Selasa, Agustus 9, 2022
More
    Beranda blog

    Pengikraran Kaul Pertama dan Pembukaan Tahun Novisiat

    0

    Rabu, 29 Juni 2022 bertepatan dengan Hari Raya Santo Petrus dan Paulus, Provinsi Indonesia menerima tambahan 10 anggota baru.  Mereka adalah para Novis angkatan 2021/2022 yang baru saja menyelesaikan masa Novisiatnya.  Hari ini orang-orang muda ini mengikrarkan Kaul Pertama mereka dalam Kongregasi Sang Penebus Mahakudus.

    Segera setelah mengucapkan kaul, sepuluh orang yang baru mengikrarkan kaul segera berangkat ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan filsafat dan teologi di Fakultas Teologi Kepausan  Wedha Bakti, Universitas Sanata Dharma.

    Kegembiraan dan kehangatan ini semakin terasa karena pada saat yang sama 22 orang muda yang baru saja menyelesaikan tahun postulatnya memasuki tahun Novisiat 2022/2023.  Mereka adalah generasi ke-33 yang menjalani masa novisiat di sini di Wanno Gaspar.

    Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Propinsial Redemptoris Indonesia, P..  Yoakim R. Ndelo CSSR.  Ia didampingi oleh Magister, P.  Marianus Dapa Talu CSsR dan P.  David Bayo CSsR, Direktur Postulan.

    Dalam khotbahnya, Pastor Propinsial berkata, “Kata kunci perayaan hari ini adalah “Set them free- Bebaskan mereka”.  Menjadi seorang redemptorist berarti menjadi orang yang bebas karena Tuhan sendiri telah membebaskan seperti yang Ia lakukan terhadap Santo Petrus dan Paulus.  Hanya dengan demikian kita menjadi orang yang bahagia dan gembira dalam memberitakan kabar gembira kepada mereka yang terpinggirkan.

    Perayaan ini dihadiri oleh para konfrater Redemptoris, keluarga dan sahabat Redemptoris.  

    Mari kita berdoa agar orang-orang muda ini terus setia dan bertekun dalam jalan panggilan yang telah mereka pilih.

    Merajut Persaudaraan dengan Mengenal yang Lain

    0

    Ada ungkapan idiom bahasa Inggris yang berbunyi “Home Sweet Home” yang berarti rumahku, surgaku. Di sini, rumah bermakna sebagai sebuah tempat kebahagiaan. Tempat yang digunakan untuk bercengkerama untuk menyatukan relasi, membangun keharimonisan, dan belajar untuk mencari nilai hidup yang lebih baik. Nah salah satu tujuan inilah yang membawa para dosen dan dan guru dari UIN Sunan Kalijaga dan Institut Waimena mengadakan program kunjungan ke kediaman para Redemptoris di Wisma Sang Penebus pada hari minggu (26/06/22).

    Dalam temu jumpa ini, Rm. Enos Bulu Bali selaku Rektor dan Superior Wisma Sang Penebus melalui sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini sangat baik dan bagus guna memupuk persaudaraan di antara umat beragama yang hidup di tengah pluralitas. Selain itu, dia juga mengatakan rumah ini (Wisma Sang Penebus) akan selalu terbuka untuk kegiatan seperti ini dengan tujuan untuk membangun nilai-nilai persaudaraan di antara kedua agama ini.

    Kunjungan dari UIN Sunan Kalijaga dan Institut Waimena merupakan bentuk workshop yang dilaksanakan bagi para guru Madarasah. Tujuan dari pelaksanaan kegiataan ini ialah untuk saling berbagi pengalaman dan mengenal antara Katolik dan Islam. Kegiatan ini juga melibatkan beberapa frater yang dikordinir oleh Fr. John Richard Lessoe, CSsR. Puncak dari seluruh kegiatan ini adalah penyerahan cenderamata dari dekan fakultas UIN Sunan Kalijaga, Dr. Ibu Inayah kepada Rm Enos sebagai rektor Wisma Sang Penebus; sebagai simbol persahabatan dan persaudaraan. 

    Perjumpaan antara dua agama ini menunjukkan adanya sikap yang beyond the tolerance (melampaui toleransi); di mana realitas agama dan iman yang plural bukanlah suatu persoalan yang harus diperkarakan melainkan suatu berkat dan rahmat yang ada di dalam kehidupan bersama. Melalui perjumpaan dan kunjungan ini maka sikap realistis dalam di diri dapat pupuk dan penerimaan akan yang berbeda bukanlah suatu persoalan melainkan suatu habit untuk menjaga stabilitas dan keharmonisan dalam kehidupan.

