Jumat, Agustus 12, 2022
More
    Beranda blog Halaman 2

    DITINGGAL PERGI – Renungan Minggu Paskah VI

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Joshua, seorang Yahudi muda, jatuh cinta pada Maria, seorang Katolik yang taat. Ketika Joshua melamar Maria, Maria meminta nasihat dari orang tuanya, yang masing-masing menasihatinya secara berbeda. “Ubah dia menjadi Katolik!” perintah ayah Maria, tetapi ibunya berkata, “Kasihilah dia dengan lembut dan Roh Tuhan akan melakukan keajaiban!”

    Ayah Maria tidak mau menyerah dan ikut bekerja keras mengubah Joshua menjadi Katolik. Maria patuh dan akhirnya Joshua pun bertobat.

    Beberapa minggu kemudian Joshua membatalkan pernikahannya secara sepihak. “Ada apa?” tanya ayah Maria dengan rasa kaget. Maria terisak: “Joshua ingin menjadi imam!”.

    “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu” (Yoh 14,27)

    Kutipan di atas adalah bagian dari kata-kata perpisahan Yesus dengan murid-murid-Nya dalam Injil Yohanes. Perpisahan atau lebih tepatnya ditinggal pergi oleh orang yang dicintai itu menyakitkan. Tak seorangpun luput dari pengalaman ini. Tak ada bedanya apakah itu terjadi pada masa kuno atau di jaman modern. Selalu ada kekosongan bahkan luka.

    Kontras dengan kebiasaan, yang menampilkan sisi negative kepergian atau perpisahan, Yesus menampilkan sisi positif pengalaman ini. Kepergian Yesus mendatangkan karunia bagi para muridnya, sekurang-kurangnya tiga karunia.

    Pertama, Ia memberi mereka kasih-Nya, yang memungkinkan mereka menepati firman-Nya.

    Kedua, Dia memberi mereka damai sejahtera-Nya untuk menguatkan mereka melawan ketakutan dalam menghadapi kesulitan. Di sini “perdamain atau syalom” bukan hanya bahwa tidak ada konflik, tetapi juga konsep syalom yang jauh lebih luas, menyangkut kesejahteraan total baik pribadi maupun komunitas.

    Ketiga, Dia memberi mereka Sang Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan mengajari mereka segala sesuatu yang perlu mereka ketahui. Roh Kudus adalah kasih setia Allah yang tersedia bagi para murid, memungkinkan mereka menerima persahabatan dengan Yesus, sambil meniru Dia, Sang Guru.

    Sang Pembela/Advocatus yakni Roh Kudus, akan membawa kedamaian yang akan memadamkan ketakutan mereka akan kegelapan yang terbentang di depan. Dalam bahasa Yohanes, Roh Kudus dikenal dengan buahnya yakni sebagai “kedamaian, kebenaran, terang, kehidupan, dan sukacita”. Dimana hal-hal ini ada, kita boleh yakin bahwa disitu Roh Kudus hadir.

    Janji-janji Yesus ini bukan sekedar hiburan semu melainkan realitas yang memang ada benarnya. Dengan kepergian Yesus para murid akan memiliki hidup yang baru, yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini adalah sebuah fase baru pertumbuhan rohani para murid. Pengalaman ini merupakan medan pengolahan diri yang membuat seseorang bertumbuh secara wajar dan berjuang untuk dewasa.

    Ada saat dalam hidup kita ketika Tuhan sepertinya meninggalkan kita, ketika doa nampaknya sia-sia, ketika beriman seperti kering tak berbuah. Justru pada saat itulah kita bisa menyadari bahwa doa sungguh bernilai tanpa kita merasakan apa-apa. Dalam kenyataannya, doa yang terbaik seringkali terjadi ketika hati kita seperti berubah menjadi batu dan kita tidak merasakan apa-apa. Karena pada saat itulah kita sungguh berdoa dengan iman.
    Doa bukanlah perasaan.

    Doa adalah komitmen, entah dirasakan atau tidak. Doa adalah penyerahan diri kepada Tuhan. Doa berarti mengatakan YA kepada Tuhan walaupun kita seolah-olah tidak merasakan kehadiran-Nya.

    Dari sini kita menyadari bahwa aktivitas rohani kita tidak lahir pertama-tama karena kita memperoleh kepuasan. Kita terlibat karena Yesus meminta kita. Kita terlibat karena Yesus mengajar kita untuk itu. Kita terlibat karena Yesus sendiri juga melakukan hal yang sama.

    Yang terpenting kita percaya bahwa Dia selalu tinggal di dalam diri kita dan bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita pasti ada alasannya. Dan Tuhan tahu alasannya. He knows the reason!

    MENGASIHI ALA KRISTEN – Renungan Minggu Paskah V

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Santo Hironimus bercerita tentang rasul Yohanes bahwa ketika ia menjadi tua, ia biasa dibawa ke tempat jemaat berkumpul (gereja), di mana dia mengulangi kata-kata, “Anak-anakku, kasihilah satu sama lain.” Terus menerus demikian dia berkata.

    Murid-muridnya, yang lelah dengan pengulangan yang terus-menerus, bertanya kepadanya mengapa dia selalu mengatakan ini. “Karena,” jawabnya, “itu adalah perintah Tuhan, dan sekalipun hanya itu yang dipenuhi, itu sudah cukup.” 

    Yohanes tahu bahwa kebenaran terbesar paling mudah dilupakan karena diterima begitu saja. Ini adalah salah satu bencana terbesar di Gereja Kristen dan yang menyebabkan perpecahan di masa mendatang. Sejarah membuktikan nasihatnya benar adanya.

    Pada bagian kedua dari khotbah perpisahan, dalam Injil hari ini, (Yoh 13,33-35) Yesus memberikan perintah baru kepada para pengikut-Nya. Tiga kali Yesus mengulangi perintah untuk saling mengasihi. Dia menjelaskan apa itu (“perintah baru”), bagaimana hal itu diterapkan (“seperti Aku telah mengasihi kamu”), dan akhirnya dicatat bahwa kasih macam ini akan menjadi semaca “trade mark” (merek dagang) murid-muridNya. Ini bukan hanya perintah baru, tetapi juga, Yesus mengajarkan, bahwa kasih ini adalah yang terbesar.

