Jumat, Maret 5, 2021
More
    BerandablogHalaman 3

    WSP TALK Season I (Katekese Virtual)

    0

    Menjadi Orang Muda Katolik yang Bahagia – Spesial Valentine

    Setiap manusia memiliki kerinduan untuk menjadi bahagia. Kebahagiaan merupakan harapan seseorang akan kehidupan yang sesuai dengan panggilan jiwanya yang terdalam. Dalam kenyataannya, kebahagiaan menjadi usaha setiap kita untuk memaknai kehidupan sebagai bentuk syukur dan perayaan akan hidup yang merupakan anugerah Allah.

    Bentuk perayaan kita akan kehidupan adalah dengan mengenal dan mencintai diri kita terlebih dahulu (Love Yourself First). Cinta itulah yang menuntun kita untuk berbagi kepada orang-orang yang kita sayangi dan sesama di sekitar kita (Love Your Neighbour as Yourself).

    Katekese virtual dengan tema “Menjadi Orang Muda Katolik yang Bahagia” ini merupakan usaha para Frater Redemptoris Indonesia untuk memberi pemahaman akan makna kebahagiaan dan sahabat muda Katolik untuk menjadi pribadi yang bahagia dan bersukacita. Dengan menjadi pribadi yang bahagia dan bersukacita, Orang Muda Katolik yang adalah masa sekarang dari Gereja (The Now of The Church) siap melayani sesama dengan hati yang bersukacita dan penuh kebebasan.

    Happy valentine’s day dan bahagia selalu.

    Semoga hidup kita menjadi semakin berarti.

    Tuhan memberkati

    Salam Sang Penebus

    DI TIMUR SUMBA

    0

    DI UJUNG TIMUR PULAU SANDELWOOD

    TERBENTANG LUAS PADANG SABANA

    SUARAKU BERGEMA DI ANTARA RERUMPUTAN

    MENGUMANDANGKAN CINTA YANG KIAN MEMUDAR

                DARI TERBITNYA MENTARI HINGGA TERBENAMNYA

                TERDENGAR RINTIHAN SANG MUSAFIR PENCARI CINTA

                MENGIDUNGKAN MAZMUR KELUHAN DAN RATAPAN

                MENDAPATKAN KEMBALI CINTA YANG HILANG

    KEBEBASAN DAN KEBAHAGIAAN KAMI PERLAHATAN DI RAMPAS

    KEGEMBIRAAN DAN SUKACITA KAMI PERLAHAN DICEKIK

    KEINDAHAN BUMI PERLAHAN DIBASMI

    OLEH PERUSAK-PERUSAK CINTA

    YANG HANYA MENCARI KENIKMATAN

                WAHAI SAHABAT-SAHABAT PENCINTA BUMI

    GEMAKANLAH SUARAMU, NYATAKANLAH AKSIMU

    WUJUDKANLAH VISI MISIMU

    KUMANDANGKANLAH   KUMANDANGKANLAH

    KEMBALIKAN SUKACITA KAMI

    KEMBALIKANLAH KEBEBASAN KAMI

    KEMBALIKAN KEPERAWANAN BUMI KAMI

    BUMI SANDELWOOD YANG EKSOTIK

    BUMI SUMBA YANG HARMONIS

    TANAH MARAPU YANG KUBANGGAKAN

    TEBARKAN PESONAMU HINGGA KE UJUNG BUMI

    I LIVE YOU HARTAKU

    I AM PROUD OF YOU SUMBAKU

                            (Karya Rafi Uran, CSsR)

    Renungan Minggu Biasa VI/B – 14 Februari 2021

    0

    VAYIKRA

    Seorang pastor bekerja di sebuah paroki yang banyak orang kustanya. Dia selalu ketakutan jangan sampai kena penyakit kusta. Ciri penyakit kusta yang selalu diingatnya adalah mati rasa pada kaki.

