Jumat, Oktober 22, 2021
More
    Beranda blog

    Tahbisan Imam Redemptoris Indonesia

    0

    Rabu 20 Oktober 2021, pada peringatan 62 tahun berdirinya Keuskupan Weetebula, bertempat di Gereja Katedral Roh Kudus Weetebula, 6 diakon Redemptoris ditahbiskan oleh Mgr. Edmund Woga, CSsR. Keenam Redemptoris muda ini dengan iman dan harapan yang kuat datang ke depan altar untuk diurapi sebagai imam. Mereka adalah Diakon Herman Yosep Deru Wea, CSsR, Diakon Hendrikus Y. A. H. Resing, CSsR, Diakon Gabriel Tay Hunga Meha, CSsR, Diakon Heribertus Angi Lewar, CSsR, Diakon Hendrikus Talu Leba, CSsR.

    Dalam perayaan Ekaristi yang dihadiri oleh para redemptoris yang berkarya di Sumba, keluarga serta umat dan tamu undangan, Mgr Edmund menegaskan bahwa perayaan yang berlangsung hari ini merupakan kabar gembira bagi Redemptoris di seluruh dunia dan juga bagi umat di Keuskupan Weetebula.

     “Perayaan ini merupakan kado terindah dalam merayakan hari jadi keuskupan kita dan tentunya bagi Redemptoris Indonesia dan seluruh dunia,” kata Mgr. Edmund.

    Dengan motto, “Serahkanlah anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata kebenaran,” (Roma 6:13) Mgr. Edmund mengajak para imam baru untuk senantiasa menjadikan doa sebagai senjata untuk karya dan pelayanan yang dipercayakan oleh kongregasi dan gereja.

    Sementara itu, Provinsial Indonesia, P. Kimy Ndelo CSsR, dalam pesannya sebelum mengumumkan tempat penugasannya, mengajak para Redemptoris, terutama kaum muda, untuk berani menerima misinya dimanapun dan kapanpun serta menjadikan doa sumber kekuatan dalam berkarya.

    “Sumber kekuatan spiritual kita adalah doa. Bersabarlah dalam doa selalu. Luangkan waktu untuk berdoa. Mari kita tiru semangat santo kita, Gerardus Mayella yang kita rayakan bulan ini. Ketaatan dan ketekunannya berasal dari persatuan yang erat dengan Kristus,” katanya. “Oleh karena itu, berdoalah dan gunakan masa mudamu dengan siap dikirim kemana saja, tanpa khawatir,” lanjutnya.

    Berikut ini adalah tempat di mana keenam imam baru ini akan menjalani misi dan perutusan.

    P. Heri Leba akan kembali berkarya di Australia P. Jimmy Wea akan menjalankan misi di Rumah Budaya-Sumba P. Hendra Resing akan ditempatkan di Puspas Katikuloku, Keuskupan Weetebula. P. Gaby Meha akan bermisi di Jerman. P. Gervas Kenoba akan bertugas sebagai formator di KPA Ivan Ziatyk-Sumba dan P. Hery Lewar menjalankan misi di Paroki Sang Penebus Wara-Waingapu.

    Mari kita berdoa untuk enam orang imam baru ini. Semoga Tuhan memberkati dan melimpahi mereka kasih dan ketekunan.

    Pemberkatan Peralatan Misa Calon Imam Redemptoris

    0

    Selasa, 19 Oktober 2021, satu hari sebelum tahbisan imam Diakon Herman Yosep Deru Wea, CSsR, Diakon Hendrikus Y. A. H. Resing, CSsR, Diakon Gabriel Tay Hunga Meha, CSsR, Diakon Heribertus Angi Lewar, CSsR, Diakon Hendrikus Talu Leba, CSsR dilangsungkan acara pemberkatan peralatan misa di Gereja Katedral Roh Kudus Weetebula.

    Dalam ibadat pemberkatan busana yang dimulai pukul 18.30 WITA dan dihadiri oleh para Redemptoris dan keluarga calon imam baru, Mgr. Edmund Woga, CSsR, Uskup Keuskupan Weetebula mengingatkan para yubilaris agar menjaga kesakralan busana dan perlengkapan misa yang telah diberkati untuk melayani dan menguduskan umat Allah.

    Adapun alat-alat misa yang diberkati yakni salib, kasula, stola, piala, sibori, patena dan buku-buku misa. Perayaan diakhiri dengan pentakhtaan sakramen.

    Mari kita doakan agar perayaan tahbisan pada Rabu, 20 Oktober 2021 berangsung dengan lancar dan aman serta menjadi berkat bagi banyak orang.

    OTORITAS UNTUK MELAYANI – Renungan Minggu Biasa XXIX

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Seorang tukang cukur profesional membuka usahanya di sebuah kota. Konsumen pertama yang masuk untuk mencukur rambutnya adalah seorang pastor. Selesai mencukur, pastor itu mau membayar. Tukang cukur menolak menerima uang sambil berkata: “Tak perlu bayar Pastor. Anda adalah pelayan Tuhan dan umat. Anggaplah ini sebagai pelayananku juga untuk Tuhan”. Pastor berterimakasih lalu pergi.

    Keesokan harinya tukang cukur itu mendapat kiriman bunga yang indah dengan kartu ucapan terimakasih yang tulus atas kebaikannya.