    “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi”. Mereka harus saling mengasihi seperti Dia telah mengasihi mereka. Mereka akan dikenal, bukan dengan simbol-simbol rohani, misalnya ikan atau bahkan salib, tetapi karena cinta timbal balik di antara mereka. Dunia dapat mengidentifikasi murid-murid Yesus yang sejati melalui cinta mereka satu sama lain.

    Perintah Yesus adalah sekaligus baru dan lama. Ini mengulangi ajaran dari Imamat 19,18 untuk mencintai sesama seperti diri sendiri. Yang baru adalah bahwa kasih ini mencirikan kehidupan baru yang diprakarsai oleh Yesus dan merupakan bukti kasih seseorang kepada Allah (1 Yoh. 4:7).

    Perintah baru Yesus menuntut kasih tanpa batas, kondisi, atau prasyarat. Cinta ini membuka mata kita pada fakta-fakta yang mungkin kita abaikan — bahwa orang miskin di dunia adalah bagian dari keluarga kita; bahwa mereka yang hidup dalam keputusasaan dapat diselamatkan oleh Tuhan melalui pemeliharaan kita terhadap mereka; bahwa kedamaian Tuhan dapat datang ke dunia melalui upaya kita saat kita berdoa dan bekerja dengan-Nya. Bahwa segala yang baik dapat dihadirkan Allah ke dunia ini melalui kita.

    Yesus berbicara tentang agápe, kasih yang membutuhkan komitmen dan kepercayaan total. Ini adalah jenis kasih yang dengannya Tuhan mencintai kita, cinta yang seharusnya menjadi model cinta yang kita miliki untuk orang lain. Kasih ini lebih dari sekedar perasaan hangat atau ramah, terhadap orang lain. Kasih itu adalah hadiah cuma-cuma dari diri kita sendiri untuk memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani saudara-saudari kita.

    Seorang tokoh Gereja abad pertama, Tertullianus menyatakan alasan mengapa orang-orang kafir menjunjung tinggi jemat-jemaat Kristen: ”Lihat, betapa orang-orang Kristen ini saling mengasihi!”.

    Kematian dan kebangkitan Yesus berfungsi, bukan hanya sebagai contoh bagaimana mencintai, tetapi sebagai sarana yang benar-benar membebaskan kita dari cinta egois kita; melalui kehadiran-Nya yang tinggal di dalam diri kita. Yesus tidak berdiri di luar dan memberi contoh. Yesus yang bangkit hidup “di dalam diri kita” dan mentransformasi kita murid-muridNya. Kasih jenis baru inilah yang dimanifestasikan oleh murid-murid Yesus yang pertama dulu di Yerusalem dan selanjutnya dalam seluruh sejarah kekristenan.

    Kita sendiri bagaimana? Apakah orang lain masih bisa melihat ciri kekristenan kita dari cara hidup kita atau dari simbol-simbol yang kita gunakan?

    Suatu hari Minggu seorang imam baru saja menyelesaikan upacara pernikahan beberapa pasangan. Di akhir misa, dia membagikan salib kayu kecil kepada setiap pasangan yang sudah menikah. Dia berkata, “Tempatkan salib ini di ruangan dimana Anda paling sering bertengkar atau berkelahi dan Anda akan diingatkan akan perintah baru Yesus, dan Anda akan berhenti berdebat.” Seorang pengantin wanita tiba-tiba angkat tangan dan berkata; “Sebaiknya Anda memberi saya lima salib.”

    GEMBALA YANG BAIK – Renungan Minggu Paskah IV

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Penggunaan istilah “Gembala” mungkin terasa asing bagi dunia modern yang kebanyakan hidup di kota. Gambaran ini lebih mudah dipahami dalam dunia masyarakat tradisional yang masih hidup dalam dua dunia saja; pertanian dan peternakan. Kitab Suci pada umumnya ditulis dengan latar belakang semacam ini. Itulah sebabnya istilah “Gembala” sangat populer dalam dunia Kitab Suci baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

    Dalam Perjanjian Lama, gambaran Gembala sering diterapkan kepada Allah dan juga kepada para pemimpin umat. Kitab Keluaran beberapa kali menggambarkan Yahweh sebagai Gembala. Nabi Yesaya dan Yehezkiel membandingkan pemeliharaan dan perlindungan Yahweh atas umat-Nya dengan seorang gembala. Yehezkiel mewakili Tuhan sebagai Gembala yang penuh kasih yang mencari domba yang hilang dengan rajin.

    Mazmur 23 adalah gambaran terkenal Daud tentang Tuhan sebagai Gembala yang Baik: “Tuhan adalah gembalaku; Aku tidak akan kekurangan”

    Dalam Perjanjian Baru Yesus memperkenalkan dirinya sebagai Gembala yang Baik bagi kawanannya. Yesus membuat beberapa karakter Gembala dalam Injil hari ini.

    Dia tahu domba-dombanya dan domba-dombanya mendengar suaranya. Dia memberikan hidup yang kekal kepada dombanya. Dia melindungi domba-dombanya dengan menempatkan mereka di tangan kasih Bapa-Nya yang Mahakuasa.

    Dia pergi mencari domba-domba yang tersesat dan menyembuhkan yang sakit. Dia bahkan mati bagi domba-domba-Nya untuk membebaskannya dari dosa-dosa serta memberinya hidup baru.

    Ada sebuah kisah. Konon, pada malam sesudah mengumumkan diadakannya Konsili Vatikan II, Paus Yohanes XXIII tidak bisa tidur. Dia lalu mengingatkan dirinya sendiri dengan berkata: “Angelo, mengapa engkau tidak tidur? Siapakah yang memimpin Gereja; engkau atau Roh Kudus? Tidurlah.” Dengan kata-kata ini lalu dia bisa tertidur nyenyak.

