Jumat, Agustus 12, 2022
More
    Beranda blog Halaman 3

    RUMAH: SEKOLAH CINTA DAN PENGAMPUNAN – Renungan Minggu Prapaskah V

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Gary Dearing menceritakan sebuah kisah tentang Kolonel Angkatan Udaranya, yang menjabat sebagai inspektur jenderal komandonya, dan memberi perhatian khusus pada bagaimana personel mengenakan seragam mereka.

    Pada suatu kesempatan Kolonel melihat seorang penerbang junior melakukan pelanggaran. ‘Penerbang,’ dia berteriak, ‘Apa yang Anda lakukan ketika saku kemeja tidak dikancingkan?’ Penerbang yang terkejut itu menjawab, ‘Kancingkan, Pak!’

    Kolonel menatap matanya dan berkata, “Lalu!”

    Mendengar itu, penerbang dengan gugup meraih dan mengancingkan saku baju Kolonel.”

    Kisah Yesus dan wanita pendosa ini ada dalam Injil Yohanes 8,1-11 saat ini. Kisah ini tidak dapat disangkal kaya akan makna teologis dan moral, dan penuh drama psikologis dan manusiawi.

    Dalam episode ini Yesus tampak terlalu “lunak” terhadap dosa. Mungkin karena alasan ini, cerita itu untuk sementara dikesampingkan oleh Gereja awal (tidak ditemukan dalam manuskrip Yohanes yang tertua) dan baru kemudian diterima sebagai kisah yang kanonik.

    Benarkah Yesus lunak terhadap dosa? Sebetulnya tidak demikian. Pertama, tuntutan para Ahli Taurat dan orang Farisi sebetulnya tidak terlalu fair. Jika merujuk pada hukum Musa, maka yang harus dihukum bukan hanya wanita melainkan juga pelaku pria. (Im 20,10; Ul 22,22). Nyatanya mereka hanya berani dengan wanita lemah. Kedua, tidak ada contoh tentang perlakuan demikian untuk yang berzinah. Melempari batu sampai mati biasanya terjadi kepada orang yang menghujat atau menghina.

    Ada ungkapan yang berbunyi: “Adalah hal yang buruk jika seorang berdosa jatuh ke tangan sesama pendosa” (F.B.Meyer). Artinya, keadaan bisa lebih mengancam nyawa karena yang jadi hakim adalah penjahat sendiri.

    Jebakan mereka pada Yesus nampaknya sulit dihindarkan. Akan tetapi Yesus terlalu pintar untuk dijatuhkan dengan strategi macam ini.

    Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu. (Yoh 8,7).

    Kata-kata-Nya bagaikan peluru yang menembak relung kesadaran mereka. Alih-alih memusatkan seluruh perhatian, energi dan kemarahan kepada wanita yang berdosa, Yesus menuntut mereka untuk melihat diri sendiri, merenungi diri sendiri: apakah aku juga orang berdosa?

    Santo Agustinus dengan indahnya menggubah kata-kata Yesus dengan nada lain: “Silahkan wanita ini dihukum, tapi jangan oleh pendosa. Hukum harus dilaksanakan tapi jangan oleh mereka yang melanggarnya”.

    Kalimat Yesus membuat para penyerangnya menjadi terdiam. Lalu pergi diam-diam, mulai dari yang tertua sampai yang muda.

    Kalima Yesus berikutnya: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang”. Mungkin ada yang menganggap bahwa Yesus terlalu lunak. Tetapi dengan mengatakan secara tegas, “Jangan berbuat dosa lagi”, Yesus mengakui bahwa wanita itu memang berbuat dosa. Yesus tidak menyangkal dosa wanita itu.

    Yesus saat itu tidak mau fokus pada dosa wanita itu, karena Yesus tahu pengalaman wanita itu, mulai dari penangkapan dan diseret ke depan Yesus sambil diteriaki, sudah menjadi trauma tersediri baginya. Semua itu sudah cukup sebagai hukuman bagi wanita ini.

    Rangkaian kisah dramatis ini mengajarkan kita tentang kemurahan hati Allah yang luar biasa. Paus Fransiskus dalam kotbah minggu perdana setelah dilantik sebagai Paus mengatakan: “Allah tidak pernah lelah mengampuni kita,…kitalah yang justru lelah memohon ampun kepada-Nya”.

    Rumah adalah sekolah pertama orang Kristiani untuk belajar cinta dan pengampunan. Jangan biarkan anak-anak keluar dari rumah sebelum lulus ujian ini.

