Yayasan Pengembangan Kemanusiaan DONDERS

Wanno Donders, Jl. Rumah Budaya, Kalembu Nga’a Bangga, Desa Weelonda, Kecamatan Kota Tambolaka,         Kabupaten Sumba Barat Daya, 87254, NTT                  
Phone: (+62) (0387) 2526087 dan (+62) (0387) 2525457                
Mobile: (+62) 81246029999 atau (+62) 85239995999     
FB: Yayasan Pengembangan Kemanusiaan Donders            
E-Mail: dondersfoundation@hotmail.com                          
Web: www.dondersfoundation.org   

  1. KATA PENGANTAR

YAYASAN PENGEMBANGAN KEMANUSIAAN DONDERS (YPKD) merupakan sebuah lembaga sosial yang berada di bawah Kongregasi Redemptoris (C.Ss.R.: Congregatio Sanctissimi Redemptoris) yang memulai basis pelayanannya di pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Sejak berdirinya hingga sekarang, YPKD memberikan fokus pelayanannya di pulau Sumba. Oleh karena itu kami akan memberikan gambaran selayang pandang kondisi pulau ini dari beberapa aspek yang tentu saja berkorelasi secara timbal balik dengan karya-karya pelayanan yang dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir ini.

Pulau Sumba di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki luas sekitar 11,000 km2, dan berpenduduk sekitar 700.000 jiwa, merupakan salah satu pulau yang penduduknya tergolong miskin di Indonesia. Sebagian besar masyarakat Sumba merupakan petani atau peternak yang berpenghasilan rendah. Iklim Pulau Sumba didominasi iklim kering (kemarau) yang lebih panjang. Bentang alam Pulau Sumba berupa dataran dan pegunungan didominasi oleh penggunaan lahan kering, baik yang digunakan untuk pertanian secara sederhana (terutama tanaman padi dan jagung), kebun maupun tanah kosong tidak produktif.

Situasi umum

Sosial-ekonomi-budaya : Kehidupan sosial masyarakat Sumba berbasis agraris. Sebagian besar masyarakat Sumba berprofesi sebagai petani sekaligus peternak (96%) dimana sebagian diantaranya berpenghasilan rendah. Jumlah petani atau peternak yang berpenghasilan sangat rendah adalah sekitar 13%, dikarenakan tanaman yang dibudidayakan (jagung, padi dan singkong) hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan harian tanpa ada sisa untuk diperjualbelikan sebagai sumber pendapatan (petani subsisten)[1]. Budidaya pertanian di Sumba umumnya dilakukan secara tradisional. Dengan demikian, kemiskinan merupakan masalah utama yang terjadi pada masyarakat Sumba. Umumnya tenaga kerja yang ada lebih dari 50 tahun ke atas. Angkatan tenaga kerja muda lebih suka merantau ke luar daerah/ ke luar negeri atau jadi PNS. Selain itu, akses teknologi pun masih sangat rendah/terbatas; khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil/produksi. Pendapatan per kapita berkisar pada Rp. 200 per bulan – Rp. 2.395.000 untuk wilayah Sumba Barat Daya). Faktor lain yang sangat memengaruhi langgengnya kemiskinan adalah pengetahuan dan ketrampilan para petani yang rendah.

Orang Sumba pada umumnya terkenal sangat terbuka dan cepat berbagi, khususnya bagi mereka yang lebih berkekurangan. Sifat ini menjadi kentara dalam kebiasaan “mandara”. Apabila seseorang/keluarga yang sedang dalam kesulitan makanan, maka mereka akan bertamu sambil membawa “sirih-pinang” dan menyerahkannya kepada saudara atau kenalan dekat yang dikunjungi. Mereka pasti akan dibantu. Bantuan ini tidak pernah dipandang sebagai utang piutang. Akan tetapi di lain pihak, masih ada juga kalangan warga miskin yang berani berutang karena terdesak dengan tuntutan-tuntutan adat-istiadat yang memang masih sangat kental di Sumba. Faktor ini juga yang mendesak sebagian besar penduduk Sumba berangkat ke luar daerah atau ke luar negeri untuk mencari pendapatan hidup yang diharapkan lebih baik.

Lingkungan hidup: Pulau Sumba didominasi oleh penggunaan lahan kering, baik yang digunakan untuk pertanian secara sederhana (terutama tanaman padi dan jagung), kebun maupun tanah kosong tidak produktif. Iklim Pulau Sumba didominasi iklim kering (kemarau) yang lebih panjang. Hujan rata-rata terjadi selama 3 bulan dalam setahun (umumnya Desember, Januari, Februari) sehingga kekeringan merupakan permasalahan yang dihadapi wilayah ini. Kondisi iklim kering ini semakin bermasalah ketika tutupan lahan hutan wilayah ini yang juga semakin menurun. Luas tutupan lahan hutan Pulau Sumba tahun 1927 adalah sekitar 50% dari luas pulau, menurun menjadi 10% pada tahun 1997 dan tersisa 6,5% pada tahun 2000[2]. Kondisi tutupan lahan hutan yang terus menurun, diantaranya disebabkan karena perambahan hutan dan penebangan liar, menyebabkan permasalahan keseimbangan ekologi, kekritisan lahan dan kecilnya potensi sumberdaya air di wilayah ini.

