Minggu, Juni 20, 2021
More
    Beranda blog

    BADAI HIDUP-Renungan Minggu Biasa XII

    0
    Sumber foto: https://www.sesawi.net/

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Kisah Ayub dalam Perjanjian Lama merupakan kisah legendaris yang mewakili perjuangan orang beriman untuk setia dalam iman akan Allah yang Maha Baik dan Maha Pengasih. Ayub, seorang yang beriman dan setia di jalan yang lurus, tak henti-hentinya didera kemalangan dan penderitaan. Mula-mula hartanya yang hilang, kemudian anak-anaknya tewas mengenaskan, lalu dirinya sendiri menderita sakit kusta.

    Untuk mengetahui bagaimana pergulatan Ayub, pentinglah membaca kisah Ayub dari awal sampai akhir. Tidak tertuju hanya pada potongan kisah yang bisa menimbulkan salah paham. Suatu penderitaan dalam iman pasti ada AKHIR dan suatu berkat dari Allah pasti ada AWAL.

    Akhir dari penderitaan Ayub dan awal dari pemulihan dengan berkat yang melimpah adalah ungkapan imannya yang sangat dalam:
    “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal” (Ayb 42,2).

    Pengalaman hidup Ayub ini, dalam versi yang berbeda dan lebih singkat, juga digambarkan dalam kisah Injil dimana Yesus meredakan angin taufan, Mrk 4,35-41. Para murid yang bersama dengan Yesus dalam satu perahu, dihantam oleh angin taufan dan ombak yang tinggi sehingga para murid sangat ketakutan. Pada saat yang sama Yesus sedang tertidur. Ketakutan akan tenggelam dan mati mengenaskan membuat mereka panik dan berseru kepada Yesus: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”.

    Kata-kata Yesus kemudian begitu tegas dan penuh kuasa: “Diam. Tenanglah!”. Ungkapan ini serupa dengan perintahnya ketika mengusir roh jahat dari seseorang di Kapernaum: “Diam. Keluarlah daripadanya!” (Mrk 1,25).

    Seperti halnya Allah berkuasa mengubah kehidupan Ayub, demikian pun Yesus berkuasa mengubah alam dan nasib para murid-Nya. Yesus bisa mengontrol kekuatan-kekuatan yang biasa menakutkan dan membinasakan manusia.

    Mengakui Yesus sebagai Guru tidak serta merta membuat para murid percaya akan perlindungan dan kasih-Nya ketika kita berhadapan dengan situasi yang tak mampu kita kuasai. Merasa bahwa Yesus BERSAMA kita  tak selalu membuat kita merasa AMAN dalam situasi yang mengancam.

    Itulah sebabnya diperlukan IMAN yang sejati. Iman bukan sekedar tahu dan merasakan kehadiran Tuhan, melainkan mempercayakan diri sepenuhnya, sampai pada batas yang tak bisa dimengerti. Seringkali justru pada titik ini tangan Tuhan terlibat secara tak terduga.

    Lebih baik percaya pada Tuhan sampai akhir, sekalipun yang terjadi tidak sesuai harapan kita, daripada kehilangan kepercayaan tapi juga berakhir sama. Iman pasti mempunyai nilai tersendiri di mata Tuhan.

    Let Go and Let God

    BENIH-Renungan Pekan Biasa XI

    0
    Sumber Foto: http://renunganlenterajiwa.com/

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Pada suatu pagi di bulan Juni tahun 1859, seorang pria bangun lalu membuka jendela kamarnya di Swiss. Dia mendengar bahwa di Italia terjadi perang. Cepat-cepat dia menyiapkan barang-barang bawaan seadanya dan berangkat kesana. Dia ingin melihat dari dekat apa yang sungguh terjadi.

    Dia tiba di Italia dimana dia melihat bagaimana para tentara bertempur di satu sisi bukit dekat kota Castiglione. Dia melihat seorang tentara terkena peluru, berteriak lalu tumbang ke tanah. Dia belum pernah melihat hal ini sebelumnya. Dia pun tergerak hatinya untuk menolong tentara-tentara yang terluka. Ketika pertempuran selesai dia lari memanggil penduduk sekitar dan membantu mengangkat para tentara luka dan membawa mereka ke kampung sekitar dan mengobati luka-luka mereka.

