaman itu bagaikan cahaya yang menerangi kegelapan hatinya.

Sabrina pada akhirnya memahami arti kata-kata Yesus di atas salib: “Ampunilah mereka ya Bapa, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23,34).

Dalam kata-kata itu ada sebuah pesan mendalam. Walaupun kita menolak Dia, menghina bahkan memukul Dia, Dia tetap mencintai kita. Bahkan ketika mata kita tertutup dan tidak mau melihatnya, Dia membuka mata kita untuk mengatakan “Aku mengasihimu”.

Pengalaman merenungkan dan merayakan sengsara, penyaliban dan kematian Yesus adalah sebuah pengalaman paradoks. Sebuah pengalaman yang sulit diterima akal sehat. Bahkan tak jarang iman kristiani akan Yesus Kristus dianggap sebagai sebuah kebodohan.

Betapa tidak. Ketika Dia dikelilingi orang-orang yang penuh kemarahan dan kebencian, yang ada dalam diri-Nya justru belaskasihan dan cinta. Ketika tubuh-Nya dijadikan lelucon dan permainan kejam, Dia justru memaafkan mereka. Ketika ada sekelompok wanita menangisi Dia, Yesus justru prihatin dengan mereka dan meminta mereka menangisi diri mereka dan anak-anak mereka.

Paulus melukiskan dengan kata-kata yang sangat tepat. “Kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan, dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan (1 Kor 1,23).

Wajah Kristus pada pengalaman Jumat Agung adalah wajah yang paradoks. Akan tetap justru wajah inilah yang menyelamatkan dan menghidupkan.

Veronica bukan sekedar nama. “Vero” artinya “benar” dan “icon” artinya “wajah atau image”. Veronica berarti wajah yang sesungguhnya, yang benar dan nyata. Di depan Veronica dalam peristiwa salib ada wajah yang sesungguhnya dan kita diharapkan memandang wajah itu dalam iman sekaligus memiliki wajah Yesus.

Bukan sekedar wajah yang tergambar pada selembar kain tapi wajah yang terlukis pada wajah kita sendiri.

Sudahkah kita melihat dan memiliki “wajah Kristus?”