Gender dan kelompok rentan: Meskipun perempuan turut berperan dalam kehidupan keluarga di masyarakat Sumba, tetapi dalam pengambilan keputusan-keputusan penting, umumnya laki-laki masih mendominasi. Selain bertanggungjawab dalam urusan rumah tangga sehari-hari, seperti memasak, mencuci, dan sebagainya, perempuan juga membantu kegiatan bertani dan beternak terutama ternak kecil seperti babi dan unggas. Perempuan Sumba juga membuat beberapa barang kerajinan. Sementara itu kelompok rentan di wilayah ini adalah rumah tangga yang tidak mempunyai asset lahan pertanian (atau memiliki lahan kecil biasanya kurang dari 0,25 ha). Di beberapa wilayah di Sumba Barat Daya, khususnya wilayah Kodi, beberapa keluarga miskin yang terpaksa menggarap di lahan sewaan tetangga karena mereka memang tidak memiliki lahan pribadi. Mereka biasanya hidup berpindah dan menumpang di tanah orang sambil mengolah tanah yang disewakan kepada mereka. YPKD telah mendampingi 4 komunitas marginal di Kodi yang sebagian besarnya adalah mantan pencuri dan perampok. Salah satu motiv paling kuat yang menyebabkan mereka mencuri adalah untuk bertahan hidup. Komunitas inilah yang membangun Umma Peghe/Umma Pande (bahasa Kodi/Wewewa: Rumah Pintar) sebagai medium pembelajaran berbasis pada asset dan potensi lokal warga. YPKD juga sedang aktif mendampingi komunitas-komunitas Marapu (aliran kepercayaan asli Sumba) dan komunitas Anak-anak Pekerja Migran (APM) sebagai bagian dari program dan gerakan Peduli Inklusi Sosial bagi komunitas-komunitas marginal. Bersama dengan komunitas Marapu dan APM ini YPKD mengoptimalisasi gerakan Pertanian Konservasi berbasis pada kearifan-kearifan asli Sumba.

Permasalahan spesifik

  1. Kondisi potensi sumberdaya air yang rendah. Sebagaimana dijelaskan, kondisi iklim Sumba adalah iklim kering (musim hujan umumnya hanya 3 bulan setahun). Kondisi ini semakin bermasalah ketika tutupan lahan hutan wilayah ini yang juga semakin menurun, diantaranya disebabkan karena perambahan hutan dan penebangan liar, pembakaran savannah untuk mendapatkan rumput di musim kemarau, sehingga semakin menimbulkan kekritisan lahan dan kecilnya potensi sumberdaya air di wilayah ini.
  2. Permasalahan rawan pangan. Sekitar 25% rumah tangga di Sumba termasuk dalam kategori rawan pangan, karena umumnya mereka adalah petani miskin yang tidak mampu mengelola lahannya secara optimal dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki[3]. Rumah tangga rawan pangan ini dicirikan oleh rendahnya penguasaan lahan pertanian, pendapatan rendah, pendidikan rendah, dan porsi pengeluaran untuk pangan tinggi.
  3. Rendahnya pendapatan petani (umumnya petani miskin) diantaranya disebabkan oleh :
    1. Budidaya pertanian dilakukan secara tradisional, etos bertani yang rendah, pengetahuan/ teknologi yang rendah sehingga produktifitas pertanian di Sumba umumnya masih rendah. Produktifitas jagung di Kab. SBD, Sumba Tengah dan Sumba Timur adalah berkisar antara 2,55-3,27 ton/ha/tahun. Produktifitas kakao di Kab. SBD adalah 621 kg/ha/tahun[4]. Produktifitas jagung tersebut jauh di bawah rata-rata nasional sebesar 4,96 ton/ha/tahun. Sementara produktifitas kakao, yaitu sekitar 500-600 kg/ha/tahun, jauh di bawah rata-rata nasional yaitu 900 kg/ha/tahun untuk kebun rakyat dan 1500-2000 kg/ha/tahun untuk kebun perusahaan swasta/PTP.
    1. Sebagian lahan pertanian belum digarap secara maksimal bahkan sebagian petani menelantarkan lahan miliknya atau tidak ditanami (lahan tidur, tidak produktif). Lahan umumnya hanya ditumbuhi alang-alang. Sekitar 25% lahan petani tidak optimal dibudidayakan. Kondisi ini, tantangan sosial dan ekonomi di masyarakat Sumba di bidang pertanian sangat besar terutama dalam hal bagaimana meningkatkan pendapatan masyarakat dari sektor pertanian.
  4. Di sektor kakao, NTT sebenarnya merupakan salah satu potensi penghasil kakao di Indonesia dengan total kebun kakao seluas 46.245 ha serta produksi mencapai 12.978 ton. Luas kebun kakao di Kab. SBD mencapai 1.983 ha dengan produksi berupa biji kering sebesar 360 ton[5]. Beberapa permasalahan yang dihadapi petani kakao di wilayah ini adalah:
    1. Sebagian besar tanaman kakao sudah tua dan tidak produktif. Petani kakao belum menggunakan benih unggul bermutu.
    1. Petani belum menerapkan teknik budidaya yang intensif. Kurangnya pemeliharaan yang intensif juga menyebabkan sebagian besar tanaman kakao petani terserang penyakit busuk akar dan penggerek buah.
    1. Teknologi panen dan pasca panen yang masih rendah juga menyebabkan rendahnya mutu biji kakao yang dihasilkan petani. Kakao yang dipasarkan semuanya dalam bentuk biji yang belum diolah atau diversifikasi produk kakao masih rendah. Petani masih enggan melakukan fermentasi biji kakao. Permasalahan pemasaran produk kakao dimana saat ini sistem rantai pemasaran yang panjang dan tidak memberikan nilai tambah yang layak bagi petani sehingga menimbulkan inefisiensi.
    1. Dalam hal kelembagaan, umumnya organisasi kelompok tani belum terbentuk atau jika sudah ada belum berperan optimal. Lemahnya kelembagaan membuat terbatasnya akses petani untuk mendapatkan sarana dukungan finansial (perkreditan), kurangnya mendapat penyuluhan dan fasilitas pendukung atau belum berkembangnya kemitraan antara pengusaha dan petani baik dalam meningkatkan produksi maupun pemasaran.