    Belajar dan Mengenal Liyan Dalam Perjumpaan

    Kontributor: Fr. Yohanes Maria Vianney Diaz, CSsR

    JANGAN MENUNDA – Renungan Minggu Biasa XIII

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Bill Haber, seorang produser film terkenal, adalah salah satu orang paling berpengaruh di Hollywood. Selama tiga puluh tahun, jalan hidupnya adalah menciptakan dan terkadang menghancurkan karir para bintang film di Hollywood. Dan dia melakukan pekerjaannya dengan baik.

    Pada tahun 1995, ketika dua rekannya di Creative Artists Agency meninggalkannya untuk mengelola studio mereka sendiri, Bill memulai sebuah organisasi nirlaba bernama Save the Children, di mana dia sekarang mengawasi empat puluh ribu karyawan di empat puluh satu negara. Dia meninggalkan kemilau dan kemewahan Hollywood demi anak-anak yang kelaparan di seluruh dunia.

    Mengapa dia melakukan langkah seperti itu? Sederhana, katanya. “Kamu hanya hidup sekali, dan saya merasa Tuhan memanggil saya untuk bekerja dengan anak-anak.” Dia menyadari bahwa kekayaan dan kekuasaan bukanlah segalanya, dan ketika dihadapkan dengan kesempatan untuk membuat perbedaan yang akan langgeng dalam hidup seseorang, dia hanya berkata, “Saya tidak bisa membiarkan kesempatan itu berlalu.”

    Hebatnya lagi, Bill Haber mengatakan bahwa tak seorang pun di Hollywood pernah berpikir dia gila karena melakukan apa yang dia lakukan. Bahkan, beberapa orang mengatakan kepadanya, “Saya berharap saya juga bisa melakukan itu.”

    Tiga orang dalam Injil hari ini menyatakan keinginan untuk mengikuti Yesus. (Luk 9,57-62).

    Yang pertama ditantang oleh Yesus dengan tiadanya kenyamanan. “Tempat untuk meletakkan kepala” bukan sekedar bantal atau tempat tidur. Ini adalah kenyamanan hidup dalam sebuah rumah tangga. Yesus adalah pribadi yang terus berjalan dan tidak memiliki kenyamanan itu sebagaimana orang pada umumnya. Dia memilih selibat sebagai pilihan hidup demi Kerajaan Allah.

    Orang kedua dipanggil oleh Yesus tetapi dia hendak meminta ijin untuk menguburkan bapaknya. Artinya dia menunda panggilan itu sampai bapaknya meninggal dunia karena adalah kewajiban anak untuk menguburkan bapaknya. Jawaban Yesus tegas dan tajam. “Biarlah orang mati menguburkan orang mati”. Ini berarti, mereka yang mati secara rohani, yang tidak menanggapi panggilan Yesus, adalah mereka yang menguburkan orang yang mati secara fisik. Bukan dia yang sedang dipanggil.
    Orang ketiga juga dipanggil oleh Yesus tapi memberi syarat untuk pamitan dengan keluarganya. Ini mengingatkan akan panggilan Elisha oleh Elia (1 Raj 19,19-21). Yesus menjawab: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Panggilan Yesus mensyaratkan pengorbanan, termasuk perasaan kedekatan kekeluargaan.

    Kerajaan Allah harus sedemikian mempesona sehingga membuat orang lupa atau mengabaikan hal-hal biasa dan normal  dalam hidup sehari-hari.

    Siapa pun setiap saat dapat melakukan apa yang dilakukan Bill Haber. Dalam Injil hari ini, Yesus memberi kita undangan untuk meninggalkan kerajaan pribadi kita sendiri dengan segala kenyamanannya dan bergabung dengan-Nya dalam membangun Kerajaan-Nya yang kekal, di sini dan saat ini, dengan komitmen total.

    Lebih baik menyesal karena salah melakukan sesuatu daripada menyesal karena tidak melakukan sesuatu.

    Pembaruan Kaul Sebagai Moment untuk Merubah Diri

    0

    Pembaruan kaul bukan hanya sebagai moment untuk memperpanjang kaul ataupun kontrak melainkan moment untuk memperbarui diri. Dalam hal ini, memperbarui diri berarti mengubah diri secara total menjadi manusia yang baik dan benar. Manusia yang baik menunjukkan bahwa seseorang itu hidup lurus sesuai dengan predikat yang melekat dalam dirinya, sedangkan manusia yang benar berarti seseorang memiliki keutamaan dalam hidupnya. Refleksi inilah yang menghantar para frater dan bruder Redemptoris untuk tetap setia dan konsekuen dalam mengikuti Kristus Sang Penebus.