    BERSALAH DAN MERASA BERSALAH – Renungan Minggu Prapaskah IV

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Raja Prusia, Frederick Agungt, pernah mengunjungi penjara Berlin. Semua tahanan berlutut di hadapannya sambil menyatakan diri tidak bersalah – kecuali satu orang, yang tetap diam. Frederick memanggilnya, “Mengapa kamu di sini?” “Perampokan bersenjata, Yang Mulia,”  jawabnya. “Dan apakah kamu merasa bersalah?” “Ya memang, Yang Mulia, saya pantas menerima hukuman saya.”

    Frederick kemudian memanggil sipir dan memerintahkannya, “Lepaskan penjahat yang bersalah ini segera. Saya tidak akan membiarkan dia ditahan di penjara ini di mana dia akan merusak semua orang tak bersalah yang baik yang ada di dalam!”

    Kisah “Anak Yang Hilang” , dalam injil hari ini (Luk 15,1-32) sejatinya mendapat banyak pujian sepanjang sejarah penafsiran Kitab Suci. Charles Dickens misalnya menyebut kisah ini sebagai “Cerpen teragung di dunia”. Kadang disebut juga Injil dari Injil. Rembrant  seorang pelukis termasyur dari Belanda pada abad 17 melukis kisah ini dengan judul: Kembalinya anak yang hilang.

    Singkatnya para ahli Kitab Suci dan para seniman besar mengangkat tema ini dengan berbagai cara sehingga kisah ini sungguh melekat dan hidup di hati orang beriman selama berabad-abad.

    Ada tiga karakter utama dalam kisah ini. Satu, anak bungsu yang bertoba. Dua, ayah yang mengampuni. Tiga, pembenaran diri oleh anak sulung.

    Satu hal yang menarik disini tetapi kurang mendapat perhatian adalah bahwa anak yang hilang sesungguhnya ada. Yang bungsu maupun yang sulung. Setelah yang bungsu pulang, yang sulung malah pergi dalam kekecewaan atas sikap baik dan pemaaf ayahnya.

    Meskipun kisah anak yang hilang sering diberikan sebagai contoh pertobatan, itu sebenarnya adalah kisah tentang bagaimana Tuhan mengampuni dan menyembuhkan orang berdosa yang bertobat. Seperti Tuhan, ayah dalam perumpamaan itu siap untuk mengampuni kedua putranya yang “berdosa” bahkan sebelum mereka bertobat.

    St Thomas Aquinas menjelaskan bahwa Tuhan sudah mengampuni kita segera setelah kita bertobat, bahkan sebelum kita mengaku dosa atau melakukan penebusan dosa.

    Pengampunan yang ditawarkan ayah dalam perumpamaan ini sejajar dengan pengampunan yang Tuhan tawarkan dalam kehidupan nyata. Itulah sebabnya Yesus dalam Injil sering menggambarkan Tuhan lebih seperti seorang pengacara pembela daripada seorang jaksa penuntut. Janganlah kita menjatah rahmat Tuhan, karena Dia adalah kekasih yang “hilang”.

    Kebebasan yang kita miliki membawa kita pada dua pilihan sikap. Pertama, pergi dan befoya-foya dengan harta kekayaan dan dalam kehancuran moral tetapi pulang dengan penyesalan dan tobat seperti anak bungsu. Atau yang kedua, menjadi anak yang baik dan setia di rumah tetapi dengan menimbun kepahitan dan siap membuat perhitungan kapan saja, seperti anak sulung.

    Kebaikan dan murah hati Tuhan kadang tidak masuk akal dan pertimbangan kita. Tapi itulah kekuasaan Tuhan yang tak bisa kita ganggu gugat.

    Karena itu lebih baik bersalah dan merasa bersalah karena hal ini seringkali lebih mudah membuat kita bebas, daripada tidak bersalah dan merasa tidak bersalah.

    Tapi siapa sih yang tidak pernah salah?

    PERTOBATAN – Renungan Minggu Prapaskah III

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Orang Yahudi mengenal konsep “pertobatan” yang sangat mungkin diadopsi juga oleh orang Kristen. Konsep pertobatan Yahudi pada zaman Yesus dikenal dengan istilah TESHUVÀ. Teshuva adalah konsep kunci dalam pandangan para rabi tentang dosa, pertobatan, dan pengampunan.

    Para rabi Yahudi mengajarkan bahwa pertobatan membutuhkan lima elemen: pengakuan akan dosa seseorang sebagai dosa; penyesalan karena telah melakukan dosa; berhenti mengulangi dosa ini; ganti rugi untuk kerusakan yang dilakukan oleh dosa jika memungkinkan; dan pengakuan.

    “Pengakuan” bagi orang Yahudi memiliki dua bentuk: ritual dan pribadi. Pengakuan ritual terjadi saat pembacaan liturgi pengakuan pada saat-saat yang tepat dalam kehidupan doa komunitas. Pengakuan pribadi terjadi sebagai komunikasi pribadi di hadapan Tuhan sesuai kebutuhan atau bisa juga memasukkan pengakuan pribadi ke dalam liturgi pada saat-saat yang ditentukan.