Intervensi Proyek Yang Sudah dan Sedang Berjalan

Memperhatikan latar belakang, kondisi wilayah dan permasalahan yang dihadapi Pulau Sumba, maka berikut ini adalah beberapa kebutuhan dan tantangan yang diintervensi melalui proyek-proyek YPKD:

  1. Upaya meningkatkan potensi sumberdaya air wilayah melalui peningkatan tutupan lahan hutan atau kombinasi sektor kehutanan dan pertanian (agroforestery). Upaya ini telah mulai meningkatkan konservasi sumberdaya air yang dapat dimanfaatkan dalam jangka waktu lebih panjang mengingat kondisi iklim Sumba adalah iklim kering (musim hujan umumnya hanya 3 bulan setahun).
  2. Upaya peningkatan pendapatan petani dilakukan dengan meningkatkan produktifitas lahan pertanian baik untuk tanaman konservasi mengingat kerusakan lahan dan pentingnya upaya konservasi sumberdaya air; serta tanaman pangan dalam rangka mencukupi kebutuhan pangan lokal mengingat tingkat kerawanan pangan wilayah yang tinggi.
  3. Proyek-proyek dari YPKD dikembangkan dengan menggunakan Pendekatan Lanskap dalam pengelolaan kawasan budidaya pertanian. Sementara dalam budidaya pertanian diterapkan pendekatan Pertanian Konservasi (PK) atau Conservation Agriculture yang menyeimbangkan aspek budidaya maupun konservasi.
  4. Upaya-upaya meningkatkan kualitas SDM petani, baik secara teknis maupun kelembagaan dengan memperhatikan kondisi spesifik sistem sosial, aspek kesetaraan gender dan kelompok rentan/marjinal. Komunitas yang paling kuat memberikan inspirasi perubahan adalah komunitas Umma Peghe/Umma Pande/Umma Pengu yang sudah sedang mereplikasi praktik-praktik cerdas ke komunitas-komunitas marginal di Sumba.

Komunitas marginal yang juga didampingi secara intensif adalah komunitas warga Pekerja Migran, Anak-anak Korban Pekerja Migran dan korban human trafficking dan korban-korban kekerasan dan kejahatan sosial/rumah tangga.

  • Pengembangan sektor kakao, kopi, kacang mente, kacang tanah dan tanaman pangan secara terpadu dipilih mengingat komoditas-komoditas ini potensial di wilayah ini dengan memberikan perhatian pada intensifikasi bibit-bibit unggul, perbaikan teknis budidaya, peningkatan kelembagaan hingga aspek pasar.
  • Untuk memperkuat peningkatan ekonomi rumah tangga, YPKD juga mendampingi kelompok-kelompok tenun, kerajinan anyam menganyam dan ukir-ukiran. Diversifikasi produksi tenun dikembangkan mengingat kebutuhan pasar. Tetapi lebih dari itu adalah semua proses pengembangan kegiatan (tenun, anyam dan mengukir/memahat) disadari sebagai sebuah proses meditasi, sebagai sebuah ibadah.
  • Sementara itu pendampingan dan advokasi-advokasi kebijakan yang berpihak kepada “Green and Inclusive Prosperity” dilakukan secara berkelanjutan kepada pemerintah dari tingkat desa sampai ke pusat. Cita-citanya adalah pemerintahan harus dijalankan secara efektif agar dapat bersinergi dengan cita-cita warga yang berdaulat dan semakin bermartabat.
  1. VISI DAN MISI LEMBAGA

B.1. VISI

TERWUJUDNYA

MASYARAKAT BERKEADABAN BARU

YANG SEMAKIN BERMARTABAT, BERDAULAT DAN SEJAHTERA

BERLANDASKAN SOLIDARITAS, KEADILAN, PERDAMAIAN, CINTA KASIH DAN KEUTUHAN

B.2. MISI

  1. Mendampingi, memberdayakan dan memperkuat kaum miskin, tertindas dan yang paling terlupakan agar mampu mandiri, berdaya dan berdaulat dalam semua dimensi kehidupannya, khususnya di bidang pendidikan, ekonomi, lingkungan dan sosial budaya.
  2. Meningkatkan kehidupan spiritualdan moral yang semakin baik dan turut membangun rasa kekeluargaan serta menjadi pelopor menciptakan suasana tenteram dan damai.
  3. Melakukan penyadaran kritis menyangkut hak-hak dan tanggung jawab dengan menggunakan sarana multi media, diskusi-diskusi, penyebarluasan informasi melalui audio visual dan cetak.
  4. Melakukan kajian kritis dan penelitian di bidang sosial budaya, ekonomi, lingkungan dan politik.
  5. Pengembangan Sumber Daya Manusia untuk mendukung kerja-kerja organisasi dan kebutuhan masyarakat.
  6. Menangani hal-hal yang mendesak di bidang sosial demi kepentingan orang-orang miskin, tertindas dan yang paling terlupakan.

