Jumat, Maret 5, 2021
More

    PERJUANGAN GURU, ORANGTUA DAN PESERTA DIDIK DI MASA PANDEMI

    0

    Diskusi mengenai sistem pembelajaran selama masa pandemi tidak pernah berakhir. Para pendidik berusaha dengan berbagai macam cara supaya para peserta didik dapat memperoleh pengetahuan. Orangtua dengan berbagai macam cara juga berkorban demi anak. Anak didik sendiri pun terus berjuang untuk memperoleh ilmu demi masa depan mereka.

    Membawakan lagu dalam acara Katekese Prapaskah Pekan II

    Di masa pandemi ini dunia pendidikan sungguh ditantang untuk menemukan sistem atau cara yang tepat agar guru, orangtua dan peserta didik tidak mengalami kesulitan. Namun fakta terus menunjukkan bahwa guru sungguh merupakan pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka terus berjuang mengunjungi peserta didik, baik yang berada di daerah yang mudah dijangkau maupun yang sulit dijangkau. Pengorbanan mereka semata demi masa depan anak-anak bangsa. Selain itu, orangtua pun harus berjuang untuk anak-anak selama menjalani sistem Pendidikan Belajar Dari Rumah (BDR). Di samping menjalani tugas pokok, orangtua juga harus meluangkan waktu untuk mendampingi anak belajar. Bahkan orangtua dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif agar anak-anak lebih muda menangkap pelajaran. Peserta didik juga dituntut untuk mampu memotivasi diri, membentuk kelompok belajar sendiri dan menciptakan metode belajar sendiri agar mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh para guru.

    Sharing pengalaman menjadi guru, orangtua dan pelajar

    Dalam katekese Prapaskah Pekan II OMK Paroki Sang Penebus Waingapu pada, Kamis, 04 Maret 2021, yang dipandu oleh Sdri. Helena Stollenerk Laka, S.Pd. menghadirkan tiga narasumber yaitu, Ibu Bernadete Je, S. Ag. (sebagai guru), Ibu Rosdiana N. I. E. Bunga, S.Si. (sebagai Orangtua), dan saudara Adrianus Chandra Umbu (sebagai pelajar). Mereka mensharingkan pengalaman konkrit belajar mengajar selama masa pandemi ini. semoga pengalaman mereka dapat memotovasi para guru, orangtua dan siswa-siswi dalam proses belajar mengajar di masa pandemi ini. Katekese ini juga diiringi suara merdu dan alunan gitar klasik dari sdri. Maria Goreti Soge, S.T., dan Sdra. Leksi Kodu, S.S.

    Berikut video katekese.

    SOLIDARITAS dalam VAKSINASI COVID 19

    0

    Sejak awal tahun 2020 dunia dikagetkan dengan kemunculan virus yang penyebarannya mendunia, diawali dari kota Wuhan, China. Kekuatiran, kepanikan, ketakutan menjadi reaksi umum apalagi dengan korban berjatuhan. Bukan hanya korban jiwa tetapi juga efek lain di bidang sosial dan ekonomi yang terancam krisis. Segala tatanan kehidupan seakan dijungkirbalikkan. Berbagai tindakan seperti lockdown, karantina wilayah, penerapan protokol kesehatan dilakukan untuk membendung penyebaran. Setelah setahun dunia dilanda pandemi covid, kabar baik datang dengan ditemukannya vaksin. Dunia termasuk Indonesia memasuki tahapan baru dalam usaha mengatasi pandemi ini dengan program vaksinasi.