    Pengalaman itu sangat membekas di hatinya. Dia lalu pulang ke rumahnya dan menulis sebuah artikel tentang perlunya sebuah organisasi yang bertugas untuk membantu dan menolong para tentara yang terluka di medan perang. Tahun 1864, tepat 5 tahun setelahnya, berdirilah sebuah organisasi pertama macam itu di Swiss, yang disebut Palang Merah (Red Cross). Organisasi ini dengan cepat berkembang di seluruh dunia. Semua orang melupakan pria ini hingga tahun 1891 namanya muncul di sebuah majalah. Pria ini adalah Jean Henri Dunant, yang dianggap sebagai pendiri Palang Merah Internasional, dan menjadi orang pertama yang menerima Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1901.

    “Kerajaan Allah seumpama benih yang ditaburkan di dalam tanah” (Mrk 4,26). Pertumbuhan benih ini menurut Yesus terjadi secara perlahan dan misterius oleh karya Roh Kudus. Gambaran Yesus tentang Kerajaan Allah ini berbeda dengan orang-orang Yahudi sezamannya.

    Bagi orang Farisi Kerajaan Allah terwujud dalam pelaksanaan Hukum Musa secara absolut atau mutlak. Bagi orang Zelot, Kerajaan Allah terwujud dalam bentuk politis sebagai sebuah kekuasaan dimana Allah adalah pemegang Hukum Tertinggi. Mirip seperti Kilafah yang diyakini banyak orang radikal saat ini. Bagi orang Esseni, Kerajaan Allah dilihat sebagai berakhirnya dunia ini karena kejahatannya. Karena itu mereka menarik diri dan bertapa di dekat Laut Mati menantikan saat akhir itu.

    Bagi Yesus, Kerajaan Allah hadir dalam bentuk kuasa Allah dalam hidup manusia; mulai di dunia ini dan berakhir di Surga nanti. Kerajaan Allah tidak hanya soal nanti setelah kematian melainkan hadir DISINI dan KINI. Kerajaan Allah terkait sangat erat dengan apa yang dibuat manusia ibarat sebuah benih atau biji sesawi yang DITABURKAN tetapi secara diam-diam, misterius, ditumbuh-kembangkan oleh Allah.

    Dalam arti ini manusia diminta untuk melakukan apa yang bisa dilakukan; menaburkan dan menyiram. Dari pihak Allah, Dia melakukan apa yang hanya bisa dilakukan oleh Allah; menumbuh-kembangkan dan membuat hasilnya berlipat ganda.

    Ketika kita, sebagai orang beriman memulai sebuah niat baik, dalam konteks membangun Kerajaan Allah, prosesnya mungkin jauh dari ekspektasi kita. Tumbuhnya sangat perlahan. Akan tetapi, sepelan atau selambat apa pun proses itu, kita hanya perlu bersabar menunggu bagaimana Allah bekerja. Yang penting kita yakin bahwa Allah selalu hadir dalam proses itu.

    Pada saatnya Dia akan membuat semuanya indah dan penuh sukacita. Buahnya akan berlimpah ketika tiba waktunya. Dan saat itu mungkin saja tidak terjadi ketika kita masih hidup. Tapi kita pasti bahagia karena sudah pernah menanam benih itu dan pasti akan diperhitungkan oleh Allah.

    Siapapun bisa menjadi Jean Henri Dunant dalam cara yang berbeda.

    TRANSUBSTANTIATIO

    0
    Sumber foto: https://katoliknews.com/

    (Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo CSsR

    “Gereja Katolik mengajarkan bahwa di dalam Ekaristi, Tubuh dan Darah Allah yang menjadi manusia senyatanya, sungguh-sungguh, secara mendasar hadir bersama jiwanya dan keilahiannya oleh karena “Transubstansiasi” roti dan anggur ke dalam Tubuh dan Darah Kristus. Ini terjadi dalam korban tak berdarah yakni Misa.” (Konsili Trente, 1551).

