Jumat, Maret 5, 2021
More
    BerandablogHalaman 2

    GODAAN/COBAAN

    0

    Sebuah dongeng dari Arab berkisah tentang seorang tukang giling yang sedang tidur di dalam kemahnya. Tiba-tiba hidung seekor unta nongol di pintu kemahnya.

    “Di luar sangat dingin”, kata unta. “Aku hanya minta ijin hidungku di dalam kemah”. Pria itu mengijinkan. Tak lama kemudian kepala unta masuk. Terus seluruh tubuhnya ikut masuk.

    Kemah jadi sesak. Tukang giling jadi merasa tidak nyaman berduaan di kemah yang sempit. Dengan cueknya unta itu berkata: “Jika engkau tidak nyaman di dalam, engkau bisa keluar. Aku tetap tinggal dimana aku berada”.

    Dari kisah ini benarlah kata-kata Lancelot Andrew. “Berikan satu inci saja kepada setan, maka dia akan mengambil satu meter. Jika dia memasukkan tangannya, maka dalam sekejap seluruh tubuhnya akan nampak”.

    Yang namanya GODAAN SETAN biasanya bekerja dengan cara demikian.

    Bacaan Injil hari ini berbicara tentang godaan setan kepada Yesus (Mrk 1,12-14). Tiga Injil Sinoptik berkisah tentang hal yang sama. Surat Ibrani pun menegaskan hal yang serupa.

    “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” (4,15)

    Setelah pembaptisan di sungai Yordan Yesus dituntun oleh Roh ke padang gurun dan dicobai disana selama empat puluh hari. Padang gurun adalah tempat pencobaan atau godaan, dan pada akhirnya sebagai tempat kematian.

    Dalam Perjanjian Lama dikisahkan bahwa Musa bersama bangsa Israel melewati pencobaan selama empat puluh tahun di padang gurun. Elia pun berjalan empat puluh hari empat puluh malam untuk sampai ke gunung Horeb (1 Raj 19,8).

    Waktu empat puluh hari berpuasa bagi Yesus merupakan pengulangan pengalaman kedua tokoh Perjanjian Lama ini.

    Untuk apa? Supaya Yesus, walaupun Anak Allah, juga bisa merasakan pengalaman umat manusia secara penuh. Godaan dan cara kita menghadapinya merupakan bagian integral dari hidup manusia. Tak satupun orang yang luput dari godaan dengan aneka cara.

    Di sungai Yordan Yesus dibaptis dan sekaligus dikuatkan oleh Roh Kudus. Berbekal “senjata” ini Yesus menghadapi godaan setan. Hasilnya, Dia menang. Dia tak terjebak perangkap setan dengan segala tawarannya.

    Godaan atau cobaan bagi orang yang sudah dibaptis dan sudah menerima sakramen penguatan ibarat “uji senjata”. Mereka yang dibaptis dan krisma bagaikan orang yang sudah “divaksin secara rohani”. Setan akan selalu ada tapi kita sudah diperlengkapi dengan alat pertahanan diri.

    Seringkali terjadi, persoalannya bukan pada “senjatanya” tapi pada pemakainya. Senjatanya bagus tapi yang menggunakan tidak paham. Atau mungkin malah senjatanya sering ditinggalkan dan tak dipakai sebagaimana mestinya.

    Masa Pra Paskah adalah masa dimana kita memperbaiki kembali senjata kita dan menggunakannya secara tepat untuk menghadapi godaan setan. Dengan senjata yang mumpuni dan kemampuan terlatih kita siap menghadapi setiap godaan atau cobaan setan.

    “Godaan biasanya datang melalui sebuah pintu yang dengan sengaja dibiarkan terbuka” (Arnold Glasow)

    (SETETES EMBUN, by P. Kimy Ndelo CSsR; ditulis di Biara Santo Alfonsus-Konventu Redemptoris Weetebula, Sumba tanpa Wa).

    JALAN SALIB MOHON KAPELA – Misi Umat

    0

    Kapela kami terlalu kecil untuk dijadikan tempat jalan salib anggota komunitas kami. Setiap hari kalau misa hanya bisa duduk di kursi saja. Kapela kami berukuran dua setengah kali lima setengah meter. Rencana mau bangun kapela baru.. baru dibawa dalam dalam doa. Jika Tuhan berkenan pasti Dia akan menyediakan. Tuhan engkau baik.

