Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

Suatu hari, seorang pria sedang berjalan melintasi jembatan dan melihat seorang pria lain berdiri di tepi, hendak melompat. Dia segera berlari ke arahnya dan berkata, “Berhenti! Jangan lakukan itu!” “Yah, kenapa tidak?” dia membalas. Pria itu berkata, “Ya, ada begitu banyak alasan untuk hidup!” “Seperti apa”?, tanyanya.

Pria itu balik bertanya: “Begini … apakah Anda beragama atau ateis?” “Beragama.” “Saya juga!”, kata pria itu. “Dan apakah Anda Kristen atau Yahudi?”, lanjutnya.  “Kristen.” “Sama, Saya juga!

“Apakah Anda Katolik atau Protestan?” “Protestan.” “Saya juga! “Apakah Anda Gereja Episkopal atau Baptis?” “Gereja Baptis.” “Wow! Saya juga! Apakah Anda Gereja Baptis Allah atau Gereja Baptis Tuhan?” “Gereja Baptis Tuhan.” “Saya juga!, kata pria itu makin bersemangat.

“Apakah Anda Gereja Baptis Tuhan Asli, atau apakah Anda Gereja Baptis Tuhan Reformasi?” “Gereja Baptist Tuhan Reformasi.” “Wow sama lagi!”

Apakah Anda Gereja Baptis Tuhan Reformasi tahun 1879, atau Gereja Baptis Tuhan Reformasi Tahun 1915?” Gereja Baptis Tuhan Reformasi Tahun 1915″. 

“Matilah kau, dasar sesat!”, teriaknya sambil mendorong dia dari jembatan.

Kisah ini mungkin hanya sebuah imajinasi dan bisa saja tak pernah terjadi. Tapi kisah ini bisa menyadarkan kita bahwa PERBEDAAN bisa menjadi sumber bencana atau malapetaka jika dipahami secara keliru. Perbedaan itu sebuah kenyataan dan tak akan pernah hilang dari muka bumi ini.

Itulah sebabnya, harapan dan doa terakhir Yesus bagi para murid-Nya adalah UNTUK KESATUAN. Jika diperhatikan baik-baik, doa Yesus untuk kesatuan dalam Injil hari ini mempunyai tingkatan atau gradasi.

“Supaya mereka semua menjadi satu” (Yoh 17,21). Kemudian dilanjutkan: “…supaya mereka menjadi SATU sama seperti Kita adalah SATU” (Yoh 17,22). Terakhir Yesus berkata; “Supaya mereka sempurna menjadi SATU”.

Kesatuan yang dimaksud Yesus bukan sekedar satu Gereja atau satu Agama. Ini tentang kesatuan umat manusia, karena Yesus berpesan juga: “jadikanlah semua bangsa murid-Ku”. (Mat 28,19). Ketika Dia berdoa, bayangan-Nya di masa depan adalah bahwa semua umat manusia sudah menjadi murid-Nya.

Kesatuan ini pertama-tama kesatuan dalam KASIH. Mengapa? Karena kasih itulah yang melandasi kesatuan Yesus dengan Allah Bapa. Satu dalam kasih membawa mereka pada kesatuan dalam tujuan, yakni keselamatan umat manusia.

Bagaimana mewujudkan kesatuan dalam kasih? Kesatuan antar manusia atau para murid Yesus, hanya bisa terjadi jika terlebih dahulu ada kesatuan dengan Yesus Kristus dan Allah Bapa. Mudah bagi orang menghidupi kasih jika dia mempunyai relasi yang erat dan kuat dengan Yesus Kristus dan Allah Bapa.

Bagaimana dengan perpecahan yang terus ada dalam dunia, bahkan dalam Gereja? Alasannya jelas, karena orang tidak menghidupi kesatuan dengan Allah dalam Roh. Semakin dekat seseorang dengan Allah maka dia akan semakin mampu melihat sesama manusia dengan mata atau cara Allah. Allah menciptakan manusia untuk dikasihi, bukan untuk disakiti atau dihancurkan.

Bagaimana dengan mereka yang membunuh sesama manusia atas nama agama bahkan atas nama Allah? Yakinlah bahwa mereka TIDAK PAHAM ALLAH YANG SEBENARNYA. Allah yang ada dalam kepala dan jiwa mereka adalah ciptaan mereka sendiri, bukan Allah yang sesungguhnya.

Agama pada dasarnya mengajarkan yang baik dan benar tentang Allah tapi dipahami secara salah. Disini agama, bahkan Allah menjadi kambing hitam untuk pembenaran naluri liar, sesat dan sakit.

Hans Küng benar adanya ketika mengatakan; “Kita telah gagal karena kita tidak memberi kesaksian akan kasih sayang Tuhan untuk setiap makhluk”.

Ya, kita memang masih jauh dari berhasil dan perlu perjuangan terus menerus untuk PERSATUAN.