    Hari Sabtu (25/06/22) Komunitas Wisma Sang Penebus merayakan ekaristi secara interen yang dipimpin Rm, Mateus Mali, CSsR sebagai Selebran Utama; sedangkan Rm Enos Bulu Bali, CSsR dan Rm. Yohanes Umbu Rebu Ibiruni, CSsR sebagai konselebran. Dalam ekaristi ini, 5 orang frater tingkat III, 13 Frater tingkat IV dan 1 bruder memperbarui kaulnya untuk satu tahun ke depan. Selain itu, dalam ekaristi ini juga para frater tingkat IV dilantik sebagai lektor dan akolit. Berikut ini adalah nama-nama para frater dan bruder yang memperbarui kaulnya:

    1. Fr. Akuila Maris, CSsR
    2. Fr. Andreas Beda Asimu, CSsR
    3. Fr. Bartolomeus Rowa Sogen, CSsR
    4. Fr. Fulgensius Avelinus Ora, CSsR
    5. Fr. Gaudensius Januarius Redemptoris Umbu, CSsR
    6. Fr. Handrianus Bora Lede, CSsR
    7. Fr. Heribertus Geroda Hayon, CSsR
    8. Fr. Juliant Pedro Claudio, CSsR
    9. Fr. Kristoforus Akri Deodatus, CSsR
    10. Fr. Marianus paskalis Bobo, CSsR
    11. Fr. Sirilus Yosep Rebang Muda, CSsR
    12. Fr. Yohanes Lamberto Haeng Tereng, CSsR
    13. Fr. Yunus Suli Puka, CSsR
    14. Fr. Benyamin Tuaq, CSsR
    15. Fr. George Glinca Jung Tena, CSsR
    16. Fr. Michael Andro Alfredo Ipu Yakobus Sadipun, CSsR
    17. Fr. Wilibrodus Ngongo, CSsR
    18. Fr. Yohanes Belbang Beoang, CSsR
    19. Br. Eduard G.B Tapoona, CSsR

    Sebagai informasi tambahan, dalam perayaan misa ini juga Rm. Enos Bulu Bali, CSsR menginformasikan kepada 13 orang frater tingkat IV mengenai penugasan mereka dalam Tahun Orientasi Pastoral (TOP). Adapun nama-nama ke-13 frater TOP dan tempat penugasannya itu antara lain sebagai berikut:

    1. Fr. Akuila Maris, CSsR- Seminari San Dominggo Hokeng
    2. Fr.Andreas Beda Asimu, CSsR – Paroki St. Andreas Ngallu
    3. Fr. Bartolomeus Rowa Sogen, CSsR – Paroki Sang Penebus Wara
    4. Fr. Fulgensius Avelinus Ora, CSsR – Manila (Filipina)
    5. Fr. Gaudensius Januarius Redemptoris Umbu, CSsR – Cebu (Filipina)
    6. Fr. Handrianus Bora Lede, CSsR – Paroki St. Petrus Sukamara
    7. Fr. Heribertus Geroda Hayon, CSsR – Asrama Pewarta Injil Redemptoris Padadita
    8. Fr. Juliant Pedro Claudio, CSsR – Paroki Unit Pastoral Pinang raya Bengkulu
    9. Fr. Kristoforus Akri Deodatus, CSsR – Pusat Pelayanan Mamboro
    10. Fr. Marianus paskalis Bobo, CSsR – Paroki St. Yoseph Kudangan
    11. Fr. Sirilus Yosep Rebang Muda, CSsR – Kuasi Paroki St. Paulus Karuni
    12. Fr. Yohanes Lamberto Haeng, CSsR – Seminari Sinar Buana
    13. Fr. Yunus Suli Puka, CSsR – St. Mikael Elopada

    Pembaruan Kaul Adalah Moment Transformasi Diri

    Kontributor: Fr. Yohanes Maria Vianney Diaz, CSsR

    KOINONIA – Renungan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    “Kamu harus memberi mereka makan!”.

    Kalimat singkat dan tegas Yesus dalam bacaan Injil hari ini mengingatkan kita akan KOINONIA.

    Istilah ini punya dua makna yang dalam. Sederhananya, “communio” di dalam Ekaristi dan “communio” di luar Ekaristi. Atau berbagi makanan rohani dan berbagi kemakmuran jasmani.