    Hari berikutnya datang lagi konsumen baru, seorang Polisi. Selesai mencukur, Polisi itu hendak membayar. Tukang cukur pun menolak menerima uang dengan alasan, Polisi adalah pelayan masyarakat.  “Anggaplah ini sebagai pelayananku untuk masyarakat juga”.

    Esok hari, ketika membuka tempat kerjanya, tukang cukur mendapati serombongan polisi sudah berbaris di depan pintu, antri untuk cukur gratis!

    “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mrk 10,43). Kata-kata Yesus melukiskan secara singkat bagaimana seharus seorang murid Yesus menjadi pemimpin.

    Ungkapan Yesus ini merupakan jawaban atas permintaan Yakobus dan Yohanes agar mendapatkan tempat di sisi kanan dan kiri Yesus ketika Dia bertahta sebagai raja. Dalam tradisi Timur Tengah, duduk di sisi kiri dan kanan seorang tuan rumah adalah kehormatan karena hanya akan diberikan kepada orang-orang terdekat; keluarga, sahabat atau orang yang memang hendak diposisikan seperti itu.

    Yesus justru menghindarkan kecenderungan macam ini dari para murid-Nya karena inti dari semua otoritas yang dimiliki Yesus adalah melayani sambil berkorban.

    Kekuasaan dan otoritas adalah dua hal yang berbeda. Kekuasaan adalah suatu hal yang dimiliki seseorang dan dipraktekkan atas orang lain. Seringkali bahkan dipaksakan kepada orang lain.

    Otoritas adalah sesuatu yang pertama-tama dimiliki seseorang dari kekuasaan yang lebih tinggi – biasanya Tuhan Allah sebagai sumber otoritas tertinggi. Otoritas ini diakui dalam diri seseorang oleh mereka yang dengan bebas memilih, menerima dan mentaati seseorang sebagai pemimpin mereka.

    Dalam arti ini otoritas dipraktekkan atas orang banyak dalam semangat melayani dan berkorban. Semangat ini meniru semangat Yesus yang berkata: bukan datang untuk dilayani melainkan untuk melayani. Gambaran paling ekstrim yang dibuat Yesus adalah berlutut dan membasuh kaki para muridnya sambil mencium kaki mereka.

    Francesco Alberoni, seorang Sosiolog Italia menggambarkan ciri kepemimpinan yang tepat sebagai pribadi yang: menginspirasi, rendah hati, memiliki semangat melayani, yang memiliki ketenangan, memberi contoh yang baik, mempunyai daya tahan, selalu siap sedia, dan mampu untuk mengembangkan dirinya sendiri.

    Umat Kristen adalah komunitas yang setara dan saling berbagi tanggungjawab. Dalam kesetaraan setiap orang bekerja dengan tugas dan tanggungjawab yang berbeda tapi tetap dalam semangat melayani orang lain.

    Sebagai orang Kristen, kita diundang untuk melayani sesama, dan melayani dengan SENYUM. Kita ditantang untuk meminum dari piala Yesus dengan mengabdikan diri dalam pelayanan yang rendah hati, penuh pengorbanan, seperti Yesus. Tak ada pelayanan tanpa pengorbanan dari pihak kita, entah kecil atau besar. Tempat terbaik untuk memulai proses melayani dengan pemberian diri adalah rumah kita, komunitas kita dan lingkungan kerja kita.

    “Hidup akan terasa lebih berat bagi kita ketika kita hidup demi orang lain, tetapi juga menjadi hidup yang lebih kaya dan lebih membahagiakan” (Albert Schweitzer).

    GERARDUS MAYELA – Santo yang Lompat Lewat Jendela

    0

    Gerardus Mayela adalah salah satu orang kudus Redemptoris yang menempu jalan panjang dan berliku untuk menjadi santo. Menariknya, langkah pertama dari perjalanan panjang dan berliku itu Gerardus buat dengan cara lompat lewat jendela. Kisah menarik ini terjadi di awal bulan Mei tahun 1749.

    Muro Lucano, sebuah kota kecil di bagian utara Italia baru saja memasuki musim semi. Hari- hari sulit musim dingin baru saja berlalu. Sebagaimana biasanya, kota kecil itu pun menyambut musim semi dengan berbagai macam kegiatan yang semakin meramaikan suasana kotanya. Tidak hanya kegiatan sosial ekonomi tetapi juga kegiatan rohani yang diselenggarakan oleh gereja. Salah satu dari kegiatan rohani yang mewarnai musim semi Muro Lucano pada saat itu adalah kegiatan Misi Umat yang diselenggarakan oleh para pater Redemptoris dari Biara Redemptoris Deliceto yang jaraknya kira-kira 100km dari Muro Lucano.

    Gerardus waktu itu berumur 23 tahun. Sejak Misi Umat dibuka tanggal 13 April 1749 di tanah kelahirannya itu Gerardus selalu ambil bagian di dalam setiap kegiatan yang ditawarkan para misionaris umat Redemptoris. Entah itu di perayaan ekaristi atau pun katekese Gerardus selalu berada di barisan bangku paling depan. Gerardus sangat tertarik pada gaya berkhotbah yang berapi-api juga kedekatan para misionaris Redemptoris dengan umat Allah. Alhasil, kerinduan Gerardus untuk bergabung dengan salah satu tarekat religius yang pernah hampir padam gara-gara penolakan dari biara Capuchin karena alasan kesehatannya bersemi kembali.

