Gerardus Mayela adalah salah satu orang kudus Redemptoris yang menempu jalan panjang dan berliku untuk menjadi santo. Menariknya, langkah pertama dari perjalanan panjang dan berliku itu Gerardus buat dengan cara lompat lewat jendela. Kisah menarik ini terjadi di awal bulan Mei tahun 1749.

Muro Lucano, sebuah kota kecil di bagian utara Italia baru saja memasuki musim semi. Hari- hari sulit musim dingin baru saja berlalu. Sebagaimana biasanya, kota kecil itu pun menyambut musim semi dengan berbagai macam kegiatan yang semakin meramaikan suasana kotanya. Tidak hanya kegiatan sosial ekonomi tetapi juga kegiatan rohani yang diselenggarakan oleh gereja. Salah satu dari kegiatan rohani yang mewarnai musim semi Muro Lucano pada saat itu adalah kegiatan Misi Umat yang diselenggarakan oleh para pater Redemptoris dari Biara Redemptoris Deliceto yang jaraknya kira-kira 100km dari Muro Lucano.

Gerardus waktu itu berumur 23 tahun. Sejak Misi Umat dibuka tanggal 13 April 1749 di tanah kelahirannya itu Gerardus selalu ambil bagian di dalam setiap kegiatan yang ditawarkan para misionaris umat Redemptoris. Entah itu di perayaan ekaristi atau pun katekese Gerardus selalu berada di barisan bangku paling depan. Gerardus sangat tertarik pada gaya berkhotbah yang berapi-api juga kedekatan para misionaris Redemptoris dengan umat Allah. Alhasil, kerinduan Gerardus untuk bergabung dengan salah satu tarekat religius yang pernah hampir padam gara-gara penolakan dari biara Capuchin karena alasan kesehatannya bersemi kembali.

Memang sudah sejak kecil Gerardus punya niat untuk dekat dan melayani Tuhan dengan cara khusus. Disela-sela kesibukannya bermain dengan teman-teman sebayanya, Gerardus kecil selalu mencuri waktu berlari masuk ke dalam gereja dan menghabiskan waktu sejenak berdiri di depan tabernakel.Ketika teman-teman sepermainannya bertanya tentang apa yang sedang dia buat, Gerardus sambil tersenyum menjawab: “saya mengunjungi sahabat saya yang terpenjara (Yesus dalam tabernakel, red)”.

Gerardus selalu punya kerinduan untuk menyambut tubuh Tuhan dalam ekaristi bahkan sebelum dia mencapai umur yang ditentukan untuk boleh menerima komunio pertama. Pernah dia menyelinap di antara barisan orang-orang yang menerima komunio dengan harapan pastor yang memimpin ekaristi mengijinkan dia menerima komunio. Sayangnya harapannya ini tidak terpenuhi. Malam harinya ketika Gerardus tidur, dia bermimpi didatangi Malaikat Agung Mikhael yang memberikan komunio suci kepadanya. Pagi harinya Gerardus pergi ke pastor pemimpin ekaristi yang menolak memberi komunio suci kepadanya dan berkata kepada pastor itu: “Kemarin karena Pater tidak mau memberi saya komunio maka tadi malam malaikat Agung Mikhael yang datang sendiri mengantar Yesus kepada saya.”

Kerinduan Gerardus untuk melayani Tuhan secara khusus dengan bergabung ke salah satu tarekat religius tampak dari usahanya melamar masuk biara Capuchin. Berkali-kali dia mengutarakan hasratnya ini kepada pemimpin biara Capuchin, berkali-kali pula dia dikecewakan karena keinginannya ini ditolak lantaran kondisi fisiknya. Gerardus muda memang selalu mengalami masalah kesehatan yang membuat tubuhnya kelihatan lebih kerdil dari teman-teman sebayanya.

Penolakan dari Capuchin memang membuat Gerardus kecewa tetapi tidak membuatnya patah semangat. Dia selalu berdoa agar Allah memberinya jalan sehingga mimpi mulianya itu bisa jadi kenyataan. Ketika mendengar kabar bahwa para Redemptoris akan melaksanakan kegiatan misi umat di kota kelahirannya, terlebih ketika dia sendiri mengalami kharisma khusus para anggota kongregasi baru yang baru didirikan 6 tahun setelah kelahirannya, Gerardus muda yakin bahwa Allah sudah mulai mengabulkan apa yang sering dia minta di dalam doa-doanya.

Sayangnya P. Paolo, pemimpin Misi Umat saat itu memberikan jawaban yang tidak berbeda dengan jawaban pemimpin biara Capuchin. Menurut P. Paolo, kondisi kesehatan Gerardus justru akan menambah masalah baru di dalam Kongregasi Redemptoris. Ketika berkonsultasi dengan para pater anggota Misi Umat yang lain, P. Paolo menyampaikan bahwa kalau diterima Gerardus hanya akan menambah jumlah “mulut” yang harus diberi makan oleh Kongregasi. Gerardus berkali-kali mencoba meyakinkan P. Paolo bahwa dia akan bisa melaksanakan semua tanggung jawab yang diberikan biara kepadanya dan dia akan menjadi seorang Redemptoris yang baik. Sayangnya P. Paolo tetap pada pendiriannya.

Benedicta Galela, ibu dari Gerardusmengamati usaha Gerardus mendekati P. Paolo, dia juga tahu bahwa P. Paolo keberatan mengabulkan keinginan hati Gerardus. Sebagai ibu yang melahirkan Gerardus dia tahu baik kerasnya watak anak laki-lakinya itu. Dia tidak ingin Gerardus menghadiri acara perpisahan umat Muro Lucano dengan Misionaris Redemptoris di hari terakhir Misi Umat karena dia kuatir kalau-kalau Gerardus memaksakan diri untuk ikut para misionaris itu ke Deliceto. Maka sebelum dia sendiri pergi menghadiri acara perpisahan itu, dia mengunci Gerardus di dalam kamar. Setelah acara selesai dia cepat- cepat kembali ke rumah dan ternyata di dapati jendela dari kamar tempat Gerardus terkunci telah terbuka dan Gerardus sudah tidak ada lagi di dalam kamar itu. Di atas tempat tidur di dalam kamar itu dia melihat sebuah kerta dengan tulisan tangan anaknya yang berbunyi: “Ibu, saya pergi untuk menjadi Santo.”

Gerardus kabur dari rumahmya dengan melompat lewat jendela dan pergi mengikuti para misionaris Redemptoris yang pulang ke Deliceto. Tindakan nekat ini membuahkan hasil. P. Paolo memutuskan untuk menerima Gerardus dengan harapan Gerardus akan dengan sendirinya menyerah setelah  mengalami sendiri kerasnya hidup membiara. P. Paulo tidak tahu kalau tidak ada satu pun yang bisa mengubah niat Gerardus untuk menjadi santo.

P. Paulo lalu mengirim Gerardus ke novisiat dengan sebuah surat yang dibawah oleh Gerardus sendiri. Gerardus sendiri tidak tahu kalau di dalam surat itu ada tulisan tentang dirinya yang berbunyi: “Pater Magister Novis yang terkasih, bersama surat ini saya mengirimkan kepadamu seorang calon bruder yang tidak berguna.”

Tiga tahun setelah itu, pada pesta Sang Penebus Mahakudus, Gerardus mengikarkan kaul pertamanya dan resmi menjadi seorang Bruder Redemptoris.

Sebagai bruder Gerardus sangat terkenal dengan kesalehan hidup rohani dan kerja kerasnya. Pimpinan biaranya dalam satu suratnya mengakui kalau Bruder Gerardus mampu mengerjakan pekerjaan yang seharusnya untuk empat orang laki-laki. Dia juga banyak membantu para gadis yang berniat menjadi suster. Salah satu gadis yang dia bantu bernama Neria Caggiano, dari kota yang sama dengan Gerardus, Muro Lucano. Setelah beberapa bulan tinggal di biara, Neria mulai tidak betah. Dia ingin pulang ke Muro Lucano tapi dia harus cari alasan agar kepulangannya ke Muro Lucano diterima. Neria lalu mengarang cerita tentang buruknya hidup para suster di dalam biara. Orang-orang Muro tidak percaya pada cerita Neria karena mereka tahu biara yang dianjurkan oleh Bruder Gerardus tentulah biara yang baik. Karena jengkel, Neria lalu menulis surat dengan tuduhan palsu ke Alfonsus, pimpinan biara dari Bruder Gerardus. Dia menuduh Bruder Gerardus mempunyai hubungan gelap dengan seorang gadis anak dari keluarga yang sering dikunjungi Gerardus.

