“Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon,” (Mat 6:24). Kutipan ayat ini menggambarkan bahwa kesetiaan itu tidak dapat dibagi-bagi; ia menuntut loyalitas total dari seseorang. Kesetiaan seperti inilah yang dihidupi oleh seorang religius; di mana dia mengikat diri untuk tetap konsekuen dengan pilihannya dalam mengabdikan diri sebagai pelayan Tuhan.

Hari Sabtu (18/06/2022), Komunitas Wisma Sang Penebus merayakan perayaan ekaristi. Perayaan ini dipimpin oleh Rm. Enos Bulu Bali, CSsR sebagai selebran utama bersama Rm. Mateus Mali, CSsR dan Rm. Yohanes U. Rebu Ibiruni, CSsR sebagai konselebran. Dalam perayaan ekaristi ini, Fr. Petrus Rikardus Umbu Doru, CSsR memperbarui kaulnya. Dengan pembaruan ini, Fr. Petrik menunjukkan kesetiaan pada komitmen untuk melayani sesamanya di dalam dan melalui Serikat Sang Penebus Mahakudus.

Rm. Enos dalam khotbahnya mengatakan bahwa kesetiaan seorang religius dalam mengikuti Yesus hendaknya sampai tingkat pengorbanan diri seperti Yesus dahulunya. Selain itu, Rm. Enos juga menegaskan bahwa menjadi religius seseorang dituntut untuk tidak terikat dengan hal-hal duniawi. “Ketika seseorang telah memutuskan untuk mengikuti Yesus maka ia harus menanggalkan seluruh kenyamanannya dan memusatkan perhatiannya kepada Kristus” tegas Rm. Enos.

Dengan kedua sikap itu, seorang religius akan senantiasa konsekuen dengan pilihan, yaitu hidup untuk melayani Kristus. Namun, sebelum sampai pada tahap ini, seorang religius harus mampu mencintai dan menyayangi panggilannya secara serius dan tulus; agar dia menjadi seorang religius yang sungguh-sungguh mampu menghidupi dan menghayati semua predikat yang melekat pada identitasnya sebagai seorang religius.

Kesetiaan mensyaratkan adanya pengorbanan

Salam Sang Penebus

Kontributor: Fr. George Glinca Jung Tena, C.Ss.R