    Memang sudah sejak kecil Gerardus punya niat untuk dekat dan melayani Tuhan dengan cara khusus. Disela-sela kesibukannya bermain dengan teman-teman sebayanya, Gerardus kecil selalu mencuri waktu berlari masuk ke dalam gereja dan menghabiskan waktu sejenak berdiri di depan tabernakel.Ketika teman-teman sepermainannya bertanya tentang apa yang sedang dia buat, Gerardus sambil tersenyum menjawab: “saya mengunjungi sahabat saya yang terpenjara (Yesus dalam tabernakel, red)”.

    Gerardus selalu punya kerinduan untuk menyambut tubuh Tuhan dalam ekaristi bahkan sebelum dia mencapai umur yang ditentukan untuk boleh menerima komunio pertama. Pernah dia menyelinap di antara barisan orang-orang yang menerima komunio dengan harapan pastor yang memimpin ekaristi mengijinkan dia menerima komunio. Sayangnya harapannya ini tidak terpenuhi. Malam harinya ketika Gerardus tidur, dia bermimpi didatangi Malaikat Agung Mikhael yang memberikan komunio suci kepadanya. Pagi harinya Gerardus pergi ke pastor pemimpin ekaristi yang menolak memberi komunio suci kepadanya dan berkata kepada pastor itu: “Kemarin karena Pater tidak mau memberi saya komunio maka tadi malam malaikat Agung Mikhael yang datang sendiri mengantar Yesus kepada saya.”

    Kerinduan Gerardus untuk melayani Tuhan secara khusus dengan bergabung ke salah satu tarekat religius tampak dari usahanya melamar masuk biara Capuchin. Berkali-kali dia mengutarakan hasratnya ini kepada pemimpin biara Capuchin, berkali-kali pula dia dikecewakan karena keinginannya ini ditolak lantaran kondisi fisiknya. Gerardus muda memang selalu mengalami masalah kesehatan yang membuat tubuhnya kelihatan lebih kerdil dari teman-teman sebayanya.

    Penolakan dari Capuchin memang membuat Gerardus kecewa tetapi tidak membuatnya patah semangat. Dia selalu berdoa agar Allah memberinya jalan sehingga mimpi mulianya itu bisa jadi kenyataan. Ketika mendengar kabar bahwa para Redemptoris akan melaksanakan kegiatan misi umat di kota kelahirannya, terlebih ketika dia sendiri mengalami kharisma khusus para anggota kongregasi baru yang baru didirikan 6 tahun setelah kelahirannya, Gerardus muda yakin bahwa Allah sudah mulai mengabulkan apa yang sering dia minta di dalam doa-doanya.

    Sayangnya P. Paolo, pemimpin Misi Umat saat itu memberikan jawaban yang tidak berbeda dengan jawaban pemimpin biara Capuchin. Menurut P. Paolo, kondisi kesehatan Gerardus justru akan menambah masalah baru di dalam Kongregasi Redemptoris. Ketika berkonsultasi dengan para pater anggota Misi Umat yang lain, P. Paolo menyampaikan bahwa kalau diterima Gerardus hanya akan menambah jumlah “mulut” yang harus diberi makan oleh Kongregasi. Gerardus berkali-kali mencoba meyakinkan P. Paolo bahwa dia akan bisa melaksanakan semua tanggung jawab yang diberikan biara kepadanya dan dia akan menjadi seorang Redemptoris yang baik. Sayangnya P. Paolo tetap pada pendiriannya.

    Benedicta Galela, ibu dari Gerardusmengamati usaha Gerardus mendekati P. Paolo, dia juga tahu bahwa P. Paolo keberatan mengabulkan keinginan hati Gerardus. Sebagai ibu yang melahirkan Gerardus dia tahu baik kerasnya watak anak laki-lakinya itu. Dia tidak ingin Gerardus menghadiri acara perpisahan umat Muro Lucano dengan Misionaris Redemptoris di hari terakhir Misi Umat karena dia kuatir kalau-kalau Gerardus memaksakan diri untuk ikut para misionaris itu ke Deliceto. Maka sebelum dia sendiri pergi menghadiri acara perpisahan itu, dia mengunci Gerardus di dalam kamar. Setelah acara selesai dia cepat- cepat kembali ke rumah dan ternyata di dapati jendela dari kamar tempat Gerardus terkunci telah terbuka dan Gerardus sudah tidak ada lagi di dalam kamar itu. Di atas tempat tidur di dalam kamar itu dia melihat sebuah kerta dengan tulisan tangan anaknya yang berbunyi: “Ibu, saya pergi untuk menjadi Santo.”

    Gerardus kabur dari rumahmya dengan melompat lewat jendela dan pergi mengikuti para misionaris Redemptoris yang pulang ke Deliceto. Tindakan nekat ini membuahkan hasil. P. Paolo memutuskan untuk menerima Gerardus dengan harapan Gerardus akan dengan sendirinya menyerah setelah  mengalami sendiri kerasnya hidup membiara. P. Paulo tidak tahu kalau tidak ada satu pun yang bisa mengubah niat Gerardus untuk menjadi santo.

    P. Paulo lalu mengirim Gerardus ke novisiat dengan sebuah surat yang dibawah oleh Gerardus sendiri. Gerardus sendiri tidak tahu kalau di dalam surat itu ada tulisan tentang dirinya yang berbunyi: “Pater Magister Novis yang terkasih, bersama surat ini saya mengirimkan kepadamu seorang calon bruder yang tidak berguna.”

