Kamis, Mei 13, 2021
More
    Beranda blog Halaman 2

    Bincang-bincang Panggilan Ala Redemptoris (Spesial Minggu Panggilan)

    0

    Hari Minggu Paskah IV didedikasikan oleh Gereja Katolik untuk berdoa bagi panggilan di seluruh dunia. Oleh karena itu, Hari Minggu Paskah IV lebih sering disebut Hari Minggu Panggilan atau Hari Minggu Gembala Baik. Pada tahun ini tradisi tersebut sudah menginjak usia ke 58.

    Dalam rangaka memeriakan hari yang istimewa ini, komunitas Skolastikat Wisma Sang Penebus mengadakan acara bincang-bincang secara virtual (daring via zoom meeting dan juga live di channel youtube Wisma Sang Penebus Redemptoris Official) dengan topik: Panggilan, Spiritualitas dan Karya Redemptoris Indonesia. Tiga Redemptoris yang berdomisili di Wisma Sang Penebus berusaha menyusun jalannya acara ini. Pembicara satu ialah Romo Antonius Rato Zada, CSsR (Rm. Toni) yang kini bertugas sebagai sosius para frater studentat Redemptoris dan ketua Sekretariat Panggilan Redemptoris. Pembicara dua ialah Frater Gabriel Tay Hunga Meha, CSsR (Fr. Gabriel) yang sedang menjalani studi program imamat. Moderator dalam acara bincang-bincang ini ialah Frater George Jung Tena, CSsR (Fr. George) yang sedang menjalani masa studentat pada tingkat II. Sesuai perencanaan, acara ini berjalan lancar dari pukul 09.30 WIB sampai pukul 11.30 WIB. 

    Pembicara pertama, Romo Toni, membagikan refleksinya mengenai panggilan. Dalam refleksinya, Romo mengatakan bahwa panggilan ialah sebuah tindakan untuk mengikuti Yesus yang adalah Gembala Baik dengan sikap yang rela, siap sedia, dan setia. Sebagai model hidup yang baik dalam panggilan Tuhan, Romo Toni membagikan sejarah singkat dari Santo Alfonsus, seorang pendiri Konggregasi Redemptoris yang memiliki pengabdian yang sungguh kepada orang-orang miskin dan terpinggirkan. Semangat serta prinsip-prinsip pengembalaan Santo Alfonsus patut menjadi teladan bagi para imam, biarawan-biarawati saat ini.

    Guna memperkaya isi dari topik bincang-bincang panggilan, pembicara kedua, Frater Gebi, membagikan pula pengalamannya sebagai calon imam Redemptoris. Frater Gebi terlebih dahulu menjelaskan mengenai tahap-tahap formasi bagi seseorang yang hendak menjawab panggilannya di dalam Konggregasi Redemptoris. Pendidikan menjadi prinsip utama dalam proses formasi seorang Redemptoris yang berlangsung hingga akhir perjalanan hidupnya. Tujuan pendidikan Redemtoris seturut Konstitusi Konggregasi Redemptoris ialah mengantarkan para calon imam dan para anggota kepada kematangan intelektual dan integritas diri demi pelayanan Gereja yang lebih baik (bdk. Kons. 78). Dengan hidup yang semakin bermutu, para Redemptoris diharapkan mampu mencapai keutamaan-keutamaan pelayanan sebagaimana yang dikatakan di dalam Konstitusi nya, “Teguh dalam iman, gembira dalam pengharapan, berapi-api karena cinta kasih, berkobar-kobar karena gairah kerja, rendah hati dalam perasaan serta tekun di dalam doa…”.