    Seseorang yang mengikuti langkah-langkah teshuvá ini disebut sebagai “peniten.”

    Sebenarnya, ungkapan atau ajakan untuk bertobat yang dilontarkan Yesus kepara pendengarnya yang adalah Yahudi seperti itu caranya. Bukan sesuatu yang baru atau asing.

    “Jikakalau kamu tidak BERTOBAT, maka kamu semua akan binasa dengan cara demikian” (Luk 13,3).

    “Bertobat” (dalam bahasa Yunani, “metanoia”), menyiratkan tidak hanya penyesalan atas masa lalu tetapi pertobatan radikal dan perubahan total dalam cara hidup kita saat kita menanggapi dan membuka diri terhadap kasih Allah.

    Pertobatan, atau berpaling dari satu jalan ke jalan lain, bukanlah terutama menemukan Tuhan. Yang lebih tepat adalah “ditemukan oleh Tuhan”. Pertobatan ibarat, berjalan satu langkah menuju Tuhan dan Allah berjalan sembilan langkah menuju kita.

    Yesus memanggil kita hari ini untuk “bertobat” – bukan tentang perubahan hati satu kali saja, tetapi transformasi hidup kita setiap hari secara berkelanjutan.

    Thomas Merton menulis: “Kita bertobat tidak hanya sekali dalam hidup, tetapi berkali-kali, sebuah seri pertobatan, kecil dan besar, tanpa akhir. Sebuah revolusi mendalam yang membimbing kita pada transformasi dalam Kristus”.

    Bertobat bukan karena adanya ancaman malapetaka, kematian atau neraka. Malapetaka atau kematian tidak selalu menjadi hukuman atas dosa. Dosa dapat menuntun orang pada tragedi, tetapi tidak semua tragedi hidup terjadi karena dosa.

    Bertobat lebih karena menyadari CINTA TUHAN, yang selalu setia menunggu dan mengampuni kembali. Pertobatan sejati inilah yang bisa menghasilkan buah yang baik.

    Orang yang pulang ke rumah karena ketakutan berbeda dengan orang yang pulang ke rumah karena menyadari disitu ada cinta dan belaskasihan.

    Pulanglah sebelum terlambat karena tragedi atau kematian bisa terjadi kapan saja dan dengan cara apa saja.

    Ada seorang gadis yang bercerita kepada pastornya tentang dosa kesombongan. Dia berkata: “Setiap hari minggu, saat di dalam Gereja dan melihat sekeliling, saya selalu berpikir bahwa saya adalah gadis paling cantik disitu. Saya selalu berusaha untuk tidak berpikir demikian tapi tidak bisa. Apakah ini termasuk dosa besar?”

    Pastor menjawab: ” Itu bukan dosa besar, anakku, tapi hanya sebuah kesalahan besar”.

    TRANSFORMASI – Renungan Minggu Prapaskah II

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Kisah Injil minggu pertama Prapaskah memperkenalkan kepada kita kemanusiaan Yesus dengan kisah pencobaan di padang gurun. Pada minggu kedua ini kita merenungkan keilahian Yesus dengan kisah penampakan kemuliaan di atas gunung (Tabor).

    Kisah ini biasa disebut transfigurasi atau perubahan wujud. Karena yang terjadi adalah wujud Kristus manusia nampak dalam keilahian maka peristiwa ini bisa disebut juga sebagai Kristofani. Peristiwa ini dialami Yesus ketika Dia sedang berdoa.

    Penampakan keilahian Yesus terjadi sekurang-kurangnya karena dua alasan:
    Pertama, Dia ingin berbicara dengan Allah Bapa yang mengutusnya, untuk memastikan rencana Allah: penderitaan, kematian dan kebangkitan.

    Kedua, untuk meyakinkan para murid akan status ilahi-Nya, sehingga mereka tidak lagi tergoda untuk mengejar impian politik mereka berdasarkan pemahaman yang keliru tentang Yesus sebagai Mesias politik. Dengan ini mereka juga dikuatkan untuk menghadapi saat-saat penderitaan Guru dan Sahabat mereka, Yesus.

    Ketiga, penampakan Yesus dalam kemuliaan surgawi ini juga untuk menunjukkan bahwa Dia adalah orang benar di mata Allah. Paham Yudaisme abad pertama percaya bahwa mereka yang masuk surga akan memperoleh tubuh surgawi (1 Kor 14, 42-49).

    Hal yang terakhir ini bisa menjelaskan mengapa Musa dan Elia yang tampil saat itu. Di gunung Sinai, setelah perjumpaan dengan Allah, wajah Musa bersinar dengan cemerlang (Kel 21,1; 34,25). Di atas gunung Horeb kemuliaan Allah lewat di depan Musa dalam bentuk “angin sepoi-sepoi basa” (1 Raj 19,12). Dua pribadi ini merupakan tokoh Perjanjian Lama yang mengalami kemuliaan Allah secara langsung.