    Pencanangan Program Vaksinasi

    Pada 1 Februari 2021 saya mengikuti pencanangan program Vaksinasi tingkat Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) di RSUD Reda Bolo, Sumba Barat Daya, NTT. Pencanangan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati SBD, Bapak Kristian Taka. Dalam sambutannya, ia memberikan peneguhan bahwa “vaksin diciptakan untuk melindungi hidup kita, bukan untuk membunuh. Semoga dengan dimulainya program vaksinasi, pandemi covid-19 segera teratasi sehingga kita bisa menjalani aktivitas secara normal. Karena itu jangan takut divaksin. Penegasan ini penting karena ada pro-kontra tentang vaksin yang disebabkan oleh banyaknya berita hoax yang menyebarkan kekuatiran dan ketakutan. Mestinya kita sambut dengan penuh syukur program vaksinasi ini sebagai langkah penting untuk mengendalikan dan mengatasi pandemi covid 19.

    Pater Agus MB., CSsR Bersama Wakil Bupati Sumba Barat Daya

    Dalam acara ini sekaligus dilaksanakan vaksinasi perdana untuk perwakilan 10 tokoh masyarakat yaitu Pemda, DPRD, TNI-Polri, Tokoh-tokoh agama. Vaksinasi terhadap 10 tokoh ini dimaksudkan untuk memberi contoh/teladan bagi masyarakat supaya tidak takut vaksin. Dari pihak Gereja Katolik Keuskupan Weetebula, saya mewakili Bapa Uskup untuk mengikuti vaksinasi mengingat Bapa uskup sudah berusia 70 tahun.  Pada awalnya program vaksinasi (dengan vaksin sinovac) ini memang ditujukan bagi mereka yang berusia 18-59 tahun. Vaksinasi tahap dua juga sudah kami laksanakan pada 15 Februari 2021.

    Reaksi Tubuh Setelah Disuntik Vaksin

    Setelah penyuntikan vaksin tahap pertama, reaksi tubuh seperti biasa. Bahkan suntikan jarum pun hampir tidak terasa. Sekitar 30 menit setelahnya saya merasa ngantuk. Beberapa kali menguap sambil menyetir mobil kembali ke keuskupan. Reaksi hari pertama praktis hanya mengantuk. Pada hari kedua sampai keempat badan terasa demam dan rasa nyeri pada kedua telapak kaki. Saya mencari informasi media mainstream di internet bahwa reaksi tubuh seperti ini normal karena tubuh merespon “benda asing” (baca: vaksin) yang masuk. Maka saya memutuskan untuk tidak konsultasi ke rumah sakit. Saya hanya minum obat dan vitamin serta istirahat yang cukup. Pada hari keenam tubuh berangsur pulih dan kembali normal.

    Penerimaan Vaksin Tahap Pertama

    Setelah vaksin tahap kedua pada tanggal 15 Februari 2021, tak ada reaksi tubuh sama sekali. Semuanya berlangsung normal. Rupanya tubuh sudah beradaptasi dengan vaksin yang dilakukan pada tahap pertama.

    Ayo Solider – Jangan takut

    “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga” (GS. art. 1). Kutipan dokumen gereja di atas menegaskan sikap gereja terhadap situasi yang melanda dunia saat ini. Itulah mengapa gereja terus mendukung dan bersama pemerintah bekerjsama mengatasi pandemi. Gereja tak hidup di ruang hampa. Gereja hidup dalam dunia. Karena itu gereja bekerjasama dengan semua pihak yang berkehendak baik untuk membuat dunia ini menjadi rumah bersama yang layak dihuni. Kerjasama itu dijiwai oleh rasa solidaritas. Ikut program vaksinasi adalah wujud nyata solidaritas itu. Jangan takut!

    Seorang ibu anggota salah satu group Whatsapp berencana mendaftarkan diri ikut program vaksinasi tetapi masih memiliki keraguan dan takut atas keamanan vaksin. Beliau meminta kesaksian sekaligus peneguhan karena saya sudah mengikuti program vaksinasi. Saya mengatakan kepadanya “Tidak usah takut. Vaksin aman. Saya lebih takut terpapar corona daripada takut divaksin”. Masih banyak orang memiliki perasaan ragu dan takut seperti ini.