    Sharing panggilan via daring ini juga diisi dengan selingan lagu-lagu ciptaan para Romo dan Frater Redemptoris. Ada empat buah lagu yang diputar, yakni : Pertama, Lagu Capiosa Apud Eum Redemptio yang diciptaan dan dinyanyikan oleh Pater Samson Kono, CSsR. Kedua, Lagu Panggilanku ciptaan Pater Ivan, CSsR yang dinyanyikan oleh Obet dan Ari (seminaris KPA Ivan Ziatyk). Ketiga, Lagu We See, Speak, Start Together, sebuah lagu yang didedikasikan untuk kegiatan temu muda-mudi Redemptoris tahun 2019 (ciptaan Fr. Handri, CSsR & Fr. Iman Boeloe, CSsR). Keempat, Lagu Bila Badai Menerpa, ciptaan Pater Samson Kono, CSsR yang dinyanyikan oleh Pater Sixtus Atawolo, CSsR.

    Sharing panggilan juga diwarnai dengan dinamika tanya jawab dari peserta dan pemateri. Saudara Andre bertanya mengenai karya-karya Redemptoris di Indonesia. Pertanyaannya dijawab oleh Frater Gebi dengan penjelasan yang memadai. Kemudian, Frater Ancis, CSsR meminta penjelasan pemateri, secara khusus dari Pater Toni, mengenai kaul ketekunan di dalam Redemptoris. Kaul ketekunan ialah kekhasan Redemptoris yang diinisiasi sendiri oleh pendiri konggregasi, Santo Alfonsus. Kata Pater Toni, ketekunan harus menjadi janji yang dihayati oleh seorang Redemptoris selama hidupnya. Ketekunan itulah yang menyertai penghayatan ketiga kaul kebiaraan dan jiwa sebagai seorang Redemptoris.

    Acara bincang-bincang ini diharapkan bisa menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Konggregasi Redemptoris kepada banyak orang. Bukan hanya Redemptoris sebagai sebuah intitusi, tetapi Redemptoris sebagai semangat dan spirit yang bisa menyapa semakin banyak insan. Dengan kata lain, Konggregasi Redemptoris, melalui para anggotanya, mampu menjadi cahaya bagi semua orang untuk menjalani panggilan hidupnya. Konggregasi Redemptoris serta merta menawarkan diri sebagai sarana bagi kaum muda untuk menanggapi panggilan Tuhan dengan hidup sebagai biarawan. Mari, datang dan lihatlah, kemudian tinggallah bersama Tuhan, kata Romo Toni. Semoga figur dan spirit Gembala yang Baik menjiwai kita.

    Kontributor: Fr. Flavianus Raymundus Bere Jawa, CSsR

    Berikut Videonya:

    BANTUAN PENGADAAN SUMUR BOR BAGI PARA PETANI

    0
    Penyerahan bantuan perlngkapan sumur bor kepada warga

    Bantuan bagi para korban bencana banjir dan badai Seroja di Kabupaten Sumba Timur masih terus disalurkan dari Posko Paroki Sang Penebus Waingapu. Kali ini fokus perhatian adalah pertanian dan perkebunan. Dampak jebolnya Bendungan Kambaniru yang merupakan sandaran utama para warga mulai terasa. Saluran irigasi kering, mengakibatkan lahan persawahan dan pertanian hortikultura gagal total. Melihat kondisi seperti ini, Posko Paroki Sang Penebus merespon dengan memberikan bantuan pengadaan sumur bor yang lengkap dengan peralatannya bagi para petani yang terdampak. Bahan-bahan yang disumbangkan berupa, dinamo air, perlengkapan instalasi pipa, instalasi listrik, selang air dan biaya pengeboran itu sendiri. Hal ini dilakukan supaya para petani terus melanjutkan usaha yang menjadi penopang kehidupan ekonomi mereka. Pada tahap pertama ini 4 sumur bor telah beroperasi dari 7 sumur bor yg direncanakan. Semoga dengan bantuan para donatur rencana penambahan sumur bor bisa terlaksana.

    Terima kasih kepada para penderma dan relawan yang selalu setia membantu mereka yang membutuhkan.

    Salam sehat dalam Kristus Sang Penebus.

