Santo Gerardus Mayella

Muro letaknya 20 mil di sebelah Selatan Kota Napoli. Di sini hidup keluarga Mayella yang amat dihargai penduduknya. Dominicus Mayella seorang penjahit yang rajin, cekatan dan jujur. Benedicta Gallela, isterinya selalu bersedia untuk membantu siapa saja. Tiada heran minat besar meliputi keluarga itu, ketika pada tanggal 23 April 1726 lahir anak mereka yang kelima – Gerardus namanya.
Ketika Gerardus kecil berumur 5 tahun, ia sudah berani menempuh seorang diri jalan sempit, yang melalui bukit-bukit terjal, menuju Kapel Bunda Sorgawi dari Capotignamo. Di kapel ini mulailah anugerah yang melimpahi kehidupan Gerardus Mayella.
Pada suatu hari, sekali lagi Gerardus kecil sedang berlutut di hadapan patung Bunda Maria yang mengendong Anaknya. Tiba-tiba kanak-kanak Yesus meninggalkan gendongan ibuNya akan bermain-main dengan Gerardus. Setelah lama bermain Gerardus diberiNya sebuah roti putih halus sekali. Kegirangan menerima hadiah itu, Gerardus mendapatkan ibunya yang bertanya :
“Dari mana kau terima roti ini?” tanya Benedicta.
“Dari putra Nyonya yang paling cantik,” jawab Gerardus, dan berlarilah ia.

Sejak hari itu seperti ada magnet yang selalu menarik Gerardus kecil ke Capotignamo. Betapa terkejut ibu Benedicta ketika pada suatu senja melalui kapel Bunda Sorgawi, Gerardus berseru : “Itulah Nyonya yang selalu memberi roti kepadaku, ibu!”Ketika Gerardus kecil berumur 6 tahun, tibalah waktunya ia harus bersekolah. Kini terikat waktunya, dan Gerardus pun seperti kebanyakan anak menangisi masa kecilnya yang tidak lagi sebebas dulu. Tapi segeralah ia tertarik oleh mata pelajaran yang makin membukakan budinya yang terang. Dan para guru mempergunakan bakat murid yang pandai dengan memberinya tugas untuk membantu teman-teman lainnya yang bodoh.

Ketika itu juga Gerardus mulai mengubah sifatnya yang pendiam. Berulang-ulang Gerardus mencoba menyertai teman-temannya dengan maksud akan membujuk mereka pada saat yang tepat. Akan mengajak mereka mengejar yang luhur demi Kasih Tuhan. Ya, meski masih sangat muda Gerardus sadar bahwa ajakannya tidak akan berhasil bila tidak dibantu dengan pengorbanan. Demikian acap kali terjadi Gerardus menyakiti dirinya sendiri dengan sebuah cemeti, agar berhasil bila usahanya diarahkan terhadap seorang teman yang sungguh-sungguh bertabiat buruk. Ibu Benedicta mengamat-amati tingkah anaknya. Maka sadarlah ia bahwa Gerardus dilahirkan semata-mata untuk kerohanian.

Keluar dari Sekolah Rakyat Gerardus terpaksa menolong ibunya mencari nafkah karena ayahnya baru-baru saja meninggal. Begitu Gerardus menjadi pelayan seorang penjahit, sekalian akan belajar menjahit juga. Seluruh jiwanya berkabung, betul-betul segan Gerardus akan pekerjaan itu. Tapi sedikitpun perasaan jemu tidak membayang keluar, Dengan rajin Gerardus bekerja, sementara tangannya menjalankan jarum turun naik, hatinya tiada putus berdoa.

Tidak heran pula majikannya, Pannuto, berhati besar. Hanya seorang mandor pelayan rupanya benci akan Gerardus. Kepatuhan dan kerajinan anak itu, yang seakan-akan mengejek kelakuannya yang kurang tertib, sangat menjengkelkan hatinya. Sebab itu ada saja tuduhannya terhadap Gerardus. Bahkan kadang-kadang berangnya memuncak, hingga tak tertahan lagi olehnya. Maka ditamparinya Gerardus yang sebernarnya tidak bersalah.
Sekali peristiwa ia menyodok Gerardus dengan kepalan tinjunya, hingga Gerardus jatuh pingsan sebentar. Ketika itu juga Pannuto masuk. Terperanjatlah ia melihat kejadian itu, dan mandornya dengan gugup berkata : “Aku tidak melihat apa yang terjadi, biarlah ia yang menjawabnya :“Tuan.” Sahut Gerardus lemah lembut, “Saya terjatuh dari meja.”