    Ketika kita menyebut ‘komuni’ yang dibayangkan adalah menerima hosti kudus dan memakannya. Dengannya kita mengalami kesatuan dengan Kristus yang menyerahkan diri menjadi santapan rohani bagi kita. Namun bukan hanya itu.

    Kenyataannya kata ‘komuni’ mempunyai makna yang lebih banyak. Komuni mengingatkan kita akan roti yang dikumpulkan dari banyak butir gandum, yang diolah menjadi satu roti yang kemudian dipecah-pecah menjadi santapan banyak orang.

    Komuni juga mengingatkan kita akan air anggur dalam satu piala, yang berasal dari banyak buah anggur yang diperas dan disatukan, lalu dibagi sebagai minuman banyak orang. Melalui roti dan anggur kita kenangkan Yesus yang rela mati agar bisa menjadi makanan rohani bagi setiap orang.

    Ada unsur PENGORBANAN sekaligus BERBAGI. Ekaristi tanpa dua aspek ini tak berarti apa-apa. Menerima Kristus dan bersatu dengan Dia mesti menghasilkan buah yakni semangat seperti Kristus, berbagi apa yang dimiliki.

    Mukjizat memperbanyak roti dan ikan justru terjadi ketika orang-orang rela berbagi dari yang sedikit yang mereka miliki. Komunio dalam ekaristi terjadi ketika kita berbagi makanan rohani dari altar yang sama.

    Jika kita menjadi saudara di dalam ekaristi karena berbagi dari satu roti kudus, maka di luar ekaristi kita tetap satu saudara yang selalu berbagi: kegembiraan, dukacita, keberhasilan, ilmu, pengalaman, bahkan harta materi. Inilah ciri khas jemaat gereja perdana: koinonia. Semestinya ini juga tetap menjadi semangat gereja masa kini.

    Kesetiaan Membutuhkan Pengorbanan Diri

    0
    Pembaruan Kaul Redemptoris

    “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon,” (Mat 6:24). Kutipan ayat ini menggambarkan bahwa kesetiaan itu tidak dapat dibagi-bagi; ia menuntut loyalitas total dari seseorang. Kesetiaan seperti inilah yang dihidupi oleh seorang religius; di mana dia mengikat diri untuk tetap konsekuen dengan pilihannya dalam mengabdikan diri sebagai pelayan Tuhan.

    Hari Sabtu (18/06/2022), Komunitas Wisma Sang Penebus merayakan perayaan ekaristi. Perayaan ini dipimpin oleh Rm. Enos Bulu Bali, CSsR sebagai selebran utama bersama Rm. Mateus Mali, CSsR dan Rm. Yohanes U. Rebu Ibiruni, CSsR sebagai konselebran. Dalam perayaan ekaristi ini, Fr. Petrus Rikardus Umbu Doru, CSsR memperbarui kaulnya. Dengan pembaruan ini, Fr. Petrik menunjukkan kesetiaan pada komitmen untuk melayani sesamanya di dalam dan melalui Serikat Sang Penebus Mahakudus.

    Rm. Enos dalam khotbahnya mengatakan bahwa kesetiaan seorang religius dalam mengikuti Yesus hendaknya sampai tingkat pengorbanan diri seperti Yesus dahulunya. Selain itu, Rm. Enos juga menegaskan bahwa menjadi religius seseorang dituntut untuk tidak terikat dengan hal-hal duniawi. “Ketika seseorang telah memutuskan untuk mengikuti Yesus maka ia harus menanggalkan seluruh kenyamanannya dan memusatkan perhatiannya kepada Kristus” tegas Rm. Enos.

    Dengan kedua sikap itu, seorang religius akan senantiasa konsekuen dengan pilihan, yaitu hidup untuk melayani Kristus. Namun, sebelum sampai pada tahap ini, seorang religius harus mampu mencintai dan menyayangi panggilannya secara serius dan tulus; agar dia menjadi seorang religius yang sungguh-sungguh mampu menghidupi dan menghayati semua predikat yang melekat pada identitasnya sebagai seorang religius.

    Kesetiaan mensyaratkan adanya pengorbanan

    Salam Sang Penebus

    Kontributor: Fr. George Glinca Jung Tena, C.Ss.R

    TIGA ALLAH? – Renungan Hari Raya Tritunggal Mahakudus

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Iman ajaran atau ajaran Tritunggal Mahakudus (Trinitas) adalah ajaran yang paling sulit dipahami sekaligus problematis dalam penerapannya.