    TERPANGGIL MENJADI GEMBALA-Renungan Hari Minggu Paskah IV

    0
    Sumber foto: https://www.katolisitas.org/

    Setetes Embun oleh: Ptr. Kimy Ndelo, CSsR

    Beberapa tahun yang lalu seorang wanita menggendong bayinya melalui perbukitan South Wales, Inggris. Tiba-tiba daerah tersebut dilanda badai salju. Setelah badai berlalu para pencari menemukan wanita itu sudah membeku, tewas karena  kedinginan di dalam salju.

    Mereka sangat keheranan menemukan wanita itu dalam keadaan tanpa pakaian luar. Setelah digali lebih dalam mereka menemukan bahwa pakaiannya digunakan untuk membungkus bayinya yang ternyata masih hidup dan baik-baik saja.

    Anak ini kemudian tumbuh berkembang menjadi besar. Dialah David Llyod George, yang kemudian menjadi salah satu Perdana Menteri Inggris.Raya.

    Hari minggu ini dikenal sebagai Hari Minggu Gembala Baik atau di Indonesia diperluas sebagai Hari Minggu Panggilan. Hari ini didedikasikan bagi doa untuk panggilan sebagai Gembala/Pastor dan sebagai biarawan biarawati.

    “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh 10,11).

    Yesus menyebut diri-Nya sebagai Gembala Yang Baik. Inspirasi menjadi Gembala datang dari tradisi yang sangat populer di kalangan orang Yahudi terutama ketika mereka masih hidup nomaden. Sebagai orang yang berpindah-pindah tempat, pekerjaan utama mereka adalah menggembalakan domba atau kambing. Kebiasaan ini terus berlanjut sekalipun mereka kemudian menetap di Palestina atau tanah Kanaan.

    Pekerjaan sebagai gembala bukan pekerjaan mudah. Ini membutuhkan keberanian, kekuatan dan daya tahan fisik yang bagus.

    Ketika Daud dipandang enteng oleh Saul, dia mengatakan: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila singa datang atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya” (1 Sam 17,34-35).

    Dedikasi dan totalitas para gembala bagi domba atau kambingnya membuat para penulis Kitab Suci menggambarkan Allah sebagai Gembala.

    “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya. (Maz 23, 1.4). Para pemimpin Israel juga sering dianggap sebagai pengganti Allah dalam tugasnya sebagai Gembala.

    Yesus menekankan dua kekhasan gembala: memberikan nyawa dan mengenal domba-dombanya. Seorang gembala harus memiliki semangat pengorbana yang tinggi dan kedekatan serta cinta yang besar kepada domba gembalaannya.

    Dia mempunyai dan melaksanakan tanggungjawab besar agar domba gembalaannya mempunyai makan minum yang cukup dan aman dari bahaya. Dia mempunyai kewajiban memelihara mereka agar terus berkembang dan sehat.

    Tugas kegembalaan inilah yang kemudian diteruskan dalam hidup orang kristen dalam berbagai bentuknya. Para pemimpin gereja, para pelayan gereja bahkan para umat awam bisa mengambil tugas penggembalaan ini dengan caranya masing-masing.

    Seorang tentara yang sekarat dalam sebuah medan perang di Korea menginginkan seorang pastor. Para tenaga medis berusaha mencari tapi tidak menemukan. Seorang pasien yang parah di dekat mendengar permintaan itu dan berkata: “Saya seorang pastor”.

    Dokter memperhatikan dia lalu berkata: “Anda tidak boleh bergerak. Kondisimu juga parah. Jika bergerak sedikit saja anda akan mati”. Imam kapelan itu menjawab: “Jiwa dari orang ini lebih berharga daripada hidupku yang tinggal beberapa jam.” Dia lalu bergeser mendekati tentara itu, mendengarkan pengakuannya, memberi dia absolusi dan keduanya meninggal sambil berpegangan tangan”.

    Berdoa mohon panggilan menjadi gembala itu baik. Tetapi lebih penting berdoa mohon panggilan menjadi GEMBALA YANG BAIK.

