Rabu, Januari 19, 2022
More
    Beranda blog Halaman 2

    PARADOKS BERKAT-Renungan Minggu Adven IV

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Ada pepatah yang mengatakan; “Dia yang bersemangat tidak bisa duduk di kursi.” Maria belum lama menerima berita gembira tentang Yesus yang dikandungnya. Maria, yang penuh semangat karena dipenuhi dengan api Roh Kudus membawa Yesus yang baru dikandung, bergegas ke pegunungan tempat tinggal Elizabeth, sepupunya. (Luk 2,39-45).

    Perjalanan ini merupakan perjalanan panjang dan melelahkan. Jarak Nazaret dengan Ain Karim tempat Elisabeth adalah 160 kilometer. Jarak ini bisa ditempuh selama empat atau lima hari jalan kaki. Perjalanannya juga mendaki karena perbedaan ketinggian Nazaret dan Ain Karim sekitar 400 meter. Sepanjang perjalanan Maria harus menginap di tempat terbuka.

    Ini membuktikan bahwa selain mempunyai fisik yang kuat sebagai wanita muda, kabar gembira yang diperolehnya memberi Maria kekuatan ekstra. untuk menyampaikan kabar bahagia itu kepada Elisabeth.

    Kedua sepupu itu saling menyapa, saling memberi salam. Keduanya sedang mengandung kehidupan baru. Setelah salam resmi Maria, anak Elizabeth yang belum lahir, yang disentuh oleh Roh Kudus, melompat kegirangan karena menyadari bahwa keselamatan sudah dekat. “Lompatan”

    Yohanes mengungkapkan sukacita semata-mata karena dipenuhi dengan Roh Allah. Elizabeth adalah orang pertama yang mendengar kata-kata itu, tetapi Yohanes adalah orang pertama yang mengalami kasih karunia. Elizabeth merasakan kedatangan Maria; Yohanes merasakan kedatangan Tuhan. Tidak heran bahwa Yohanes kemudian akan menjadi orang pertama yang mengenali kehadiran Yesus saat Dia memulai pelayanan publik-Nya!

    “DiBERKATilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 2,42). Bagi banyak umat Katolik, rangkaian kata-kata ini paling akrab karena mereka merupakan bagian inti doa Salam Maria. Elizabeth tidak hanya mengucapkan kata-kata ini; sebaliknya, teks mengatakan bahwa dia “meneriakkan kata-kata itu dengan suara nyaring.”

    Cara Elizabeth ini bisa disebut sebuah gaya  kenabian karena menafsirkan peristiwa ini sekaligus meramalkan sesuatu. Dengan merendahkan diri di hadapan Maria, dia mengungkapkan identitas tersembunyi pengunjungnya dan bayi yang dibawanya. Sebuah identitas pribadi yang penuh BERKAT

    Maria diberkati baik karena Imannya maupun karena melahirkan anak Kristus. Dengan demikian, Maria menjadi orang percaya sejati, teladan Iman dan yang pertama di antara murid-murid Putranya. Maria terberkati karena mau melayani sepupunya Elizabeth pada saat dia membutuhkan, sebuah pemberiannya yang sempurna, penuh kasih, dan pengorbanan untuk Elizabeth.

    Akan tetapi berkat ini juga mengandung paradoks. William Barclay, seorang ahli Kirab Suci, berkomentar bahwa BERKAT menganugerahkan kepada seseorang sukacita terbesar sekaligus tugas terbesar di dunia. Tidak ada tempat di mana pun kita dapat melihat paradoks secara lebih baik daripada dalam kehidupan Maria. Maria dianugerahi berkat dan hak istimewa sebagai ibu dari Putra Allah. Namun berkat itu adalah menjadi pedang untuk menembus hatinya: suatu hari dia akan melihat Putranya tergantung di kayu salib.

    Jadi, untuk dipilih oleh Tuhan seringkali merupakan mahkota sukacita dan salib kesedihan. Tuhan tidak memilih kita untuk kehidupan yang mudah dan nyaman, tetapi untuk menggunakan kita, dengan persetujuan kita yang bebas dan penuh kasih, untuk tujuan-Nya.

    Ketika Joana dari Ars tahu bahwa waktunya singkat, dia berdoa, “Tuhan, aku hanya akan bertahan setahun; gunakan aku semampumu.” Ketika kita menyadari tujuan Tuhan dalam hidup kita, kesedihan dan kesulitan hidup akan hilang.

    Berdoa mohon BERKAT atau meminta berkat, bisa berarti sekaligus memohon salib. Semakin banyak berkat diberi kepada kita, semakin banyak kita dimintai oleh Tuhan. Berkat mengandaikan sebuah tanggungjawab. Bila kita memohon dan tidak dikabulkan, bukan karena Tuhan tidak suka dengan kita, tetapi bisa jadi karena Tuhan menganggap kita tidak sanggup memikul tanggungjawab di balik BERKAT itu.