    Dari pengalaman mengikuti program vaksinasi, saya mau mengatakan kepada kita semua untuk tidak takut vaksin. Vaksin itu aman. Beberapa survei yang dilakukan oleh lembaga CSIS, Indikator menunjukkan bahwa cukup banyak warga tidak percaya dan tidak mau ikut program vaksinasi terutama dari generasi milenial. Tentu hal ini sangat memprihatinkan mengingat kita semua sudah lelah dengan pandemi covid 19 yang tak kunjung teratasi.

    Saya mengingat kata-kata Paus Fransiskus daLam konteks pandemi covid 19, “Kata kunci untuk melewati masa sulit ini adalah SOLIDARITAS”. Kita sudah berusaha solider dengan sesama sepanjang masa pandemi ini untuk merawat kehidupan melalui perilaku disiplin menerapkan protokol kesehatan, berbagi alat pelindung diri (APD), menyalurkan sembako dan lain-lain. Tentu hal ini baik, tetapi tidaklah cukup. Puncak solidaritas kita justru ditantang ketika memasuki tahap vaksinasi. Tahap vaksinasi memberi perlindungan bagi diri kita sendiri dan pada saat yang sama melindungi keluarga dan sanak saudara dari resiko terpapar covid yang bisa merenggut nyawa. Sudah layak dan sepantasnya kita bersyukur kepada Tuhan yang menganugerahkan kemampuan kepada pemerintah, lembaga-lembaga penelitian dan lembaga-lembaga kesehatan untuk segera menemukan vaksin yang baik untuk mengatasi pandemi ini.  

    Penerimaan Vaksin Tahap Kedua

    Himbauan Bapa Uskup, Mgr. Edmund Woga, CSsR

    Uskup Keuskupan Weetebula, Mgr. Edmund Woga, CSsR langsung mengeluarkan surat himbauan kepada semua Pastor Paroki di wilayah Keuskupan Weetebula untuk bersama pemerintah mensukseskan program vaksinasi di wilayah tugas masing-masing. “Presiden Jokowi adalah orang indonesia pertama yang menerima suntikan vaksin ini. Dengan cara ini bapak Presiden sebagai orang nomor satu di negara kita mau menunjukkan bahwa suntikan vaksin adalah mutlak perlu dan sangat penting. Bapak Presiden juga menunjukkan bahwa tidak ada bahaya jika disuntik vaksin ini” demikian tertulis dalam surat himbauan.

    Bapa Uskup mengajak semua imam dan umat katolik sekeuskupan Weetebula berpartisipasi dalam program vaksinasi. “Ini adalah salah satu cara kita menjalankan perintah untuk saling mengasihi dengan saling menjaga kesehatan kita karena kita percaya bahwa hidup kita ini berasal dari Allah yang Mahakasih” tegas Bapa Uskup.

    Kontributor: P. Agust MB., CSsR

    WSP BIAV (Bina Iman Anak Virtual): Mari Muliakan Tuhan // Season 01

    0

    …Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (Mrk 9:7)

                Kehadiran anak-anak misioner sebagai tunas muda Gereja adalah berkat yang patut disyukuri. Dengan segala rasa ingin tahu yang besar, kegembiraan, keceriaan dan semangat yang mereka miliki, telah menjadi anugerah pertama bagi Gereja dalam menumbuhkembangkan pengenalan dan kecintaan mereka terhadap Kristus, Sang Penebus. Mereka menjadi tanda sekaligus harapan bagi masa depan Gereja. Harapan itu sekiranya semakin dihayati dalam pengajaran, bimbingan dan arahan yang diberikan kepada mereka.