    SYUKUR UNTUK BERKAT TUHAN MELALUI SESAMA

    0
    Bapak Uskup memberikan bingkisan kasih kepada para korban bencana

    Banjir bantuan masih terus berdatangan di Posko Paroki Sang Penebus Waingapu. Sumber bantuan berasal dari perorangan, gereja-gereja (Katolik maupun non Katolik), kelompok/paguyuban, dan lain sebagainya. Karina dan BAKKAT (Badan Amal Kasih Katolik) merupakan badan resmi Keuskupan dan KWI yang juga turut memberikan perhatian kepada para korban bencana. Hari ini, Selasa, 20 April 2021, Bapak Uskup Keuskupan Weetebula, Mgr. Edmund Woga, C.Ss.R. memantau langsung daerah yang terdampak bencana. Dalam perjalanan kunjungan ini, Uskup juga menyerahkan bantuan yang diberikan oleh BAKKAT kepada Posko Paroki yang diterima secara langsung oleh Pastor Paroki Sang Penebus Waingapu, P. Laurensius Lino Maran, C.Ss.R. dan juga langsung kepada para warga yang terdampak.

    Bapak Uskup Keuskupan Weetebula, Mgr. Edmund Woga, C.Ss.R menyampaikan kata hati di hadapan para korban bencana


    Dalam kata sambutan Bapak Uskup mengatakan bahwa, “kita patut bersyukur karena dengan cepat para donatur memberikan bantuan kepada para korban. Bantuan-bantuan ini diperuntukkan bagi semua warga yg terdampak tanpa memandang suku dan agama. Dari sini hendaklah kita juga belajar untuk selalu siap sedia membantu siapa saja yang berada dalam kesusahan. Semoga bisa membantu saudara/i yang terdampak langsung bencana”.
    Terima kasih Bapak Uskup atas kunjungan yang mennyemangatkan kami para korban dan relawan yang selalu bekerja dengan tulus.

    Bapak Uskup memberikan bingkisan kasih kepada para korban bencana


    Terima kasih kepada para penderma/danotur yang telah membantu meringankan beban para korban.
    Terima kasih kepada semua relawan yang terus berjuang dalam misi kemanusiaan ini.
    Tuhan membalas semua kebaikan kita.
    Salam sehat dalam Kristus Sang Penebus.

    Hidup Komunitas itu Indah-Rekoleksi Komunitas Sumba Timur

    0

    Rekoleksi merupakan salah satu kegiatan rutin para Redemptoris. Selain untuk menyegarkan Kembali kehidupan rohani, kegiatan ini juga menjadi sarana yang mempererat persaudaraan antara para Redemptoris yang tersebar dan berkarya di berbagai tempat dan lembaga serta paroki.

    Bertampat di Asrama Pewarta Injil Padadita, pada tanggal 19 April yang lalu, para Redemptoris yang berkarya di Komunitas Sumba Timur mengadakan rekoleksi bulanan. Rekoleksi yang dipimpin oleh Fr. Umbu Damu, CSsR (Toper Asrama Pewarta Injil Padadita) dan Fr. Ito Ritan, CSsR (Toper Paroki St. Andreas Ngallu) dihadiri oleh para redemptoris yang berkarya di Paroki St. Andreas Ngallu, Paroki Sang Penebus Wara, Postulat Redemptoris dan Asrama Pewarta Injil.

    Dengan tema “Komunitas itu Indah” serta belajar dari teladan St. Yohanes Nepomuk Neuman, seorang imam projo yang kemudian menjadi Redemptoris karena tertarik dengan kehidupan komunitasnya, Fr. Umbu dan Fr. Ito mengajak para Redemptoris yang berkarya di Sumba Timur untuk melihat Kembali kehidupan komunitas masing-masing. Menurut Fr. Umbu, komunitas adalah tempat yang bisa mewadahi beragam talenta dan kelebihan yang dimiliki oleh setiap anggotanya untuk satu tujuan yang sama. Karena itu komunitas harus dibangun atas dasar cinta dan pengorbanan.