    Hari ini adalah hari pertama jalan salib. Kami memilih untuk menelusuri gang-gang rumah kami yang sepi. Gambar perhentian pun tidak ada, tetapi salib ya.. ada. Salib romawi itu kami bawa keliling dari pintu-ke pintu setiap kamar kami, entah penghuninya ada atau tidak ada. Terus terang hari ini kami merasa lain. Baru kali ini kami jalan salib dari pintu ke pintu. Ah jadi ingat lagunya bung Ebiet G Ade. Lagu favoritenya almarhum Pater Efrem Zuba. Beristirahatlah dalam damai anghua.

    Di jalan salib ini bukan hanya kami sendiri yang berprosesi di lorong-lorong rumah kami. Semesta juga ikut. Pohon-pohon sekitar rumah kami juga turut serta. Penghuni lain pun ikut serta. Anjing-najing kami: Mogi, paris, ronda, hector, belo dan misyu tidak ketinggalan. Di antara mereka hanya Paris yang tidak tenang. Yang lain ikut dengan khusuk.

    Ya… mari kita tetap perhatikan aspek doa dari masa prapaskah kita ini. Tentu jangan lupa untuk Puasa dan beramal. Ah Tuhan kami rindu punya kapela yang baik…. Tapi terserah Engkau saja. Satu waktu pasti Engkau akan memberinya.. kami akan selalu berbicara dengan dikau.. apapun situasi kami.

    DO THIS IN MEMORY OF ME

    0

    Ada cukup banyak umat Katolik mengeluh soal ditutupnya gereja-gereja dan ditiadakannya perayaan ekaristi baik di gereja maupun di lingkungan akibat penyebaran COVID-19. Namun sadar atau tidak, sesungguhnya ada hikmah berlimpah di balik situasi pandemi seperti ini, serta satu hal yang harus terus diyakini bahwa sesungguhnya Tuhan selalu hadir dan menyertai umat-Nya. Dengan situasi ini umat Katolik tertantang untuk terus mengalami kehadiran Tuhan dan menemukan cara untuk mengasihi dan melayaniNya dalam diri sesama, baik yang ada di sekitar maupun di tempat yang jauh.

    Di satu sisi, pandemi ini bisa menghantar orang pada sikap acuh tak acuh, individualis, menyembunyikan diri, cari aman atau bahkan menyerah dan putus asa. Namun di lain sisi, pandemi ini menjadi peluang untuk terus berkarya kreatif, menggunakan tenaga, waktu, jejaring sosial dan segala yang dimiliki tidak hanya untuk mempertahankan hidup, tetapi juga untuk berbagi hidup dengan sesama, tentunya dengan terus berwaspada dan mengikuti protokol kesehatan. Ada banyak hal positif yang bisa dibuat apalagi dengan didukung oleh segala kemajuan teknologi dan sarana prasarana. Selama masa pandemi ini, misalnya, para Postulan Kongregasi Redemptoris di Waingapu secara rutin menyumbangkan darahnya dalam kegiatan donor darah yang diselenggarkan oleh pihak RSUD UMBU RARA MEHA, Sumba Timur dan  MPA (Mitra Perempuan dan Anak).

    Seperti diketahui Bank Darah RSUD Umbu Rara Meha,  demikian halnya dengan rumah sakit lain di Sumba, masih mengalami kesulitan untuk menyediakan darah bagi para pasiennya. WA atau SMS berantai yang berisi permintaan untuk mendonorkan darah sering beredar luas di masyarakat. Pada musim pandemi seperti ini apalagi dengan ancaman demam berdarah, tentu kebutuhan darah terus meningkat. Pada kesempatan donor darah kedua, yang berlangsung kemarin (18/2), enam orang postulan, dan direkturnya, Pater Ofan Rowa, bersama para pendonor lainnya, menyumbangkan 22 kantong darah. Golongan darah (Golda) O : 12 kantong, Golda AB : 1 kantong. Golda B : 5 kantong, dan Golda A : 4 kantong. Pihak RSUD, lewat dr. Maria Hera sangat berterimakasih atas kegiatan ini dan berharap akan menjadi kegiatan rutin yang juga ‘ditularkan’ kepada semakin banyak orang. Setelah donor, dr. Maria mengatakan, “Adik-adik postulat, tekanan darah dan HB-nya bagus, tidak ada anemia. Setelah discreening, covid-19, hepatitis B, hepatitis C, sifilis dan HIV semuanya non reaktif.” Ternyata, dengan donor darah, orang bisa mengecek kondisi kesehatan, sambil menyelamatkan sesama yang menderita. Orang bisa membantu menyelamatkan dunia yang terluka; suatu bentuk kepedulian dan solidaritas kemanusiaan yang bisa dilakukan oleh semua warga yang berusia 17 – 60 tahun. Ini mengingatkan kita bahwa Tuhan Yesus sendiri pernah menjadi manusia, menyerahkan tubuh dan darahNya sebagai tebusan bagi banyak orang. Mari terus berbagi dan berbuat baik sebagai kenangan akan Tuha (Luk.22:19), sehingga kehadiranNya terus dirasakan, bahkan dalam situasi pandemi. DO THIS IN MEMORY OF ME. (PD).   