C. SEJARAH BERDIRINYA YPKD

YPKD berdiri secara resmi pada tanggal 7 Januari 2010 dengan diterbitkannya AKTA PENDIRIAN dari Kemenkumham RI dengan nomor pendirian: AHU–3785.AH.01.04., Tahun 2010., tandatangan Notaris Budiono Widjaja, SH. NWP (Nomor Wajib Pajak) dikeluarkan oleh Kantor Pajak Waikabubak dengan nomor 02.958.548.6-926.000.

Akta ini diperbarui pada hari Jumat, 04 Desember 2015 dengan Nomor Pengesahan: AHU-0029164.AH.01.12.Tahun 2015.

Dengan pembaruan akta ini, maka nama lama YAYASAN SOSIAL DONDERS diubah menjadi YAYASAN PENGEMBANGAN KEMANUSIAAN DONDERS (YPK-Donders).

Sesungguhnya sejarah berdirinya Yayasan ini sudah dimulai pada tahun 2009 berdasarkan hasil keputusan Kapitel Provinsi Redemptoris Indonesia. Amanat Kapitel ini ditindaklanjuti dengan lokakarya di tingkat Konventu yang membahas secara detail masalah-masalah sosial, khususnya yang ada di wilayah-wilayah pelayanan Kongregasi Redemptoris di Indonesia. Hasil lokakarya ini kemudian digodog oleh Badan Pengurus Yayasan ke dalam perangkat dasariah profil lembaga: Visi, Misi, Program-program Strategis, Divisi-divisi, Aktifitas-aktifitas Kunci, Prinsip, Nilai, Pendekatan-pendekatan spesifik lembaga, SOP Keuangan dan SOP Sumber Daya Manusia. 

Tujuan utama pendirian YPK-Donders pada mulanya adalah keinginan para imam/biarawan Redemptoris (di Indonesia) untuk mengakomodasi semua karya sosial bersama di bawah satu lembaga yang berstatus hukum.

Dalam perjalanannya, YPK-Donders memberikan fokus perhatiannya kepada karya-karya pengembangan kemanusiaan berdasarkan telaahan Visi dan Misi lembaga, dimulai di seluruh wilayah Sumba.

Mulai tahun 2009 sampai dengan tahun 2010, YPK-Donders masih lebih banyak memberikan fokus pelayanannya di Kabupaten Sumba Barat Daya, khususnya di usaha pendampingan warga desa, organisasi warga desa dan pemerintahan desa dalam perencanaan, pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan desa.

Untuk memberikan tekanan lebih kepada Visi dan Misi lembaga, YPK-Donders mulai mengembangkan karya pelayanan kepada “Komunitas Berkebutuhan Khusus” di 2 desa (Kalena Rongngo/kecamatan Kodi Utara dan Ate Dalo/kecamatan Kodi). Anggota komunitas ini sebagian besar adalah para pencuri/perampok dan mantan pencuri/perampok. Inisiatif ini dimulai pada awal tahun 2010 dengan assesment ke desa-desa kantong pencuri/perampok di wilayah Kodi dan Kodi Utara. Dari komunitas inilah muncul gagasan “Umma Peghe/Umma Pande” sebagai medium pembelajaran warga yang berbasis pada kearifan lokal Sumba. “Umma Peghe/Umma Pande” sekarang dikembangkan sebagai strategi pendekatan transformatif dan inovatif yang mengedepankan aset, potensi dan kekuatan-kekuatan lokal warga. Gagasan ini yang sekarang menjadi semakin kuat dalam 4 poros gerakan warga dampingan YPK-Donders: menuju kepada desa-desa yang mampu “Berdikari secara ekonomi”, “Bertenaga/berdaya secara sosial”, Bermartabat secara budaya”, dan “Berdaulat secara politik”. Sekarang ini ada 1 Umma Peghe di Ghombol/Kadaghu Tana/Kodi Utara, 1 di Mareha/Tanjung Karoso/Kodi, 1 di desa Kalena Rongngo/Kodi Utara, 1 di desa Dikira/Wewewa Timur, 1 di desa Weelimbu/Wewewa Timur, 1 di desa Watukawula/Kota Tambolaka, dan 1 di desa Dasa Elu, Sumba Tengah. Komunitas Sumba Tengah menyebutnya Umma Pengu. Proses pembangunan Umma Pande/Peghe/Pengu dimulai dengan sosialisasi, diskusi dan upaya membangun gerakan kekuatan lokal warga: dimulai dengan pembebasan sebidang tanah untuk lokasi pembangunan Umma Pande/Peghe secara sukarela. Warga juga bergotong-royong mengumpulkan kayu, bambu, batu karang dan bahan-bahan makanan lokal yang mereka miliki. Gagasan Umma Pande/Peghe/Pengu sebagai medium pembelajaran warga juga sedang mau direplikasi di beberapa kelompok yang mau melakukan perubahan “melampaui batas”.

Pengalaman pendampingan “Komunitas Berkebutuhan Khusus” ini menguatkan YPK-Donders secara ke dalam untuk lebih berani mengembangkan karya-karya kemanusiaan dan membangun hubungan kerja dengan para pihak untuk penegakan martabat kemanusiaan yang lebih luas.

Sekarang YPK-Donders berkarya di 4 kabupaten di Sumba. Pemikiran untuk mengembangkan karya pelayanan ke luar pulau Sumba masih sedang digodog secara cermat dan matang.