    Dalam rekoleksi ini, Fr. Umbu dan Fr. Ito juga membagikan pengalaman mereka berkaitan dengan kehidupan komunitas selama menjalani masa orientasi pastoral kurang lebih 8 bulan. Terlepas dari berbagai tantangan yang mereka alami, ada banyak pengalaman luar biasa yang mereka dapati dan rasakan dalam koumintas. Pengalaman-pengalaman ini menurut Fr. Ito, menguatkan mereka dalam menjalani panggilan sebagai Redemptoris.

    Acara rekoleksi ditutup dengan Ekaristi bersama yang dipimpin oleh Ptr. Dandy, CSsR yang kemudian dilanjutkan dengan santap malam bersama.

    Kontributor: Ptr. Linus Ngaba, CSsR

    AMUKAN SIKLON SEROJA JUGA MERUSAK BANGUNAN GEREJA

    0

    Badai Siklon Seroja yang melanda daerah Kabupaten Sumba Timur merusak banyak fasilitas umum, tempat ibadah, rumah tinggal dan lahan pertanian. Beberapa gedung gereja stasi, Paroki Sang Penebus Waingapu juga menjadi korban amukan Seroja ini. Ada yang mengalami kerusakan ringan seperti gereja pusat paroki dan beberapa gereja lain (beberapa seng dan dinding terlepas), ada yang mengalami kerusakan berat seperti roboh. Yang mengalami kerusakan ringan telah dilakukan perbaikan oleh umat sendiri namun yang mengalami kerusakan berat belum bisa diperbaiki atau dibangun kembali. Gereja yang mengalami kerusak berat adalah Stasi St. Laurensius Matawaikaraha, Stasi St. Yoseph Laindeha dan Stasi St. Markus Mareda. Walau demikian, pelayanan ibadat dan Perayaan Ekaristi tetap berlangsung dengan menggunakan rumah umat. Semoga situasi ini cepat ditanggulangi sehingga umat dapat merayakan ibadat dan Ekaristi dengan aman dan nyaman.

    Salam sehat dalam Kristus Sang Penebus

    Gedung Gereja Katolik Stasi St. Yoseph Laindeha, Paroki Sang Penebus Waingapu
    Gedung Gereja Katolik St. Markus Mareda, Paroki Sang Penebus Waingapu
    Gedung Gereja Katolik St. Laurensius Matawaikaraha, Paroki Sang Penebus Waingapu

    WARTA KEBANGKITAN

    0
    Sumber foto: https://parokipasarminggu.com/

    Setetes Embun oleh: Ptr. Kimy Ndelo, CSsR

    Di sebuah kelompok masyarakat Hindu di daerah pedalaman India, datanglah beberapa misionaris yang dengan penuh semangat mewartakan Injil tentang Yesus Kristus. Kepala suku mendengarkan dengan penuh perhatian sampai suatu ketika dia menantang para misionaris ini dengan berkata:

    “Saudara-saudaraku para tamu yang terhormat. Mari kita selesaikan persoalan kita. Dalam dalam cangkir ini ada minuman yang sudah dicampurkan nux vomica, racun yang dipakai untuk membunuh tikus. Jika kalian meminumnya dan tetap hidup seperti Tuhanmu, Yesus Kristus, maka kami semua akan menjadi pengikut agamamu, Kristen. Tanpa kecuali. Jika kamu tidak berani minum, maka kami menganggap kalian omong kosong dan Injilmu serta Tuhanmu tidak sanggup menyelamatkan kalian. Maka sebaiknya segera angkat kaki dari tempat ini.”.

    Para misionaris saling memandang satu sama lain dan bingung bagaimana menjawab tantangan ini. Tiba-tiba seorang misionari angkat bicara:

    “Inti agama kami mengajarkan tentang kebangkitan orang mati. Usulan kami, silahkan anda minum racun ini dan kami akan membangkitkanmu dari kematian. Saat ini juga. Tidak perlu menunggu sampai tiga hari”. Giliran kepala suku yang kebingungan.