    Apa yang dimaksudkan dengan “transubstansiasi”? Artinya terjadi perubahan substansi. Substansi atau hakekat dari roti dan anggur yang dikonsekrasikan berubah menjadi substansi Tubuh dan Darah Yesus Kristus yang telah dibangkitkan oleh karya Roh Kudus. Akan tetapi “accidents”/penampakannya (warna, bentuk dan rasa) tidak berubah.

    Bagaimana hal ini bisa terjadi? Tentu karena karya Roh Kudus dan diyakini dalam iman. Maka ketika kita menerima hosti atau dengan anggur dalam perayaan Ekaristi, walau rasanya tetap rasa roti dan anggur, kita mengimani sungguh menerima Tubuh dan Darah Kristus.

    Mengapa harus demikian? Karena itu adalah cara terbaik bagi orang beriman supaya bersatu dengan Yesus, dan itulah cara Yesus untuk tetap hadir di tengah para murid-Nya.

    Dia telah menjanjikan bahwa Dia akan bersatu dengan kita dan menyertai kita sampai akhir jaman. Kata-kata-Nya dalam Ibadat Sabda yang bisa kita renungkan ternyata tidak cukup. Yesus ingin agar kita bukan hanya mendengarkan Dia tetapi selalu bersatu dengan kita. Itulah sebabnya ada istilah “komuni kudus” yang berarti “communio” atau persatuan dengan Tuhan Yesus.

    Dari manakah kita mendapatkan pendasaran teologis dari perayaan ini?

    Dalam perjamuan malam terakhir Yesus memberikan roti kepada para murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah. Inilah tubuh-Ku” (Mat 26,26). Dan sesudah itu Dia mengambil cawan berisi anggur dan berkata: “Minumlah kamu semua dari cawan ini, sebab inilah darah-Ku…” (Mat 26,28).

    Yesus tidak memberikan roti dan anggur sebagai simbol semata, tetapi sungguh-sungguh menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Yesus tidak memberikan roti dan anggur sekedar perwakilan kehadiran-Nya tetapi menghadirkan diri dalam rupa roti dan anggur.

    Mengapa tidak sebaiknya roti dan anggur berubah sekalian menjadi daging dan darah? Kalau itu terjadi maka para pengikut Yesus justru menjadi kanibal atau pemakan manusia.

    Keagungan misteri ini justru terletak pada perubahan semacam ini; berubah hakekatnya tapi rasa, warna dan bentuknya tetap sama. Inilah mukjizat terbesar yang bisa kita saksikan dan alami dalam setiap perayaan Ekaristi. Tak ada mukjizat yang lebih besar dari ini.

    Karena itu mengikuti dan merayakan ekaristi sesungguhnya merayakan mukjizat paling agung dalam iman Kristiani, lebih dari semua jenis mukjizat lainnya.

    Yesus memberikan diri-Nya SEUTUHNYA kepada kita. Kita hanya perlu memberikan SEDIKIT dari yang kita punya kepada sesama demi Dia. Kenapa kadang terasa sulit sekali?.

    ****

    Seorang pastor dihentikan polisi lalulintas karena mengemudi mobil dengan kecepatan melebihi batas yang diijinkan. Polisi mencium bau alkohol dari mulutnya dan ada botol anggur di sampingnya.

    Polisi bertanya: “Pastor minum alkohol sambil mengemudi ya?”. “Tidak”, katanya. “Saya hanya minum air”. Polisi: “Tapi kenapa tercium bau alkohol?”. Pastor itu memegang botol sambil berseru: “Oh Tuhan, terpujilah nama-Mu. Hari ini Engkau buat mukjizat lagi untukku”.

    Bertumbuh & Memperharui Diri Secara Spiritual-Bincang Cerdas Orang Muda Redemptoris

    0

    Komunitas Misi Umat Santo Klemens mempunyai kelompok orang muda dampingan yang bernama Komunitas Orang Muda Redemptorist San Keme.

    Komunitas ini beranggotakan orang-orang muda yang berada di sekitar komunitas Misi Umat. Ada yang dari Stasi St. Klemens Hofbauer Katama Wee, Stasi St. Alfonsus Likku, Stasi Sta. Magdalena Elolara dan Stasi Maria Bunda Selalu Menolong Ello.  Ada juga yang datang dari kota Waikabubak. Komunitas orang muda ini adalah komunitas yang terbuka.