                                          

    Lokakarya Spiritualitas di SAMUR

    0

    Kegiatan SAMUR sudah dimulai. Pada tanggal 16-18 Februari 2021 penghuni Komunitas Misi Umat dan Samur mengadakan Lokakarya Spiritualitas. Lokakarya ini mengambil Tema: SETIA PADA WARISAN SAMBIL MENGHADAPI TANTANGAN BARU.

    Lokakarya dan seminar ini bertujuan agar para Misionaris Umat dan Calon Missionaris Umat (baca: Anggota SAMUR) semakin mengenal semangat awal pendiri, bercermin atas tradisi dan menimba semangat Untuk karya pelayanan saat ini.

    Ada tiga pertanyaan existensial yang digali dan didalami pada kegiatan ini yakni: Siapa Kita? Mengapa Kita Ada? Bagaimana kita hidup dan berkarya?

    Dengan tiga pertanyaan ini para Missionaris Umat diajak Untuk menegaskan kembali panggilannya sebagai redemptorist. Siritualitas adalah inti Hidup atau dinamo Yang membentuk setiap missionaris. Spiritualitas Itu adalah Spiritualitas missioner. Lokakarya dan seminar ini menghadirkan P. Kimy, P. Yanus dan P. Willy sebagai narasumber.

    Semoga kegiatan ini menjadi landasan yang baik dan subur untuk para Missionaris Umat dan terutama para Anggota SAMUR.

    Talk Show – Paroki Cijantung

    0

    Semakin Mengasihi, Semakin Terlibat, Semakin Menjadi Berkat

    Saat ini kita masih menghadapi tantangan yang mengharuskan beradaptasi dengan situasi pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19)Corona Virus Disease-19 adalah virus yang menyerang sistem pernapasan dan bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat, hingga kematian. Covid-19 dapat menular dari manusia ke manusia melalui percikan (droplet) dari penderita yang bersin atau batuk dan kontak erat dengan penderita atau kontak dengan permukaan dan benda yang terkontaminasi. Covid-19 masuk ke tubuh melalui mata, hidung, dan mulut lewat tangan yang terkontaminasi virus.

    Masyarakat memiliki peran penting dalam memutus mata rantai penularan COVID-19 agar tidak menimbulkan sumber penularan baru/cluster pada tempat-tempat dimana terjadinya pergerakan orang, interaksi antar manusia dan berkumpulnya banyak orang. Masyarakat harus dapat beraktivitas kembali dalam situasi pandemi COVID-19 dengan beradaptasi pada kebiasaan baru yang lebih sehat, lebih bersih, dan lebih taat, yang dilaksanakan oleh seluruh komponen yang ada di masyarakat serta memberdayakan semua sumber daya yang ada. Peran masyarakat untuk dapat memutus mata rantai penularan COVID-19(risiko tertular dan menularkan) harus dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan melalui perlindungan kesehatan individu dan perlindungan kesehatan masyarakat.

    Melalui Talk Show ini DPH melalui Seksi Kesehatan, Seski Kepemudaan, Seksi Pelatihan dan Pengkaderan dan Seski Komsos bersinergi mengadakan acara ini dengan tujuan melakukan implementasi dari Tema Tahun Refleksi Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Tujuan dari kegiatan ini adalah mengenal virus covid-19, cara penularan virus, gejala – gejala yang dirasakan oleh orang yang sudah terpapar, dan cara pencegahan virus corona.