    Live-In Natal Postulan Redemptoris Indonesia

    0

    Dalam formasi Postulat Redemptoris Indonesia, para calon Redemptoris dibekali beragam pelajaran, seperti Hidup Bakti, Bahasa Latin, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Liturgi, Agama, Spiritualitas, Psikologi Panggilan, dll. Pelajaran-pelajaran ini menjadi dasar bagi para calon untuk menjalani pendidikan di tingkat yang lebih lanjut. Bidang intelektual akan diasah secara lebih intensif ketika menjalani pendidikan filsafat dan teologi di Yogyakarta.

    Selain Bidang Intelektual dan spiritualitas, para calon juga dituntut untuk memiliki pengalaman pastoral. Kegiatan Live-in yang merupakan satu proses formasi di mana para postulan belajar untuk mengenal karya kongregasi lewat para Redemptoris yang berkarya di paroki dan lembaga serta belajar berpastoral yang nyata lewat perjumpaan langsung dengan umat Allah. Kegiatan Live-in biasanya diadakan dua kali setahun yakni di masa Paskah dan Natal.

    Menyonsong Natal 2021, 29 orang postulan akan menjalani Live-in Natal selama kurang lebih tiga pekan mulai dari tanggal 11-27 Desember 2021 di Paroki St. Andreas Ngallu (6 orang), Paroki St. Klemens Katiku Loku (3 orang), Paroki St. Mikael Elopada (4 orang), Paroki Kristus Raja Waimangura (3 orang), Paroki Sta. Maria Homba Karipit (6 orang), Kuasi Paroki St. Paulus Karuni (3 orang), Pusat Pelayanan Pastoral Mamboro (2 orang) dan Lembaga Misi Umat (2 orang).

    P. Ofan Rowa, CSsR, selaku Direktur Postulat Redemptoris mengungkapkan harapannya agar setelah kegiatan Live-in ini para postulan semakin setia untuk mencintai panggilan mereka sebagai Redemptoris. “Harapannya, semoga setelah berjumpa mengenal karya Redemptoris, mereka semakin bersemanga tmenjalani panggilan mereka” ujar P. Ofan.

    GAUDETE IN DOMINO SEMPER-Renungan Minggu Adven III

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Seorang rabbi Yahudi datang ke Amerika. Dia tinggal di keluarga Kristen. Karena hari ini Natal, dia diajak makan di luar. Masuklah mereka ke restoran cina. Setelah makan, pelayan datang membawa nota tagihan, dengan sepotong kue keberuntungan dan sebuah bingkisan hadiah Natal.

    Melihat hadiah Natal itu, sang Rabbi menangis terharu. Katanya: “Sungguh menggembirakan hidup persaudaraan di negara ini. Saya seorang Rabi Yahudi, diundang makan keluarga Kristen, di restoran Cina, diberi hadiah Natal oleh seorang Buddha, dan uniknya hadiah Natal ini dibuat seorang Hindu.”

    Hari Minggu Gaudete atau Hari Minggu Gembira saat ini bersumber bukan pertama-tama karena apa yang SUDAH atau SEDANG diperoleh, melainkan karena apa yang AKAN diperoleh. Itulah yang disebut GEMBIRA DALAM PENGHARAPAN.

    Nabi Zefanya mengajak puteri Zion bersukacita karena pengharapan akan pembebasan Israel (Zef. 3,14). Ketika dia bernubuat, bangsa Israel sedang dalam pembuangan di Babilon. Saat itu mereka dalam keputus-asaan. Namun Zefanya tahu bahwa saat pembebasan akan segera tiba. Pembebasan pun bukan datang dari sahabat melainkan “orang asing dan kafir” yakni Raja Cyrus dari Persia. Kegembiraan yang ditawarkannya merupakan kegembiraan antisipatif. Gembira karena percaya walau nampak mustahil.

    Ketika Paulus mengajak para muridnya untuk bergembira dalam Tuhan, dia sedang berada di dalam penjara. Harusnya dia susah, marah, jengkela atau sedih. Tapi dia justru mengajak mereka bersukacita. “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan” (Fil 4,4). Ini nampak tidak masuk akal tetapi keyakinan bahwa Tuhan akan segera menolong membuatnya bergembira dan melupakan penderitaannya. Bahkan dia  mengajak orang lain bergembira bersamanya.

    Kegembiraan bisa bersumber dari banyak hal. Termasuk yg tak terduga, atau yang nampak tidak masuk akal. Banyak juga orang berpikir bahwa kegembiraan harus selalu sejalan dengan akal sehat manusia. Dalam kenyataannya tidak demikian.

    Dalam Tuhan KEGEMBIRAAN bisa muncul darimana saja, bagaikan setitik cahaya dalam kegelapan. Kegembiraan dalam pengharapan seringkali tidak memerlukan bukti yang terlihat, melainkan justru sebaliknya; kegembiraan adalah bukti bahwa Allah sedang bekerja dan merealisasikan kerinduan manusia.

    Gembira dalam Tuhan tidak selalu berarti apa yang kita harapkan sesuai dengan kenyataan. Tidak. Justru apa yang didatangkan Tuhan, walau berbeda dengan harapan kita, yang disyukuri dan melahirkan kegembiraan.

    Yesus nampak tidak sesuai dengan harapan Yohanes dan orang Israel pada umumnya. Mereka mengharapkan seorang Mesias politik yang datang dengan kekuasaan militer untuk mengusir bangsa Romawi. Ketika ideal macam itu tidak ditemukan muncul keraguan akan Dia sebagai Mesias. Tapi justru Mesias yang berbeda inilah yang kelak mendatangkan kegembiraan sejati.

    Bergembiralah, bukan karena apa yang sudah ada, melainkan karena apa yang akan ada. Karena dengan cara itu kita menunjukkan kepercayaan kita akan kuasa Allah.

    Dalam salah satu seruannya di Washington, Uskup Agung Fulton J. Sheen (sekarang Venerabili) berkata, “Orang-orang tidak mendengarkan kami karena kami sering mengkhotbahkan omong kosong sosiologis daripada Kristus yang disalibkan. Kristus yang tidak memiliki salib adalah sebuah kelemahan dan pasti tidak akan pernah berbicara tentang pertobatan.”

    Hidup Komunitas Dalam Kaitannya Dengan Karya-Rekoleksi Redemptoris Komunitas Sumba Timur

    0

    Senin (06/12/2021). Bertempat di Paroki St. Andreas Ngallu, para Redemptoris komunitas Sumba Timur berkumpul untuk mengadakan Rekoleksi bulanan. Rekoleksi yang mengangkat tema Hidup Komunitas dibawakan oleh Fr. Don Kelen, CSsR Toper Paroki St. Andreas Ngallu.

    Dalam pemaparannya, Fr. Don mengatakan bawah hidup komunitas dalam kongregasi Redemptoris mendapat bentuk konkretnya dalam perayaan ekaristi, doa bersama, makan bersama, dan rekreasi bersama.

    “Dengan menjalanlan kegiatan ini kita telah membangun langkah sabar dan sadar setiap hari dari “aku” ke “kita”, dari komitmenku ke komitmen yang dipercayakan kepada komunitas, dari pencarian akan “kepentinganku” kepada pencarian akan “kepentingan Kristus” jelas Fr. Don.

    Fr. Don Juga menjelaskan bahwa para Redemptoris perlu mengapresiasi setiap kebijakan-kebijakan yang dibuat dalam komunitas, baik di tingkat paroki maupun lembaga sebagai bentuk dukungan terhadapa hidup komunitas dan karya.

    “Untuk itu, seorang Redemptoris tidak hanya dipanggil kepada panggilan individualnya (aku bagi diriku sendiri), tetapi panggilannya juga menjadi “panggilan bersama” (aku bagi semua) – ia dipanggil bersama orang-orang lain, yang dengannya mereka “berbagi bersama” dalam kehidupan mereka sehari-hari” tutup Fr. Don.

    Kegiatan rekoleksi ditutup dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh P. Charles Udak, CSsR.

    HIDUP LURUS-Renungan Hari Minggu Adven II

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    William P. Barker menceritakan tentang seorang mekanik di perusahaan motor Ford di Detroit, AS, yang selama beberapa tahun telah “meminjam” berbagai suku cadang dan peralatan dari perusahaan yang tidak mau dia kembalikan. Meskipun praktik ini tidak dimaafkan, itu kurang lebih diterima oleh manajemen, dan tidak ada yang dilakukan tentang hal itu.

    Pada suatu ketika sang mekanik mengalami pertobatan menjadj Kristen. Dia dibaptis dan menjadi orang beriman yang taat. Lebih penting lagi, dia menganggap serius Pembaptisannya.

    Keesokan paginya, dia tiba di tempat kerja dengan membawa peralatan dan semua suku cadang yang dia “pinjam” dari perusahaan selama bertahun-tahun. Dia menjelaskan situasinya kepada mandornya, menambahkan bahwa dia tidak pernah benar-benar bermaksud mencurinya dan berharap dia akan dimaafkan.

    Sang mandor sangat heran dan terkesan dengan tindakannya, sehingga dia mengirim telegram kepada Mr. Ford sendiri, yang sedang mengunjungi pabrik di Eropa, dan menjelaskan keseluruhan situasi secara rinci. Ford segera mengirim telegram kembali: “Bendung sungai Detroit,” katanya, “dan baptis seluruh kota!”

    Setiap tahun, Minggu kedua dan ketiga dalam Adven berpusat pada Yohanes Pembaptis. Injil Lukas hari ini menuliskan kemunculan Yohanes sebagai Pemberita Mesias selama kepemimpinan keagamaan Hanas dan Kayafas. Meskipun Kayafas adalah Imam Besar yang memerintah, nyatanya Hanas, ayah mertuanya dan pensiunan Imam Besar, yang merupakan kekuatan agama di balik takhta ketiga raja putera Herodes Agung.