    Komunitas Orang Muda Rededemptoris San Keme selalu berkumpul untuk merayakan hari-hari besar Gereja, seperti Natal dan Paskah bersama secara rutin serta Pesta St. Klemens Hofbauer pelindung komunitasa Misi Umat dan Pesta St. Alfonsus Maria de Liguori, pendiri Konggregasi Redemptoris

    Selain mengadakan Ekaristi bersama, komunitas ini juga mengadakan pendampingan pengembangan kapasitas dan ketrampilan hidup. Pendampingan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas orang muda dalam hal iman dan keterlibatan eklesial dan sosial.

    Salah satu program yang diluncurkan oleh komunitas ini adalah adalah BINDAR. Ini adalah singkatan dari bincang-bincang cerdas orang muda Redemptorist. Pada pertemuan pertama yang mengangkat tema “Bertumbuh & Memperbaharui Diri Secara Spiritual” orang muda diajak untuk mengolah batinnya, memperdalam relasi dengan Tuhan, mengalami perjumpaan dengan Tuhan dalam hidup sehari-hari.

    Dalam tahap ini mereka diajak berjumpa dengan diri mereka dan menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. orang muda dibimbing untuk berdamai dengan dirinya sendiri sehingga menjadi pribadi yang kuat.

    BINDAR juga adalah plesetan dari bahasa inggris yakni kata BIND artinya mengikat. Dalam arti ini orang muda Redemptorist disatukan oleh Sang Penebus (Redeemer) dalam satu keluarga orang muda dan siap diutus untuk memberikan kesaksian tentang kelimpahan penebusan yang dialami.

    Semoga BINDAR atau BINDER ini  terus bertumbuh dan memberikan dampak positif pada perkembangan iman dan aksi orang muda di tengah-tengah Gereja dan masyarakat.

    Doakan!

    Kerja Bakti OMK St. Alfonsus Likku

    0

    Selasa, 1 Juni 2021 bertepatan dengan hari Kelahiran Pancasila, OMK Stasi St. Alfonsus-Likku Paroki St. Mikael Elopada didampingi pater moderator OMK, P. Amor, CSsR melakukan kerja bakti membersihkan wilayah hutan Watu Mbolo yg berada di KM 7 Kecamatan Wewewa Timur-Sumba Barat Daya. “Kegiatan ini sudah menjadi kegiatan rutin dari OMK di stasi ini, hal ini dikarenakan hutan ini masuk bagian dari wilayah stasi Likku. Namun kerja bakti kali ini terasa istimewa karena bertapatan dengan hari kelahiran Pancasila.

    Tepat Pukul 08:00 WITA, beberapa orang muda sudah bergerak menyusuri pinggiran jalan untuk memungut sampah-sampah plastik yang berserakan di sepanjang jalan di area hutan Watu Mbolo. Sampah yang terkumpul kurang lebih 3 karung yang nantinya akan dibuang di tempat pembuangan akhir ( TPA) Lapale.

    Menurut Ketua OMK St. Alfonsus-Likku, di samping memperingati hari lahirnya Pancasila, moment seperti ini juga merupakan bentuk dari lahirnya Generasi peduli lingkungan yang bersih. Semoga semangat Orang Muda Katolik Likku menginspirasi dan menggerakan orang-orang muda lainnya agar mau peduli dengan kebersihan lingkungan sehingga selalu tercipta lingkungan yang indah dan bersih.

    Kontributor: P. Amor, CSsR

    BIAV Season IV-Menjadi Laskar Kristus

    0

    Tak terasa sudah satu bulan berlalu, kini para frater Redemptoris kembali hadir lagi, dalam acara BIAV season IV. BIAV kali ini  mengusung tema “Menjadi Laskar Kristus”. Tema ini diambil dari kisah tentang Yesus yang mengutus murid-muridNya untuk menjadi saksi kebangkitan dengan pergi ke seluruh dunia untuk membaptis banyak orang dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus (Matius 28:16-20). Melalui tema ini, para frater mengajak adik-adik untuk menjadi murid Kristus yang tekun dalam karya sederhana, seperti berdoa, membantu orang tua, membaca Kitab Suci serta masih banyak lagi.