    Hal yang paling menarik disini adalah bahwa kemuliaan Allah dialami secara nyata dalam DOA. Tentu sangat mungkin bahwa Allah dialami melalui pengalaman hidup harian yang biasa-biasa saja. Tetapi dalam DOA, Allah bisa menampakkan kemuliaan-Nya, dan dengan itu hati kita tertuju pada hal-hal surgawi ketimbang duniawi.

    Seperti Yesus, hari-hari ke depan mungkin akan menjadi sulit bahkan penuh dengan ketakutan dan penderitaan. Tapi mengetahui dengan pasti bahwa ini adalah cara Allah untuk membawa kita pada kemuliaan surgawi akan membuat kita kuat dan bertahan.

    Beriman itu biasa, tapi tetap setia dalam iman saat hidup menjadi berat dan sulit, itu luar biasa.

    Kekristenan bukan sejenis mie instan, disiram air langsung jadi makanan enak. Kekristenan merupakan proses transformasi hari demi hari, melalui pencobaan, kesulitan dan penderitaan.

    GODAAN SETAN – Renungan Minggu Prapaskah I

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Santo Antonius dari Mesir pada abad ke-3 meninggalkan hidup normalnya di tengah masyarakat dan tinggal di padang gurun sebagai pertapa. Dia berpikir dengan cara itu dia terhindar dari GODAAN SETAN. Setan dan kawan-kawannya ternyata mengikuti dia. Untuk menghindarkan dia dari hidup suci, mereka menyerang dia dengan segala cara; melalui penampakan yang menakutkan sampai kekerasan fisik.

    Ketika dia berpuasa atau berdoa lebih keras mereka menggoda dia supaya jangan terlalu berpuasa dan berdoa. Jika dia tidak mampu ditipu dengan kesombongan, mereka membuat dia hidup dalam kekecewaan. Antonius terus bertahan, tapi dia benar-benar berjuang sendirian.

    Suatu hari ketika kuasa neraka mencekik dia dengan sisa sedikit sekali kemungkinan untuk hidup, suatu cahaya dari surga tiba-tiba turun menerangi dia dan setan-setan melarikan diri.

    Sadar bahwa dia ditolong oleh kuasa surga, Antonius menyeru kepada Allah: “Dimanakah Engkau Tuhanku dan Guruku? Mengapa Engkau tidak datang sejak awal untuk menghentikan penderitaanku?”.

    Allah menjawab: “Antonius, Aku selalu disini, tetapi Aku ingin melihat bagaimana engkau bertindak. Sekarang, karena Aku tahu bahwa engkau bertahan dan tidak menyerah, Aku akan menjadi penolongmu selamanya, dan Aku membuat engkau termasyur dimana-mana”.

    Setiap orang pasti mengalami godaan setan. Yesus, dalam bacaan Injil hari ini, mengalami godaan itu ketika dia berdoa dan berpuasa selama 40 hari di padang gurun. Gambaran Injil Mateus dan Lukas tentang drama godaan yang dialami Yesus, adalah sebuah penampakan akan perjuangan jiwa dan batin Yesus menghadapi godaan-godaan yang datang selama masa hidup dan karya-Nya. Disini terlihat jelas bagaimana setan hendak membatalkan usaha Yesus untuk memenuhi kehendak Bapa di surga untuk menyelamatkan manusia dari dosa.

    Secara garis besar dapat dilukiskan bahwa Yesus mau ditarik dalam ranah Mesias politik sebagaimana harapan bangsa Israel. Yesus juga digoda untuk memanfaatkan kuasa ilahi demi popularitas pribadi. Yesus bahkan mau dijauhkan dari penderitaan. Semua ini ditolak oleh Yesus karena menyimpang dari kehendak Bapa yang mengutus Dia.

    Menariknya, godaan-godaan yang dialami Yesus bukan untuk melakukan dosa. Ini adalah godaan dalam lingkup ketaatan kepada kehendak Allah. Menurut para Bapa Gereja, godaan-godaan ini berpusat pada keinginan daging (roti untuk dimakan), keinginan mata dan hati (menguasai semua kerajaan) dan kesombongan hidup (menjatuhkan diri dari bubungan bait Allah karena akan ditolong).

    Yesus berhasil mengatasi godaan-godaan ini karena Dia tahu siapa diri-Nya, Dia tahu tujuan hidup-Nya dan Dia tahu kehendak Allah atas diri-Nya. Ketiga aspek ini adalah senjata utama melawan godaan-godaan setan.