    Hanas karenanya terkadang disebut ular beludak yang mendesis atau berbisik di telinga para hakim dan politisi untuk mempengaruhi keputusan mereka.”

    Yohanes Pembaptis mengumumkan kedatangan Kerajaan Allah dan berkotbah tentang pembaptisan (pencelupan) sebagai tanggapan yang melambangkan pertobatan batin yang mengarah pada pengampunan. Ini adalah baptisan pertobatan (metanoia).

    Sungai Yordan dipilih karena di tempat itulah orang Yahudi meninggalkan hidup padang gurun dan memasuki tanah terjanji. Ini adalah simbol perbatasan antara masa lalu yang kering dan hidup baru yang segar.

    Memenuhi kata-kata nubuat Yesaya, khotbah Yohanes Pembaptis membantu memastikan bahwa dalam kehidupan setiap orang yang dibaptis, “Setiap lembah akan ditimbun, dan setiap gunung dan bukit akan diratakan, dan yang berliku-liku akan diluruskan, dan jalan yang kasar menjadi halus” (Luk 3:5).

    Yang dimaksud Yesaya adalah gunung kebanggaan dan kesombongan dan lembah keputusasaan dan ketakberdayaan. Seperti halnya Barukh, Yohanes menghadirkan bayangan gunung dan lembah yang dibuat rata dan mulus sebagai tanda pertobatan dan transformasi moral Israel.

    Meluruskan “jalan” berarti menciptakan lingkungan yang menguntungkan atau memudahkan seseorang untuk datang kepada Tuhan. Meluruskan jalan berarti membangun suatu semangat baru untuk kembali pada hakekat sebagai anak-anak Allah. Jalan yang lurus adalah simbol HIDUP YANG LURUS.

    Hidup yang lurus bukanlah tujuan itu sendiri. Hidup yang lurus akan membantu orang untuk berjumpa dengan Allah yang mendatangi, mengunjungi dan menyapa. Perjumpaan akan membuat orang-orang “melihat keselamatan dari Tuhan”.

    Meluruskan hidup tak semudah meluruskan rambut. Tapi bukan hal yang mustahil.

    RUANG TUNGGU-Renungan Hari Minggu Adven I/C

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Suatu ketika, beberapa tahun lalu, ketika bandara Tambolaka Sumba Barat Daya masih dalam proses pembangunan, saya menjadi penumpang Wings Air. Ruang tunggu masih belum tertata rapi. Banyak bahan bangunan menumpuk. Orang masih bebas keluar masuk ruang tunggu.

    Seorang ibu, calon penumpang keluar untuk menelpon. Sementara dia menelpon penumpang dipersilahkan menaiki pesawat (boarding). Kami semua satu persatu mendaki tangga pesawat. Ketika pintu pesawat sudah ditutup dan pesawat mulai bergerak, ibu itu terlihat berlari dan melambai-lambaikan tangan minta pesawat berhenti. Tapi prosedur pesawat tidak memungkinkan untuk itu. Pesawat berangkat, ibu itu pun tertinggal.

    Hari ini kita memasuki masa Adven. Kata Adven berasal dari “advenio” yang secara harafiah berarti “datang untuk”. Dimengerti sebagai masa penantian sekaligus pengharapan. Dalam pengertian populer sekarang bisa diibaratkan sebagai masa berada di “ruang tunggu” (waiting room).

    Kita bisa membayangkan ruang tunggu pesawat atau ruang tunggu di sebuah rumah sakit. Setiap orang menanti dengan pengharapan kapan panggilan itu datang.

    Di balik penantian ini tersirat pula sebuah peringatan agar waspada dan jangan lalai. Mengapa? Karena kelalaian membuat orang gagal merespon panggilan dan tertinggal.

    Dalam arti inilah kata-kata Yesus hari ini benar-benar mempunyai makna yang relevan:
    “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.”

    Peringatan Yesus ini merupakan suara kenabian yang sudah terdengar berulangkali dalam sejarah Israel. Contohnya adalah peringatan Nabi Yeremia.

    Ramalan nabi Yeremia, dalam bacaan pertama, (Yer 33,14-16) sesungguhnya berawal dari kesalahan raja dan bangsa Israel. Pada masa sebelumnya, Yeremia memperingatkan raja Zedekia dan bangsa Israel akan bahaya dari utara, yakni Raja Nebukadnezar. Peringatan ini datang dari Allah agar raja dan bangsa Israel selamat. Akan tetapi peringatan itu tidak dihiraukan. Akibatnya raja disiksa sampai matanya buta dan Israel diporak-porandakan. Bait Allah dihancurkan dan bangsa Israel dijadikan tawanan ke Babilon.

    Meski demikian janji dan cinta Allah bagi umat-Nya tidak hilang dengan adanya kelalaian dan penolakan. Allah selalu mempunyai ruang untuk menerima umat-Nya yang datang dan bertobat. Allah selalu mempunyai cara untuk memperbaiki relasi yang sudah dirusakkan. Allah selalu mempunyai cara untuk mengembalikan kedamaian dan ketenteraman.

