Hari Minggu Paskah IV didedikasikan oleh Gereja Katolik untuk berdoa bagi panggilan di seluruh dunia. Oleh karena itu, Hari Minggu Paskah IV lebih sering disebut Hari Minggu Panggilan atau Hari Minggu Gembala Baik. Pada tahun ini tradisi tersebut sudah menginjak usia ke 58.

Dalam rangaka memeriakan hari yang istimewa ini, komunitas Skolastikat Wisma Sang Penebus mengadakan acara bincang-bincang secara virtual (daring via zoom meeting dan juga live di channel youtube Wisma Sang Penebus Redemptoris Official) dengan topik: Panggilan, Spiritualitas dan Karya Redemptoris Indonesia. Tiga Redemptoris yang berdomisili di Wisma Sang Penebus berusaha menyusun jalannya acara ini. Pembicara satu ialah Romo Antonius Rato Zada, CSsR (Rm. Toni) yang kini bertugas sebagai sosius para frater studentat Redemptoris dan ketua Sekretariat Panggilan Redemptoris. Pembicara dua ialah Frater Gabriel Tay Hunga Meha, CSsR (Fr. Gabriel) yang sedang menjalani studi program imamat. Moderator dalam acara bincang-bincang ini ialah Frater George Jung Tena, CSsR (Fr. George) yang sedang menjalani masa studentat pada tingkat II. Sesuai perencanaan, acara ini berjalan lancar dari pukul 09.30 WIB sampai pukul 11.30 WIB. 

Pembicara pertama, Romo Toni, membagikan refleksinya mengenai panggilan. Dalam refleksinya, Romo mengatakan bahwa panggilan ialah sebuah tindakan untuk mengikuti Yesus yang adalah Gembala Baik dengan sikap yang rela, siap sedia, dan setia. Sebagai model hidup yang baik dalam panggilan Tuhan, Romo Toni membagikan sejarah singkat dari Santo Alfonsus, seorang pendiri Konggregasi Redemptoris yang memiliki pengabdian yang sungguh kepada orang-orang miskin dan terpinggirkan. Semangat serta prinsip-prinsip pengembalaan Santo Alfonsus patut menjadi teladan bagi para imam, biarawan-biarawati saat ini.

Guna memperkaya isi dari topik bincang-bincang panggilan, pembicara kedua, Frater Gebi, membagikan pula pengalamannya sebagai calon imam Redemptoris. Frater Gebi terlebih dahulu menjelaskan mengenai tahap-tahap formasi bagi seseorang yang hendak menjawab panggilannya di dalam Konggregasi Redemptoris. Pendidikan menjadi prinsip utama dalam proses formasi seorang Redemptoris yang berlangsung hingga akhir perjalanan hidupnya. Tujuan pendidikan Redemtoris seturut Konstitusi Konggregasi Redemptoris ialah mengantarkan para calon imam dan para anggota kepada kematangan intelektual dan integritas diri demi pelayanan Gereja yang lebih baik (bdk. Kons. 78). Dengan hidup yang semakin bermutu, para Redemptoris diharapkan mampu mencapai keutamaan-keutamaan pelayanan sebagaimana yang dikatakan di dalam Konstitusi nya, “Teguh dalam iman, gembira dalam pengharapan, berapi-api karena cinta kasih, berkobar-kobar karena gairah kerja, rendah hati dalam perasaan serta tekun di dalam doa…”.

Sharing panggilan via daring ini juga diisi dengan selingan lagu-lagu ciptaan para Romo dan Frater Redemptoris. Ada empat buah lagu yang diputar, yakni : Pertama, Lagu Capiosa Apud Eum Redemptio yang diciptaan dan dinyanyikan oleh Pater Samson Kono, CSsR. Kedua, Lagu Panggilanku ciptaan Pater Ivan, CSsR yang dinyanyikan oleh Obet dan Ari (seminaris KPA Ivan Ziatyk). Ketiga, Lagu We See, Speak, Start Together, sebuah lagu yang didedikasikan untuk kegiatan temu muda-mudi Redemptoris tahun 2019 (ciptaan Fr. Handri, CSsR & Fr. Iman Boeloe, CSsR). Keempat, Lagu Bila Badai Menerpa, ciptaan Pater Samson Kono, CSsR yang dinyanyikan oleh Pater Sixtus Atawolo, CSsR.

Sharing panggilan juga diwarnai dengan dinamika tanya jawab dari peserta dan pemateri. Saudara Andre bertanya mengenai karya-karya Redemptoris di Indonesia. Pertanyaannya dijawab oleh Frater Gebi dengan penjelasan yang memadai. Kemudian, Frater Ancis, CSsR meminta penjelasan pemateri, secara khusus dari Pater Toni, mengenai kaul ketekunan di dalam Redemptoris. Kaul ketekunan ialah kekhasan Redemptoris yang diinisiasi sendiri oleh pendiri konggregasi, Santo Alfonsus. Kata Pater Toni, ketekunan harus menjadi janji yang dihayati oleh seorang Redemptoris selama hidupnya. Ketekunan itulah yang menyertai penghayatan ketiga kaul kebiaraan dan jiwa sebagai seorang Redemptoris.

Acara bincang-bincang ini diharapkan bisa menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Konggregasi Redemptoris kepada banyak orang. Bukan hanya Redemptoris sebagai sebuah intitusi, tetapi Redemptoris sebagai semangat dan spirit yang bisa menyapa semakin banyak insan. Dengan kata lain, Konggregasi Redemptoris, melalui para anggotanya, mampu menjadi cahaya bagi semua orang untuk menjalani panggilan hidupnya. Konggregasi Redemptoris serta merta menawarkan diri sebagai sarana bagi kaum muda untuk menanggapi panggilan Tuhan dengan hidup sebagai biarawan. Mari, datang dan lihatlah, kemudian tinggallah bersama Tuhan, kata Romo Toni. Semoga figur dan spirit Gembala yang Baik menjiwai kita.

Kontributor: Fr. Flavianus Raymundus Bere Jawa, CSsR

Berikut Videonya: