Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

Seorang Kepala Suku Indian (penduduk asli benua Amerika) segera menghadapi ajalnya. Dia lalu memanggilnya ketiga puteranya dan berkata: “Saat kematianku sudah dekat. Sebelum ajal tiba akua harus memilih satu di antara kamu bertiga yang akan menjadi Kepala Suku menggantikan aku. Untuk itu aku mempunyai permintaan. Hendaklah kamu bertiga pergi mendaki gunung suci kita dan bawakan kepadaku hadiah terindah yang bisa kamu temukan disana. Dia yang membawa hadiah yang paling mengesankan aku akan kuangkat menjadi Kepala Suku”.

Pergilah ketiga putera itu mendaki gunung suci yang tinggi dengan susah payah. Mereka memilih arah pendakian yang berbeda. Setelah beberapa hari kembalilah mereka.

Yang pertama datang membawa sekuntum bunga yang sangat indah dan sangat jarang ditemukan. Bunga itu dipetiknya di puncak tertinggi dari gunung. Yang kedua membawa sebongkah batu bernilai yang sangat indah warnanya. Batu ini sudah terpoles oleh hujan dan angin selama ratusan tahun.

Putera ketiga datang dengan tangan kosong. Dia berkata kepada ayahnya: “Maafkan aku, ayah. Aku tak membawa apa-apa yang bisa kutunjukkan kepadamu. Ketika aku berdiri di atas puncak gunung suci, aku melayangkan pandangan ke seluruh penjuru. Pada  sisi sebelah tempat kita tinggal, aku melihat padang hijau yang sangat indah, dan di tengah padang ada danau biru yang airnya selalu melimpah. Aku membayangkan bahwa ke tempat itulah suku kita akan pergi untuk hidup yang lebih baik. Pesona inilah yang membuat aku lupa membawakan sesuatu untukmu.

Ayahnya menjawab: “Puteraku, engkaulah Kepala Suku kita berikutnya karena engkau mempunyai visi masa depan untuk suku kita. Ini jauh lebih bernilai daripada hadiah apa pun buatku”.

Kisah Injil Markus hari minggu ini berbicara tentang masa depan atau Parousia. Masa depan itu disebut kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. Bagi orang Kristen jaman modern,  gambaran semacam ini mungkin terasa asing. Tapi bagi orang Kristen awal dengan latar belakang Yahudi, gambaran ini justru sangat hidup.

Kitab nabi Yoel, Yesaya, Daniel dan kitab Ulangan, dipenuhi dengan nubuat apokaliptik, artinya saat ketika selubung rahasia terbuka. Saat itulah Mesias datang dan mengadili semua orang, memilih mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang masuk neraka dan mana yang masuk surga. Itulah saat semua orang tak punya rahasia apa-apa lagi.

Bagi orang benar, atau yang hidupnya sesuai dengan imannya, tapi menghadapi penganiayaan karena imannya, saat itulah yang ditunggu-tunggu. Di saat mereka menderita, kedatangan Kristus untuk membebaskan mereka dari penderitaan adalah saat yang paling diharapkan.

“Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Mark 13,26). Kata-kata Yesus ini merupakan hiburan sekaligus harapan bagi para murid-Nya.

Dalam situasi normal seperti saat ini, kedatangan Kristus yang kedua, yang disertai tanda-tanda yang menakutkan, seringkali dilihat secara sempit. Bencana alam dan kerusakan-kerusakan yang timbul, sampai kematian yang tiba-tiba menjadi seperti momok yang mengerikan. Kalau boleh itu tidak sampai terjadi.

Apa yang paling penting di balik itu semua justru dilupakan: kebahagiaan dan sukacita abadi bagi mereka yang hidupnya benar di mata Tuhan.

Penderitaan, kesulitan, ancaman di depan mata, seringkali membuat pandangan orang menjadi terbatas. Ketika sekeliling terlihat gelap dan suram, orang hanya fokus pada situasi saat itu.

Sebagai orang Kristen, dengan cara hidup yang benar, pandangan mestinya melampaui semua kesulitan di depan mata. Bahkan bukan hanya kesulitan. Segala macam bentuk kebahagiaan yang dimiliki di dunia ini pun tidak boleh menyempitkan pandangan atau visi hidup.

Jika kesulitan bukan akhir segala-galanya, maka demikian juga kebahagiaan di dunia ini. Baik penderitaan maupun sukacita duniawi, semua hanya sementara. Yang abadi adalah sukacita dan kebahagiaan yang ditawarkan oleh Tuhan pada kedatangannya yang kedua.

Orang selalu mengatakan “tak ada makan siang gratis”. Pun hal ini berlaku untuk hidup kita. Tak ada surga yang gratis. Surga hanya disiapkan untuk mereka yang bekerja keras mewujudkan kehendak Allah di dunia ini.

Yesus sudah meninggalkan jejak. Mereka yang sampai kepada Yesus adalah mereka yang berjalan di atas jejak kaki Yesus.