    Peringatan Yesus juga menjadi bukti cinta Allah kepada umat-Nya. Belajar dari pengalaman bangsa Israel di masa lalu, Dia ingin agar umat-Nya selalu waspada dan menaruh perhatian pada kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Dia datang bukan untuk menaklukkan melainkan untuk memerdekakan selamanya.

    Akan tetapi hal ini pun tetap merupakan pilihan bebas. Setiap orang, sekalipun berada di “ruang tunggu” tetap berhak untuk menolak panggilan. Tentu dengan semua konsekwensinya. Yang pasti, tidak selamanya kita berada di ruang tunggu. Pilihannya jelas: entah kita menerima panggilan dan berangkat, atau kita diusir keluar.

    KRISTUS RAJA-Renungan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Di tengah-tengah alun-alun Vatikan, biasa disebut Piazza San Pietro berdiri sebuah tugu terbuat dari batu granit. Usianya kira-kira 4500 tahun. Tugu ini aslinya berdiri di atas kuil Dewa Matahari, di kota Heliopolis, Mesir Kuno. Tugu ini diambil oleh Kaisar Caligula, pada tahun 35 M dan ditempatkan di tengah-tengah stadion Circus Nero, di atas bukit Vatikan, Roma.

    Di Circus inilah Santo Petrus dihukum mati, disalib terbalik, kepala ke bawah. Tugu ini diyakini adalah hal terakhir yang dilihat oleh Petrus sebelum menghembuskan nafas terakhir.

    Di puncak tugu ini sekarang berdiri salib. Di masa lalu di puncak tugu ini diletakkan sebuah bola emas, melambangkan Dewa Matahari. Sekarang salib Kristus menggantikannya. Persis di kaki tugu ada dua tulisan. Yang pertama berbahasa Latin: Christus Vincit, Christus Regnat, Christus Imperat. Artinya, Kristus Menaklukkan, Kristus Berkuasa, Kristus Meraja. Tulisan kedua berbunyi: Singa Yudah Telah Menaklukkan.

    Ungkapan-ungkapan ini melambangkan kemenangan. Kristianitas telah menang oleh kuasa salib, bahkan telah menang atas kekuasaan terbesar di jaman kuno yakni kekaisaran Romawi. Di tengah alun-alun Santo Petrus saat ini berdiri lambang kemenangan Kristus dan para pengikutnya.

    Bahwa Yesus Kristus adalah Raja, kita bisa menemukan banyak sumbernya dalam Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Salah satu ucapan Yesus yang paling jelas sekaligus juga paling sering disalah-pahami adalah jawaban-Nya terhadap Pilatus.

    “Jadi Engkau adalah raja?”, begitu pertanyaan Pilatus. Jawab Yesus, “Engkau mengatakan bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran”. (Yoh 18,37). Satu hal yang menjadi kekhususan Yesus adalah bahwa kerajaan-Nya bukan dari dunia ini.

    Karena itu bentuk kekuasaan Yesus atau praktek penyelenggaraan kekuasaan-Nya berbeda dengan para pemimpin dunia. Kepemimpinan Yesus sebagai raja pada hakekatnya untuk melayani.

    “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Mat 20,26-27).

    Charles Colson, penasehat hukum Presiden Nixon dari Amerika Serikat, pernah mengatakan: “Semua raja dan ratu yang aku kenal dalam sejarah mengirim keluar rakyatnya untuk mati bagi mereka. Aku mengenal hanya satu Raja yang memutuskan untuk mati bagi rakyatnya”. Ya, Dialah Yesus Kristus.

    Paus Pius XI menetapkan Hari Raya Kristus Raja pada tahun 1925 dalam rangka Yubileum dan peringatan 16 abad Konsili Nicea. Tujuannya adalah untuk menegaskan kekuasaan Kristus dan Gereja atas semua bentuk pemerintahan, dan mengingatkan orang-orang Kristen akan kesetiaan dan loyalitas kita terhadap Kristus.

    Kerajaan Allah, dimana Yesus diberi kuasa atas langit dan bumi, adalah sebuah ruang dimana orangtua dan anak-anak hidup dalam cinta kasih: dimana ada perhatian terhadap mereka yang lemah dan menderita.

    Kerajaan Allah adalah sebuah masa dimana seseorang memberi makan mereka yang lapar, memberi tumpangan terhadap orang-orang asing, atau memberi perhatian terhadap mereka yang ditolak.

    Kerajaan Allah adalah sebuah situasi dimana gejalanya berupa keadilan, damai dan cinta.

    Merayakan hari istimewa ini berarti mengingatkan kita agar selalu membiarkan Yesus berkuasa atas jiwa, tubuh, hati dan pikiran kita.  Hanya dengan cara inilah kita bisa mendoakan penggalan doa Bapak Kami ini dengan jujur: “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga”.