    Suatu malam diundang sebuah keluarga muda untuk makan malam. Sambil makan pun dia tetap terpikir penyakit kusta. Setelah makan dan minum wine agak banyak, tiba-tiba dia berkata:

    “Maaf kupikir aku mulai kena penyakit kusta”. Semua kaget. Ibu muda itu bertanya, “Bagaimana pastor tahu sudah kena penyakit kusta”. Pastor jawab dengan wajah ketakutan: “Ketika aku pijit kakiku di bawah meja, tak terasa apa-apa. Kakiku mulai mati rasa. Itu tanda penyakit kusta”. Ibu muda itu tersenyum: “Pastor salah pijit, itu kakiku yang dipijit”.

    Bacaan pertama dalam minggu ini berasal dari Kitab Imamat. Nama kitab Imamat adalah Vayikra, artinya “Allah Memanggil.” Seperti biasanya judul atau nama kitab suci dalam bahasa Ibrani diambil dari kata pertama dalam kitab tersebut. Contoh lainnya Kitab Kejadian dengan nama “Bereshit” yang artinya “Pada awal mula”.

    Panggilan kepada Musa jelas, yakni untuk kesucian dan kemurnian. Salahsatu cara menyucikan diri atau menjaga kesucian adalah dengan menghindari mereka yang najis atau kotor, khususnya mereka yang menderita penyakit lepra atau kusta.

    Yang memutuskan apakah seorang menderita penyakit kusta adalah Imam Harun atau keturunannya yang juga Imam. Jika dipastikan kusta maka harus dinyatakan najis. Orang tidak boleh dekat apalagi bersentuhan dengan dia. Jika hanya kudis atau panu, dia perlu dikarantina tujuh hari. Setelah tujuh hari kalau belum sembuh maka dikarantina lagi selama tujuh hari.

    Tidak ada pengobatan untuk mereka yang sakit seperti ini. Mereka disingkirkan dan berharap sembuh sendiri jika sudah diampuni oleh Allah karena penyakit macam ini sebagai bentuk hukuman Allah atas dosa mereka.

    Apa yang dibuat Yesus dalam bacaan Injil hari ini merupakan sebuah lompatan besar. Kesucian versi Yesus diperoleh bukan dengan menghindari orang kusta tetapi dengan mendatangi, menyentuh dan menyembuhkan mereka.

    “Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir” (Mrk 1,41).

    Tiga tindakan Yesus yang penuh makna. “Mengulurkan tangan” sering dianggap sebagai murah hati atau dermawan. Itu merupakan gambaran orang yang suka menolong orang lain. Ini memang baik tapi bagi Yesus hal ini tidak cukup. Mengapa?

    Orang bisa menolong tanpa melihat atau mengenal apalagi menyentuh orang yang ditolong. Sumbangan ‘anonim’ adalah contohnya. Yesus ingin lebih dari itu. Dia “menyentuh” orang kusta itu.

    Sentuhan selalu mempunyai nilai kasih sekaligus penghargaan. Menyentuh berarti membangun hubungan batin atau hubungan emosional antara dua orang. Menyentuh dalam tindakan menolong berarti mengatakan: “engkau saudaraku, engkau berarti bagiku”.

    Ekspresi ketiga Yesus adalah dengan berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir”. Ungkapan ini adalah jawaban atas permohonan orang kusta ini. Menjawab permohonannya dengan kata-kata yang jelas dan tepat merupakan bentuk ketulusan dan keikhlasan. Perbuatan Yesus menyembuhkan bukan sekedar kemurahan hati tetapi sebagai bentuk pernghargaan atas martabat orang ini. Yesus menyapa orang kusta ini dan meletakkannya pada status sebagai pribadi lagi, bukan sekedar orang sakit.

    Kesucian dan kemurnian tidak selalu diperoleh dalam dunia steril, menghindari apa yang kotor, jahat atau najis. Kesucian dan kemurnian diperoleh dengan sebuah tindakan kasih terutama bagi mereka yang ditelantarkan, dihindari dan menderita macam-macam penyakit dan kesulitan.