    Sulit karena berangkat dari keyakinan akan satu Allah atau monoteisme. Bagaimana bisa memahami bahwa Allah yang sesungguhnya satu, bisa menjadi tiga pribadi: Bapa-Putera-Roh Kudus. Dari perspektif mana kita memahaminya, sementara secara eksplisit hal ini tidak ditulis dalam Kitab Suci.

    Ajaran ini juga problematis dalam penerapannya karena sulit memisahkan peran masing-masing dalam relasi sehari-hari. Benar bahwa Allah Bapa adalah Pencipta, Allah Putera Penebus, Allah Roh Kudus sebagai Penghibur dan Pembela. Tapi apakah demikian tidak membatasi kekuasaan dan peran mereka?

    Dan kalau berdoa, kepada siapa saja dan kapan saja kita berdoa untuk masing-masing? Apakah doa kita disesuaikan dengan peran mereka, yang juga masih belum terlalu jelas untuk kita? Kapan dan untuk maksud apa kita berdoa kepada Roh Kudus, misalnya. Kalau hal ini bisa didoakan kepada Roh Kudus, apakah doa yang sama juga bisa ditujukan kepada Yesus Kristus?

    Kesulitan dan problematika ajaran dan iman ini tentu menyulitkan umat Kristiani untuk menjelaskan, kadang-kadang membela, hal yang paling mendasar dari imannya. Bahkan ada anggapan: agama Kristen bukan agama monoteis.

    Bagi orang Kristen, jawaban terbaik untuk ini adalah: Trinitas dimengerti dengan HATI bukan dengan PIKIRAN. Karena itu yang paling penting adalah menghidupinya, bukan menjelaskannya. Walau penjelasan tetap penting tetapi lebih berdasarkan pengalaman, bukan pengetahuan. Pengalaman hidup para murid bersama Yesus itulah yang kemudian dicatat dalam Kitab Suci.

    Sumber utama paham Trinitas tentu saja dari Kitab Suci. Secara eksplisit memang tidak menyebut sebuah rumusan. Tetapi apa yang tersirat dari kisah dan pernyataan Kitab Suci, jelas memberi gambaran yang sangat jelas tentang siapa Allah dan bagaimana Allah berperan dalam hidup manusia dan dunia sekitarnya. Gambaran inilah yang oleh Para Bapa Gereja di masa lalu dijadikan rumusan iman dan menjadi pedoman hidup sampai saat ini.

    Dalam peristiwa pewartaan kabar gembira, Allah Bapa mengutus malaikat-Nya kepada Maria, Allah Roh Kudus menaunginya, dan Allah Putra menjelma di dalam rahimnya. 2) Dalam peristiwa baptisan Yesus, ketika Allah Putera menerima baptisan dari Yohanes Pembaptis, Suara Bapa terdengar, dan Roh Kudus muncul sebagai merpati dan turun ke atas Yesus. 3) Pada Kenaikan, Yesus memberikan perintah misionaris kepada murid-murid-Nya untuk membaptis mereka yang percaya, dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.

    Pengalaman perjumpaan dengan Allah, dalam tiga cara dan wujud inilah yang merupakan misteri iman terdalam orang Kristen. Tiap orang bisa memiliki bentuk dan cara perjumpaan yang berbeda, tetapi muaranya sama: Allah yang satu dan trinitarian. Ketika berjumpa dengan Yesus, saat itu sekaligus adalah perjumpaan dengan Bapa dan Roh Kudus. Demikian sebaliknya.

    Seorang umat berkata: “Misteri Trinitas Allah mirip seperti Pastor kami. Saya tidak melihat dia sepanjang minggu dan saya tidak mengerti dia pada hari Minggu”.

    Misteri sudah banyak dalam hidup kita. Semoga para pastor jangan menambah banyak misteri lagi.

    ROH KUDUS-PARACLETOS – Renungan Hari Raya Pentakosta

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Pentekosta dirayakan baik oleh orang Yahudi maupun orang Kristen. Makna dan tujuan perayaan berbeda. Bersamaan dengan Hari Raya Paskah dan Hari Raya Pondok Daun, Pentekosta adalah salah satu hari raya besar orang Yahudi. Selama tiga pesta besar Yahudi ini, setiap pria Yahudi yang tinggal dalam jarak dua puluh mil dari Yerusalem secara hukum terikat untuk pergi ke Yerusalem untuk berpartisipasi dalam pesta itu.