    Benar atau tidaknya kisah ini kurang penting. Tapi mengingat pribadi seorang Angelo Roncalli, nama asli dari Paus Yohanes XXIII, yang terkenal dengan segala kerendahan hati dan kesederhanaannya, bukan mustahil hal semacam ini terjadi.

    Berangkat dari kegemarannya turun melihat realitas umat sampai pada level yang paling rendah, dia merasa Gereja harus berubah total. Sebagai gembala yang baik dia ingin melihat Gereja dalam wajah yang baru: padang gembala yang subur, yang membuat umat menemukan sukacita dan kegembiraan, harapan dan kesegaran.

    Dia ingin mengembalikan hakekat Gereja sebagai tempat perlindungan bagi yang menderita, tempat menimba air sejuk bagi yang kehausan, dan pelarian bagi mereka yang miskin. Dia ingin melihat lagi para pemimpinnya sebagai gembala yang sejati; yang bukan hanya memikirkan kenyamanan dirinya sendiri tetapi mengutamakan domba-domba diatas segalanya.

    Meski ini semua datang dari pikirannya, Paus Yohanes sungguh sadar bahwa Yesus, melalui Roh Kudus adalah yang tetap menggembalakan domba-dombanya yakni Gereja. Yesus menyebut dirinya Gembala yang baik. Dia tak tergantikan atau terlampaui.

    Tetapi Yesus juga berpesan: gembalakanlah domba-dombaku. Ketika mengatakan hal ini, Yesus bahkan belum memikirkan para pastor dalam gereja melainkan gembala dalam arti luas.

    Mereka yang diberi kepercayaan untuk memelihara, menjaga, menuntun, dan melindungi, mengenal dan mencintai bahkan rela mati demi dombanya, termasuk dalam kategori gembala yang baik.

    Kepada merekalah panggilan Allah itu datang dan karenanya panggilan itu berlaku bagi siapa saja seperti dilukiskan dengan indah oleh Paus Fransiskus dalam kotbahnya hari ini, hari minggu panggilan.

    “Michelangelo Buonarroti pernah mengatakan bahwa setiap balok batu berisi patung di dalamnya, dan terserah bagaimana sang pematung untuk mengungkapnya. Jika itu benar bagi seorang seniman, apalagi bagi Tuhan! Dalam diri wanita muda Nazaret, Dia melihat Bunda Allah. Dalam diri Simon si nelayan, Dia melihat Petrus, si batu karang tempat dia akan membangun Gereja-Nya. Dalam diri Lewi pemungut cukai, Dia mengenali rasul dan penginjil Matius, dan pada Saulus, seorang penganiaya yang kejam terhadap orang-orang Kristen, Dia melihat Paulus, rasul orang-orang bukan Yahudi. Tatapan kasih Tuhan selalu menjumpai kita, menyentuh, membebaskan  dan mengubah kita, serta menjadikan kita pribadi baru.”

    Relakanlah diri kita dibentuk oleh Tuhan dan kita bisa menjadi GEMBALA dimana saja kita berada dan berkarya.

    TETAP BERNILAI DI MATA TUHAN – Renungan Minggu Paskah III

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Seorang pembicara terkenal memulai sebuah seminar dengan mengangkat uang $20. Dia bertanya kepada hadirin, “Siapa yang ingin memiliki uang $20 ini?” Tangan-tangan diangkat ke atas. Dia kemudian berkata, “Saya akan memberikan $20 ini kepada salah satu dari Anda, tetapi pertama-tama, izinkan saya melakukan ini.”

    Dia lalu meremas uang dolar itu sehingga kusut tidak keruan. Dia kemudian bertanya lagi, “Siapa yang masih menginginkannya?” Masih ada tangan-tangan yang terangkat di udara. “Baiklah,” dia menambahkan, “Bagaimana jika aku melakukan ini?” Dia menjatuhkan uang itu ke lantai dan mulai menginjak-injak uang itu dengan sepatunya. Dia lalu memungut uang yang sudah kusut dan kotor. “Sekarang siapa yang masih menginginkannya?” Beberapa tangan terangkat terangkat karena nilai uang itu tidak berkurang. Itu masih bernilai $20.

    Petrus adalah murid pertama Yesus, paling senior, termasuk yang paling dekat sekaligus sering dilibatkan dalam peristiwa-peristiwa penting kehidupan Yesus. Dia juga yang paling berani karena mengangkat pedang melawan para penangkap Yesus di taman Getzemani. Akan tetapi dia juga satu-satunya orang yang gagal di momen kritis hidup Yesus. Dia menyangkal Yesus sebagai murid dan pengikut-Nya. Bukan hanya sekali tetapi tiga kali.

    Terlepas dari kegagalannya, yang rupanya lahir dari ketakutan sekaligus kebimbangan, dia tetap mempunyai arti di mata Yesus. Yesus yang bangkit dengan cara pandang berbeda melihat Petrus sebagai pribadi yang masih bisa diandalkan. Tapi untuk itu dia harus diuji.

    Tiga kali Yesus bertanya kepada Petrus di pantai danau Tiberias. “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21, 15.16.17).

    Dua kata “mengasihi” yang pertama Yesus menggunakan bahasa Yunani “agape”. Kata “mengasihi” yang terakhir Yesus menggunakan istilah “philia”. Jawaban Petrus selalu sama, menggunakan kata “philia”.

    Agape adalah istilah kasih yang agung, yang biasa digunakan untuk menunjukkan kasih antara Allah kepada manusia atau sebaliknya. “Karena begitu besar KASIH (agape) akan dunia ini…” (Yoh 3,16).

    Sementara itu “philia” menunjukkan kasih antar sesama sebagai sahabat atau teman. Sederhananya, dalam bahasa Inggris, bisa diungkapkan demikian: “do you care for me?”