Santo Alfonsus lalu memanggil Bruder Gerardus dan membeberkan semua tuduhan di surat yang dikirim Neria. Ternyata Bruder Gerardus tidak mau membuka mulutnya membela diri. Maka dia dihukum untuk tidak melakukan kontak dengan orang luar dan tidak boleh menerima komunio. Hukuman itu sangat berat sebab Bruder Gerardus selalu aktif ketemu orang-orang yang dia layani dan yang paling berat lagi adalah larangan untuk tidak komunio karena bagi dia, komunio kudus adalah wujud kehadiran Kristus yang tak kelihatan sedangkan orang miskin, orang sakit dan terlantar adalah wujud kehadiran Kristus yang kelihatan. Tetapi dia jalani saja hukuman itu dengan senang hati.

Setelah beberapa bulan, Neria jatuh sakit dan hampir mati. Dia berpikir bahwa sakitnya itu adalah akibat kesaksian dusta yang sudah dia lakukan terhadap Bruder Gerardus. Dia lalu menulis surat lain dan mengakui semua carita  dustanya  kepada  Alfonsus.   Bruder Gerardus kemudian dibebaskan dari hukuman.

Salah satu kegiatan kegemaran Bruder Gerardus adalah mengunjungi keluarga- keluarga dan memberikan nasehat dan peghiburan rohani kepada mereka. Pernah dalam   salah satu  kunjungannya,  Bruder Gerardus tanpa sengaja meninggalkan sapu tangannya di rumah yang dia kunjungi. Pemilik rumah  lalu   meminta    seorang  anak perempuannya mengantarkan sapu tangan itu ke Bruder Gerard. Tapi Bruder Gerardus meminta anak itu membawa kembali sapu tangannya yang tertinggal dengan pesan: “Simpan saja sapu tangan ini siapa tahu akan dibutuhkan satu saat nanti.” Bertahun-tahun kemudian, setelah anak ini menikah, dia mengalami kesulitan pada saat melahirkan. Dia lalu teringat akan sapu tangan yang diberikan Bruder Gerardus. Setelah perutnya disapukan dengan sapu tangan dari Bruder Gerardus, dia langsung bisa melahirkan dengan normal. Cerita itu pun menyebar luas dengan cepat dan semakin banyak para ibu hamil dan juga para ibu yang ingin punya anak yang berdoa lewat perantaraan St. Gerardus. Ternyata sebagian besar dari para ibu yang berdoa lewat perantaraan St. Gerardus mengalami bahwa doa mereka dikabulkan. Kisah ini lalu berkembang dan menjadi cikal bakal novena kepada St. Gerardus untuk para ibu yang mau melahirkan juga para ibu yang ingin punya anak.

Karena kesehatannya yang memang sudah buruk sejak dia dilahirkan, Bruder Gerardus tidak lama hidup sebagai seorang Redemptorist. Di tahun 1755 Bruder Gerardus terkena penyakit TBC. Dia lalu dipindahkan ke biara Mater Domini pada tanggal 1 November 1754. Hampir setahun setalah itu, tepatnya pada tanggal 16 Oktober 1755. Dia dikuburkan di Mater Domini. Dia meninggal pada usia yang sangat muda, 29 tahun. Dia hanya mengalami masa hidup sebagai Redemptoris selama 6 tahun. Tapi kesalehan hidup rohani, kerendahan hati, ketekunan bekerja dan cintanya pada orang miskin dan sederhana dikenang sepanjang masa.

P. Mans Wenge CSsR

Pada Pesta St. Gerardus Majella Belfast, 16 Oktober 2021

Kronologi kehidupan St. Gerardus Mayela

6 April 1726           Lahir di Muro Lucano

13 April 1749         Mulai Misi Umat di Muro Lucano

17 Mei 1749           Tiba di Deliceto bersama dengan para Missionaris Umat

16 Juli 1752           Mengikrarkan kaul pertama

Mei 1754 Neria membuat laporan ke Alfonsus dengan tuduhan palsu tentang Br. Gerardus

1 November 1754  Dipindahkan ke Mater Domini

16 Oktober 1755    Meninggal di Mater Domini

29 Januari 1893      Dibeatifikasi oleh Paus Leo XIII

11 Desember 1904 Diberi gelar Santo oleh Paus Pius X