    Dengan kegiatan ini diharapkan umat Paroki Cijantung dapat menerapkan pola hidup bersih dan sehat dan melakukan protokol kesehatan dengan pola 5M yaitu :
    1) Memakai Masker minimal 2 lapis
    2) Mencuci tangan memakai sabun dan air bersih yang mengalir
    3) Menjaga jarak
    4) Menjauhi kerumunan, serta
    5) Membatasi mobilisasi dan interaksi

    Kegiatan ini dilakukan secara online menggunakan 2 media yaitu Youtube (https://youtu.be/gjxDZIy6v04) dan Zoom Meeting. Kehadiran umat melebih 100 peserta dan dialog tanya jawab dengan para nara sumber. Kegiatan ini akan dilanjutkan untuk tetap memberikan edukasi dan informasi kepada umat bukan saja untuk Pandemik Covid-19 namun bisa juga dengan informasi tentang waspada banjir dan Demam Berdarah.

    Tuhan Yesus Memberkati. Amin

    Rabu Abu, 17 Februari 2021

    0

    DARI DEBU TANAH KEMBALI KE DEBU TANAH

    Di sebuah pura kuno, sekelompok burung merpati hidup dengan tenang di atap puncak pura. Ketika pura direnovasi mereka harus pergi dari situ. Mereka terbang ke gereja dan diterima dengan senang hati oleh para merpati yang sudah tinggal di atap gereja. Menjelang Paskah gereja direnovasi lagi. Rombongan merpati ini ramai-ramai pindah dan menemukan tempat aman di atap mesjid. Merpati disitu menerima mereka dengan senang hati. Tiba saatnya bulan Ramadhan, mesjid juga direnovasi. Kembali lagi rombongan merpati yang makin banyak jumlahnya pindah ke pura sebelumnya. Mereka akhirnya berkumpul jadi satu disitu.

    Suatu hari terjadi pertengkaran dan perselisihan di halaman pasar  Seekor anak merpati lalu bertanya kepada ibunya: “Siapa mereka itu?”. Jawab ibunya: “Mereka umat manusia”. “Kenapa mereka berkelahi satu sama lain?”

    Ibu merpati menjawab: “Mereka yang pergi ke pura menyebut diri orang Hindu. Mereka yang pergi ke Gereja menyebut diri Kristen dan mereka yang pergi ke mesjid menyebut diri Muslim.

    Bayi merpati makin heran. “Koq bisa begitu ya Ma. Kita waktu berada di pura adalah Merpati. Ketika pindah ke gereja juga tetap Merpati. Bahkan ketika ke mesjid pun kita adalah Merpati yang sama. Tidakkah mereka cukup menyebut diri Manusia?”

    Ibu merpati menjawab: “Nak, engkau, aku dan teman-teman Merpati lainnya sudah MENEMUKAN ALLAH. Itulah sebabnya kita hidup di tempat yang tinggi dan dan hidup damai sejahtera. Orang-orang ini belum mengalami Allah. Itulah sebabnya mereka hidup di bawah kita, berkelahi dan saling membunuh satu sama lain”.

    Masa Pra Paskah dimulai dengan Rabu Abu. Penerimaan abu adalah simbol paling keras dan paling universal tentang hakekat manusia. “Kita berasal dari debu tanah dan akan kembali jadi debu tanah”.

    Siapa pun dia. Tak peduli agama, suku, ras, status, pendidikan, kekayaan, dan segala bentuk kebanggaan duniawi kita. Pada akhirnya kita sama. Kita sama asalnya dan sama takdirnya.

    Kalau demikian apa fungsi agama? Agama berfungsi mengingatkan orang agar jangan jumawa, jangan sombong, jangan angkuh dan jangan menghina yang lainnya. Agama mengingatkan kita siapa Pencipta kita.

    “Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya: demikianlah manusia itu menjadi makhluk hidup” (Kej 2,7).

    Pertobatan bukan sekedar BERUBAH tetapi kembali kepada hakekat asli kita sebagai manusia. Pertobatan bukan sekedar sadar, menyesali dan mengakui dosa-dosa kita, tetapi membuat sebuah lompatan ke belakang untuk menyadari identitas kita yang BUKAN SIAPA-SIAPA di hadapan Allah.

    Kalau hanya bicara soal perubahan, kita tidak pernah pasti sampai dimana harus berubah. Kalau hanya bicara soal dosa, maka banyak hal yang relatif. Apa yang dianggap dosa sekarang, bisa jadi dulu bukan dosa.

    Tapi kalau kita bicara soal kembali ke hakikat, maka Firdaus baru bagi umat manusia menjadi hal yang mungkin. Bahkan bukan hanya bagi umat manusia melainkan seluruh ciptaan.