    VISI MASA DEPAN – Renungan Minggu Biasa XXXIII

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Seorang Kepala Suku Indian (penduduk asli benua Amerika) segera menghadapi ajalnya. Dia lalu memanggilnya ketiga puteranya dan berkata: “Saat kematianku sudah dekat. Sebelum ajal tiba akua harus memilih satu di antara kamu bertiga yang akan menjadi Kepala Suku menggantikan aku. Untuk itu aku mempunyai permintaan. Hendaklah kamu bertiga pergi mendaki gunung suci kita dan bawakan kepadaku hadiah terindah yang bisa kamu temukan disana. Dia yang membawa hadiah yang paling mengesankan aku akan kuangkat menjadi Kepala Suku”.

    Pergilah ketiga putera itu mendaki gunung suci yang tinggi dengan susah payah. Mereka memilih arah pendakian yang berbeda. Setelah beberapa hari kembalilah mereka.

    Yang pertama datang membawa sekuntum bunga yang sangat indah dan sangat jarang ditemukan. Bunga itu dipetiknya di puncak tertinggi dari gunung. Yang kedua membawa sebongkah batu bernilai yang sangat indah warnanya. Batu ini sudah terpoles oleh hujan dan angin selama ratusan tahun.

    Putera ketiga datang dengan tangan kosong. Dia berkata kepada ayahnya: “Maafkan aku, ayah. Aku tak membawa apa-apa yang bisa kutunjukkan kepadamu. Ketika aku berdiri di atas puncak gunung suci, aku melayangkan pandangan ke seluruh penjuru. Pada  sisi sebelah tempat kita tinggal, aku melihat padang hijau yang sangat indah, dan di tengah padang ada danau biru yang airnya selalu melimpah. Aku membayangkan bahwa ke tempat itulah suku kita akan pergi untuk hidup yang lebih baik. Pesona inilah yang membuat aku lupa membawakan sesuatu untukmu.

    Ayahnya menjawab: “Puteraku, engkaulah Kepala Suku kita berikutnya karena engkau mempunyai visi masa depan untuk suku kita. Ini jauh lebih bernilai daripada hadiah apa pun buatku”.

    Kisah Injil Markus hari minggu ini berbicara tentang masa depan atau Parousia. Masa depan itu disebut kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. Bagi orang Kristen jaman modern,  gambaran semacam ini mungkin terasa asing. Tapi bagi orang Kristen awal dengan latar belakang Yahudi, gambaran ini justru sangat hidup.

    Kitab nabi Yoel, Yesaya, Daniel dan kitab Ulangan, dipenuhi dengan nubuat apokaliptik, artinya saat ketika selubung rahasia terbuka. Saat itulah Mesias datang dan mengadili semua orang, memilih mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang masuk neraka dan mana yang masuk surga. Itulah saat semua orang tak punya rahasia apa-apa lagi.

    Bagi orang benar, atau yang hidupnya sesuai dengan imannya, tapi menghadapi penganiayaan karena imannya, saat itulah yang ditunggu-tunggu. Di saat mereka menderita, kedatangan Kristus untuk membebaskan mereka dari penderitaan adalah saat yang paling diharapkan.

    “Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Mark 13,26). Kata-kata Yesus ini merupakan hiburan sekaligus harapan bagi para murid-Nya.

    Dalam situasi normal seperti saat ini, kedatangan Kristus yang kedua, yang disertai tanda-tanda yang menakutkan, seringkali dilihat secara sempit. Bencana alam dan kerusakan-kerusakan yang timbul, sampai kematian yang tiba-tiba menjadi seperti momok yang mengerikan. Kalau boleh itu tidak sampai terjadi.

    Apa yang paling penting di balik itu semua justru dilupakan: kebahagiaan dan sukacita abadi bagi mereka yang hidupnya benar di mata Tuhan.

    Penderitaan, kesulitan, ancaman di depan mata, seringkali membuat pandangan orang menjadi terbatas. Ketika sekeliling terlihat gelap dan suram, orang hanya fokus pada situasi saat itu.

    Sebagai orang Kristen, dengan cara hidup yang benar, pandangan mestinya melampaui semua kesulitan di depan mata. Bahkan bukan hanya kesulitan. Segala macam bentuk kebahagiaan yang dimiliki di dunia ini pun tidak boleh menyempitkan pandangan atau visi hidup.

    Jika kesulitan bukan akhir segala-galanya, maka demikian juga kebahagiaan di dunia ini. Baik penderitaan maupun sukacita duniawi, semua hanya sementara. Yang abadi adalah sukacita dan kebahagiaan yang ditawarkan oleh Tuhan pada kedatangannya yang kedua.

    Orang selalu mengatakan “tak ada makan siang gratis”. Pun hal ini berlaku untuk hidup kita. Tak ada surga yang gratis. Surga hanya disiapkan untuk mereka yang bekerja keras mewujudkan kehendak Allah di dunia ini.