    Seperti biasa, acara BIAV kali juga dikemas dengan gaya anak-anak, mulai dari sapaan, lagu yang dibawakan, renungan sederhana hingga permainan dan kreativitas lainnya dikemas dengan gaya yang bersahabat dengan anak-anak. Tim BIAV berharap agar dalam situasi pandemi seperti ini, semakin banyak orang yang tersapa melalui pelayanan virtual ini secara khusus bagi anak anak yang menjadi sasaran utama pelayanan.

    Lebih jauh lagi, tim BIAV berharap agar kegiatan ini tidak hanya berdampak positif bagi anak-anak, tetapi juga bagi para frater selaku pendamping BIAV. Para frater diharapkan terpacu untuk mengasah kemampuan pastoral yang baik, melatih kepercayaan diri, dan mampu mengembangkan kreatifitas dengan memanfaatkan teknologi digital. Kemampuan seperti inilah yang akan banyak dibutuhkan dalam menjalankan misi perutusan di masa yang akan datang.

    Kontributor: Fr Bernardus Umbu Rewa CSsR

    TRINITAS YANG MISTERI

    0
    Sumber foto: https://www.thedivinemercy.org/

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Tri Tunggal Maha Kudus, singkatnya Trinitas, pertama-tama adalah sebuah konsep iman Kristiani yang bersifat misteri. Yang namanya misteri pasti tidak mampu dibedah atau dicerna sepenuhnya dengan akal-budi, rasio atau OTAK.

    Evagrius dari Pontus, seorang rahib Yunani abad keempat mengatakan: “Allah tak bisa dipahami sepenuhnya dengan pikiran manusia. Jika Dia bisa dipahami, lalu Dia bukan lagi Allah”.

    Ini berarti dibutuhkan aspek lain dari pribadi manusia yakni HATI dan itu terkait langsung dengan KEYAKINAN atau IMAN.

    Karena itu perdebatan soal Trinitas antara yang PERCAYA dan yang TIDAK PERCAYA menjadi percuma karena tidak akan ada titik temu.

    Diskusi atau upaya pemahaman, dengan menggunakan otak sekaligus hati, hanya bisa terjadi antara orang yang seiman.

    Kedua, Trinitas adalah sebuah konsep iman tentang hakekat Allah yang dirumuskan oleh para Bapak Gereja dalam Konsili Nicea (tahun 325 M ) dan Konsili Konstantinopel ( tahun 381 M). Mereka tidak menciptakan siapa Allah, tapi mendefinisikan hakekat Allah dalam bahasa manusia berdasarkan pemahaman mereka akan Kitab Suci. Inilah yang nampak dalam Kredo Konstantinopel dan diakui seluruh denominasi Kristen saat ini.

    Dengan kata lain mereka mengambil kesimpulan tentang siapa Allah berdasarkan sejarah keselamatan dimana Allah menampakkan atau menghadirkan diri di dalam pengalaman hidup manusia.

    Sebagai konsep pun para Bapa Gereja di Konsili ini bukan orang pertama yang membuat rumusan ini. Misalnya  pada akhir abad pertama, Clemens dari Roma sudah merumuskan dengan bahasa seperti ini: “Tidakkah kita mempunyai satu Allah, satu Kristus dan satu Roh Kudus yang dicurahkan kepada kita, dan satu panggilan dalam Kristus?”.

    Yang ketiga, dan mungkin ini yang paling sulit, istilah Trinitas. Kalau diterjemahkan secara sederhana bisa menjadi “Satu Allah Tiga Pribadi”. Hubungan antara Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus digambarkan dengan istilah HOMOOUSIOS yang berarti SATU SUBSTANSI atau satu hakekat ilahi.

    Anggota dari Trinitas ini adalah setara, sama-sama kekal, satu dalam esensi, kuasa dan kehendak. Ketiga-tiganya tak diciptakan dan bersifat kekal artinya tidak berawal dan tidak berakhir. Skema di bawah ini bisa sedikit memberi gambaran.

    Rumusan yang sangat eksplisit tentu tidak ada dalam Kitab Suci, tapi indikasi yang membenarkan konsep Trinitas tertulis dimana-mana dan tak perlu diragukan.