    Kata “pentekosta” adalah bahasa Yunani yang berarti “kelima puluh.” Hari raya itu menerima nama ini karena dirayakan lima puluh hari setelah Hari Raya Paskah. Nama lain untuk Pentekosta Yahudi adalah Shebuot atau “Hari Raya Mingguan” (“minggu” ketujuh yakni Sabat antara Paskah dan Pentekosta).

    Awalnya hari itu adalah hari syukur atas selesainya panen. Selama Paskah, satu gantang jelai pertama (disebut: omer) dipersembahkan kepada Tuhan. Pada hari Pentekosta, dua roti dipersembahkan sebagai rasa syukur atas panen.

    Kemudian, orang-orang Yahudi menambahkan pada Hari Raya Pentekosta unsur Perjanjian Yahweh dengan Nuh, yang terjadi lima puluh hari setelah air bah besar dan berkembang lagi sebagai syukur atas PERJANJIAN Yahweh dengan Musa di gunung Sinai. Diyakini itu terjadi 50 hari setelah keluar dari Mesir.

    Bagi orang Kristen Pentekosta menandai akhir dari masa Paskah. Ini adalah peringatan hari Roh Kudus turun ke atas para rasul dan Perawan Maria dalam bentuk lidah api yang menyala, sebuah peristiwa yang terjadi lima puluh hari setelah Kebangkitan Yesus.

    Pesta ini juga memperingati kelahiran Gereja Kristen yang ditandai dengan  khotbah apostolik Santo Petrus, yang menghasilkan pertobatan 3000 orang Yahudi menjadi Kristen.

    Pentekosta lalu menjadi hari kelahiran Gereja yang didirikan Yesus hampir 2.000 tahun yang lalu. Tidak ada yang bisa mengklaim sendiri sebagai pewaris tunggal, walaupun ada sekitar 34.000 denominasi Kristen Protestan saat ini. Siapa pun bisa menjadi pewaris Gereja yang sah.

    Sebagai pewaris, siapa pun pantas menerima Roh Kudus. Roh kudus memenuhi hati dan jiwa kita sejak kita dibaptis dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Tubuh kita karenanya adalah bait Roh Kudus, tempat Roh Kudus berdiam dan bekerja untuk kita.

    Buah pertama Roh kudus adalah PERUBAHAN. Dari orang-orang yang ketakutan, tanpa gairah, putus asa menjadi penuh semangat dan berapi-api, pantang menyerah.

    Selanjutnya aneka macam buah Roh bekerja dalam diam. Roh bekerja melalui perhatian tulus seorang sahabat saat kita sakit, dalam kemurahan hati orang-orang yang membantu kita. Roh kudus berperan memberi kekuatan dari dalam ketika kita mengalami krisis. Roh kudus meneguhkan ketika kita sadar telah melakukan sesuatu yang salah.

    Roh hadir ketika kita bimbang memutuskan sebuah pilihan yang menentukan arah hidup kita. Roh kudus aktif menghibur ketika kita mengalami dukacita kehilangan orang tercinta. Roh kudus memberi kedamaian ketika kita berada dalam badai persoalan.

    Dalam semua ini peran Roh kudus sungguh sebagai ‘PARACLETE’ yang berarti penasihat, penghibur, pembantu, penyemangat.

    Hadirnya Roh kudus dalam diri kita mestinya membuat hidup kita berbeda. Dia bekerja dengan cara-Nya yang seringkali tak terduga.

    Pada tahun 2016, Kongregasi Redemptoris (CSsR), mengadakan Kapitel Jenderal ke-25 di Biara-Rumah Retret Redemptoris di Pattaya, Bangkok. Pada saat itu diputuskan oleh para Kapitularis, tema Kapitel Jenderal yang bisa menjadi bahan refleksi selama 6 tahun mendatang.

    Tema itu adalah: Witness of the Redeemer, in solidarity for Mission to a Wounded World//Saksi-Saksi Penebus, dalam Solidaritas untuk Misi bagi Dunia Yang Terluka.

    Penekanan tema “Dunia Yang Terluka” kemudian seperti sebuah ramalan akan datangnya bencana Covid-19 yang menghantam umat manusia mulai tahun 2019 sampai sekarang.

    Dengan cara semacam inilah Roh Kudus bekerja, mengingatkan dan mempersiapkan kita dengan caranya yang sangat rahasia.

    Sangat mungkin dalam hidup kita pun Roh Kudus bekerja dengan cara yang serupa.