    Yesus sudah meninggalkan jejak. Mereka yang sampai kepada Yesus adalah mereka yang berjalan di atas jejak kaki Yesus.

    MEMBERI – Renungan Minggu Biasa XXXII

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Santa Teresa dari Calcutta berkata: “Jika engkau memberikan apa yang tidak engkau butuhkan, itu bukan pemberian”. Bunda Teresa senang bercerita tentang seorang pengemis yang dijumpainya suatu hari. Pengemis itu berkata: “Bunda Teresa, setiap orang memberi kepadamu. Aku juga ingin memberi kepadamu. Hari ini saya hanya mendapat 15 rupee (30 sen). Aku ingin memberikan ini semua kepadamu”.

    Bunda Teresa terpana. Dalam hati dia berkata: “Jika aku menerima pemberiannya, dia tidak akan makan malam ini. Tapi jika aku menolak pemberiannya, itu akan melukai perasaannya”. Bunda Teresa lalu mengulurkan tangannya dan mengambil pemberian pengemis ini. Dan lihatlah betapa wajah pengemis ini dipenuhi kegembiraan yang luar biasa. “Aku belum pernah melihat wajah sukacita seperti ini”, katanya. Sekalipun dia pengemis, dia bangga pernah memberi kepada Bunda Teresa.

    Bacaan Kitab Suci hari ini berkisah tentang janda miskin yang memberi dari kekurangan.

    Janda pertama seorang non-Yahudi, dari suku Siro-Fenesia. Dia tinggal di daerah Sidon, tepatnya di Sarfat. Dia ditemui oleh nabi Elia yang meminta makanan pada saat kelaparan hebat sedang melanda wilayah itu. Dari segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli, harta terakhir yang dimilikinya bersama anak tunggalnya, dibuatnyalah sepotong roti untuk nabi Elia.

    Keikhlasannya memberi dan keyakinannya akan kata-kata nabi Elia mendatangkan mukjizat: tepung dalam tempayan dan minyak dalam buli-buli tidak habis sampai masa kelaparan berlalu ( 1 Raj 17,16).

    Allah mengganjar orang yang memberi dengan tulus dari kekurangan sekaligus percaya bahwa Allah akan menunjukkan cinta kepadanya.

    Kisah kedua tentang persembahan seorang janda miskin yang dipuji oleh Yesus (Mark 12,41-44). Kisah ini adalah kontras dari kisah sebelumnya dimana Yesus mengkritik para tokoh agama, yakni Ahli Taurat yang menunjukkan kesombongan dan kemunafikan: memakai jubah panjang, duduk di tempat terhormat dan berdoa panjang-panjang.

    Seorang janda tanpa anak mengalami tragedi ganda. Dalam kemiskinannya dia tidak mempunyai harapan akan masa depannya. Di masa tua hidupnya akan sepenuhnya tergantung pada belaskasihan orang. Akan tetapi hal ini tidak membuatnya kehilangan ketaatan akan kewajinan keagamaan untuk beramal,  tidak mengurangi kerelaannya untuk berbagi dan keyakinan akan kasih Allah. Duit dua peser, yang merupakan harta satu-satunya, tetap diberikan sebagai persembahan.

    Kepada siapa uang persembahan ini? Menjadi Ahli Taurat pada masa itu bukan pekerjaan profesional yang digaji. Kebanyakan dari mereka justru miskin. Uang hasil persembahan ini biasanya dipakai untuk kepentingan peribadatan, pemeliharaan Bait Allah dan menghidupi para Ahli Taurat ini.

    Yang dikritik oleh Yesus adalah bahwa banyak dari mereka yang justru mempergunakan uang persembahan ini untuk hidup mewah dan memperkaya diri. Mereka memanfaatkan kesalehan orang-orang beriman termasuk yang miskin, terutama para janda untuk kemakmuran hidup mereka. Kekuasaan keagamaan dan status bisa mendorong para pemimpin agama pada keserakahan dan korupsi.

    Janda ini dipuji oleh Yesus, bukan terutama karena kemiskinannya, tapi karena ketaatan, kesalehannya, dan keikhlasan memberikan semua yang dia punyai, termasuk jaminan masa depannya. Dengan kata lain, dia memberikan dirinya secara total dalam tangan Tuhan. Seolah-olah dia berkata: seluruh yang kumiliki sudah kuserahkan, sekarang hidupku hanya tergantung pada Tuhan.

    Biasanya kita menilai orang dari apa yang dia MILIKI. Yesus menilai orang dari apa yang dia BERIKAN dan maksud di balik pemberian ini.

    Seorang anak kecil usia 6 tahun pertama kali ikut misa. Ketika tiba di rumah neneknya bertanya: “Bagaimana pengalamanmu hari ini, dek?”. Anak ini jawab: “Saya rasa oke. Tapi nampaknya tidak adil bahwa Pastor melakukan SEMUA pekerjaan di atas altar. Kemudian beberapa orang datang dan mengambil SEMUA UANG dari umat yang hadir”.