    Perintah terakhir Yesus dalam Injil Mateus sangat jelas; Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” (Mat 28,28). Jika bukan karena kesatuan tiga pribadi ini lalu untuk apa Yesus memberi pesan pembaptisan yang demikian?

    Indikasi lain dapat ditemukan pada saat pembaptisan Yesus di sungai Yordan.

    Dalam Mat 3,16-17 dikatakan: Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Ada Allah sebagai Bapa, Yesus sebagai Putera dan Roh Kudus pada saat yang sama dan bekerja untuk tujuan yang sama.

    Dalam pembukaan Injil Yohanes dikatakan, “Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”.  (Yoh 1,1). Siapa yang dimaksud Yohanes? Tiada lain adalah Yesus Kristus sendiri.

    Tentang Roh dan Firman ini sudah dinyatakan sejak awal penciptaan.

    “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.”

    Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa ketiga pribadi ini sudah nampak sejak awal penciptaan: Allah, Firman, Roh. Dalam istilah teologi Kristen disebut: Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus.

    Dalam tanda salib sederhana dengan ucapan “Dalam Nama Bapa, Putera dan Roh Kudus”, tersirat sebuah ungkapan iman akan siapa Allah itu. Allah sebagai Bapa yang mencipta dan memelihara ciptaan, Yesus sebagai Putera yang menebus dan mendamaikan kita dengan Allah dan Roh Kudus yang menguduskan kita, menguatkan kita, mengajar kita dan menuntun kita kepada Allah.

    Karl Rahner seorang teolog Yesuit terkenal, pernah ditanya oleh seorang imam, bagaimana dia menjelaskan Trinitas dalam kotbahnya. Jawabannya sederhana: “Jangan! Perayaan hari ini tidak hanya menentang penjelasan tetapi juga pemahaman”.

    Maksudnya, jangan berusaha menjelaskan Trinitas, tetapi terimalah, imani, rayakan dan hidupi.

    Engkau Terlalu Kuat Bagiku-Kaul Kekal Hidup Membiara Br. Yonatan Kulla CSsR

    0

    Rabu, 26 Mei 2021 merupakan hari Bahagia bagi Kongregasi Redemptoris sejagat terkhususnya bagi Redemptoris Indonesia. Pada hari ini Br. Yonatan Kulla CSsR mengikrarkan kaul kekalnya dalam Kongregasi Redemptoris di Gereja Katedral Roh Kudus Weetebula dengan motto: “Tuhan Engkau terlalu kuat bagiku” (Yer. 20:7b).

    Perayaan Ekaristi pengikraran kaul yang dipimpin oleh Pater Propinsial Redemptoris Indonesia, Ptr. Kimy Ndelo, CSsR dihadiri oleh para Redemptoris yang berkarya di Sumba serta keluarga dan kenalan. Dalam kotbahnya, Ptr. Kimy mengingatkan para Redemptoris, terkhususnya Br. Yono bahwa seorang Redemptoris dipanggil untuk memikul salib lewat kerelaan mengikuti kehendak Allah yang nyata lewat keputusan pimpinan.

    “Hidup membiara berkaitan dengan kehendak dan kemauan” ujar Ptr. Kimy. Seringkali terjadi keputusan pimpinan tidak sesuai dengan kamauan pribadi setiap orang yang terpanggil. Namun seorang Redemptoris dengan kaul ketaatan yang diikrarkannya terpanggil untuk senantiasa melihat keputusan tersebut dalam kacamata kehendak Allah.

    Ptr. Kimy juga mengingatkan Br. Yono bahwa dengan kaul kekal hidup membiara, perjalanan panggilan seorang Redemptoris tidak berarti menjadi lebih mudah. Terkadang keinginan dan kehendak pribadi bisa saja menjadi lebih kuat sehingga berujung pada pergolakan yang merugikan panggilan seorang Redemptoris.“Kaul kekal bukan vaksin atau benteng yang menghindarkan dan membentengi kita dari godaan” tegas Ptr. Kimy.