    Ketika Yesus menggunakan dua kali kata “agape” jawaban Petrus adalah “philia”. Apa makna di balik ini? Petrus tidak sanggup menjawab dengan “kasih-agape” karena dia baru saja melewati tragedi penyangkalan Yesus. Dia sadar diri bahwa dia tidak sanggup mengatakan “agape”. Dia hanya sampai pada titik “philia”. Ada perasaan tidak layak pada Petrus.

    Baru pada pertanyaan ketiga Yesus turun pada level “philia” Petrus. Yesus menggunakan istilah yang sama dengan Petrus. Dan ini yang justru semakin memukul dan mengguncang hati Petrus. Seolah-olah Yesus berkata: “Baiklah Petrus, walau hanya sebagai sahabat, apakah engkau mengasihi Aku?”.

    Ini artinya Yesus benar-benar tulus untuk tetap merangkul Petrus dan membuka ruang pengampunan untuk dia. Yesus tetap ingin Petrus menjadi gembala atas domba-domba sekalipun pernah melarikan diri. Dalam rasa ketidak-layakan Petrus, Yesus tetap memberinya tanggungjawab besar bagi kelanjutan karya-Nya di dunia ini.

    Sering kali dalam hidup kita, kita merasa hancur dan hancur karena keputusan yang kita buat dan keadaan yang menghadang kita. Kita merasa seolah-olah kita tidak berharga lagi.

    Tidak peduli apa yang telah terjadi pada kita, bagaimanapun, kita tidak pernah kehilangan nilai kita di mata Tuhan. Nilai hidup kita bukan berasal dari apa yang kita lakukan atau siapa diri kita, tetapi dari Dia yang memiliki kita! Kita istimewa – jangan pernah lupakan itu!

    Di mata manusia mungkin kita terasa tak berharga. Namun di mata Tuhan kita selalu berarti dan berharga. Syaratnya satu: biarkan Dia merestorasi kita.

    DIVINE MERCY – Renungan Minggu Paskah II

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Seorang ibu mendatangi Kaisar Napoleon untuk memohon pengampunan untuk putranya yang adalah tentara. Namun, Kaisar mengatakan bahwa karena itu adalah pelanggaran besar kedua dari anaknya itu, keadilan menuntut kematian. “Saya tidak meminta keadilan,” pinta ibu itu, “Saya memohon belas kasihan.”

    “Tapi,” kata Kaisar, “dia tidak pantas mendapatkan belas kasihan.” “Tuan,” teriak sang ibu, “bukanlah belas kasihan jika dia pantas mendapatkannya, dan hanya belas kasihan yang saya minta.”

    Belas kasih dan kejelasan logika ibu itu mendorong Napoleon untuk mengiyakan, “Baiklah, kalau begitu, saya akan berbelas kasih.” —

    Minggu Kedua masa Paskah mengundang kita untuk merenungkan cinta dan belas kasihan Tuhan yang tak terbatas bagi umat-Nya. Pada minggu kedua masa Paskah tahun 2000, tepatnya 30 April, Beata Faustina dari Polandia digelari Santa oleh Paus Yohanes II. Pada Minggu kedua Paskah tahun 2014, tepatnya 27 April, Yohanes Paulus II juga digelari Santo oleh Paus Fransiskus.

    Mengapa Santa Faustina? Santa Faustina dikenal sebagai Rasul Kerahiman Ilahi (Divine Mercy). Santa Faustine pada awalnya adalah seorang suster sederhana dari Polandia, yang selama penderitaannya diminta oleh Yesus untuk mempopulerkan devosi Kerahiman Ilahi.

    Tiga tugas utama yang dipercayakan kepada Santa Faustina adalah: 1) Berdoa bagi jiwa-jiwa. Mempercayakan mereka pada kemurahan hati Allah yang tak terkira. 2) Mewartakan kepada dunia akan belaskasih Allah yang tulus. 3) Mengawali sebuah gerakan baru dalam Gereja dengan fokus pada Kerahiman Ilahi atau kemurahan hati Allah.

    Paus Yohanes Paulus II, pada saat kanonisasi Sr. Faustina berkata, “percaya akan cinta berarti percaya akan belaskasihan”. Ini senada dengan Mazmur antar bacaan hari ini: “Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik. Bahwasannya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mz 118,1).

    Pengampunan adalah wujud nyata dari belaskasih Allah. Itulah sebabnya Yesus meninggalkan warisan pengampunan sebelum kenaikan-Nya ke surga: “Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20,22-23).

    Ungkapan paling jelas dari iman akan kebangkitan Yesus adalah melalui pengampunan kepada sesama. Mengapa? Karena kuasa sekaligus kewaijban ini diberikan oleh Yesus yang bangkit. Ketika kita mengampuni, disitu Yesus yang bangkit hadir melalui kita.

    Oleh Gereja semangat dan sifat Allah ini kemudian diwujudkan dalam Sakramen Baptis dan Sakramen Tobat. Melalui dan saat pembaptisan setiap orang diampuni dari segala dosa masa lalu termasuk dosa asal. Melalui sakramen tobat atau liturgi pengakuan dosa, belaskasih Allah turun atas orang yang menyesal dan mengakui dosanya di hadapan Imam; sebagai perpanjangan tangan Uskup yang adalah pengganti para Rasul.

    Belaskasih yang terwujud dalam pengampunan pada dasarnya tidak mensyaratkan apa-apa, kecuali penyesalan. Kelayakan tidak. Jaminan juga tidak. Pengampunan ibarat air dan pupuk yang diberikan kepada tanaman kering dan diharapkan dengannya menjadi tumbuh subur kembali.

    Pengampunan tidak terbatas pada upacara liturgi. Pengampun dan belaskasih hendaknya menjadi sikap dasar dalam relasi dengan sesama. Ibarat kata, jika untuk keamanan orang bersiap-siap dengan senjata api, maka untuk kedamaian hidup orang bersiap-siap dengan senjata pengampunan. Senjata pengampunan mengandaikan bahwa siapa saja, termasuk diri sendiri, bisa jatuh dalam kesalahan atau dosa.

    Mereka yang tidak mau mengampuni tidak layak mendoakan Doa Bapa Kami: “Ampunilah kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”.