    Tiga tahun setelah itu, pada pesta Sang Penebus Mahakudus, Gerardus mengikarkan kaul pertamanya dan resmi menjadi seorang Bruder Redemptoris.

    Sebagai bruder Gerardus sangat terkenal dengan kesalehan hidup rohani dan kerja kerasnya. Pimpinan biaranya dalam satu suratnya mengakui kalau Bruder Gerardus mampu mengerjakan pekerjaan yang seharusnya untuk empat orang laki-laki. Dia juga banyak membantu para gadis yang berniat menjadi suster. Salah satu gadis yang dia bantu bernama Neria Caggiano, dari kota yang sama dengan Gerardus, Muro Lucano. Setelah beberapa bulan tinggal di biara, Neria mulai tidak betah. Dia ingin pulang ke Muro Lucano tapi dia harus cari alasan agar kepulangannya ke Muro Lucano diterima. Neria lalu mengarang cerita tentang buruknya hidup para suster di dalam biara. Orang-orang Muro tidak percaya pada cerita Neria karena mereka tahu biara yang dianjurkan oleh Bruder Gerardus tentulah biara yang baik. Karena jengkel, Neria lalu menulis surat dengan tuduhan palsu ke Alfonsus, pimpinan biara dari Bruder Gerardus. Dia menuduh Bruder Gerardus mempunyai hubungan gelap dengan seorang gadis anak dari keluarga yang sering dikunjungi Gerardus.

    Santo Alfonsus lalu memanggil Bruder Gerardus dan membeberkan semua tuduhan di surat yang dikirim Neria. Ternyata Bruder Gerardus tidak mau membuka mulutnya membela diri. Maka dia dihukum untuk tidak melakukan kontak dengan orang luar dan tidak boleh menerima komunio. Hukuman itu sangat berat sebab Bruder Gerardus selalu aktif ketemu orang-orang yang dia layani dan yang paling berat lagi adalah larangan untuk tidak komunio karena bagi dia, komunio kudus adalah wujud kehadiran Kristus yang tak kelihatan sedangkan orang miskin, orang sakit dan terlantar adalah wujud kehadiran Kristus yang kelihatan. Tetapi dia jalani saja hukuman itu dengan senang hati.

    Setelah beberapa bulan, Neria jatuh sakit dan hampir mati. Dia berpikir bahwa sakitnya itu adalah akibat kesaksian dusta yang sudah dia lakukan terhadap Bruder Gerardus. Dia lalu menulis surat lain dan mengakui semua carita  dustanya  kepada  Alfonsus.   Bruder Gerardus kemudian dibebaskan dari hukuman.

    Salah satu kegiatan kegemaran Bruder Gerardus adalah mengunjungi keluarga- keluarga dan memberikan nasehat dan peghiburan rohani kepada mereka. Pernah dalam   salah satu  kunjungannya,  Bruder Gerardus tanpa sengaja meninggalkan sapu tangannya di rumah yang dia kunjungi. Pemilik rumah  lalu   meminta    seorang  anak perempuannya mengantarkan sapu tangan itu ke Bruder Gerard. Tapi Bruder Gerardus meminta anak itu membawa kembali sapu tangannya yang tertinggal dengan pesan: “Simpan saja sapu tangan ini siapa tahu akan dibutuhkan satu saat nanti.” Bertahun-tahun kemudian, setelah anak ini menikah, dia mengalami kesulitan pada saat melahirkan. Dia lalu teringat akan sapu tangan yang diberikan Bruder Gerardus. Setelah perutnya disapukan dengan sapu tangan dari Bruder Gerardus, dia langsung bisa melahirkan dengan normal. Cerita itu pun menyebar luas dengan cepat dan semakin banyak para ibu hamil dan juga para ibu yang ingin punya anak yang berdoa lewat perantaraan St. Gerardus. Ternyata sebagian besar dari para ibu yang berdoa lewat perantaraan St. Gerardus mengalami bahwa doa mereka dikabulkan. Kisah ini lalu berkembang dan menjadi cikal bakal novena kepada St. Gerardus untuk para ibu yang mau melahirkan juga para ibu yang ingin punya anak.

    Karena kesehatannya yang memang sudah buruk sejak dia dilahirkan, Bruder Gerardus tidak lama hidup sebagai seorang Redemptorist. Di tahun 1755 Bruder Gerardus terkena penyakit TBC. Dia lalu dipindahkan ke biara Mater Domini pada tanggal 1 November 1754. Hampir setahun setalah itu, tepatnya pada tanggal 16 Oktober 1755. Dia dikuburkan di Mater Domini. Dia meninggal pada usia yang sangat muda, 29 tahun. Dia hanya mengalami masa hidup sebagai Redemptoris selama 6 tahun. Tapi kesalehan hidup rohani, kerendahan hati, ketekunan bekerja dan cintanya pada orang miskin dan sederhana dikenang sepanjang masa.

    P. Mans Wenge CSsR

    Pada Pesta St. Gerardus Majella Belfast, 16 Oktober 2021

    Kronologi kehidupan St. Gerardus Mayela

    6 April 1726           Lahir di Muro Lucano

    13 April 1749         Mulai Misi Umat di Muro Lucano

    17 Mei 1749           Tiba di Deliceto bersama dengan para Missionaris Umat

    16 Juli 1752           Mengikrarkan kaul pertama

    Mei 1754 Neria membuat laporan ke Alfonsus dengan tuduhan palsu tentang Br. Gerardus

    1 November 1754  Dipindahkan ke Mater Domini

    16 Oktober 1755    Meninggal di Mater Domini

    29 Januari 1893      Dibeatifikasi oleh Paus Leo XIII

    11 Desember 1904 Diberi gelar Santo oleh Paus Pius X

    GEREJA NOVENA MARIA DI SUMBA

    0

    Ikon atau Gambar Maria Bunda Selalu Menolong (Mother of Perpetual Help berasal dari Pulau Kreta Yunani abad ke-14. Pada tahun 1866 Ikon ini diserahkan kepada Kongregasi Redemptoris oleh Paus Pius IX, dengan pesan: Make Her Known.