    SUPAYA SEMUA MENJADI SATU – Renungan Minggu Paskah VII

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Suatu hari, seorang pria sedang berjalan melintasi jembatan dan melihat seorang pria lain berdiri di tepi, hendak melompat. Dia segera berlari ke arahnya dan berkata, “Berhenti! Jangan lakukan itu!” “Yah, kenapa tidak?” dia membalas. Pria itu berkata, “Ya, ada begitu banyak alasan untuk hidup!” “Seperti apa”?, tanyanya.

    Pria itu balik bertanya: “Begini … apakah Anda beragama atau ateis?” “Beragama.” “Saya juga!”, kata pria itu. “Dan apakah Anda Kristen atau Yahudi?”, lanjutnya.  “Kristen.” “Sama, Saya juga!

    “Apakah Anda Katolik atau Protestan?” “Protestan.” “Saya juga! “Apakah Anda Gereja Episkopal atau Baptis?” “Gereja Baptis.” “Wow! Saya juga! Apakah Anda Gereja Baptis Allah atau Gereja Baptis Tuhan?” “Gereja Baptis Tuhan.” “Saya juga!, kata pria itu makin bersemangat.

    “Apakah Anda Gereja Baptis Tuhan Asli, atau apakah Anda Gereja Baptis Tuhan Reformasi?” “Gereja Baptist Tuhan Reformasi.” “Wow sama lagi!”

    Apakah Anda Gereja Baptis Tuhan Reformasi tahun 1879, atau Gereja Baptis Tuhan Reformasi Tahun 1915?” Gereja Baptis Tuhan Reformasi Tahun 1915″. 

    “Matilah kau, dasar sesat!”, teriaknya sambil mendorong dia dari jembatan.

    Kisah ini mungkin hanya sebuah imajinasi dan bisa saja tak pernah terjadi. Tapi kisah ini bisa menyadarkan kita bahwa PERBEDAAN bisa menjadi sumber bencana atau malapetaka jika dipahami secara keliru. Perbedaan itu sebuah kenyataan dan tak akan pernah hilang dari muka bumi ini.

    Itulah sebabnya, harapan dan doa terakhir Yesus bagi para murid-Nya adalah UNTUK KESATUAN. Jika diperhatikan baik-baik, doa Yesus untuk kesatuan dalam Injil hari ini mempunyai tingkatan atau gradasi.

    “Supaya mereka semua menjadi satu” (Yoh 17,21). Kemudian dilanjutkan: “…supaya mereka menjadi SATU sama seperti Kita adalah SATU” (Yoh 17,22). Terakhir Yesus berkata; “Supaya mereka sempurna menjadi SATU”.

    Kesatuan yang dimaksud Yesus bukan sekedar satu Gereja atau satu Agama. Ini tentang kesatuan umat manusia, karena Yesus berpesan juga: “jadikanlah semua bangsa murid-Ku”. (Mat 28,19). Ketika Dia berdoa, bayangan-Nya di masa depan adalah bahwa semua umat manusia sudah menjadi murid-Nya.

    Kesatuan ini pertama-tama kesatuan dalam KASIH. Mengapa? Karena kasih itulah yang melandasi kesatuan Yesus dengan Allah Bapa. Satu dalam kasih membawa mereka pada kesatuan dalam tujuan, yakni keselamatan umat manusia.

    Bagaimana mewujudkan kesatuan dalam kasih? Kesatuan antar manusia atau para murid Yesus, hanya bisa terjadi jika terlebih dahulu ada kesatuan dengan Yesus Kristus dan Allah Bapa. Mudah bagi orang menghidupi kasih jika dia mempunyai relasi yang erat dan kuat dengan Yesus Kristus dan Allah Bapa.

    Bagaimana dengan perpecahan yang terus ada dalam dunia, bahkan dalam Gereja? Alasannya jelas, karena orang tidak menghidupi kesatuan dengan Allah dalam Roh. Semakin dekat seseorang dengan Allah maka dia akan semakin mampu melihat sesama manusia dengan mata atau cara Allah. Allah menciptakan manusia untuk dikasihi, bukan untuk disakiti atau dihancurkan.

    Bagaimana dengan mereka yang membunuh sesama manusia atas nama agama bahkan atas nama Allah? Yakinlah bahwa mereka TIDAK PAHAM ALLAH YANG SEBENARNYA. Allah yang ada dalam kepala dan jiwa mereka adalah ciptaan mereka sendiri, bukan Allah yang sesungguhnya.