    Tindakan kasih ini menjadi sempurna jika didasari ketulusan, keikhlasan, serta dalam semangat menghargai pribadi yang lain.

    (SETETES EMBUN, by P. Kimy Ndelo CSsR; ditulis di Biara Santo Alfonsus-Konventu Weetebula, Sumba tanpa Wa)

    Sejarah Hari Valentine

    0

    SALAM SEHAT sahabat terkasih,

    SEDIKIT SEJARAHNYA:
    Perayaan ini berawal dr kebiasaan ORANG ROMAWI KUNO yg merayakan pesta LUPERCALIA (baca: Luperkàlia) dari 13 – 15 Februari, di mana pria mengorbankan seekor anjing/kambing. Lalu, kulitnya dipakai oleh laki2 untuk mencambuki para perempuan. Bahkan, perempuan2 muda BERBARIS MENUNGGU GILIRAN untuk dicambuk oleh laki-2, karena diyakini ini membuat mereka semakin subur.

    Dlm Perayaan ini pula para pria akan menarik undian di mana tertulis nama wanita, lalu pria2 itu MENGUNGKAPKAN CINTANYA kpd wanita2 itu. Festival ini berpuncak pd uapacara pernikahan dr pasangan-2 itu.

    Namun, Lupercalia digantikan dgn PESTA Sto VALENTINUS pd akhir abad ke-5 oleh PAUS GELASIUS, dan ini adalah bagian dr alasan mengapa Hari Valentine dikaitkan dgn ASMARA serta AWAL DARI CINTA.

    Nama ‘VALENTINE’S DAY’ berasal dr nama  Sto VALENTINUS, seorang pastor yg diceritakan secara rahasia MENIKAHKAN PASANGAN-2 MUDA KRISTEN. Ini bertetangan dgn aturan kaisar Romawi CLAUDIUS II yg melarang para pria muda untuk menikah. Krn menurut Kaisar, pria muda yg tidak menikah akan menjadi prajurit yg lebih baik dan berdedikasi

    Sto Valentinus MELAWAN ATURAN ini dan menikahkan pasangan2 yg saling mencintai. Ketika Kaisar mengetahui ini, ia memerintahkan agar pastor Valentinus DIHUKUM MATI dgn cara DIPENGGAL kepalanya.

    Sebelum hukuman itu dilaksanakan, selagi di penjara, Pastor Valentinus setia MELAYANI REKAN-2NYA di tahanan dan jg seorang ANAK PEREMPUAN sipir penjara yg buta. Diceritakan bahwa hari terakhir sebelum hukuman mati dijalankan, pastor Valentinus menulis SURAT kepada wanita muda yg buta itu, dan pada akhir surat itu dia menuliskan sebuah PESAN KASIH SAYANG-nya: ‘DAL TUO VALENTINO ’ (dari Valentinus-mu). Pastor Valentinus dihukum mati pd tgl 14 Februari 270.

    Baru 200 tahun kemudian, pd abad ke 5, PAUS GELASIUS menetapkan Hari Valentine. Ketika itu Kekaisaran Romawi telah menjadi kristen. Dengan cara ini Paus meniadakan upacara kesuburan orang Romawi kuno dan menggantikannya dgn HARI VALENTINE yg dirayakan setiap tanggal 14 FEBRUARY.

    Ini doa terbaikku hr ini, semoga PASANGAN-2 YG SALING MENGASIHI sungguh2 mencintai TANPA PAMRIH dan MAU KERKORIAN, dgn cinta yg punya hanya satu tujuan: UNTUK MEMBAHAGIAKAN PASANGANNYA. Semoga kasih sayangmu menghadirkan BERKAT dan KEBAHAGIAAN. Amin.

    BUNDA MARIA SELALU MENOLONG MENDOAKAN KITA 🙏🙏