    Lebih lanjut Ptr. Kimy mengingatkan agar Br. Yono agar menjadi pribadi yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah dicapai. “Jangan berhenti di tengah jalan, jangan menoleh ke belakang dan jangan berhenti melangkah” ujar Ptr. Kimy. Menutup kotbahnya Ptr. Kimy menegaskan bahwa seorang bruder mungkin tidak bisa menjadi seorang imam dan raja, tetapi bisa menjadi seorang nabi. “Br. Yono jadilah seorang nabi seperti Yeremia, maju terus, kebas terus” ujar Ptr. Kimy menutup kotbahnya.

    Selesai perayaan Ekaristi acara dilanjutkan dengan resepsi bersama para Redemptoris, keluarga dan tamu undangan mensyukuri peristiwa berahmat yang dialami oleh Br. Yono.

    CUKUP KRISTEN-Renungan Hari Minggu Paskah VII

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    John Wesley adalah seorang teolog, evangelis dan penggagas gereja Methodis dari Inggris. Dia sangat prihatin dengan banyaknya denominasi Kristen yang tumbuh di seluruh dunia. Gereja yang dibangun atas dasar iman akan Yesus Kristus tetapi dengan nama yang berbeda-beda, ajaran dan tata liturgi yang berbeda-beda bahkan kadang bermusuhan.

    Suatu ketika dia menceritakan mimpinya. Dia dibawa sampai ke pintu Neraka. Disana dia bertanya: Apakah ada orang Katolik di dalam? Dari dalam menjawab “Ya”. Bertanya lagi, apakah ada orang Methodis di dalam? Jawabannya juga “Ya”. Bertanya lagi apakah ada Lutheran di dalam? Sama, ada juga. Apakah ada Calvinis di dalam? Sama pula, ada. Apakah ada Presbiterian di dalam, juga serupa jawabannya, ya. Semua perwakilan denominasi ada di Neraka.

    Kemudian dia dibawa ke pintu Surga. Dia pun menanyakan hal yang sama. Dan anehnya, jawaban yang diterimanya, “tidak”. Tidak ada orang dari denominasi Kristen mana pun di Surga. Akhirnya dia bertanya, “Lalu siapa yang menjawab di dalam”. Dari dalam surga: “Di sini hanya ada orang Kristen, pengikut Yesus”.

    Doa Yesus dalam bacaan Injil hari ini pada intinya berbicara tentang kesatuan: “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi SATU sama seperti Kita.” (Yoh 17,11).

    Kesatuan para murid Kristus rupanya menjadi perhatian sekaligus kekuatiran Yesus sejak awal, terutama menjelang kepergian-Nya meninggalkan mereka. Dan itu memang terbukti, saat ini ada lebih dari 3000 denominasi Kristen di dunia, baik yang sangat besar maupun kecil. Yang jumlah umatnya ratusan juta, bahkan milyar sampai yang hanya ribuan orang.

    Kesatuan yang dijadikan dasar oleh Yesus adalah kesatuan-Nya dengan Allah Bapa. “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17,21).

    Kesatuan ini terbukti dalam bentuk kekuasaan yang diberikan Allah kepada-Nya dan dalam cinta kepada Bapa-Nya yang tanpa batas. Dia berkata-kata dan bertindak dalam dan atas nama Allah Bapa.

    Dia memiliki kekuasaan untuk melakukan tindakan mukjizat; menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, memulihkan orang cacat, bahkan membangkitkan orang mati. Dia juga mendapatkan hak untuk mengampuni dosa. Semua ini dilandasi karena cinta dan belaskasihan, khususnya kepada mereka yang menderita.

    Para murid murid dituntut untuk bersatu dalam cara ini. Mereka hendaknya menghilangkan setiap sekat dan batas agar kuasa dan kasih Allah menjadi nyata. Mereka yang ingin mendapatkan kuasa dari Allah, mendapatkan kuasanya dalam kesatuan sebagai ORANG KRISTEN. Mereka yang memiliki kuasa karena cinta kepada sesamanya, akan mampu menjadi saksi pewartaan Injil kepada orang lain.

    Injil tak bisa diwartakan dalam aroma persaingan, apalagi permusuhan. Yesus yang satu dan sama tak bisa diklaim oleh satu atau dua kelompok.

    Adanya denominasi Kristen yang bermacam-macam adalah fakta. Sejarah yang panjang dengan friksi dan perbedaan telah membawa kita ke titik ini.