Dengan merahasiakan kejadian yang sebenarnya terjadi, Gerardus dapat menghindarkan hukuman berat bagi algojonya tersebut. Namun mandor bengis itu tiada terharu, malahan terus menaruh dendam terhadap Gerardus, sambil menyakitinya setiap mungkin. Untung lama-kelamaan Pannuto mengetahui kekejaman mandornya. Segera dipecatnya agar Gerardus dapat terlindung.Banyak yang Gerardus buat untuk Pannuto, secara istimewa, hanya karena kekuatan doanya. Lumbung terbakar yang telah berkobar, padam sekaligus ketika Gerardus mengenyahkan nyalanya dengan tanda salib. Berupa-rupa keinginan Pannuto yang belum disebut pun telah dikerjakan Gerardus, tanda ia dapat menerka pikiran orang.

Pada suatu hari Pannuto sangat gugup. Pakaian yang dijahit tadi agaknya salah gunting, sebab itu sama sekali tidak sesuai dengan ukuran badan pemesannya. Gerardus memegang jahitan itu, lalu ditarik-tariknya seperti hendak disobek. Mata Pannuto terbeliak keheranan : “Seorang ahli sulapkah muridku itu!?” Nyata kelihatan pakaian tersebut membesar. Ketika dikenakan oleh empunya, potongannya cocok sekali.
Berumur 16 tahun, sudah pandai dalam ilmu menjahit, Gerardus meninggalkan Muro dan akan melayani Uskup Claudius Albini di kota Lacedogma. Uskup itu seorang dermawan dan baik, akan tetapi mudah panas hati. Kata orang, tidak seorang pun pelayan yang tahan mengabdinya. Gerardus mengetahui hal ini, namun meski begitu diterimanya jabatan sukar itu, sengaja guna melatih kesabarannya. Maka yang dipilih Gerardus segera dialaminya.
Setiap hari seratus pesanan yang “penting” semuanya, pun disertai tegur hardik yang pasti agak menjemukan telinganya. Tetapi Gerardus tetap bertahan. Dan bila ada tamu yang menyatakan iba hatinya, Gerardus menjawab : “Oh, itu tak berharga bagiku, karena aku yakin paduka yang mulia Uskup Claudius mencintai aku sungguh-sungguh seperti seorang saudaranya.”
Sekali peristiwa, ketika Uskup Claudius berpergian, Gerardus menutup rumahnya menyimpan kunci dalam kantung, dan menuju ke sebuah sumur akan menimba air. Naas benar rupanya hari itu, waktu Gerardus membungkuk akan menimba, kuncinya jatuh kedalam sumur. Terkejut, Gerardus berseru : “Oh, alangkah marahnya tuanku nanti!”
Banyak orang yang juga ada di sumur menaruh belas kasihan kepadanya. Tetapi apa boleh buat, kunci telah lenyap dalam sumur yang dalam itu. Tiba-tiba Gerardus dengan tidak berkata sepatah pun langsung naik kuda dan pergi ke Gereja. Dari sakristi diambilnya patung kanak-kanak Yesus, dan kembali ke sumur tersebut. Patung itu ditidurkannya dalam timba, lalu diulurkannya tali itu dengan hati-hati sambil berdoa : “Bagimu Yesus tiada hal yang sulit, ambilkanlah aku kunci rumah majikanku!”
Orang yang hadir mengerumuni sumur akan melihat apa yang terjadi. Seketika timba itu masuk dalam air. Kemudian ditariknya kembali keatas. Berpuluh-puluh mata terbelak keheranan. Patung kanak-kanak Yesus itu tegak berdiri dalam timba, tetapi … pada tangannya tampak kunci tersebut. Sejak hari itu sumur kota Lacedogma dinamai : “Pozzo Gerardiello”, yang artinya “Sumber Gerardus”.
Pada akhir bulan Juli tahun 1744 wafatlah yang mulia Uskup Claudius, ditangisi oleh Gerardus yang setia. Kemudian pulanglah ia ke rumah ibunya di kota Muro. Umurnya 18 tahun. Hanya satu dorongan masih dikenalnya, yaitu menyiapkan dirinya supaya dapat diterima sebagai calon biarawan.
Pada mulanya ibu Benedicta tidak menyetujuinya. Acap kali sangat khawatir, karena Gerardus terlampau dermawan dan terlampau keras dalam pantangan makan dan minum. Tapi Gerardus menghibur ibunya dengan perkataan yang lemah lembut, hingga ibu Benedicta tiada berani lagi melawan kehendak Tuhan atas nasib anaknya.