D. LOGO dan SEMBOYAN/MOTO YPK-Donders

KETERANGAN:

  1. SALIB berwarna MERAH: menunjuk kepada SALIB KRISTUS PENEBUS sebagai simbol utama dan ungkapan maksimum dari Cinta Kasih Allah (yang diambil dari Logo Kongregasi Redemptoris). Oleh karena itu, karya-karya YPKD harus searah dengan proklamasi penebusan yang berlimpah-limpah bagi semua orang, khususnya bagi mereka yang paling miskin, tertindas dan terlupakan.
  2. GAMBAR BEATO PETRUS DONDERS: merujuk kepada namanya, “Yayasan Pengembangan Kemanusiaan DONDERS”, karya-karya yang dikembangkan oleh YPK-Donders mengungkapkan spiritualitas pemberian diri yang total kepada sesama yang paling miskin, tertindas dan terlupakan sebagaimana yang ditunjukkan oleh Beato Donders; yang mendedikasikan seluruh hidupnya kepada pembelaan martabat para budak belian dan para penyandang sakit lepra/kusta di Paramaribo (Suriname).
  3. GONG: menabuh gong dalam tradisi banyak suku/bangsa di dunia selalu mengandung pengertian jamak: undangan untuk ikut berperihatin dengan sesama yang sedang berdukacita atau mengalami nasib malang; undangan untuk ikut bergembira dengan sesama yang sedang mengalami sukses/keberhasilan; tetapi juga sebagai pencanangan resmi dimulainya perang melawan kebatilan/kejahatan. Menarik sekali bahwa setiap pukulan harus terfokus pada lingkaran inti di tengah gong untuk menghasilkan bunyi yang penuh/maksimal. Inspirasi GONG juga dikembangkan dalam salah satu pola pendekatan YPK-Donders yang disebut sebagai Getar Perubahan dalam teori Outcome Mapping.
  4. TABELO berwarna KUNING KEEMASAN: TABELO biasanya dipakai di atas kepala perempuan Sumba ketika didandani untuk menari, menikah atau mengikuti perayaan-perayaan adat tertentu. TABELO adalah mahkota dan biasanya diartikan sebagai simbol kehormatan dan kemuliaan perempuan. Tetapi TABELO juga adalah simbol kehidupan yang paling penuh yang berada dalam tanggungjawab perempuan. Posisinya yang terbuka ke atas berkorelasi dekat dengan PADALU/tempayan yang berfungsi untuk menampung air. PADALU berarti juga RAHIM yang menampung kehidupan.

TABELO dalam Logo ini mengandung makna harapan, cita-cita dan Visi YPK-Donders.

  • Tulisan YAYASAN PENGEMBANGAN KEMANUSIAAN DONDERS: mengandung arti bahwa YPK-Donders adalah sebuah lembaga kemanusiaan yang peduli, berkomitmen dan berkanjang melibatkan diri secara penuh untuk merawat, memperkuat dan mengembangkan martabat manusia, khususnya yang paling miskin, tertindas dan terlupakan.

SEMBOYAN/MOTO YPKD: LOVING, CARING, and GROWING TOGETHER

“Semua karya yang dikembangkan oleh YPK-Donders adalah MISI untuk mencintai semua orang, khususnya mereka yang paling miskin, tertindas dan terlupakan untuk saling peduli dan merawat kehidupan, saling belajar untuk bergerak dan tumbuh kembang bersama-sama”

E. PERSONALIA

  1. Dewan Pendiri
    1. P. Mateus Mali, CSsR
    1. Dewan Pembina
      1. P. Thomas Wungo, CSsR (Ketua)
      1. P. Damianus Lolo, CSsR (Anggota)
    1. Dewan Pengawas
      1. P. Mateus Selan, CSsR (Ketua)
    1. Dewan Pengurus
      1. P. Mikhael Molan Keraf, CSsR (Ketua)
      1. P. Wilhelmus Ngongo Pala, CSsR (Sekretaris)
      1. P. Nathanael Rivandi Narang, CSsR (Bendahara)

F. Struktur ORGAN YPK-DONDERS

G. NILAI-NILAI INTI

H. PENDEKATAN-PENDEKATAN

I. 9 STANDAR GERAKAN YPK-DONDERS

J. 4 PRINSIP DASAR GERAKAN YPK-DONDERS

Catatan:

  1. KEMANUSIAAN

Setiap manusia diciptakan sesuai dengan Citra Allah sendiri. Oleh karena itu martabat setiap manusia pun melekat dalam eksistensi pribadinya yang agung, kekal dan tiada duanya. Sayang sekali bahwa penderitaan dan kejahatan membuat citra yang agung itu menjadi bopeng dan berada dalam ancaman kepunahan, frustrasi-frustrasi yang bisa saja membuat manusia putus asa dan bersekutu dengan kejahatan.

Oleh karena itu YPKD bersama dengan setiap aktor yang bergerak di dalamnya diurapi untuk segera berdiri di pihak mereka yang mengalami penderitaan, penindasan dan keterasingan untuk bersama-sama mengambil langkah-langkah cerdas dan berani menegakkan martabat setiap manusia. 

  • IMPARSIALITAS

Semua aksi nyata YPKD direncanakan, dijalankan, dimonitor, dievaluasi dan diambil pembelajaran secara bersama-sama agar sungguh-sungguh menjawab kebutuhan riil setempat, khususnya pada wilayah atau pribadi yang paling membutuhkan pertolongan untuk berubah. Prinsip ini menegaskan skala program prioritas yang digagas oleh YPKD. Kasus-kasus mendesak/emergensi harus diberi prioritas tanpa membeda-bedakan jenis suku, ras, agama, jenis kelamin, keyakinan/agama, perspektif politik dan usia.

  • INDEPENDENSI

Semua gerakan YKPD tidak berpihak kepada partai politik tertentu, tidak bersekutu dengan monopoli ekonomi mana pun, juga tidak bersekutu dengan tujuan-tujuan militeristis di setiap tempat dimana YKPD berkarya.