    PHOENIX-KEBANGKITAN – Renungan Minggu Paskah

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsr

    Hesiod, seorang penyair Yunani yang hidup 800 tahun sebelum Kristus menulis sebuah puisi tentang seekor burung ‘phoenix’. Ketika burung itu merasa bahwa saat kematiannya sudah dekat, yang terjadi setiap 500-1461 tahun, burung itu pergi ke pulau Phoenecia lalu membuat sarang di situ dari kayu yang sangat harum baunya. Setelah selesai dia masuk ke sarangnya dan membakar diri dan sarangnya sendiri.

    Tak lama kemudian, dari dalam abu yang tersisa keluarlah seekor burung ‘phoenix’ yang hidup. Itulah sebabnya burung Phoenix sering dipakai sebagai simbol keabadian, kebangkitan, atau hidup sesudah kematian.

    Apa yang terjadi pada burung ‘phoenix’ bisa membantu kita memahami secara simbolis peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus.

    Kematian adalah hal yang biasa bagi setiap makhluk hidup. Tetapi kebangkitan dari mati adalah pengalaman pertama manusia yang diawali oleh Yesus. “Kristus telah dibangkitkab dari antara orang mati sebagai yang sulung dari antara orang-orang yang telah meninggal”. (1 Kor 15,20)

    Kebangkitan Yesus adalah dasar iman kita. Tanpa itu kita sama saja dengan semua orang lain, bahkan semua makhluk hidup lain. Paulus berkata: “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman kita” (1 Kor 15,14).

    Iman bukan sekedar percaya bahwa Yesus dibangkitkan. Iman pun mengandung harapan bahwa kita yang percaya dan mengikuti jalan hidupnya akan mengalami kebangkitan yang sama setelah kematian kita.

    “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yoh 11,25).

    Tetapi hidup dalam kepercayaan dan harapan macam ini mengandung konsekwensi. Kebangkitan Yesus adalah hasil dari sebuah proses yang panjang, melelahkan, menyakitkan, memalukan dan dengan penderitaan yang tak terkira. Kebangkitan adalah buah dari ketaatan kepada kehendak Bapa surgawi. Kebangkitan Yesus bukan peristiwa spontan atau mendadak.

    Karena itu juga bagi kita, mengharapkan kebangkitan tidak cukup dengan ikut merayakan paskah secara meriah dan khusyuk.

    Kebangkitan bagi kita hendaknya menjadi sebuah proses keluar dari diri sendiri, dari segala kelemahan dan dosa, kepada hidup baru yang berorientasi pada keselamatan orang lain juga.

    Saat ini mungkin kita sedang dan masih hidup dalam pengalaman Jumat Agung, tapi ingatlah bahwa Minggu Paskah pasti akan selalu ada selalu ada sebagai harapan kita.

    A man who was completely innocent, offered himself as a sacrifice for the good of others, including his enemies, and became the ransom of the world. It was a perfect act.”

    Seorang pria yang sama sekali tidak bersalah, mempersembahkan dirinya sebagai korban untuk kebaikan orang lain, termasuk musuh-musuhnya, dan menjadi tebusan dunia. Itu adalah tindakan yang sempurna.” ( Mahatma Gandhi)

    PASKAH DUA BABAK: IA TELAH BANGKIT – Renungan Malam Paskah

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Perayaan Paskah diawali dengan Vigili Paskah atau lebih dikenal sebagai Malam Paskah, dan berakhir dengan Hari Raya Minggu Paskah atau Hari Minggu Agung. Hari Raya Minggu Paskah itu sendiri akan berlanjut terus dengan Masa Paskah yang berlangsung selama 7 pekan sampai Hari Minggu Pentakosta.

    Vigili Malam Paskah sesungguhnya adalah Misa Paskah Kebangkitan Tuhan. Ini adalah perayaan utama dan paling mulia dari segala perayaan. Karena itu liturginya pun unik dan paling komplit serta pastinya lama. Disitu ada liturgi cahaya Lilin Pakah, Madah Paskah, liturgi Sabda yang panjang mengisahkan sejarah keselamatan sejak penciptaan sampai kisah kebangkitan Yesus. Selanjutnya ada liturgi Baptis dan berakhir dengan liturgi Ekaristi.

    Simbol utama yang dominan selama Malam Paskah adalah Lilin Paskah sebagai simbol cahaya yang mengusir kegelapan malam. Disini mau ditekankan sikap berjaga-jaga umat dengan cahaya di tangan sambil menantikan Kristus yang bangkit mulia sebagai puncak kemenangan atas kegelapan.

    Kegelapan macam apa yang hendak diusir?

    Prefasi Paskah dengan indahnya melukiskan kegembiraan Paskah:

    “Pada malam ini Yesus Kristus mengalahkan kuasa maut dan bangkit sebagai pemenang yang unggul dari kubur-Nya”.

    “Cahaya suci malam ini mengusir kedurhakaan, membersihkan orang yang berdosa, mengembalikan kesucian kepada yang jatuh, menghibur yang berdukacita”.

    Ini mengingatkan kita akan penciptaan pertama dari Allah, “Jadilah Terang”. Terang ini diciptakan untuk menghalau kegelapan yang merupakan bentuk paling awal dari alam semesta.

    Perjalanan sejarah bangsa Israel diwarnai dengan pilihan-pilihan pada jalan kegelapan. Mereka sering meninggalkan Allah yang adalah sumber terang yang menuntun mereka di jalan yang benar.

    Kematian sebagai akibat dosa selalu disimbolkan dengan kegelapan. Bahkan segala yang jahat atau negatif, juga disimbolkan dengan kegelapan. Tidak heran kalau ada diskriminasi berdasarkan warna kulit. Mereka yang  berkulit gelap kadang dianggap tidak baik atau sumber kejahatan. Mereka yang berkulit putih atau terang sering diagung-agungkan sebagai penghasil kebaikan dan kesucian. Walau faktanya tak selalu demikian.