    Kekristenan bukan tentang kehidupan TANPA kematian. Kekristenan adalah tentang kehidupan SETELAH kematian.

    Pengalaman penampakan Yesus kepada murid-murid-Nya setelah bangkit dari kematian menjadi titik awal, the starting point, dari seluruh gerakan pewartaan. Yesus yang bangkit bukan saja menginspirasi mereka melainkan menjadi dasar dari seluruh bangunan iman kristiani.

    “Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga” (Luk 24,46).

    Yesus sendiri menegaskan siapa diri-Nya, yakni sebagai Mesias, sesuai ramalan dalam Kitab Taurat atau Kitab Perjanjian Lama. Menurut para ahli Kitab Suci ada sekitar 324 ramalan tentang Mesias yang tersebar dalam seluruh kitab Perjanjian Lama. Ini bukan jumlah yang sedikit. Seluruh ramalan ini tergenapi dalam pribadi dan pengalaman hidup Yesus.

    Hal inilah yang kemudian dihidupi dan dijadikan motivasi oleh para rasul dan murid-murid lain sampai saat ini. Dengan gaya retorik Paulus mengungkapkan keyakinannya yang tanpa keraguan sedikitpun:

    “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” (1 Kor 15,14).

    Kebangkitan Kristus inilah yang membuat kekristenan BERBEDA dengan agama lainnya. Dan mungkin karena itu juga kekristenan dibenci oleh sebagian orang karena sampai kapan pun mereka tidak pernah menyamai pencapaian Yesus Kristus.

    Seorang beragama lain memutuskan pindah menjadi agama Katolik. Ketika ditanya temannya kenapa dia meninggalkan imannya yang lama dan menjadi pengikut Yesus, dia menjawab:

    “Pindah agama bagi saya ibaratnya begini. Saya berjalan sampai suatu saat saya tiba di persimpangan jalan. Saya bingung mau ke kiri atau ke kanan. Di dua sisi jalan ada orang. Bedanya, satu orang mati dan satu orang hidup. Jelas saya pasti bertanya kepada orang hidup. Dan dialah yang menunjukkan jalan ini pada saya.” Orang hidup itu adalah Yesus Kristus.

    Iman kristiani atau iman akan Kristus yang bangkit seringkali hanya menjadi teori atau ajaran teologi yang abstrak bagi banyak orang. Yang mudah dicerna seperti etika berbuat baik, berbuat kasih, ke gereja berdoa, melakukan ritual keagamaan, berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan gereja, justru dianggap sebagai ciri kekristenan. Ini tidak ada salahnya.

    Tetapi iman kristiani bukan sekedar hidup di dunia ini. Hidup kristiani juga, bahkan mungkin terutama, adalah tentang kebangkitan sesudah kematian atau hidup kekal seperti Kristus.

    Karena itu yang diminta Yesus kepada para murid-Nya untuk diwartakan adalah tentang “pertobatan dan pengampunan dosa” (Luk 24,47) dan “pembaptisan” (Mat 28,19).

    Inilah pesan-pesan terkahir Yesus sebelum naik ke surga. Dengan kata lain inilah wasiat Yesus. Wasiat ini tentu berkaitan dengan hidup masa kini selama berada di dunia. Tetapi wasiat ini jugalah yang akan menjadi jaminan bagi kita untuk hidup kekal setelah kematian.

    Kita bisa menjadi orang baik, bahkan orang suci, dengan segala pengorbanan, tapi jika itu semua hanya berakhir dengan kematian, maka rasanya tidak adil. Orang berdosa dan jahat pun akan berakhir dengan kematian. Terus apa bedanya?

    Ini hanya akan berbeda jika bagi orang beriman, yang hidup sesuai ajaran Yesus, memperoleh hidup baru atau kemuliaan setelah kematian.

    Karena itu wartakanlah Yesus yang mati dan bangkit, bukan Yesus yang tidak dapat mati!