  • NETRALITAS

Setiap aktor kamanusiaan YKPD tidak boleh memihak salah satu pribadi atau komunitas ketika terjadi permusuhan, rivalitas, dendam dan peperangan. Dalam setiap pertentangan dengan motiv apa pun, YKPD hendaknya berjuang mencari resolusi konflik secara cerdas dan beradab demi terciptanya perdamaian dan ketenteraman.

K. PROGRAM-PROGRAM STRATEGIS

  1. Pendampingan dan penguatan berkelanjutan demi peningkatan Pendapatan Masyarakat/Ekonomi Rakyat,  (mendukung Misi I).
    1. Peningkatan kedaulatan pangan, sandang, pendidikan dan kesehatan (mendukung Misi I).
    1. Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (mendukung Misi I).
    1. Penyadaran kritis menyangkut hak-hak dan tanggung jawab dengan menggunakan sarana multi media, diskusi-diskusi, penyebarluasan informasi melalui audio visual dan cetak (mendukung Misi II).
    1. Peningkatan Ketenteraman dan Ketertiban Masyarakat (mendukung Misi II).
    1. Peningkatan Kehidupan spiritual dan moral masyarakat (mendukung Misi II).
    1. Pengkajian kritis dan penelitian di bidang Sosial Budaya, Ekonomi, Pelestarian Lingkungan Hidup dan Politik (mendukung Misi III dan IV).
    1. Pengembangan Sumber Daya Manusia untuk mendukung kerja-kerja organisasi dan kebutuhan masyarakat (mendukung Misi V).
    1. Penguatan Kapasitas Kelembagaan YPKD (mendukung Misi V).
    1. Penanganan hal-hal yang mendesak di bidang sosial (mendukung Misi VI).
    1. Menggalang Kerjasama antar pihak (multi-stakeholders) dan peningkatan Partisipasi Masyarakat (mendukung ke-enam Misi).

L. SASARAN KERJA TIAP DIVISI YPKD

  1. Divisi Pendidikan
    1. Anak-anak cerdas (dan atau yang sangat potensial untuk sekolah/kuliah) dari keluarga-keluarga miskin.
    1. Anak-anak sekolah yang terancam DO (karena kesulitan biaya)
    1. Anak-anak asrama, khususnya yang tidak/kurang mampu
    1. Anak-anak putus sekolah. (Diusahakan pendidikan ketrampilan tertentu, misalnya dengan perbengkelan, kelompok tani, ternak, nelayan, tenun dan koperasi) 
    1. Guru-guru yang berekonomi lemah
  2. Divisi Ekonomi
    1. Kaum tani dan nelayan gurem/ subsisten
    1. Kesehatan ibu dan anak (KIA)
    1. Janda, duda dan yatim piatu
    1. Orang-orang muda yang berorientasi hanya pada PNS, TKI/TKW
    1. Kelompok sopir, kondektur, ojek, buruh toko dan buruh pasar
    1. Hamba (kondisi khusus di Sumba Timur dan Sumba Tengah)
  3. Divisi Lingkungan Hidup dan Sosial Budaya
    1. Kelompok marginal dalam masyarakat karena struktur adat yang membelenggu (misalnya anak dan kaum perempuan)
    1. Kelompok masyarakat yang terpinggirkan, misalnya kelompok masyarakar adat (tokoh adat dan pemerhati adat) serta agama/aliran kepercayaan lokal.
    1. Keluarga-keluarga yang terbelit oleh urusan-urusan adat (belis dan utang piutang)
    1. Kelompok masyarakat yang terperangkap dalam sinkretisme
    1. Kelompok pengambil kebijakan/ keputusan dalam masyarakat    
  4. Divisi Kajian Kebijakan Publik
    1. Kelompok pencuri dan mantan pencuri
    1. Para pemilik tanah yang jadi korban perampasan hak atas tanah
    1. Para janda yang dirampas hak atas tanah dan milik lainnya, khususnya oleh keluarga atau saudara dari suaminya
    1. Anak-anak korban kekerasan: kawin di bawah umur (“kawin bangku”), pekerja anak dan perdagangan anak, anak-anak yang dihalangi untuk sekolah
    1. Para buruh atau pelayan toko yang mengalami tindak kekerasan
    1. Orang-orang yang dihalangi untuk menjalani hidup keagamaannya
    1. Korban penipuan yang berhubungan dengan kebijakan publik/ regulasi
    1. Kelompok sopir, kondektur dan ojek yang sering menjadi “sapi perah”majikan dan pihak keamanan
    1. Korban-korban KDRT
    1. Para buruh migran & perantau yang tidak memiliki dokumen-dokumen resmi; dan yang terancam/ terjebak dalam lingkaran human trafficking.
    1. Masalah-masalah yang berhubungan dengan lingkungan hidup (pertambangan minerba, perkebunan monokultur, sampah plastik, pupuk dan pestisida kimia, pembalakan liar, perlndungan satwa langka, pemanasan global)
  5. Divisi Sosial Karitatif
    1. Korban-korban human/ child trafficking
    1. Korban-korban kekerasan Dalam Rumah Tangga atau kekerasan sosial lainnya
    1. Mereka yang tidak punya uang (untuk beli beras murah saja tidak punya)
    1. Orang sakit yang tidak bisa membayar uang rumah sakit
    1. Keluarga duka yang tidak mampu membayar sewa ambulance
    1. Lansia yang tidak diurus oleh keluarga
    1. Pensiunan pegawai dalam lembaga-lembaga Gerejawi dll (gaji pensiun yang tidak cukup)
    1. Orang cacat (fisik dan mental)
    1. Yatim piatu yang dititipkan di panti asuhan dan dilupakan oleh orang tuanya
    1. Orang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan pokoknya
    1. Orang yang mengalami musibah/ bencana (rumah terbakar, kecelakaan lalulintas, banjir, tsunami, angin puting beliung)
  6. Divisi Fund Raising: mencari kiat-kiat/ peluang-peluang untuk penggalangan dana demi keberlanjutan karya YPKD
  7. Menyelenggarakan karya-karya sosial lainnya yang dianggap perlu oleh Badan Pengurus yang disebut oleh Dewan Pembina.