                Semakin disadari bahwa tawaran dan gemerlapan kemajuan dunia telah menghadirkan peluang sekaligus tantangan yang cukup besar. Tantangannya tidak lain bahwa tunas muda Gereja terancam jatuh pada tanah yang berbatu, terhimpit semak duri dan tertindas bebatuan dunia. Kendati demikian, Gereja terus berupaya agar benih-benih Gereja itu jatuh pada tanah yang baik; dan setiap kita diserahi tugas untuk merawat, menyemaikan benih-benih iman kepada mereka, sembari itu kita terus mengharapkan pertumbuhan dan kesuburan dari Allah. Kiranya semangat ini, selaras pula dengan pesan prapaskah 2021 oleh Paus Fransiskus:” Kita Bertumbuh dalam Iman yang Teguh, Pengharapan yang Hidup dan Kasih yang Penuh Daya.” Meski dalam situasi pandemi, keutamaan teologal (iman, harapan dan kasih) ini kiranya terus tertanam dalam diri anak-anak misioner melalui segala dinamika katekese iman yang terjadi.

                Dalam masa Prapasah pekan II kali ini, para frater Redemptoris menghadirkan WSP BIAV (Bina Iman Anak Virtual) dengan tema “Mari Memuliakan Tuhan.” Tema ini tentunya  tidak terlepas dari bacaan Injil hari ini –Yesus dimuliakan di atas gunung. Kemuliaan Yesus disaksikan oleh ketiga murid-Nya; Petrus, Yakobus dan Yohanes. Ketakjuban akan kemuliaan Yesus membuat mereka semakin tergerak untuk menjadi pengikut Yesus yang  baik dan setia. “…inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dengarkanlah Dia”(Mrk 9:7) Anak-anak misioner dipanggil untuk terus memuliakan Tuhan dengan mendengarkan dan melakukan segala perintah yang telah disabdakan oleh Tuhan Yesus. Semoga dari katekese BIAV ini dapat memberikan kegembiraan dan pelajaran iman yang berharga bagi anak-anak misioner di mana saja berada.

    Salam Sang Penebus !

    Semangat, Gembira dan Suka Cita.

    Kontributor: Fr. Agustinus Poety Peumma, CSsR

    TRANSFIGURASI JIWA

    0

    Setetes embun oleh: Ptr. Kimy Ndelo CSsR

    Injil hari ini mengisahkan peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung. Istilah umumnya “transfigurasi”. (Mrk 9,2-13). Peristiwa ini terjadi beberapa waktu menjelang penderitaan Yesus di Yerusalem; ditangkap, diadili dan dihukum mati.

    Dalam cara tertentu peristiwa ini bisa dipahami dari kacamata pengalaman Abraham dan Ishak, yang juga dibacakan hari ini. Abraham diminta untuk Allah mempersembahkan anak tunggalnya.

    “Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”  (Kej 22,2).

    Setelah perintah ini Abraham, tanpa berkata satu kata pun, mengajak anaknya pergi ke gunung bersama dua hambanya. Semua hal yang dibutuhkan dibawa serta, kecuali domba persembahan.

    Bagi kita yang membacanya, kisah ini mungkin biasa-biasa saja. Tapi bagi Abraham ini sebuah pergumulan batin yang sangat menyesakkan. Diamnya Abraham adalah diamnya seorang yang terluka tanpa bisa menolak takdirnya.

    Luka ini semakin menyayat tatkala anaknya yang keheranan bertanya: “di manakah anak domba untuk korban bakaran ini?”. Dia tidak sampai hati untuk menyampaikan kebenaran yang sesungguhnya. Dia tak mau melukai anaknya yang sangat dikasihinya, jiwa dan masa depannya.

    Rupanya Ishak pun menyadari situasi ini. Dia pun tak berani bertanya lebih lanjut. Dia diam melihat bagaimana persiapan persembahan itu, bahkan ketika dia diikat dan diletakkan di atas mesbah itu, dia juga diam dan pasrah.

    Dua jiwa yang terluka tapi pasrah pada kehendak Allah merupakan puncak dari sebuah “ketaatan iman” yang sejati. Pada titik inilah sebuah TRANSFIGURASI terjadi. Korban persembahan, seorang anak manusia, diubah oleh Allah menjadi domba yang sesungguhnya. Abraham, dari seorang manusia biasa menjadi bapak orang beriman dan sumber berkat bagi umat manusia.