    Penerimaan simbol abu di dahi atau kepala pada hari ini hendaknya MENGANGKAT kita ke tempat yang tinggi agar mengenal Allah yang sesungguhnya. Dengan mengenal Allah, kita mengenal siapa diri kita. Dengan mengenal diri kita maka kita bisa “mengasihi sesama seperti diri kita sendiri”.

    Di mana pun berada, burung MERPATI tetap sebagai burung MERPATI. Sepatutnya MANUSIA lebih daripada sekedar burung MERPATI.

    Atau jangan-jangan memang Allah ingin kita belajar dari burung merpati sehingga ROH KUDUS yang turun ke atas Yesus pada saat pembaptisan-Nya nampak dalam rupa burung merpati?

    SELAMAT MEMASUKI MASA PRA-PASKAH.

    (SETETES EMBUN, by P. Kimy Ndelo CSsR; ditulis di Biara Santo Alfonsus-Konventu Redemptoris Weetebula, Sumba tanpa Wa)

    Program GESER – Inovasi Keuangan Paroki

    0

    Program GESER (Gerakan Seribu Rupiah Per Hari) per Keluarga, dicanangkan pada tahun 2018 ketika Romo Handrianus Mone, C.Ss.R menjabat sebagai Pastor Paroki/Ketua Umum PGDP Gereja Santo Aloysius Gonzaga.
    Program ini digagas sebagai upaya partisipasi umat di Lingkungan yang dulunya menggunakan sarana Amplop Persembahan Bulanan atau dikenal dengan Amplop Merah (karena amplop yang digunakan berwarna merah) dan dalam konteks per tahun uang sumbangan yang dikumpulkan selalu tidak ada perubahan yang significant.

    Kalau dihitung berdasarkan BIDUK (Basis Integrasi Data Umat Keuskupan) Paroki Cijantung, dengan jumlah KK sebanyak 2.482 KK maka rata-rata sumbangan umat per KK mencapai Rp 1.000 (seribu rupiah) sehingga pemasukan ini dianggap belum mewakili umat pada umumnya.

    Maka dalam rapat DPH, di cetuskan ide ini untuk mulai menggarap partisipasi umat yang lebih nyata dalam mendukung kegiatan operasional dan Responsibility Center (RC) Gereja dalam menjalankan aktivitas programnya. Dimana setiap keluarga akan menabung setiap hari minimal Rp 1.000 (Seribu Rupiah) dan dikumpulkan pada akhir bulan kepada Bendahara Lingkungan untuk dihitung dan disetorkan kepada rekening Gereja dengan nomer unik di setiap tranfer sesuai urutan nama masing-masing Lingkungan. Dengan pembagian dana sebesar 15% untuk dana kas lingkungan dan 85% akan disetorkan ke rekening Gereja.

    Pada awal mula, tantangan yang dihadapi sangat beragam khususnya tentang penolakan akan program ini. Namun melalui sosialisasi media komunikasi Whatsapp Group, Kaizala Group, kunjungan Romo ke Lingkungan, himbaun di akhir Misa Sabtu dan Minggu, lambat laun program ini berjalan dengan baik.

    Pada Tahun 2019, didapatkan rata-rata dana sumbangan per Keluarga meningkat drastis menjadi Rp 12.000 (duabelas ribu rupiah) per bulan per Keluarga dan sudah naik 1200% dari ketika program GESER belum dimulai.

    Puji Tuhan dengan informasi dan sosialisasi yang menyeluruh oleh seluruh Pengurus Dewan Paroki Pleno (DPP) maka pada tahun 2020, dari program GESER mendapatkan angka rata2 sebesar Rp 24.000 (dua puluh empat ribu rupiah) per bulan per Keluarga sehingga ketika masa pandemik Covid-19 terjadi di Indonesia mulai tangga 2 Maret 2020, yang dilanjutkan dengan penutupan tempat Ibadah, dana operasional Gereja dan Pastoran dapat tertopang dengan program GESER ini.

    Dan sampai saat ini, Program GESER masih menjadi andalan bagi Paroki Cijantung dalam menjalankan seluruh aktifitas dan operasional Gereja.
    Terbayang kalau saat itu program GESER tidak jadi dilaksankan maka operasional Gereja di tahun 2020 akan terhenti karena tidak tersedianya dana yang cukup untuk menjalankan aktifitasnya.

    Semoga program ini dapat menjadi inspirasi bagi Program Keuangan Kreatif.
    Tuhan Memberkati. Amin