    Tahun 1957 Kongregasi Redemptoris memasuki Pulau Sumba. Tradisi Novena mulai berkembang di setiap paroki dan keluarga. Tahun 2016 perayaan 150 tahun Ikon MBSM diserahkan oleh Paus Pius IX. Tahun 2017 diadakan ziarah panjang di seluruh Sumba dengan Ikon Maria ini. Melihat antusiasme dan cinta umat kepada Maria Bunda Selalu Menolong, muncullah ide membangun sebuah Gereja Novena di Sumba, tepatnya di Waitabula, Sumba Barat Daya, NTT.

    Peletakan batu pertama pondasi dimulai pada tanggal 8 Agustus 2019. Desember 2019 pondasi sudah selesai. Biaya yang dihabiskan untuk pondasi senilai 1.7 Milyar rupiah. Sekarang memasuki tahap kedua, pembuatan dan pemasangan rangka baja senilai 4 Milyar rupiah. Saat ini sedang dalam proses pemasangan rangka baja. Atap akan memakan biaya 600 juta. Diperkirakan akhir tahun ini sudah bisa berdiri. Total biaya untuk seluruh proses pembangunan ini sampai selesai senilai 9 Milyar rupiah.

    Kalau semua rencana dan biaya tercukupi maka akhir tahun 2022 Gereja Novena sudah bisa dipakai. Pengembangan tradisi Novena ini dalam kerjasama dengan Redemptoris di Novena Church Singapura dan National Shrine-Novena Church Baclaran Manila. Bunda Maria, doakan kami.

    Bagi yang mempunyai sedikit rejeki, kami mohon disumbangkan melalui rekening ini:

    NAMA: KONGGREGASI CSSR

    NO. REK: 2073074075

    BANK BNI (BNINIDJAKPA)

    Salam kasih Kristus. Bunda Maria mendoakan kita. (P. Kimy Ndelo CSsR-Propinsial Redemptoris Indonesia)

    KAYA-Renungan Minggu Biasa XXVIII

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Seorang Pastor Paroki mengadakan malam dana untuk rehab gereja. Gereja sudah tua dan rusak parah. Pada saat acara Pastor menjelaskan bahwa paroki membutuhkan dana cepat untuk memperbaiki atap dan menambal dinding gereja yang sudah keropos. Dia mengajak umat untuk menyumbang semampunya.

    Setelah beberapa saat, Murphy, seorang paling kaya di paroki itu berdiri dan mengatakan: ” Saya menyumbang 50 dollar”. Baru saja dia duduk kembali, plafon gereja jatuh tepat di atas kepalanya, dan menghantam dia sampai terbanting di lantai. Dia bangun cepat dan berteriak: “Maksud saya 500 dollar”. Semua kaget, lalu diam, hening tanpa suara”. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara: “Oh Tuhan, hantam dia sekali lagi!”. Berharap orang kaya itu menaikkan lagi sumbangannya senilai 5000 dollar.

    Yesus mengatakan: “Alangkah sukarnya bagi orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mar 10,23).

    Apakah Yesus membenci orang kaya? Jawabannya, tidak. Zakheus, Nikodemus, Yosef dari Arimatea dan beberapa janda kaya adalah sahabat Yesus. Apakah Yesus membenci uang? Juga tidak. Yesus mempunyai murid bagian keuangan: Yudas Iskariot.

    Bukan orang, bukan kekayaan dan bukan uang yang membuat orang sulit masuk surga. Yang menjadi soal adalah SIKAP orang terhadap uang dan harta kekayaan.

    Kekayaan membuat orang hidup dalam rasa aman yang palsu; bahwa segala sesuatu bisa dibeli dengan kekayaannya, bahwa dia bisa membeli kebahagiaan, bahwa dia bisa menolak penderitaan. Kekayaan bisa membuat orang hanya memikirkan dunia ini dan lupa bahwa ada hidup surgawi yang jauh lebih penting. Kekayaan bisa menciptakan berhala dan orang menyembahnya lalu mengabaikan Allah, sumber segala berkat.

    Kitab Suci tidak mengatakan bahwa uang adalah akar segala kejahatan. Paulus merumuskan dengan sangat jelas: “Akar segala kejahatan ialah CINTA UANG”.( 1 Tim 6,10).

    Ini adalah soal sikap dan prioritas. Ketika orang menempatkan prioritas yang keliru dalam hidupnya, saat itulah dia mengalami kesulitan. Prioritas perhatian kita dengan segala berkat yang dimiliki adalah ORANG, bukan barang.

    Orang yang menempatkan diri dalam kekuasaan BARANG atau HARTA dengan sendirinya memberi batas antara DIRINYA dengan ALLAH. Ada tembok yang menghalangi orang sampai kepada Allah. Walaupun dia sesungguhnya bukan orang jahat, bahkan mengamalkan hidup beriman secara baik, tetap saja ada yang KURANG menurut Yesus. Dia tidak sempurna untuk layak masuk Kerajaan Allah. “Dimana hartamu berada, disitu hatimu juga berada” (Mat 6,21).