    Kesediaan Abraham mengorbankan anak tunggalnya, Ishak, adalah prototipe/cerminan Allah yang juga rela mengorbankan Putera tunggalnya, Yesus Kristus, demi keselamatan umat manusia.

    Pengalaman Yesus di atas gunung bersama ketiga muridnya adalah pengalaman “berada di ambang kematian”. Tak lama lagi dia akan memasuki Yerusalem dan disana takdirnya menanti.

    Sebagai manusia Yesus pasti mengalami pergulatan batin menghadapi peristiwa kematian tragis yang tak terhindarkan di depan mata. Jiwanya sedang terluka dan menderita. Dia butuh kekuatan agar tetap setia.

    Karena itu Allah mengutus Musa dan Elia. Karena itu Allah menunjukkan wajah Yesus nantinya. Dengan ini Allah mengubah wajah Yesus sambil seolah-olah hendak berkata:

    “Jika engkau taat pada rencana-Ku, inilah kemuliaan yang akan Engkau alami nanti. Engkau menjadi anak yang Kukasihi. Seperti inilah wajah kemuliaan yang akan menantimu”.

    Allah tidak mengubah tragedi di depan mata karena yang Dia kehendaki adalah “ketaatan iman” untuk menyeberangi rasa sakit dan jiwa raga. Tapi hasil sebuah pengorbanan iman tak bisa diukur dengan segala kebahagiaan duniawi.

    Karena ketaatannya, Abraham menjadi berkat untuk segala bangsa. Karena ketaatan-Nya Yesus, bukan hanya menjadi berkat, melainkan menjadi keselamatan bagi segala bangsa.

    “Transfigurasi diri itu menyakitkan karena merontokkan sayap-sayap yang dipakai oleh jiwa untuk terbang” (Kilroy J. Oldster).

    BANGGA BISA BERSOLIDER

    0

    Pandemi Covid 19 belum berakhir. Kegiatan sekolah, ibadah, Ekaristi belum berjalan sebagaimana biasanya. Gereja Katolik di masa Prapaskah biasanya mengadakan katekese atau pendalaman iman berdasarkan tema APP Nasional. Katekese ini diadakan dalam kelompok kecil misalnya dalam lingkungan atau basis yang melibatkan anak-anak hingga orang dewasa. Tema APP Nasional tahun 2021 adalah “SEMAKIN BERIMAN SEMAKIN SOLIDER”. Tema ini diangkat dengan tujuan agar semua umat Katolik membangun di dalam dirinya semangat untuk bersolider dengan siapa saja yang menderita.

    Berkaitan dengan Katekese pada masa Pandemi Covid 19, dimana pemerintah dan gereja sendiri terus menyuarakan untuk mengurangi kegiatan yang bersifat mengumpulkan banyak orang maka, setiap orang diharapkan untuk menciptakan kreatifitas agar kegiatan-kegiatan rohani tidak fakum. Menciptakan kreatifitas adalah sesuatu yang sangat diharapkan gereja saat ini agar kebutuhan rohani umat terus terpenuhi.

    Melihat situasi dan kondisi di atas, Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Sang Penebus Waingapu hadir dan membawakan Katekese secara virtual. Tujuannya agar semua umat Paroki Sang Penebus Waingapu (dan siapa saja yang mengikuti Katekese) bisa berkatekese di masa Pandemi. Selain itu OMK dilatih untuk bisa menjadi pemimpin dan berani tampil. Dalam katekese pekan pertama yang diadakan pada Kamis, 25 Februari 2021 kami menghadirkan Sdri. Ambu Loke, S.Kep.,Ns. dan Sdri. Lia Hadut, S.Kep.,Ns., yang adalah para perawat RSUD Umbu Rara Meha-Waingapu. Keduanya adalah OMK Paroki Sang Penebus Waingapu yang juga adalah anggota tim Covid. Katekese ini dipandu oleh Sdra. Semi Yiwa, A.md.Kep. Para Nara Sumber membagikan pengalaman-pengalaman mereka berkaitan dengan bagaimana bersolider dengan orang-orang yang menderita khususnya mereka yang menderita karena terpapar virus corona.