    04 APRIL 2021 YANG KELABU

    0

    Banyak orang sedang mengadakan ibadah dan Ekaristi Hari Raya Paskah pada Minggu, 04 April 2021. Yesus yang bangkit dari kubur membawa sukacita besar bagi semua orang yang percaya. Namun diluar kuasa manusia, hari itu juga menjadi hari yang kelabu bagi sebagian masyarakat NTT dan Sumba Timur khususnya. Pasalnya, hari itu juga terjadi bencana banjir bandang dan siklon Seroja yang memporak-porandakan wilayah Matawai Amahu Pada Njara Hamu. Banyak orang yang menjadi korban karena bencana ini. Rumah rusak, lahan pertanian hancur dan terancam gagal panen, Bendungan Kambaniru yang menjadi andalan untuk mengairi persawahan dan pertanian jebol dan mengakibatkan lahan tidak bisa diolah selama beberapa tahun ke depan.

    Menyiapkan Makanan Jadi
    OMK Paroki Sang Penebus, Umat dan Ibu-Ibu WKRI Menyiapkan Makanan

    Dalam situasi dan kondisi yang memilukan ini ada begitu banyak orang yang tergerak untuk menyalurkan bantuan. Paroki Sang Penebus Waingapu yang menjadi Posko Utama Keuskupan dan jaringan utama Karitas KWI hiruk pikuk menerima dan menyalurkan bantuan-bantuan itu. Sejak Senin 05 April sampai saat ini, bantuan masih terus berdatangan, baik dari pemerintah, Paroki, paguyuban, kelompok, maupun perorangan. Bantuan-bantuan ini kemudian disalurkan pada korban sesuai data yang sudah disurvei sendiri oleh team Posko.

    Menyuplai Makanan ke Warga Yang Terdampak

    Pada hari-hari awal (6 hari) terhitung senin 05 april 2021, Posko mesuplai makanan jadi (telah dimasak) karena para korban belum bisa berbuat apa-apa. Setelah para warga kembali dari pengungsian dan menetap di rumah masing-masing walau masih terendam lumpur, Posko menyalurkan bahan sembako mentah untuk diolah sendiri. Sembako itu berupa beras, mie instan, gula, kopi, teh, minyak goreng, garam, sabun mandi, sabun cuci, pepsoden, sikat gigi, telur ayam, aqua, susu, energen, tikar, pakaian dan kain sebagainya. Aktifitas Posko masih terus berlangsung sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Orang Muda Katolik (OMK) St. Vinsentius A Paulo, Paroki Sang Penebus Waingapu bersama uamt paroki terus berjuang demi misi kemanusiaan ini.

    Menerima Sumbangan Dari Para Donatur
    Mengantar Sembako Ke Paroki St. Hendrikus Melolo
    Mengantar Sembako Ke Paroki St. Andreas Ngallu

    Terima kasih kepada siapa saja yang telah bersolider dengan caranya masing-masing, para penderma/donatur dan relawan yang terus berjuang bagi mereka yang tertimpa musibah. Tuhan membalas semua jerih lelah saudara-saudari.
    Semoga badai ini cepat berlalu dan aktifitas dapat kembali berjalan seperti sediakala.

    Salam Sang Penebus

    Umat dan OMK St. Klemens Katiku Loku Membantu Korban Bencana di Sumba Timur

    0

    Bencana alam seringkali menyisakan duka, derita dan trauma bagi para korban. Begitu juga dengan  bencana alam berupa tanah longsor, banjir dan badai saroja yang telah menimpa wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bencana alam ini menyebabkan ratusan orang meninggal dunia dan puluhan orang dilaporkan hilang. Ribuan orang harus mengungsi karena rumah terendam lumpur dan air, bahkan hancur tertimbun longsor dan dihantam badai saroja.