    Hidup kita bisa jadi juga penuh godaan. Dunia ilmu pengetahuan yang semakin maju seringkali mengabaikan kehadiran setan. Bahkan seringkali setan dianggap tidak ada. Setan dianggap produk imajimasi liar para agamawan.

    Akan tetapi faktanya dunia tidak hanya tentang apa yang kelihatan atau disentuh. Dunia juga berkaitan dengan apa yang dirasakan; membuat takut, cemas dan gelisah. Ini bukan sekedar simptom psikologis tetapi karena sesuatu yang lain di luar diri kita.

    Mengabaikan kehadiran setan berarti juga meniadakan salahsatu alasan mendasar lahirnya agama-agama di dunia. Percaya adanya setan dan godaannya tidak membuat orang menjadi bodoh. Yesus percaya akan adanya GODAAN SETAN, mengalahkannya, dan karenanya Dia diingat dan dikenang sampai hari ini. Yesus hidup abadi karena tidak dikuasai setan.

    Lebih baik membuat SETAN tetap berada di luar diri kita daripada berjuang melawan setan di dalam diri kita.

    YOM KIPPUR / HARI PENEBUSAN – Renugan Hari Rabu Abu

    0
    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Upacara Rabu Abu datang dari tradisi orang Yahudi yang mengungkapkan tobat dan penyesalan dengan mengenakan kain dari karung sambil berlumuran abu. Itulah yang disebut dengan Yom Kippur atau Hari Penebusan. Yom Kippur adalah hari terakhir dalam 10 hari masa pertobatan dan puasa. Pada saat itu orang Israel menerima belaskasih Allah dan penebusan dari dosa-dosa.

    Kitab Suci mencatat Ayub melakukan ritual pertobatan dengan “mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di tengah-tengah abu” (Ayb 2,8). Dalam kisah nabi Yunus, orang bukan Yahudi pun melakukan ritual yang sama. “Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di atas abu” (Yun 3,6).

    Hari itu adalah hari dimana mereka yang merasa berdosa, menyadari kedosaan dan kelemahannya. Inilah ungkapan simbolis manusiawi bahwa kita adalah ciptaan ‘dari abu tanah’ dan suatu ketika akan kembali ‘menjadi abu tanah’. Manusia adalah tanah-adamah yang dibentuk oleh Allah dan diberi nafas kehidupan. Karena itu tak perlu mengagungkan diri.

    Sebagai manusia, dalam kedosaan dan kelemahan, kita juga bagaikan orang yang berselimutkan kain karung dan berlumurkan abu dan debu. Kita menyatakan diri kotor, hina dan tak berarti di hadapan Tuhan yang maha suci.

    Tradisi Rabu Abu ini diperkenalkan di dunia kekristenan dalam Sinone Benevento tahun 1091. Sejak abad ke-11 inilah kebiasaan Rabu Abu, bersama Jumat Agung, menjadi hari puasa dan pertobatan di kalangan orang Kristen.

    Ini berarti kita kembali ke hakekat asal kita, kembali ke fitrah, dan mengharapkan sekali lagi belaskasih Allah. Pada saat ini kita mohon diberi nafas kehidupan baru karena sesungguhnya dalam dosa kita telah mati. Masa ini adalah masa dimana kita diangkat dan ditebus lagi untuk hidup yang baru.

    Pada saat yang sama kita juga sadar bahwa hidup ini singkat dan tak terduga. Kita tak pernah tahu apa yang terjadi pada saat, waktu, jam atau hari yang akan datang. Kita bisa menduga tapi tak bisa memastikan. Bahwa kita sesungguhnya bergantung pada yang memberi kehidupan yakni Allah sendiri.

    Pertobatan yang diiringi puasa atau mati raga juga menegaskan semangat untuk tidak menjadikan diri kita pusat segalanya. Apa yang kita miliki merupakan titipan dan selayaknya berbagi dengan yang berkekurangan. Melalui kita Allah sesungguhnya ingin menjadikan kita saluran rahmat dan kasih-Nya.

    Prapaskah bukan sekedar cermin untuk melihat apa yang tampak di permukaan melainkan sebuah alat rontgen rohani yang mampu menembus permukaan kulit dan menyoroti sisi lemah atau sakit dalam tubuh kita. Dengannya kita mampu mengobati diri dan menjadi lebih sehat sebagai murid Kristus.

    Seorang pria Irlandia punya kebiasaan unik. Setiap kali masuk bar, dia selalu memesan 3 gelas bir. Dia beralasan, tiga gelas ini mengingatkan dua saudaranya, satu pindah ke Australia dan satu pindah ke Amerika. Setiap meminum 3 gelas dia mengenang saat mereka bertiga minum bersama.