M. NAMA, TEMPAT DAN KEDUDUKAN

  1. Yayasan ini bernama YAYASAN PENGEMBANGAN KEMANUSIAAN DONDERS, selanjutnya disingkat YPKD
  2. Bertempat dan berkedudukan di:                                

     Desa                                                                     : Weelonda

     Kecamatan                                                           : Kota Tambolaka

     Kabupaten                                                           : Sumba Barat Daya 

     Propinsi                                                                : Nusa Tenggara Timur

     Telepon                                                                : (0387) 2526087 atau

                                                                         0387) 2525457

N. AKTA PENDIRIAN

Akta lama Yayasan Sosial Donders didirikan pada hari Kamis, tanggal 07-01-2010

(Tujuh Januari Dua Ribu Sepuluh),

dengan Nomor Pendirian: AHU–3785.AH.01.04

Tanda tangan Notaris: Budiono Widjaja, SH.

(Akta lengkap ada pada arsip)

Akta ini diperbarui pada

Hari Jumat, 04 Desember 2015

Dengan Nomor Pengesahan:

AHU-0029164.AH.01.12.Tahun 2015

dengan pembaruan akta ini, maka nama lama

YAYASAN SOSIAL DONDERS

diubah menjadi

YAYASAN PENGEMBANGAN KEMANUSIAAN DONDERS

(DONDERS HUMAN DEVELOPMENT FOUNDATION)

O. NPWP

02.958.548.6-926.000

Terdaftar di Direktorat Jenderal Pajak

pada tanggal 15-02-2010

P. KEUANGAN DAN HARTA KEKAYAAN YPKD

Untuk mendukung pelaksanaan program kerja YPKD, Badan Pengurus dapat menggalang sumber daya yang berasal dari:

  1. Donatur.
    1. Sumbangan Pihak Ketiga yang tidak mengikat.
    1. Perolehan sekurang-kurangnya 10% (sepuluh persen) dari penghasilan bersih unit kegiatan yang bergerak di bawah naungan YPKD.
    1. Hibah dan Hibah Wasiat.
    1. Perolehan lain yang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar YPKD dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.
    1. Harta kekayaan YPKD tidak boleh digunakan untuk keuntungan atau dibayarkan Pembina, Pengurus, Pengawas, maupun anggota keluarga mereka. Dalam ketentuan tersebut tidak termasuk pembayaran yang dilakukan oleh YPKD dalam jumlah yang wajar atas jasa yang diberikan kepada seseorang yang bekerja sebagai karyawan YPKD, ataupun pembayaran serta sumbangan yang dilakukan oleh YPKD untuk mencapai maksud dan tujuan Yayasan. Semuanya sesuai dengan keputusan Pengurus dengan memperhatikan pedoman yang ditetapkan Pembina dan ketentuan Anggaran Dasar.
    1. Uang yang tidak segera dibutuhkan guna keperluan YPKD disimpan dalam rekening YPKD pada bank, atau dijalankan sesuai persyaratan yang ditentukan oleh Pengurus dengan persetujuan Pembina.
    1. Kekayaan YPKD dalam suatu tahun buku sebagaimana tercantum dalam laporan keuangan yang telah disahkan oleh Rapat Tahunan Pembina, digunakan sesuai dengan Program Kerja dan Rancangan Anggaran Tahunan (PKRAT) yang telah disahkan oleh Rapat Tahunan Pembina.
    1. Tenaga-tenaga sukarela

Q. LEMBAGA-LEMBAGA MITRA

(yang sudah pernah dan yang sedang berjalan)