    Kesempurnaan yang membuka pintu surga bagi orang beriman dicapai dengan cara BERBAGI atau BERAMAL. Setiap orang pasti mempunyai sesuatu untuk berbagi. Tak ada orang yang sedemikian miskinnya sehingga tak mempunyai apa pun untuk dibagi.

    Santa Teresa dari India mengatakan: Do something beautiful for God. Do it with your life. Do it everyday. Do it in your way. But DO IT. Lakukanlah sesuatu yang indah untuk Allah. Lakukan itu dengan hidupmu. Lakukan itu setiap hari. Lakukan itu dengan caramu. Tapi LAKUKAN ITU!!

    Martin Luther mengatakan: “Orang yang memberikan HATINYA untuk Tuhan, juga akan memberikan DOMPETNYA.” Jika hati sudah terbuka untuk berbagi maka tak sulit bagi tangan untuk melaksanakannya.

    Dalam hati setiap orang kristen harus ada keinginan untuk memberi. Kalau tidak, dia akan pergi dengan membawa kesedihan seperti pemuda kaya itu. Kebahagiaan lebih penting daripada kekayaan.

    BUKAN DARI RUSUK PRIA-Hari Minggu Biasa XXVII

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    “Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.” (Kej 2,21-22)

    Pada umumnya dipahami dan diterima begitu saja bahwa WANITA diciptakan dari TULANG RUSUK LAKI-LAKI.

    Benarkah demikian? Mari kita uji.

    Kata Ibrani yang digunakan disini adalah SELA. Sangat mengherankan bahwa dalam pencarian pada seluruh teks Kitab Suci tidak pernah ditemukan penggunaan istilah SELA yang merujuk pada TULANG RUSUK.

    Justru kata SELA merujuk pada satu “SISI”, baik itu Kemah Suci, tenda, Bait Allah, atau gunung. Bahkan bisa juga salah satu dari daun pintu jika pintu berbentuk dua daun.

    Kata kerja “mengambil” dalam bahasa aslinya, Ibrani, bermakna “melukai”. Artinya ada tindakan Allah yang berkonotasi operasi atau pembedahan.

    Ini membawa kita pada sebuah pemahaman baru tapi sangat penting, bahwa pada dasarnya wanita TIDAK diciptakan dari tulang rusuk pria.

    Yang terjadi adalah bahwa Allah membuat manusia itu / HA-ADAM tidur nyenyak lalu salah satu sisi dari manusia itu diambil, lebih jelasnya manusia itu dibelah dua, dan dari satu belahan itu DIBANGUNNYALAH wanita itu.

    Ketika proses penciptaan (membelah dan membangun) terjadi, manusia itu tidur nyenyak. Artinya dia tidak sadar akan apa yang terjadi pada dirinya dan tidak tahu bagaimana wanita itu diciptakan.

    Proses dan kondisi ini membawa kita sebuah pengertian baru akan relasi pria dan wanita.

    Pertama, pria dan wanita pada dasarnya merupakan setengah dari manusia pertama: Adam. Disini ada kesetaraan yang bukan sekedar hal yang diperjuangkan melainkan adalah kodrat pria dan wanita sejak awal mula. Pria hanya setengah manusia; wanita juga demikian. Maka yang satu tidak lebih dari yang lain. Karenanya bahasa Ibrani pria adalah ISH dan wanita adalah ISHSHAH. Bunyinya nyaris sama. Kata dasarnya sama: ISH.

    Kedua, kesempurnaan seorang pria sebagai pribadi hanya bisa terjadi kalau ada wanita, demikian pun sebaliknya. Mengapa? Karena baik pria maupun wanita hanya membawa setengah pribadi Adam. Tanpa yang satu, yang lain tak bisa lengkap. Bersatunya pria dan wanita dalam sebuah perkawinan adalah ibarat “menemukan sebagian diriku yang hilang”. Yang lain adalah diriku di luar aku. Itulah sebabnya dikatakan, pria akan meninggalkan orangtuanya dan BERSATU dengan istrinya. Bukannya menjadi dua.

    Ketiga, bahwa prose terjadinya dua pribadi dari satu Adam, yang merupakan karya Allah, tidak diketahui baik oleh pria (karena dia tertidur), maupun oleh wanita karena dia yang diciptakan. Ketidaktahuan akan bagaimana asal usul masing-masing menjadi sebuah gerakan untuk saling memberitahu, saling mengajar antara pria dan wanita. Relasi selalu mengandaikan pengakuan akan ketidaktahuan atau kekurangan. Merasa serba tahu justru biasanya merusak relasi.

    Keempat, bahwa wanita diciptakan oleh Allah sebagai penolong pria. Kata penolong ini berasal dari kata EZER dalam bahasa Ibrani. Kata ini mengandung pengertian sebagai sebuah intervensi darurat untuk menyelamatkan seseorang. Jika tidak dilakukan maka yang mau ditolong ada dalam bahaya maut. Disinilah krusialnya peran wanita sebagai penolong. Tanpa wanita maka pria bisa mati.

    Atas dasar pengertian inilah maka Yesus sangat mendukung perkawinan dan melawan perceraian seperti dikisahkan dalam Injil hari ini.