    Pada suatu hari dia hanya memesan 2 gelas bir. Bartender heran lalu bertanya: “Apakah semua baik-baik saja?”. Dengan senyum dia menjawab: “Oh tidak apa-apa, kami semua baik”. “Lalu mengapa hanya 2 gelas hari ini?”, tanya Bartender lagi. Dia menjawab: “Hari ini saya puasa minum bir karena Rabu Abu.”

    KRITIK – Renungan Minggu Biasa VIII

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Abraham Lincoln, mantan Presiden Amerika Serikat pernah berkata: “Hanya orang yang siap menolong yang berhak untuk mengkritik”.

    Kalimat ini meringkas dengan sangat baik ucapan Yesus dalam Injil hari ini:

    “Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (Luk 6,42).

    Ucapan Yesus ini adalah kelanjutan dari pesan-pesan sebelumnya, yang termasuk dalam rangkaian Hukum Emas (Golden Rule). Intinya berbunyi: Perbuatlah pada orang lain, apa yang engkau ingin orang perbuat kepadamu”. Dengan kata lain, perlakukanlah orang lain dengan cara seperti engkau inginkan untuk dirimu sendiri.

    Jelas ini tidak dimaksudkan agar orang diam saja terhadap kesalahan atau kejahatan. Juga bukan sebuah “relativisme moral”, dimana orang dibiarkan mempunyai standar moral sendiri. Misalnya dengan berkata; “kalau engkau anggap baik, ya sudah”. Tidak. Bukan ini maksudnya.

    Tidak ada orang yang mengkritik atau menghakimi yang benar-benar fair, obyektif dan bebas kepentingan. Juga kita tidak selalu tahu motivasi, latar belakang atau apa yang menggerakkan seseorang melakukan sesuatu, termasuk hal yang salah.

    Disini yang mau diingatkan adalah bahwa cara kita mengkritisi atau terutama menghakimi, akan dipakai juga oleh Tuhan pada saat akhir nanti. Hanya Tuhan yang benar-benar fair dan obyektif.

    Kata-kata atau ucapan adalah cara paling mudah dan paling sering bersinggungan dengan orang lain. Setiap kali berbicara, kata yang keluar pasti ditujukan kepada orang tertentu. Tidak mungkin kata-kata keluar dengan sendirinya tanpa tujuan.

    Melalui kata-kata kita dapat melihat seperti apa pribadi seseorang; seperti dikatakan dalam Kitab Sirakh: “Jangan memuji seseorang sebelum ia berbicara, sebab justru itulah batu ujian manusia” (Sir 27,7).

    Yesus menggunakan kata-kata-Nya untuk berkotbah, menyembuhkan, memperbaiki dan mengembalikan kehidupan, kegembiraan dan sukacita. Kata-kata
    -Nya tidak pernah digunakan untuk menghancurkan atau membunuh.

    Dengan cara ini Yesus mengajarkan bagaimana seharusnya berbicara dan bersikap.

    Jika dalam hati kita ingin diperlakukan dengan kasih sayang, dengan kata-kata yang lembut dan penuh pengampunan, maka hendaklah kita juga melakukan hal yang sama dengan orang lain.

    Seorang Pastor berkotbah tentang karunia rohani pada tiap-tiap orang. Selesai misa seorang wanita datang kepada Pastor dan berkata: “Pastor, saya yakin, saya punya talenta untuk mengkritik”. Pastor memandang wanita itu sejenak, berpikir, lalu menjawab: “Bu, apakah anda ingat kisah Injil tentang seseorang yang mempunyai satu talenta? Bagaimana tindakannya?”. Wanita itu spontan menjawab dengan yakin: “Dia pergi dan menguburkan satu talentanya!” Pastor itu berkata lagi: “Pergilah dan lakukan itu!”.

    HIDUP ITU SOAL PILIHAN – Renungan Minggu Biasa VII

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Adam memilih untuk melanggar perintah Allah memakan buah pohon terlarang. Dia yang berasal dari tanah akhirnya harus kembali ke tanah. Dengannya dia membawa kematian bagi dunia.

    Saul memilih untuk hidup dalam dendam yang tiada akhir sehingga binasa oleh dendamnya sendiri. Di sisi lain Daud memilih untuk menghormati Raja pilihan Allah sehingga dia mengambil sikap memaafkan.

    Mengasihi musuh, memohon berkat bagi yang mengutuk, berdoa bagi yang mencaci adalah sebuah pilihan.

    Tidak membalas jika ditampar bahkan menyerahkan pipi yang satunya lagi adalah sebuah pilihan. Memberikan lebih kepada yang meminta juga adalah pilihan.

    Yesus mengajarkan sebuah revolusi moral dalam rangka relasi antar manusia. Ungkapan kunci, yang dikenal sebagai Hukum Emas:

    “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka” (Luk 6,31).