    3 LEMBAR HUKUM KASIH – Renungan Minggu Biasa XXXI

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Seorang wanita datang kepada seorang Guru dan bertanya: “Bagaimana saya tahu kalau sebuah agama itu benar?”. Guru itu menjawab dengan mengulangi kisah ini.

    Ada seorang raja bijaksana dengan tiga putera. Raja ini mempunyai satu warisan ajaib: sebuah cincin yang memberi dia kemampuan berbelaskasih, murah hati dan keramahan yang besar. Menjelang ajalnya, masing-masing dari tiga putera ini datang dan meminta cincin ajaib ini. Sang Raja menjanjikan hal yang sama kepada ketiga puteranya. Tapi bagaimana itu mungkin?

    Dia lalu meminta tukang emas membuat dua cincin tiruan yang persis sama dengan cincin asli. Cincin itu dibagikan kepada mereka. Lalu raja itu wafat. Ternyata mereka lalu sadar mempunyai cincin yang sama. Mereka datang kepada hakim dan minta agar memutuskan mana cincin yang asli. Hakim pun tak sanggup. Seorang hakim tua lalu berkata: dia yang hidup sesuai dengan khasiat cincin itu, dialah yang memakai cincin yang asli. Lalu mereka pun berusaha hidup dengan belaskasih, kemurahan hati, dan keramahan.

    Guru itu berkata kepada wanita: “Jika engkau ingin tahu mana agama yang benar, perhatikanlah siapa yang mewujudkan kasih Tuhan kepada dunia”.

    “Hukum manakah yang paling utama?” (Mrk 12,28).

    Ini adalah pertanyaan seorang Ahli Taurat kepada Yesus. Pertanyaan ini melengkapi daftar pertanyaan yang diajukan oleh para lawan Yesus untuk memojokkan atau menjebak Yesus karena segala ucapan dan tindakannya dianggap menyerang agama Yahudi dan para tokohnya. Ini adalah ujian atas pengetahuan dan kemampuan keagamaan Yesus.

    Mengapa yang ditanyakan soal hukum utama padahal tidak dicatat secara eksplisit tentang hal ini dalam Kitab Taurat? Hal ini berangkat dari kebiasaan tokoh-tokoh agama Yahudi dengan dua kecenderungan. Yang satu ingin memperbanyak 613 hukum dalam Kitab Taurat menjadi ribuan aturan-aturan kecil. Yang lainnya yang ingin membuat simpel Kitab Taurat menjadi beberapa kalimat saja.

    Model yang kedua ini dibuat Daud, sebagai contoh, dengan membuat hukumnya terdiri dari 11 kalimat saja (Mazmur 15). Yesaya membuatnya menjadi 6 saja (Yes 33,15), kemudian jadi sisa 2 (Yes 56,1). Nabi Micah membuatnya jadi 3 saja (Mic 6,8). Dan nabi Habakuk menjadikannya 1 saja: “orang benar hidup oleh iman” (Hab 2,4).

    Ketika Yesus ditanya, Dia menjawab dengan memgambil rumusan utama yang dikenal sebagai “Shema O Israel”: Dengarlah Hai Orang Israel. Dia mengutip secara lurus kitab Ulangan (6,4) yang menjadi inti seluruh ajaran dan hukum Israel: Mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan. Akan tetapi kasih terhadap Allah ini harus diwujudkan dalam kasih terhadap sesama. Maka Yesus menambahkan bagian kedua dari kitab Imamat: kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri (Im 19,18).

    Maka hukum utama versi Yesus terletak pada 3 lembaran ajaib: mengasihi Allah, mengasihi sesama, dan mengasihi diri sendiri. Tiga lembaran ajaib ini membentuk satu buku kasih yang menjadi inti terdalam sebuah agama, khususnya agama Kristen.

    Kita mengasihi Allah karena hanya dengan cara itu kita menyempurnakan gambaran Allah dalam diri kita. Kita mengasihi sesama dan diri kita sendiri karena sesama dan diri sendiri adalah gambar dan rupa Allah. Ini adalah cara satu-satunya untuk mengasihi Allah secara benar.

    Dari ketiga hal ini, mengasihi sesama adalah bagian yang paling menantang. Siapakah sesamaku? Jawaban Yesus terletak pada kisah tentang Orang Samaria yang baik hati, dikisahkan tepat setelah episode Hukum Utama ini dalam Injil Lukas (Luk 10,25-37).

    Akan tetapi hal ini tetap tidak membuatnya menjadi mudah. Menemukan sesama yang membutuhkan kasih kita tidak serta merta membuat kita mudah melakukannya. Selalu ada godaan untuk menutup mata, mencari alasan, atau menghindar dari kewajiban ini. Karena itu Yesus memberi contoh kerendahan hati seperti Dia: “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikianlah kamu harus saling mengasihi” (Yoh 13,34).

    Yesus adalah model bagaimana mengasihi. Sebagai model kita harus mengenal Dia sehingga bisa meneladani Dia: Imitatio Cristi.