    TOLERANSI-Renungan Minggu Biasa XVI

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Sebuah legenda tentang Abraham, bapak orang beriman. Abraham punya kebiasaan saat sarapan. Dia tidak akan menyentuh makanannya sampai ada seseorang yang lapar datang menemuinya dan dengannya dia berbagi makanan itu.

    Suatu ketika seorang pria tua datang dan seperti biasanya Abraham mengundang dia untuk sarapan bersama. Akan tetapi, ketika orang itu berdoa memberkati makanan dengan cara kafir, Abraham terkejut dan marah lalu mengusir orang itu pergi dari rumahnya. Seketika itu juga terdengar suara Yahwe: “Abraham, Abraham! Aku telah memberi makan orang kafir ini setiap hari selama 80 tahun. Tidak bisakah engkau TOLERAN dengan dia sekali saja?”

    Yosua ditegur oleh Musa karena tidak menerima kenyataan bahwa ada orang yang mendapat karunia dari Allah walau tak masuk dalam hitungan.(Bilangan 11:25-29).Para murid juga diperingatkan oleh Yesus karena mereka mau melarang orang menggunakan nama Yesus untuk membuat mukjizat karena dia bukan murid Yesus. (Mrk 9:38-43). Sikap-sikap macam ini sebetulnya dilandasi oleh kecemburuan; mengapa dia dan bukan saya?

    Roh bertiup kemana Ia mau pergi. Allah memilih memberi karunia kepada siapa yang diinginkannya. Tak ada orang yang bisa membatasi kehendak dan kekuasaan Allah. Allah adalah sumber segala kebaikan dan kebaikan bisa ditemukan pada siapa saja dan dimana saja karena diciptakan oleh Allah yang Esa. Berkat Allah bukan monopoli sekelompok orang tertentu.

    Karena itu toleransi merupakan keniscayaan dalam hidup bersama. Setiap pribadi mempunyai cara sendiri, keyakinan dan pilihan sendiri, keputusan dan juga iman sendiri. Orang hanya bisa hidup bersama jika ada semangat toleransi. Tanpa toleransi yang dilandasi kerendahan hati, maka yang ada hanya keangkuhan atau kesombongan. Dari sinilah lahir konflik dan permusuhan tiada henti, bahkan oleh orang mengakui Allah yang sama.

    Toleransi bukan sekedar MEMBIARKAN orang melakukan apa yang dia mau. Toleransi berarti membuka mata terhadap karya Allah yang jauh lebih luas dari sebuah agama atau sebuah dogma.

    Toleransi membuat kita terbuka terhadap kelebihan orang lain. Toleransi juga mengajar kita untuk mengenal keterbatasan kita. Toleransi pada akhirnya merupakan pengakuan akan kebesaran dan keagungan Allah.

    Orang yang sungguh beriman akan bersukacita melihat karya Allah terlaksana, tak peduli melalui siapa dan dengan cara apa. Toleransi melahirkan sukacita persaudaraan melampaui batas dan sekat buatan manusia.

    Yesus berkata, “Barangsiapa tidak melawan kita, Ia ada di pihak kita”. Sesederhana itu bagaimana memandang ORANG LAIN.

    KERENDAHAN HATI-Renungan hari Minggu Biasa XXV

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (Mark 9,37).

    Dalam bahasa Aramaic, yang biasa dipakai oleh Yesus, kata TALYA berarti ANAK KECIL tetapi juga bisa berarti HAMBA. Kata PAIS dalam bahasa Yunani juga bisa berarti ANAK KECIL atau HAMBA.

    Kesamaan arti anak kecil dan hamba membawa makna tersendiri dalam pesan Yesus melalui Injil hari ini. Jika seorang ingin menjadi besar, dia harus menjadi PELAYAN. Jika seseorang menyambut seorang ANAK dalam nama Yesus maka dia menyambut Yesus sendiri.

    Hamba dan Anak Kecil adalah status yang seringkali tidak diperhitungkan dalam masyarakat masa itu. Kadang kehadiran mereka disepelekan. Mereka dianggap ada ketika mereka dibutuhkan. Mereka adalah pelengkap semata. Mereka tidak mempunyai peran yang berarti.

    Permintaan Yesus untuk menghargai mereka memiliki nilai penting dalam tatanan masyarakat yang baru. Yesus hendak membangun sebuah keluarga masyarakat baru, Keluarga Allah, dengan nilai-nilai penghargaan terhadap setiap pribadi, seperti apa pun dia.

    Penerimaan bahkan pelayanan terhadap mereka merupakan kriteria penerimaan terhadap Yesus. Dia mengidentifikasikan diri dengan mereka. Yesus menempatkan diri pada status yang sama dengan mereka.

    Ketika ditanya apakah yang menjadi hal paling mendasar dalam agama dan kedisiplinan murid-murid Kristus, Santo Agustinus menjawab: “Yang pertama adalah kerendahan hati; yang kedua adalah kerendahan hati; yang ketiga adalah kerendahan hati.

    Cara mencapai kebesaran pribadi sekaligus menunjukkan identitas sejati adalah dengan KERENDAHAN HATI. Hanya dengan kerendahan hati seseorang mampu melayani secara tulus.

    Seseorang tidak bisa menyebut dirinya Kristen jika dia belum melayani orang-orang kecil. Seseorang tidak bisa mengklaim sudah berbuat sesuatu untuk Tuhan jika dia belum merendahkan diri di hadapan sesama.