    Disini ada ada etika kristiani yang tidak hanya menghindari kejahatan melainkan aktif melakukan kebaikan; bukan hanya kepada sahabat melainkan juga kepada musuh. Inilah perwujudan nyata dari kasih Agape.

    Kasih AGAPE mempunyai perhatian mendalam kepada sesama karena mereka diciptakan dalam gambar Allah. Kasih macam ini menginginkan yang baik bagi sesama karena demikianlah yang dikehendaki Allah.

    Yesus tidak hanya mengajarkan hal ini tetapi sendiri mempraktekkannya. Di atas kayu salib, dalam derita yang tak terkira, Yesus berdoa: “Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”.

    Apakah ini berarti kita membiarkan kejahatan? Tentu sebuah kesalahan jika kita tidak membela orang yang tak bersalah ketika kita mempunyai tanggungjawab untuk itu. Juga adalah sah jika kita membela diri kita dari musuh yang tidak benar.

    Tetapi merupakan sebuah KEUTAMAAN jika menanggung penderitaan yang tidak adil bahkan menjadi martir demi Kristus dan Injil-Nya. Menjadi sebuah KEUTAMAAN jika kita harus memikul salib yang tak pantas kita terima demi Kerajaan Allah.

    Seperti Allah, yang kasih dan pengampunan-Nya turun bagi orang baik maupun orang jahat, demikianlah kita yang menyebut dirinya anak-anak Allah. Untuk mencapai tingkatan ini, kita perlu selalu berdoa memohon Roh Kudus agar mengajar dan menguatkan kita.

    Tapi pertama-tama kita harus menentukan PILIHAN. Pilihan akan memperlihatkan siapa kita sesungguhnya.

    Ketika Presiden Jokowi mengangkat Prabowo, rival beratnya dalam Pilpres, menjadi Menteri Pertahanan, rupanya dia menganut prisip Michael Corleone dalam film The Godfather II, “Usahakan temanmu selalu dekat, tetapi musuhmu harus lebih dekat lagi”.

    Valentine Untuk Frater – WSP Podcast Spesial Valentine

    0

    Yogyakarta, Wisma Sang Penebus (WSP) – Bertepat dengan hari kasih sayang (Valentine), Senin, 14 Februari 2022, podcast berjudul “Valentine Untuk Frater” tayang secara langsung di akun YouTube WSP pada pukul 17.00 WIB. Pater Arnoldus Richardo Misi, CSsR (P. Ricky) menjadi narasumber tunggal dalam podcast ini. Dipandu oleh Frater Julian Pedro Claudio, CSsR (Fr. Pedro) podcast dengan model interview berlangsung selama lima puluh lima menit. Meski sempat tertunda delapan menit akibat buruknya koneksi internet, podcast tetap berlangsung hingga selesai.

    Valentine, dengan berbagai cara dan bentuk perayaannya, merupakan kesempatan untuk berbagi kasih dan sayang. Bukan pertama-tama pada kado dan ucapan, P. Ricky mengatakan bahwa idealnya kesempatan valentine ialah pemaknaan pada kasih sayang. “Kita punya kesempatan satu hari (Valentine) untuk memaknai dan merefleksikan cinta yang berkembang di dalam pribadi dan orang lain,” kata P. Ricky pada awal interview.

    Memaknai hari kasih sayang, kreator konten YouTube WSP berusaha meramu dan membagikan tayangan podcast special valentine. Podcast merupakan konten baru.Hingga akhirnya menciptakan sebuah podcast yang menarik, para frater saling bekerja sama dalam sie-sie yang berkaitan. Sie Multimedia bertanggung jawab membuat rundown podcast, pengaturan kamera, pengeras suaradan live streaming. Sie dekorasi mendekor latar podcast, dan sie musik instrumen bertugas mengiringi lagu.

    Kerja sama tim adalah kerja dalam rasa persaudaraan. Para frater telah membagikan materi yang berharga kepada publik melalui podcast, sekaligus bekerja sama dalam persaudaraan di “belakang layar”. Pada hari ini, cinta telah nyata diungkapkan oleh para frater di Wisma Sang Penebus.

    Filosofi cinta yang dianut oleh kaum biarawan/ti ialah cinta yang universal. Demikianlah kata P. Ricky, yang bertugas sebagai staf formator di WSP, “Perjalanan panjang dalam proses pembinaan kita (frater) ialah proses bertahap untuk membentuk cinta yang universal. Terlihat bahwa proses bertahap itu dapat dibentuk setiap hari, juga dalam setiap pekerjaan bersama yang saling menguatkan seperti hari ini.

    Cinta dan Damai Tuhan beserta kita!

    Kontributor: Fr. Flavianus R.B. Jawa

    MAGNA CARTA KRISTIANI – Renugan Minggu Biasa VI

    0

    Ada dua Sabda Bahagia dalam Kitab Suci. Satu dari Injil Mateus (Mat 6) dan yang satunya lagi dari Injil Lukas (Luk 6). Kedua MACARIOS ini bisa disebut Magna Carta Kristiani.