Hari sabtu tanggal 17 Mei tahun 1749 Gerardus berangkat ke kota Iliceto akan memulai Novisiat dari Biarawan Redemptoris. Dan meskipun sukma Bruder Gerardus selalu condong ke arah pesona doa, ia tak menuruti kehendaknya itu. Malahan bekerja membanting tulang sekuat-kuatnya sehingga pembesar biara dengan heran mengatakan : Bruder Gerardus, yang kurus kering lagi lemah kelihatannya, lebih giat daripada tiga orang bruder.

Karena pembesar biara khawatir kalau Bruder Gerardus akan terganggu kesehatannya, ia dipindahkan dari kebun ke sakristi sebagai koster. Alangkah senang hatinya! Sekarang bolehlah ia bersatu dengan Yesus. Ekaristi sepanjang hari. Cinta Bruder Gerardus meluap-luap, tiada puas jika belum turut menderita sendiri. Maka dipergunakannya bermacam-macam alat untuk menyakiti badannya, hingga rupanya pucat lesu kepayahan.

Namun hidup seorang suci ialah rahasia penuh kegaiban. Walaupun Bruder Gerardus berkeras kejam bagi dirinya sendiri, ia selalu berperasaan lembut terhadap sesamanya. Ya, boleh dikatakan Bruder Gerardus mengasihi semua orang kecuali … Gerardus Mayella. Menderita akan berkenan kepada Tuhan, menderita tiada berkeputusan, itulah angan-angannya.
Para Biarawan kagum lagi ngeri menyaksikan cara Bruder Gerardus menyiksa tubuhnya. Ruang sempit, rendah lagi gelap dipilihnya untuk kamar tidur. Kasur berisi batu menyebabkan istirahat yang telah singkat tiada memberi kenikmatan sedikit juapun.

Sesudah gelap terbitlah terang, “Raja kegelapan” tidak menyetujui pepatah itu. Maka dikerahkannya laskarnya yang cerdik. Lalu bermufakatlah iblis akan mengancam, menggangu dan menyerang Bruder Gerardus sedapat-dapatnya. Terutama pada malam menjelang hari Jumat, kelicikan setan menghebat. Tapi Bruder Gerardus tiada putus asa. Pengharapannya yang hidup bertambah kuat. Dengan memercikkan air suci seraya membuat tanda salib dienyahkannya berjenis-jenis penjelmaan.