    Di pintu Makam Kudus atau Holy Sepulcher, di Yerusalem ada tulisan : He is not here-DIA TIDAK DISINI. Ini adalah kutipan dari Injil Lukas malam ini: “Ia tidak ada disini. Ia telah bangkit!” (Luk 24,6).

    Walau demikian, setiap hari sepanjang tahun, selama berabad-abad, tak henti-henti orang-orang datang berziarah dan berdoa di makam kosong itu.

    Apakah orang tertarik melihat makam kosong?

    Bukan karena makam kosong sehingga orang penasaran dan datang. Tetapi karena di balik itu orang tahu bahwa, Dia yang tak ada disitu SUDAH BANGKIT. Dia yang pernah dibaringkan dalam makam itu sudah hidup.

    Tapi hidupnya bukan lagi hidup yang sama dengan kita, terikat oleh dunia. Hidup baruNya tak lagi dibatasi oleh apa pun. HidupNya melampaui ruang dan waktu. Dan hidup itu mulia. YESUS ADALAH TUHAN. DIA TELAH BANGKIT.

    Kehidupannya inilah yang menjadi inspirasi untuk siapa saja dan tertarik menjadi pengikutNya. Kehidupan yang dijanjikan juga kepada para muridNya.

    Sekalipun kita mampu menjelaskan dengan sangat baik tentang kebangkitan Kristus, jika kita tidak mempunyai IMAN akan KEBANGKITAN, maka itu juga hanya sekedar opini. Tidak menghasilkan apa-apa. Kita hanya berteori tanpa dasar dan pasti tanpa hasil.

    Seperti Yesus HIDUP, iman juga harus HIDUP. Iman harus tumbuh dan berkembang melalui pengalaman jatuh dan bangun, susah dan gembira, dukacita dan sukacita.

    Dan iman itu harus terbuka pada pengajaran dan bimbingan Roh Kudus. Dialah yang membantu orang untuk percaya. Dialah yang menerangi orang untuk melihat.

    Dialah pula yang menggerakkan orang selama 2000 tahun pergi ke makam kosong di Yerusalem untuk mengungkapkan iman akan Kristus yang bangkit.

    Dialah yang menggerakkan kita untuk bersukacita malam ini dan esok pagi!

    SELAMAT HARI RAYA PASKAH. ALLELUIA!!!

    TIGA SALIB – Renungan Jumat Agung

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Di atas bukit Golgota sesungguhnya ada 3 salib yang berdiri. Dua salib di sisi kiri dan kanan adalah dua orang penjahat yang merampok dan membunuh. Di tengah-tengah ada salib Yesus yang mati DEMI DOSA kita.

    Perampok tersalib yang pertama di sisi kiri mengolok-olok Yesus dan mati DALAM DOSANYA. Perampok tersalib yang kedua di sisi kanan (dalam tradisi dikenal dengan nama Dismas), mati KARENA DOSA, tetapi karena percaya pada Yesus, dia mendapat janji pasti: “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk 23,43).

    Penjahat “baik”, Dismas, tidak perlu mengakui semua dosanya, tetap Yesus mengampuni dia sekali untuk semua. Sebuah ungkapan iman yang total di saat-saat paling menentukan dalam hidup, sudah cukup untuk menyelamatkan jiwanya.

    Setiap momen hidup bisa menjadi momen keselamatan jika kita datang pada orang yang tepat yakni Yesus sendiri. Untuk Yesus semua waktu selalu tepat.

    ZHENA!

    Di atas salib Yesus berseru: Zhena! Artinya “Aku haus!” Seruan Yesus ini mengingatkan kita akan kata-kata Mazmur: “Tenggorokanku kering seperti debu, lidahku melekat pada langit-langit mulutku” (Maz 22,16). Ketika Yesus sedang menuju proses kematian-Nya, Dia menderita kehausan yang amat menyakitkan.

    Mati di atas salib adalah salahsatu bentuk penderitaan paling menyakitkan bagi manusia. Tetesan darah dari sekujur tubuh mengakibatkan rasa haus tak terkira. Menderita kehausan adalah sesuatu yang sangat menakutkan. Tak ada kata-kata yang cukup untuk melukiskannya.

    Seluruh tubuh berteriak minta air. Air untuk membasahi mulut yang kering, air untuk membebaskan lidah yang bengkak, air untuk membuka tenggorokan yang serak yang tidak dapat menghirup udara yang cukup, air untuk membuat bertahan hidup hanya beberapa saat lagi.

    Pemazmur berdoa: “Ya Allah, Engkaulah Allahku — aku merindukan-Mu! Untukmu tubuhku merindukan; untukmu jiwaku haus, seperti tanah yang gersang, tak bernyawa, dan tanpa air.” (Maz 63,2).

    Kehausan Yesus bukan terutama karena butuh air, tapi kehausan akan jiwa-jiwa untuk dibawa kepada Allah. Dia haus akan mereka yang perlu diselamatkan. Disini juga Dia mewakili banyak orang yang sesungguhnya haus akan berbagai hal yang perlu untuk hidup mereka termasuk air.

    Dahaga Yesus saat ini hanya bisa dipuaskan oleh kita-kita yang menjadi sahabat-Nya, murid-murid-Nya dan rekan sekerja-Nya.

    TETELESTAI

    Seruan Yesus yang terakhir adalah, TETELESTAI. Biasa diterjemahkan, SUDAH SELESAI. Apa sesungguhnya yang sudah selesai? Penderitaan? Tugas pewartaan? Perjalanan hidup? Mungkin semua itu termasuk disitu.

    Akan tetapi ungkapan TETELESTAI lebih dari itu. Dalam salahsatu hasil penemuan arkeologis di Yerusalem, pada laporan pajak seseorang ditemukan tulisan: tetelestai. Itu artinya sudah dibayar lunas.

    Dalam arti inilah kata-kata Yesus bisa dipahami. Manusia yang berdosa adalah orang-orang yang berutang kepada Allah. Utang itu sudah dibayar lunas. Ungkapan Yesus ini lalu menjadi seruan kemenangan, keberhasilan. Sudah selesai artinya SUDAH LUNAS. Utang sudah dibayar utuh. Manusia tidak berutang apa-apa lagi kepada Tuhan.