    Kondisi ini menggerakkan hati banyak orang untuk melakukan aksi solidaritas bagi para korban. Aksi serupa dilakukan oleh umat dan OMK Paroki Santo Klemens Katiku Loku, Sumba Tengah. Berbagai bantuan seperti uang, makanan dan pakaian layak pakai terkumpul dari umat dan para para sahabat. Secara khusus bantuan berupa uang dari para sahabat di luar paroki dan di luar pulau Sumba dikirim melalui rekening paroki.

    Pastor Paroki bersama beberapa pastor dan umat St. Klemens Katiku Loku telah mengantar sekaligus menyerahkan bantuan ke Posko Penanganan bencana alam di Pastoran Paroki Sang Penebus Wara-Waingapu, pada Rabu, 14 April 2021. Fokus bantuan masih terbatas untuk korban bencana alam di Sumba Timur, karena wilayah yang terdampak bencana di NTT sangat luas, tim memprioritaskan bantuan ke wilayah terdekat.

    Terima kasih kepada Pastor Paroki, para pastor, frater, OMK bersama seluruh umat paroki St. Klemens Katiku Loku dan para sahabat yang telah memberikan bantuan kepada saudara-saudari kita di Sumba Timur. Semoga Tuhan membalas jasa baik dan meberkati segala usaha dan pekerjaan anda sekalian. Salam dan doa dari Pastoran Paroki St. Klemens Katiku Loku.

    Kontributor: P. Yanto Lengo, CSsR

    Membagi Kasih: Solidaritas Tanpa Batas Para Frater dan Sahabat Redemptoris Yogyakarta

    0

    Para Frater Redemptoris Yogyakarta kembali melanjutkan aksi solidaritas berbagi kasih dengan saudara-saudari yang tertimpa bencana alam di NTT. Sebelumnya, pada hari Jumat tanggal 09/April/2021, para frater telah berkerjasama dengan posko bencana Adonara yang ada di Yogyakarta untuk mengirimkan donasi berupa uang dan pakaian layak pakai bagi korban bencana di Desa Nele, Lamadiken, Adonara, Flores Timur, NTT. “Itu merupakan gelombang donasi pertama dan masih ada donasi gelombang berikutnya”, kata Fr. Faris, CSsR yang turut terlibat aktif dalam aksi berbagi kasih tersebut.

    Kali ini, tujuan donasi gelombang berikutnya ialah desa Ama kaka, Ile Ape, Lembata dan daerah Sumba Timur, NTT. Walaupun masih dalam situasi ujian tengah semester, para frater masih menyiapkan waktu dan tenaga untuk mengumpulkan dan mengemas barang-barang yang didonasikan oleh para sahabat Redemptoris Yogyakarta. “Ujian ya ujian, memang ada banyak tugas UTS (ujian tengah semester) yang harus dikerjakan dan dikumpulkan tapi aksi kemanusiaan itu juga harus menjadi aksi prioritas”, kata Frater Iman Boeloe, CSsR yang menjadi ketua aksi para frater Redemptoris Yogyakarta. Kini, semua donasi pengiriman gelombang kedua telah siap untuk dikirim dan proses pengiriman akan diatur oleh posko penggalangan dana Lembata dan Sumba Timur yang berada di Yogyakarta. Donasi yang diberikan masih berupa pakaian layak pakai serta masker dan obat-obatan.

    Semoga melalui uluran kasih ini dapat membantu dan meringankan beban saudara-saudari sekalian yang berada di Desa Ama kaka, Ile Ape, Lembata dan Sumba Timur. Terima kasih juga untuk hati dan perhatian dari para Frater dan sahabat Redemptoris di Yogyakarta yang telah memberi dari kekurangan untuk membagi kasih tanpa batas bagi yang sungguh membutuhkan. Inilah cinta dan perhatian paling tulus yang dapat kita beri untuk saudara-saudari kita, sebab duka mereka adalah duka kita juga. Semoga lewat bantuan doa Bunda Maria Selalu Menolong dan Santo Alfonsus selalu meyertai kita. Salam Sang Penebus.

    Kontributor: Fr. Petrus Ronaldo, CSsR