    Dalam sharing dikatakan bahwa “untuk masuk di dalam tim covid kami harus mempunyai mental yang kuat dan rasa kemanusiaan yang tinggi karena kami harus berhadapan langsung dengan orang-orang yang terpapar. Kami harus siap memberikan diri dan bersolider dengan para pasien. Keluarga kami juga gelisah dan merasa takut jangan sampai kami juga terpapar virus corona. Dibalik itu semua kami merasa bangga dan senang karena bisa bersolider dengan para pasien. Para pasien juga sungguh merasakan kekuatan dengan kehadiran kami. Mereka mengalami kesembuhan bukan hanya melalui obat-obatan tetapi juga kehadiran kami para perawat yang selalu ada bersama mereka. Tidak bisa dielak, beberapa rekan kami juga harus terpapar virus yang mematikan ini. Maka sebagai perawat kami menghimbau kepada semua umat untuk terus mematuhi himbauan pemerintah dan dinas-dinas terkait agar dapat membantu menghentikan penularan virus ini”.

    Katekese ini berlangsung selama satu jam dan dibagi dalam dua sesi yaitu sharing pengalaman dan tanya jawab. Alunan suara gitar dan merdunya suara OMK juga menghiasi katekese ini. Semoga dengan katekese ini, kita terus termotivasi untuk bersolider dengan mereka yang menderita dan menjaga kesehatan dengan mematuhi protokol kesehatan yang ada.

    Salam sehat.

    Berikut link videonya

    Nara Sumber Membagikan Pengalaman bersolider
    Alunan musik dan suara merdu, Leksi dan Helen

    Hari Peresmian Kongregasi

    0

    272 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 25 February 1749, Paus Benedictus XIV, sambil mendengarkan masukan dari para kardinal yang menjadi anggota Kongregasi Hidup Bhakti, meresmikan sebuah kongregasi baru yang bernama Kongregasi Sang Penebus Mahakudus atau yang di dalam bahasa Latin dikenal dengan nama Congregatio Santcissimi Redemptoris yang kemudian disingkat CSsR. Pengresmian Kongregasi Redemptoris oleh Paus ini dibuat tertulis di dalam surat apostoliknya yang berjudul: Ad Pastoralis Dignitatis fastigium.

    Pater Berthe, salah seorang penulis Biography St. Alphonsus menulis tentang momen bersejarah ini di dalam bukunya: Vita di S. Alfonso (halaman 380). Dia menulis:

    Dari para kardinal kunci di Kongregasi Hidup Bhakti Pater Villani telah mendapat “lampu hijau” berkaitan dengan diresmikannya kongregasi kita besera konstitusinya. Namun yang masih diperlukan adalah persetujuan dari Paus atas dekrit yang sudah disetujui kardinal dan sekaligus pengiriman dari bukti persetujuan itu secara tertulis ke kongregasi.

    Pater Villani pun mengajukan audiensi dengan pontificat untuk hal ini.

    Akhirnya, pada tanggal 25 February tahun 1749 sebuah surat apostolik dalam bentuk singkat (forma brevis) pun dipublikasikan yang di dalamnya ada pernyataan pengresmian Kongregasi Sang Penebus Mahakudus.

    Tahun St. Yoseph – Menghidupi Komunitas dengan Hati Seorang Bapak (Rekoleksi Komunitas Sumba Timur)

    0

    Para anggota Redemptoris biasanya mengadakan rekoleksi setiap bulan, bergantian di tingkat propinsi di konventu (rumah retreat Redemptoris propinsi Indonesia) atau di komunitas masing-masing. Di masa pandemi ini rekoleksi konventu tidak mungkin dilakukan. Maka setiap komunitas dianjurkan untuk menetapkan sendiri jadwal rekoleksinya masing-masing.