    Agama pada dasarnya mengajarkan yang baik dan benar tentang Allah tapi dipahami secara salah. Disini agama, bahkan Allah menjadi kambing hitam untuk pembenaran naluri liar, sesat dan sakit.

    Hans Küng benar adanya ketika mengatakan; “Kita telah gagal karena kita tidak memberi kesaksian akan kasih sayang Tuhan untuk setiap makhluk”.

    Ya, kita memang masih jauh dari berhasil dan perlu perjuangan terus menerus untuk PERSATUAN.

    YESUS NAIK – Renungan Hari Raya Kenaikan Tuhan

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Setiap hari Minggu kita mengakui melalui Syahadat, “…yang naik ke Surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa Yang Mahakuasa”.

    Pemahaman akan “Kenaikan Yesus” paling erat kaitannya dengan pemaham  akan “Natal”. Pada peristiwa Kelahiran, kemanusiaan dan keilahian menjadi satu dalam Pribadi, yakni Yesus. Yesus adalah manusia sejati sekaligus Allah sejati. Itulah yang dimaksudkan dengan Inkarnasi: Allah TURUN menjadi manusia.

    Pada kutub yang berbeda, dalam peristiwa Kenaikan, manusia ini – pribadi dan tubuh hidup Yesus yang telah dibangkitkan – kembali pada hakekat-Nya yang sejati, darimana Dia berasal. Ungkapan yang sederhana tentang ini adalah “YESUS NAIK dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa”. Dia menjadi satu kembali dengan Dia yang mengutus-Nya.

    Yang naik ke Surga adalah Tubuh Yesus yang hidup dan Bangkit. Tubuh yang telah disentuh oleh para murid, tubuh yang di dalamnya Dia sendiri telah makan dan minum bersama mereka sebelum dan sesudah Kebangkitan-Nya, tubuh yang nyata, fisik, dengan tanda-tanda paku dan tombak tetapi dipulihkan secara mulia.

    Kembalinya Yesus berarti misi-Nya di dunia telah tercapai. Ini adalah puncak dari penugasan Yesus tetapi belum penutup atau akhir dari misi itu sendiri.

    Dengan istilah “duduk di sebelah kanan Bapa” kita ingat akan gambaran nabi Daniel tentang Anak Manusia: “Kepadanya telah diberikan kekuasaan dan kemuliaan dan kerajaan, agar semua bangsa, suku, dan bahasa melayani Dia; kekuasaan-Nya adalah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan berlalu, dan kerajaannya yang tidak akan binasa’”

    Dengan kuasa ini maka Dia sendiri yang mengendalikan rencana keselamatan yang berkelanjutan melalui Roh Kudus, tidak dibatasi oleh waktu, ruang, atau budaya. Itulah sebabnya Yesus berjanji kepada murid-murid-Nya “Sesungguhnya, Aku menyertai kamu senantiasa…” (Mat 28,20).

    Penyertaan ini bukan sekedar jalan-jalan melainkan dalam rangka meneruskan karya pewartaan Injil:

    “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kis 1,8).

    “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 

    dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” (Mat 28,19).

    Sebuah kisah lama yang indah menceritakan bagaimana Yesus, setelah Kenaikan-Nya ke Surga, dikelilingi oleh para Malaikat Suci yang mulai menanyakan tentang pekerjaannya di bumi.

    Yesus memberi tahu mereka tentang kelahiran, kehidupan, khotbah, kematian, dan Kebangkitan-Nya, dan bagaimana Dia telah menyelesaikan keselamatan dunia.

    Malaikat Gabriel bertanya, “Nah, sekarang setelah Anda kembali ke Surga, siapa yang akan melanjutkan pekerjaan Anda di bumi?”

    Yesus menjawab, “Ketika saya di bumi, saya mengumpulkan sekelompok orang di sekitar saya yang percaya kepada saya dan mencintai saya. Mereka akan terus menyebarkan Injil dan melanjutkan pekerjaan Gereja.”

    Gabriel bingung. “Maksudmu Petrus, yang menyangkalmu tiga kali dan yang lainnya melarikan diri ketika kamu disalibkan? Anda bermaksud memberi tahu kami bahwa Anda meninggalkan mereka untuk melanjutkan pekerjaan Anda? Dan apa yang akan Anda lakukan jika rencana ini tidak berhasil?”

    Yesus berkata, “Saya tidak punya rencana lain – rencana itu harus berhasil. Saya mengandalkan mereka!”

    Sungguh, Yesus tidak memiliki rencana lain selain bergantung pada upaya para pengikutnya! Dan itu adalah KITA.