    Seruan Yesus bagaikan seorang pelari yang setelah melewati perjuangan panjang mencapai garis finis pertama. Bagaikan seorang mahasiswa yang mencapai titik terakhir studinya dengan wisuda. Bagaikan seorang pelukis yang menyelesaikan sebuah karya besar (masterpiece) setelah proses yang panjang.

    Ucapan Yesus adalah seruan seorang Raja di atas tahtanya yakni salib di puncak golgota.

    Di penjara Auschwitz, Polandia pada Pebruari 1941, para tahanan tentara Nazi Jerman, sedang diantri untuk dihukum mati dengan gas. Kebanyakan dari mereka orang Yahudi. Seorang pria bernama Frandishek Gazovnachek, ikut dipanggil. Tiba-tiba dia berseru, “Tolong bebaskan saya. Saya mempunyai istri dan anak-anak.” Seruannya begitu memilukan. Spontan Maximilian Maria Kolbe, seorang Imam Fransiskan maju ke depan dan mengambil alih tempat pria itu. Dia menggantikannya menerima hukuman mati.

    Singkat cerita, setelah perang berakhir, pria itu selamat dan kembali ke rumah bersama istri dan anak-anaknya. Di samping rumahnya ada tulisan yang dipahat dengan indah: Kenangan Akan Maximilian Kolbe. Dia mati menggantikanku! Dia hidup sampai usia 82 tahun, dengan terus membawa kenangan: Aku hidup karena seorang mati untuk aku.

    Di dalam hati setiap orang beriman hendaknya tertera pula sebuah tulisan: Kenangan akan Yesus Kristus. Dia mati menggantikan tempatku.

    Tetelestai.

    WAJAH YESUS – Renungan Kamis Putih

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Lukisan “The Last Supper” yang terkenal itu dibuat oleh Leonardo da Vinci dari Italia. Konon, untuk setiap wajah yang ada dia mencari model dari pria yang ada di Roma saat itu. Untuk wajah Yesus dia menggunakan model seorang anak muda umur 19 tahun. Butuh waktu 6 bulan baginya untuk melukis Yesus dalam gambar itu.

    Kemudian satu persatu dia melukis wajah para rasul. Setelah tujuh tahun tibalah giliran terakhir  mencari wajah yang cocok untuk Yudas Iskariot. Dia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain berhari-hari.

    Akhirnya dia menemukan seorang pria menggelandang di sudut kota Roma. Dia belum lama keluar dari penjara. Penampilannya dianggap cocok mewakili wajah Yudas Iskariot. Dia diminta untuk menjadi model Yudas Iskariot.

    Setelah selesai dilukis, pria itu berkata kepada Leonardo: “Apakah engkau tidak mengenal aku lagi?” Leonardo menggeleng. Pria itu berkata sambil menangis: “Akulah yang menjadi model Yesus tujuh tahun lalu. Oh Tuhan, aku ternyata sudah jatuh terlalu dalam!!”.

    Tradisi Perayaan Ekaristi bisa dirunut jauh ke belakang pada masa Kain dan Habel. Sebagai gembala, setiap tahun Kain mempersembahkan domba terbaik sebagai syukur atas berkat Allah. Upacara ini disebut PESAKH dalam bahasa Ibrani. Cikal bakal kata PASKAH dalam tradisi Kristen.

    Habel sebagai petani juga mempersembahkan hasil terbaiknya berupa roti tak beragi. Kebiasaan ini dikenal dengan nama MASSOTH.

    Perayaan Paskah orang Yahudi pada jaman kemudian merupakan gabungan dari kedua tradisi kuno ini. Perayaan ini mendapat nilai baru karena saat pembebasan orang Yahudi dari perbudakan Mesir diawali dengan perayaan makan paskah bersama. Paskah lalu menjadi kenangan akan pembebasan.

    Tradisi Kristen sekali lagi memberi arti baru karena peristiwa puncak kehidupan Yesus terjadi pada saat perayaan ini. Di sekitar Paskah Yahudi, Yesus makan bersama murid-muridNya kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Kebangkitannya pun terjadi masih dalam suasana Paskah.

    Pada momen itulah, SEDER yang terakhir, Yesus memberikan diri-Nya sebagai kurban pengganti domba paskah, karena saat perjamuan itu tidak ada kurban Paskah yang biasanya dipersembahkan. Yesus mengambil roti dan anggur dengan seruan legendaris yang selamanya hidup dalam hati orang-orang Kristen sampai saat ini: “Inilah tubuh-Ku! Inilah darah-Ku! Makan dan minumlah!”

    Yesus bisa saja cukup meninggalkan ajaran-ajaran-Nya yang kemudian menjadi Kitab Suci seperti dimiliki agama-agama besar saat ini. Yesus bisa saja membangun sebuah monumen sejarah yang nampak dan bisa menjadi warisan dunia.

    Namun Yesus memilih memasuki pribadi manusia dan mengubahnya dari dalam. Melalui santapan ekaristi, tubuh dan darah Yesus, yang tampak dalam rupa roti dan anggur, Yesus ingin menjadi daging dan darah setiap pribadi yang menerimanya. Dengannya proses transformasi menjadi manusia baru lebih mungkin dan lestari.

    Proses evolutif bahkan kadang revolutif menjadi semakin serupa dengan Kristus (Imitatio Cristi) telah melahirkan pribadi-pribadi agung dalam sejarah kekristenan.

    Mereka yang menerima tubuh dan darah Kristus dan menjadi satu dengan Kristus adalah:

    • Mereka yang menerima setiap penderitaan sebagai partisipasi dalam jalan salib Yesus.

    *Mereka yang melayani sesamanya bahkan yang paling rendah dan hina tanpa pamrih, tanpa pamer dan tanpa mengharapkan apa-apa.