    Ada kemiripan sekaligus perbedaan. Kata dasarnya MACARIOS, yang mengandung arti “Terberkati”. Dalam bahasa Ibrani nadanya bukan sekedar pernyataan melainkan seruan. Harafiahnya berbunyi: O terberkati orang miskin! Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan kata: BERBAHAGIALAH.

    Sabda Bahagia dalam Mateus terucap di atas bukit. Dalam Lukas terjadi di dataran rendah. Dalam Injil Mateus lebih panjang-ada 8 Sabda Bahagia. Dalam Injil Lukas hanya 4 Sabda Bahagia dan 4 Sabda Celaka atau Kutukan.

    Kesamaannya terletak pada gaya kontras, kaya-miskin, kenyang-lapar, tertawa-menangis, yang diterima dan ditolak. Dijelaskan pula siapa yang diberkati dan alasan mereka diberkati.

    Sabda bahagia disini mempunyai dua makna: eskatologis dan duniawi. Makna eskatologis berarti, kebahagiaan atau terberkatinya orang miskin, menderita dan tersingkirkan, bukan terutama tentang keadaan di dunia ini, dalam hidup sehari-hari. Ini berbicara tentang masa depan, pada kehidupan nanti. Berbahagia dan celaka adalah situasi setelah kehidupan dunia ini.

    Makna duniawi berarti kebahagiaan atau terberkati selama hidup di dunia. Mengapa orang-orang macam ini terberkati? Bukankah kemiskinan atau penderitaan sering dianggap KUTUK?

    Kontradiksi lain, jika mereka yang miskin, menderita dan disingkirkan adalah orang-orang yang diberkati atau berbahagia, lalu mengapa orang lain harus berusaha menolong mereka keluar dari situasi yang menyedihkan ini? Disinilah menariknya ungkapan Yesus yang benar-benar tak terduga.

    Jawabannya ini: Ada perbedaan antara mereka yang berada dalam situasi miskin, menderita dan tersingkir karena memang dipaksa oleh keadaan – biasanya karena tekanan sosial-politik dan mereka yang memang memilih jalan hidup miskin. Sebagai contoh Santo Fransiskus Asisi atau Santa Teresa dari Calcutta. Mereka memilih jalan hidup miskin demi solidaritas dengan mereka yang miskin. Yang terakhir ini pasti sungguh bahagia, di dunia sekarang maupun nanti.

    Mereka yang dipaksa oleh situasi, dan miskin bukan sebagai pilihan adalah orang-orang yang harus ditolong dengan cara berbagi apa yang dimiliki. Mereka yang kaya dan puas dengan diri mereka sendiri dan tak punya kemauan untuk berbagi, merekalah yang dianggap celaka atau terkutuk.

    Dengan kata lain, Yesus dalam Sabda Bahagia ini ingin menegaskan dan mengajarkan agar kemakmuran yang sesungguhnya milik bersama dibagi secara adil dengan orang-orang yang tidak beruntung sehingga mereka pun berbahagia dan merasa terberkati.

    Terberkatinya orang-orang ini terletak pada sikap orang lain yang  hidupnya lebih beruntung. Dengan kata lain, jika anda ingin melihat orang lain bahagia, itu tugasmu. Lakukan sesuatu untuknya!

    Seorang petani sepanjang hidupnya sibuk mengurus tanah pertanian dengan bantuan seekor kudanya. Suatu hari kudanya hilang. Temannya datang dan mengucapkan rasa simpati. “Sungguh memalukan pencurian itu”, kata temannya. Dia hanya menjawab: “Siapa yang tahu? Tuhan pasti tahu!”. Beberapa hari kemudian kudanya kembali ke kandang. Temannya datang dan ikut bergembira: “Sungguh membahagiakan”, katanya. Jawabnya sama: “Siapa yang tahu? Tuhan pasti tahu!”.

    Tak lama kemudian, anaknya yang berumur belasan tahun jatuh dari kuda dan kakinya patah. Datang lagi temannya seperti biasa. “Ikut sedih atas anakmu”, katanya. Jawabnya: “Siapa yang tahu? Tuhan pasti tahu!”.

    Beberapa hari kemudian, datanglah perintah dari kerajaan agar setiap remaja belasan tahun ikut wajib militer untuk perang melawan negara lain. Anaknya tak terpilih karena kakinya patah. Lagi-lagi temannya datang: “Sungguh anakmu beruntung”. Jawabnya tak berbeda: “Siapa yang tahu? Tuhan pasti tahu!”.

    Ya, kita mungkin tak tahu mengapa, tapi Tuhan pasti tahu!