  1. ACCESS AusAid (pemberdayaan dan penguatan kapasitas warga dan organisasi warga/ sudah berakhir pada akhir tahun 2013)
  2. MISEREOR Jerman (Fokus pada “Pengembangan Pertanian Konservasi Selaras Alam & Pengembangan Pendidikan Bagi Anak & Perempuan) di Komunitas-komunitas Umma Peghe/Umma Pande di Kabupaten Sumba Barat Daya & Sumba Tengah).
  3. KINDERMISSIONSWERK Jerman (Fokus pada pendampingan anak-anak miskin dari Komunitas-komunitas Umma Peghe/Umma Pande di Kabupaten Sumba Barat Daya & Sumba Tengah, bekerjasama dengan MISEREOR)
  4. Pemda Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Timur (dialog dan kerjasama dengan semua bidang karya yang ada)
  5. HIVOS (Gerakan Sumba Iconic Island untuk akses energy baru terbarukan – sudah berakhir pada tahun 2017)
  6. D’SOS (Donders Save Our Sumba) – Kerjasama Yayasan Pengembangan Kemanusiaan Donders dengan Stichting Ontluikend Sumba – Belanda: Fokus pada divisi D’SOS: Donders Save Our Sumba dengan gerakan Sponsorship pendidikan anak-anak cerdas dari keluarga-keluarga miskin di Sumba, pengembangan Education Center, D’SOS SHELTER dan Pengembangan Koperasi Jasa D’Magnificat.
  7. FAO (Food and Agriculture Organization) – Fokus pada pengembangan Pertanian Konservasi di 4 kabupaten di Sumba (berakhir pada bulan Desember 2017).
  8. AusAid/ Program Peduli/ The Asia Foundation/ Yayasan Satu Nama Yogyakarta: fokus pada Gerakan Inklusi Sosial dengan memberikan perhatian khusus kepada Komunitas MARAPU (sebagai Komunitas yang tereksklusi) di kabupaten Sumba Barat Daya, Sumba Barat dan Sumba Tengah. (Berakhir pada bulan Agustus 2019).
  9. AusAID/ Program Peduli/ LPKP Jawa Timur/ The Asia Foundation: fokus pada Gerakan Inklusi Sosial dengan memberikan perhatian khusus kepada Anak-anak Marginal, Potensial Dan Korban Trafficking (atau Anak-anak Pekerja Migran) di Wilayah Terisolir (sebagai Komunitas yang tereksklusi) di kabupaten Sumba Barat Daya. (Berakhir pada bulan Agustus 2019). 
  10. WADAH Titian Harapan dan Yayasan Parinama Astha: Fokus kepada pendampingan anak-anak dan perempuan miskin, petani miskin dan korban-korban Human Trafficking di Sumba.
  11. MCA-I: fokus pada pengembangan SDA secara berkelanjutan di sektor tanaman kakao, hortikultura dan tanaman pangan bersama dengan Konsorsium Weepadalu. (Berakhir pada tahun 2017).
  12. MCA-I: fokus pada pengembangan SDA secara berkelanjutan bersama dengan konsorsium RICOLTO—SWISSCONTACT-MCA-I di sektor tanaman kakao lestari. (Berakhir pada tahun 2017).
  13. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi: fokus pada pengembangan proyek-proyek padat karya infrastruktur dan padat karya produktif, khususnya di wilayah-wilayah potensial trafficking dan korban Pekerja Migran.
  14. OTMI (On Track Media Indonesia): Fokus pada kampanye anti human trafficking.
  15. MKP (Misi Kami Peduli): Fokus pada pengembangan energy baru terbarukan, akses air dan pendidikan bagi anak-anak marginal dari desa-desa miskin. Proyek ini merupakan inisiatif kerjasama dengan para mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang sedang berkuliah di Singapura.
  16. Inisiatif baru (2018 dst ..): Kerjasama dengan Komisi JPRIC yang berada di bawah Sekretariat Jenderal Redemptoris untuk Evangelisasi. 

R. DONDERS MANDALA OF CHANGE

  1. MARS DONDERS

Kau tahtakan surya

di rindu malam segala martabat

Kau bagai kerlip kejora

Di sekat gelap

Suku

Agama

Ras

dan Golongan

Hei … Hei … Hei!

(Hai Kaiayaka!)

Kaulah gemintang

Di parau murai

Kabarkan fajar

Bagi anak-anak kami

Ditopang gairah pertiwi rindukan pangan

Roh kami

Jadilah suaka daulat segala neg’ri

Darah kami

Mengalirlah damai

Recik lestari keutuhan

Nafas kami

Pekik elang s’gala samudra

Dipadu daya berbakti ikhlas

Vivat! Vivat!

Donders in aeternum vivat,

Vivat!

Donders

Human

Development

VIVAT!

Lyric: Mike Keraf, CSsR // Musik & Lagu: Uya

  • PENUTUP

Profile singkat ini kami buat dengan penuh kesadaran, bahwa program-program dan gerakan-gerakan kemanusiaan yang sedang dikelola merupakan ekspresi penghayatan iman kami dari berbagai macam kalangan agama. Semua staf yang mendedikasikan diri mereka dalam program-program dan gerakan Donders berusaha untuk berpijak pada perspektif yang sama, bahwa melampaui aktifitas-aktifitas sosial kemanusiaan biasa, tindakan kami merupakan misi mewujudkan Gambar Wajah Allah yang meng-IYA-kan kehidupan dalam segala dimensi dan rupanya.

Prinsip ERGO SUM CREDO kami pakai sebagai basis gerakan untuk bergerak dan berubah bersama siapa saja MELAMPAUI BATAS!

Untuk melampaui semua batas kemiskinan dan keterpurukan, kami mengakui bahwa:

“BAGIKU HIDUP ADALAH KRITUS

DAN MATI ADALAH KEUNTUNGAN”

(Filipi 1:21)

Allah Yang Maha Kuasa, Harapan Tertinggi dan Jaminan Kemerdekaan

Dari kaum miskin, tertindas dan terlupakan

menolong dan memberkati kita semua!

Wanno Donders, 01 Januari 2020

Hormat kami,

P. MIKHAEL MOLAN KERAF, C.SS.R.

Direktur YPK-Donders

_____________________________

“ONE PERSON WITH A BELIEF

IS EQUAL TO A FORCE OF 99 WHO HAVE ONLY INTEREST”

(John Stuart Mill – Phylosopher and Economist)


[1] JRI Research – HIVOS. Socio-Economic-Gender Baseline Survey, 2012.

[2] Data dari Burung Indonesia, 2007.

[3] Lihat “Food Security Policies in Maritime Southeast Asia: The Case of Indonesia, Trade Knowledge Network Policy Brief” (Salim, 2010).

[4] Data dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTT, 2013

[5] Data dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTT, 2013