    Indira Gandhi, Perdana Menteri India pada tahun 70an, ketika memberikan penghargaan kepada Bunda Teresa mengatakan: “Saya merasa diri kerdil ketika berdiri di hadapan wanita yang kudus dan hebat ini yang secara heroik menunjukkan kepada dunia bagaimana mempraktekkan cinta kristiani dalam pelayanan yang penuh pengorbanan dan kerendahan hati.”

    Jalan menuju kebesaran dalam perspektif kristiani adalah ini:
    Pertama, menjadikan diri selalu yang terakhir. Kedua, menjadi pelayan untuk semua orang. Ketiga, menerima mereka yang paling tak berarti. Keempat, tak mengharapkan balasan.

    Semoga.

    DINDING DAN SALIB-Renungan Minggu Biasa XXIV

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Di New Jersey, Amerika Serikat, di sebuah bukit berdiri sebuah gereja kecil. Pada dinding gereja itu ada sebuah salib batu besar yg ditempelkan masuk ke dalam dinding. Suatu ketika seorang kaya datang dan tidak suka melihat salib pada dinding gereja. Dia mengatakan salib itu mengganggu pemandangan. Dia menawarkan kepada gereja sumbangan uang dalam jumlah besar agar salib itu dikeluarkan dan ditempatkan di sebuah kotak kaca.

    Ketika dia mengajukan ide itu, dewan paroki menjawabnya: Kami tidak dapat melakukan permintaanmu. Arsitek gereja ini sudah merancang sedemikian rupa agar gereja itu berdiri dengan salib di dindingnya.  Salib itu memberi kekuatan pada dinding.Jika anda mengeluarkan salib itu lalu kekuatan penopang gereja jadi berkurang dan gereja bisa roboh. Mengeluarkan salib berarti menghancurkan gereja”.

    Kata-kata Yesus dalam Injil hari ini berbunyi demikian; “Setiap orang yang mau datang kepadaku, dia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku”. (Mark 8,34).

    Orang Yahudi memiliki tradisi kuat akan konsep penderitaan atau pengorbanan diri sebagai sesuatu yang punya efek menyelamatkan. Hal ini terutama terjadi pada para pemimpin agama mereka.

    Karena itu ketika Yesus menubuatkan takdir hidup-Nya yang diwarnai penderitaan lalu Petrus menolak, Yesus benar-benar marah. Dia dianggap setan yang bukan hanya menolak rencana Allah tapi juga tidak tahu ajaran agama.

    Dalam perkembangan selanjutnya agama Kristen lalu menjadikan diri Yesus dengan salib-Nya sebagai pusat penyelamatan. Memikul salib seperti Yesus berarti selamat.

    Hidup bagi orang Kristen seperti sudah ditakdirkan bagai gereja kecil di atas yang di dalam dindingnya ada salib. Dengan kata lain, penderitaan dan dukacita adalah bagian dari hidup. Tak ada yang dapat menghindarinya.

    Akan tetapi salib itu tidak semata-mata untuk menyakiti melainkan juga untuk menopang. Tanpa salib atau tanpa penderitaan dan kesulitan hidup orang kristen bisa mudah roboh atau tumbang.

    Yesus juga berkata: “Barangsiapa kehilangan nyawanya karena aku dan karena Injil akan menyelamatkannya”.

    Artinya hal penting dalam hidup bukan penderitaan dan dukacita itu sendiri melainkan BAGAIMANA KITA BERSIKAP ATASNYA. Apa yang kita buat dengan penderitaan dan dukacita itu.

    Mungkin kita tak bisa menghindarinya. Akan tetapi kita bisa melakukan sesuatu dengan semua pengalaman pahit dalam hidup kita. Menghadapi dengan semangat membangun, bukan merusak. Kita menghadapi pengalaman ini dengan semangat untuk HIDUP, bukan KEMATIAN.

    Golda Meir, pada masa mudanya merasa depresi dan tertekan berat karena dia tidak cantik. Pada suatu ketika dia menulis begini: “Lama baru saya menyadari bahwa tidak cantik merupakan rahmat terselubung. Hal itu memaksa saya untuk mengembangkan sumber-sumber dalam diri saya. Pada akhirnya saya mengerti bahwa wanita yang tidak bersandar pada kecantikannya (harus bekerja keras) memiliki keuntungan”.

    Dengan kata lain, dia menerima salibnya. Dia tidak menangisi nasibnya. Dia tidak menyesalinya. Dia mengakuinya, mengambilnya dan membawanya dengan berani.

    Itulah yang membuat dia menjadi Perdana Menteri Wanita pertama di Israel.

    Oscar Wilde, berangkat dari pengalaman pahitnya di penjara, menulis sebaris ungkapan puitis: “Dimana ada dukacita, disitu ada ruang kudus”.

    Dukacita memberi kita kesempatan untuk menyadari kehadiran Allah yang meneguhkan.

    Beban yang berat memberi kita peluang untuk mengundang Allah membantu kita memikulnya.

    Penderitaan dan dukacita seringkali digunakan Tuhan untuk membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik: menjadi lebih sabar, lebih rendah hati, lebih hangat, lebih berbelarasa, lebih mudah memahami.

    Penderitaan dan dukacita dapat membuka mata kita akan hidup yang lebih kaya dan lebih indah, mungkin lebih daripada yang pernah kita impikan. Penderitaan bisa membuat hidup kita juga lebih kokoh dan tegar.

    Jadikanlah salib bagian dari dinding hidupmu!