    Itulah yang terjadi pada hari Senin tanggal 22 Februari yang lalu di Asrama Padadita, Waingapu – Sumba Timur ketika semua Redemptoris anggota Komunitas Sumba Timur yang terdiri dari  anggota Pastoran Paroki St. Andreas – Ngallu, anggota Pastoran Paroki Sang Penebus Wara, Staff Postulan dan Staf Asrama Padadita berkumpul bersama untuk mengadakan rekoleksi komunitas.

    Rekoleksi perdana di tahun 2021 ini dipimpin oleh Pater Sius Kaki CSsR, ketua Yayasan Andaluri sekaligus staf Asrama Padadita. Di renungannya yang inspiratif Pater Sius mengajak semua anggota komunitas untuk menghidupi komunitas dengan hati seorang Bapak, belajar dari keutamaan hidup St. Yoseph.

    Adapun tema ini diambil berkenaan dengan pencanangan tahun ini sebagai tahun St. Yoseph oleh Paus Fransiskus yang pada tanggal 8 Desember 2020 merilis dokumen Patris Corde (teks utuhnya bisa didownload di sini: http://www.dokpenkwi.org/wp-content/uploads/2020/12/Seri-Dokumen-Gerejawi-PATRIS-CORDE.pdf) dan dengan itu membuka secara resmi tahun St. Yoseph.

    Selain mengulas sejarah singkat peran St. Yoseph di dalam kehidupan Gereja Katolik, Pater Sius juga mengulas 7 keutamaan St. Yoseph menurut Paus Fransiskus yang dikutip dari dokumen Patris Corde dan membagikan refleksi pribadinya tentang bagaimana hidup di dalam komunitas seturut teladan St. Yoseph berdasarkan teks Injil Lukas 2:41-52.

    Selanjutnya, rangkaian acara rekoleksi ditutup dengan perayaan ekaristi bersama, dilanjutkan dengan makan malam dan rekreasi bersama.

    “When I have a problem, I’ll write it down and let St. Joseph sleep on it” (Pope Francis on St. Joseph).

    Donor Darah – Paroki Cijantung

    0

    Seksi Kesehatan bekerja sama dengan Seksi Kepemudaan dan Komunikasi Sosial Paroki Cijantung menyelenggarakan kegiatan donor darah pada hari Minggu (21/2) yang lalu bertempat di SMA Ignatius Slamet Riyadi, di samping Gereja. Kegiatan donor darah ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan oleh Seksi Kesehatan selama tiga bulan sekali.

    “Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membantu unit transfusi darah yakni Palang Merah Indonesia (PMI) , selain dengan mendonorkan darah kita juga ingin meningkatkan rasa kepedulian sosial dari umat Paroki Cijantung sebagai wujud pelaksanaan Tahun Refleksi 2021 dengan semangat “ Semakin Mengasihi, Semakin Terlibat, Semakin Menjadi Berkat.”

     “Pertama, kegiatan donor darah ini sangat berguna banget untuk kesehatan kita sendiri dan memberikan dampak positif bagi tubuh kita. Kedua, kegiatan ini merupakan kegiatan sosial yang sangat mulia karena dari mendonorkan darah kita, kita sudah bisa membantu banyak orang dan dapat menyelamatkan nyawa orang lain. Jadi dengan mendonorkan darah kita sudah membuat banyak harapan untuk orang lain,” ungkap salah satu pendonor.

    Kegiatan ini menghasilkan 55 (lima puluh lima) kantong darah yang terdiri dari golongan darah A (16), darah B (13), darah AB (5) dan O (21) dengan jumlah peserta 64 orang dimana 55 pendonor diterima dan 9 pendonor ditolak. Target untuk kegiatan ini adalah 75 kantong darah. Pelaksanaan kegiatan dimulian pada pukul 07.30 dan selesai pukul 09.45 WIB.