    Yang bisa kita lakukan adalah membangun jembatan dan mengurangi tembok. Jembatan yang didasari cinta dan persaudaraan sebagai sesama murid Yesus. Jembatan yang menghubungkan banyak kesamaan dan meninggalkan perbedaan.

    Hanya dengan cara ini kita bisa menjawab “Amin” terhadap doa Yesus. Hanya dengan cara ini kita bisa menyebut diri KRISTEN dan berada di Surga kelak.

    DIA DI LANTAI ATAS – Renungan Hari Raya Kenaikan Tuhan

    0
    Sumber foto: https://komkat-kwi.org/

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    “Dan akan Yesus Kristus….yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa Yang Maha Kuasa…”.

    Inilah salah satu bagian credo atau pengakuan iman orang Kristen di mana saja dan dalam aliran atau denominasi apa saja. Bagian ini secara literer berasal dari Injil Markus yang berbunyi:

    “Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.” (26,19). 

    Injil Lukas  melukiskan dengan cara yang sedikit berbeda tapi pada intinya menerangkan hal yang sama: kenaikan Yesus ke surga adalah realitas, seperti halnya kebangkitan-Nya.

    “Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. (24,50-51).

    Tentu saja bisa diperdebatkan apakah Yesus secara pasif ke surga (terangkat) atau aktif (naik). Tapi yang menjadi dasar iman Kristen adalah bahwa Dia tidak lagi berada di bumi secara fisik setelah kebangkitan-Nya, dan bahwa Dia ke surga dengan cara yang istimewa.

    Peristiwa Yesus naik atau terangkat ke surga ini hanya bisa dibandingkan dengan nabi Elia yang juga diangkat ke surga hidup-hidup (2 Raj 2,11).

    Kenaikan Yesus juga sudah diramalkan oleh Daud dalam Mazmur 110,1: “Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu”. Hal inilah yang dikutip oleh Petrus dalam kotbahnya pada hari Pentakosta (Kis 2,34-35).

    Peristiwa kenaikan Yesus ke surga menjadi tanda bahwa Dia telah menyelesaikan tugas-Nya di dunia dan dimuliakan walau pekerjaan belum selesai sepenuhnya. Ibaratnya, pertandingan telah selesai tapi kompetisi masih berjalan. Atau pertempuran usai tapi peperangan masih berlanjut.

    Karena itu menjadi penting juga untuk memahami pesan-pesan terakhir Yesus kepada murid-murid-Nya. Pesan paling utama adalah memberitakan Injil. “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk”. (Mrk 16,15).

    Yesus mengatakan: BERITAKANLAH Injil. Beda dengan KOTBAHKANLAH Injil. Memberitakan atau memproklamirkan atau mewartakan Injil adalah sebuah tindakan dengan kesaksian hidup, melalui pikiran, perkataan sekaligus perbuatan. Berkotbah cukup dengan kata-kata.

    Dengan perintah ini tidak berarti Yesus lepas tangan. Tanda dan kuasa ajaib akan menyertai para murid-Nya agar mereka mampu melaksanakan tugas mereka. Tuhan Yesus pun turut bekerja bersama para murid-Nya.

    Carpenter adalah anak dari keluarga miskin di salah satu pedesaan di Amerika. Dengan bantuan beberapa orang dia berhasil sekolah di kota dan menjadi dokter. Karena sulit menemukan pekerjaan di kota, dia kembali di kampungnya dan membuka praktek dokter. Selama jadi dokter kebanyakan pasiennya tidak mampu membayarnya. Tapi dia tetap melayani sampai usia tuanya. Tempat prakteknya sekaligus tempat tinggalnya ada di lantai dua sebuah ruko. Depan ruko itu ada tulisan: Dr. Carpenter di lantai atas.

    Ketika dia meninggal banyak orang merasa berduka dan kehilangan. Karena itu mereka membuat sebuah monumen untuknya dengan tulisan ini: “Dr. Carpenter di lantai atas”.

    Yesus adalah DOKTER SEGALA DOKTER DAN SEKARANG BERADA DI LANTAI ATAS. Kita pun bisa berada di sana.