    *Mereka yang tidak membalas setiap cambuk atau pukulan penghinaan dari orang lain walaupun sesungguhnya dia tidak pantas menerimanya.

    *Mereka yang berani meninggalkan segala kenyamanan dan kemegahan dunia demi saudara-saudari yang miskin dan terlantar.

    *Mereka yang selalu mengucap syukur betapa pun beratnya beban kehidupan karena menyadari inilah cara Allah memakai dia sebagai alat-Nya.

    *Mereka yang tak pernah lelah menolong dan membela orang-orang yang diperlakukan tidak adil dan yang dikuasai oleh orang lain.

    Mereka yang telah menerima wajah Yesus dalam dirinya dan hidup dalam Yesus, tak mungkin berubah menjadi wajah Yudas, apa pun yang terjadi dalam hidupnya.

    MENGOSONGKAN DIRI – Renungan Hari Minggu Palma

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    “Pada tanggal dua puluh tiga, bulan kedua tahun seratus tujuh puluh satu maka Simon memasuki puri itu dengan kidung dan DAUN PALEM, diiringi kecapi dan dandi, sambil menyanyikan madah gita.” (1 Mak 13,51).

    Penggunaan daun palma dan seruan Hossana dalam prosesi diduga dimulai oleh Simon Makabe ketika dia menyucikan Bait Allah pada tanggal 14 Desember 164 SM. Prosesi ini dibuat karena Bait Allah telah dinodai oleh Antiokhus IV Epifanes pada hari yang sama di tahun 167 SM. Pada masa ini, oleh orang Israel, perayaan semacam ini disebut Pesta Hanukh.

    Masuknya Yesus ke Yerusalem dengan semarak meriah seperti ini, dengan seruan Hosanna, yang berarti “Selamatkanlah Kami”, bisa ditafsirkan oleh penguasa Romawi saat ini sebagai protes terbuka atas kekuasaan mereka. Dengan menunggang keledai, seperti seorang raja sebagaimana diramalkan oleh nabi Zakharia, bisa diartikan pula oleh mereka sebagai tanda revolusi dan pemberontakan, walaupun keledai adalah simbol perdamaian.

    Situasi ini membuat perwakilan pemerintah Romawi menjalin kerjasama dengan para Imam, khususnya Imam Agung Bait Allah, untuk merencanakan penangkapan Yesus. Kolusi antara Pilatus dan Imam Agung Kaiyafas terlihat jelas dalam proses penangkapan, pengadilan dan hukuman mati kepada Yesus.

    Tradisi ini diambil-alih oleh Uskup Yerusalem pada abad keempat dengan prosesi dari Bukit Zaitun menuju Gereja Kenaikan Yesus.

    Bagi orang Kristen saat ini, minggu keenam masa Prapaskah ini dikenal juga sebagai Minggu Palma atau Minggu Sengsara. Minggu ini merupakan pintu masuk ke Pekan Suci.

    Perayaan ini merupakan kombinasi antara dua kontras hidup: kemuliaan dan penderitaan. Dari kemuliaan Anak Allah, Yesus turun ke level manusia melewati jalan penderitaan dan penghinaan.

    Injil Lukas menggambarkan sengsara Yesus sebagai sengsaranya orang tak bersalah (innocent martyr). Hanya dalam Injil Lukas inilah Pilatus tiga kali menyebut Yesus tak bersalah. Bahkan Herodes pun menyebutnya demikian. Tapi Yesus tetap memilih jalan ini.

    Dalam bahasa rasul Paulus, tindakan Yesus ini adalah bentuk “pengosongan diri” (Flp 2,7). Dia meninggalkan segala privilegi sebagai Anak Allah dan merendahkan diri mengambil rupa seorang hamba. Pengosongan diri ini adalah harga yang harus dibayar demi sebuah ketaatan pada rencana Allah untuk menyelamatkan manusia.

    Kisah Yesus sesungguhnya adalah kisah hidup umat beriman juga. Sepanjang minggu ini yang direnungkan bukan saja penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus melainkan juga penderitaan, kematian dan kebangkitan kita dalam Yesus.

    Hidup di dunia seringkali menjadi hidup yang penuh, bahkan sesak. Segala daya upaya kita bertujuan untuk “memenuhi” apa saja: kehendak, keinginan, selera, kerinduan, nafsu, cita-cita dan harapan.

    Mengikuti jalan salib Yesus berarti “mengosongkan” diri. Ini adalah saat bermeditasi, melepaskan diri dari segala macam bentuk keterikatan dengan dunia. Kita membiarkan Allah mengisi hidup kita sesuai rencana dan kehendak-Nya.

    Cara ini akan menjadi kontradiksi bagi cara hidup dunia. Akan tetapi hanya dengan cara ini kita bisa ditinggikan oleh Allah.

    Albert Schweitzer dari Jerman adalah seorang jenius pada masanya. Dia meraih Doktor Filsafat sekaligus Doktor Teologi. Dia juga seorang musisi hebat pada jamannya. Konsernya selalu dipenuhi penonton di Eropah. Hidupnya dipenuhi kemewahan dan kesuksesan.

    Kemudian dia mengambil keputusan mengejutkan. Dia kuliah lagi kedokteran dan lulus menjadi dokter dalam waktu singkat. Setelah itu dia meninggalkan Eropah dan pergi ke pedalaman Afrika (Gabon), membuka klinik dan rumah sakit disana dan menolong orang-orang miskin. Akhirnya dia memperoleh hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1952, karena pengabdiannya yang luar biasa dengan prinsip etika: Penghargaan Pada Kehidupan (“Ehrfurcht vor dem Leben.”).

    Ada ungkapannya yang terkenal setiap kali dia berhasil menyembuhkan orang sakit: “Alasan mengapa engkau tidak lagi sakit adalah karena Tuhan Yesus memberitahu Dokter yang baik dan istrinya untuk datang ke tepi sungai Ogooue untuk menolongmu. Jika anda berutang terimakasih, maka berterimakasihlah kepada Tuhan Yesus”.

    Dia benar-benar mengosongkan diri.