    Tuhan memberkati. Amin

    Stasi Lukuwingir, Gereja Sang Penebus – Paroki Waingapu

    0

    SEKALIPUN BANGUNAN INI ROBOH, AKU TAK AKAN GOYAH

    Perjalanan menuju Stasi Lukuwingir ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam 10 menit, untuk merayakan Ekaristi Prapaskah I. Sesaat tiba di lokasi, air mata menetes menyaksikan pemandangan kondisi bangunan yang sudah tua dan rusak karena dihantam badai angin dan derasnya hujan. Dinding-dinding berjatuhan dan atap-atap beterbangan. Dalam suasana hati tak menentu, kuberdoa dalam hati, “Tuhan teguhkan hati umat-Mu. Berikanlah jalan terbaik bagi kami”.

    Kemudian kami merayakan Ekaristi bersama umat sekalipun suara atap seng terus diterpa badai angin yang memecah kebisuan di tengah padang sabana itu. Saya harus mengeluarkan suara yang keras, bahkan beberapa kali saya harus berteriak untuk memastikan suara saya dapat didengar umat dan mengalahkan suara yang menganggu. Untuk mengurangi energi dan kebersamaan saya memutuskan membawakan renungan dengan turun dari mimbar dan berdiri di tengah-tengah umat. Sekalipun demikian, akhirnya saya pun harus meneguk air untuk membasahi kerongkongan yg kedengaran mulai mengeluarkan suara serak. Selama perayaan Ekaristi berlangsung saya terus berujar dalam hati, semoga dinding-dinding yang masih ada dan terus bergetar dihantam angin tidak roboh disaat kami sedang berdoa. Terima kasih Tuhan, akhirnya kami boleh merayakan Ekaristi hingga selesai.

    Bacaan Injil pada perayaan Prapaskah I ini mengisahkan tentang Yesus berada di Padang Gurun selama 40 hari dan dicobai iblis. Walau cobaan-cobaan silih berganti menghampiri Yesus namun Ia tidak pernah tergoda dan jatuh. Ia terus berjuang mengatasi cobaan-cobaan itu dan akhirnya ia berhasil.


    Peristiwa menarik dan mengharukan yang saya alami hari ini adalah sebuah cobaan bagi saya dan umat Stasi Lukuwingir sendiri. Namun perlu diingat bahwa Iman seorang Katolik bukan terletak dari megah dan indahnya sebuah bangunan. Iman seorang Katolik terletak pada diri sendiri yang mau dan mampu menghadapi cobaan-cobaan dunia. Bangunan yang roboh atau rusak bisa kita cari jalan keluar untuk memperbaikinya.

    Banyak umat yang selalu bermurah hati bersedia untuk berbagi kasih bagi yang membutuhkan apalagi di masa Prapaskah ini, sebagai laku tobat mereka. Tapi jika iman kita goyah hanya karena bangunan gereja rusak, akan lebih sulit untuk membangunkannya kembali. Sekalipun bangunan gereja roboh, janganlah iman kita ikut goyah.


    Maka saudara/i ku, jangan pernah menjadikan megah dan indahnya bangunan gereja sebagai ukuran kekuatan imanmu. Tapi ukurlah imanmu dengan apakah mampu menghadapi cobaan kehidupan atau tidak. Karena Tuhan tidak pernah memberikan cobaan melampaui kemampuan manusia. Toh dengan cobaan-cobaan, iman kita semakin lebih kokoh dan dewasa.

    Sembari kita berdoa memohon rahmat kekuatan bagi diri kita sendiri, marilah kita juga berdoa kepada Tuhan memohon rahmat kekuatan dan ketabahan bagi semua umat Katolik di tempat-tempat yg sulit semoga mereka pun diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi setiap cobaan hidup.

    Salam sehat dalam Kristus Sang Penebus