Pada suatu hari Bruder Gerardus berjumpa dengan seorang pemuda tidaj jauh dari kota Iliceto. Karena bermantel dan bertopi yang sudah usang, rupa bruder sudah lain.“Seorang pandai dalam ilmu sihir.” Pikir pemuda itu, dan berkata : “Jika kamu mencari harta benda saya sudi menolong.”Bruder Gerardus mengamat-amati pemuda yang kerjanya hanya memimpikan emas dan perak.“Betul, kamu panjang akal dan pemberani?” tanyanya.“Akh, kamu belum mengenal aku!” seru pemuda itu berlagak. Lalu diceritakanya keberaniannya pada burder.“Baik!” sahut Gerardus, “Akan kutemukan bagimu harta benda yang tak ternilai.”
Sementara itu mereka telah tiba di antara semak belukar.“Berhenti! Inilah tempatnya,” kata Gerardus. Ditanggalkannya mantelnya dan dibentangkannya.“Berlutut!” perintah Gerardus. Lalu diambilnya sebuah salib dari jubahnya :“Inilah harta benda yang hilang bagimu, karena kau tukarkan dengan yang rendah!”Dan mulai saat itu bertobatlah orang itu.
Sekali lagi ketika Gerardus berkuda menuruni tebing gunung, ia dihentikan oleh seorang penyamun.“Ha, sudah lama saya menantikan seorang biarawan untuk melepaskan dendamku!” teriaknya.Bruder Gerardus meminta ampun, tetapi penyamun itu bertambah berang dan menjatuhkan bruder dari kudanya. Sadar bahwa permintaannya sia-sia, Gerardus berlutut dan mengatupkan tangannya sambil berkata :“Pukulah, saudaraku, memang itu hakmu!”Sekonyong-konyong penyamun itu sadar.“Apa yang kulakukan?!” teriaknya
“Tolonglah aku” kata Gerardus mencoba bangkit.Sebuah tulang rusuknya patah, tetapi sepanjang jalan ia tidak mengeluh.
“saya jatuh dari kuda dan orang ini menolong aku,” jawabnya ketika ditanya apa yang terjadi.Nama Gerardus mulai disebut-sebut orang. Mereka datang kepada Bruder Gerardus untuk meminta pertolongan dalam keadaan sukar. Dan acap kali berkat doanya, ia dapat menolong mereka. Pun si sakit sembuh sama sekali hanya oleh sentuhan tangannya. Hingga … pencobaan terbesar mematahkan kesehatan Bruder Gerardus yang telah lemah itu.
Pencobaan berupa fitnah keji yang berulang-ulang yang ditujukan kepadanya, bagai gelombang laut mengancam batu karang. Pembesar biara terpaksa memindahkannya dari kota Iliceto ke kota Pagami.Di kota ini, Bruder Gerardus dihukum berat, seberat-beratnya untuk jiwanya yang semesra mencintai Yesus dan Bunda Maria. Ia tidak diperbolehkan menyambut dan bergaul dengan penghuni kota. Para biarawan yang tetap masih percaya atas ketulusan hatinya berkata : “Buktikan kesucian maksud dan kelakuanmu!” Tapi Bruder Gerardus menjawab : “Tuhan ada! Lagipula apa aku harus menolak pengalaman yang mengikat diriku lebih erat dengan Yesus?! Tidak, biarlah terjadi padaku segala sesuatu menurut takdir Tuhan!”Tiga bulan kemudian teranglah, bahwa Bruder Gerardus tidak bersalah. Maka sekali lagi pujian orang mendenging-denging di telinganya. Kini nyata bahwa Bruder Gerardus tahan terhadap segala pencobaan.Namun kesehatannya semakin memburuk. Gejala penyakit pernapasan dalam paru-parunya, makin lama makin parah.
31 Agustus 1756, Bruder Gerardus jatuh sakit semakin parah. Demam panas menyusutkan tubuhnya yang lemah. Serangan setan menyiksa pandangannya, tampak olehnya roh jahat itu dalam rupa-rupa jenis. Namun, Pater Fiocchi yang tahu betapa taatnya Bruder Gerardus itu, menulis sepucuk surat :
-Janganlah kamu memuntahkan darah lagi. Saya harap kamu akan lekas sembuh-
Bruder Gerardus meletakkan surat itu pada dadanya, dan …betul tanggal 6 September ia seperti sembuh lagi. Kuat berdiri, bekerja dan sebagainya. Seisi biara bersuka, tapi Gerardus meramalkan kepada teman-temannya : “Sebenarnya aku harus berpulang pada pesta Bunda Maria tanggal 8 September yang lalu. Dan sekarang tidak akan lama aku kembali bersama –sama di antara kamu.”
Pada tanggal 5 Oktober, Bruder Gerardus jatuh sakit lagi, gejalanya lebih hebat dari yang sudah-sudah. 15 Oktober waktu senja ia bertanya kepada perawat :“Pukul berapa ini?”“Pukul enam tepat,” jawab bruder perawat.
“Kalau begitu masih enam jam lagi saya tinggal di sini,” kata Gerardus sayup-sayup.Begitulah terjadi, pukul 12 malam, rohnya yang suci berpisah dengan badannya.Gerardus Mayella baru berumur 30 tahun, sedangkan tubuhnya sebenarnya sehat dan kuat, akan tetapi dirobohkan secepatnya oleh pantangannya yang hebat itu.
Hidup Gerardus Mayella penuh kegaiban, penuh mujizat yang mempesona banyak orang. Terutama pada akhir hidupnya ia dianugerahi Tuhan dengan berbagai jenis kekuatan ajaib.
Harum semerbak yang mengelilingi jasadnya seperti wangi-wangian yang menandakan bahwa seorang Serafin telah bersatu dengan yang Mahaluhur.
29Januari 1893, Bruder Gerardus Mayella yang rendah hati diberi gelar Santo, dan pestanya dirayakan pada tanggal 16 Oktober yaitu pada hari kematiannya.Marilah berlindung pada Santo Gerardus Mayella yang sepandai mendayungkan biduk arwahnya dalam kesukaan batin yang tiada terhingga.