Jumat, Februari 26, 2021
More

    BANGGA BISA BERSOLIDER

    0

    Pandemi Covid 19 belum berakhir. Kegiatan sekolah, ibadah, Ekaristi belum berjalan sebagaimana biasanya. Gereja Katolik di masa Prapaskah biasanya mengadakan katekese atau pendalaman iman berdasarkan tema APP Nasional. Katekese ini diadakan dalam kelompok kecil misalnya dalam lingkungan atau basis yang melibatkan anak-anak hingga orang dewasa. Tema APP Nasional tahun 2021 adalah “SEMAKIN BERIMAN SEMAKIN SOLIDER”. Tema ini diangkat dengan tujuan agar semua umat Katolik membangun di dalam dirinya semangat untuk bersolider dengan siapa saja yang menderita.

    Berkaitan dengan Katekese pada masa Pandemi Covid 19, dimana pemerintah dan gereja sendiri terus menyuarakan untuk mengurangi kegiatan yang bersifat mengumpulkan banyak orang maka, setiap orang diharapkan untuk menciptakan kreatifitas agar kegiatan-kegiatan rohani tidak fakum. Menciptakan kreatifitas adalah sesuatu yang sangat diharapkan gereja saat ini agar kebutuhan rohani umat terus terpenuhi.

    Melihat situasi dan kondisi di atas, Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Sang Penebus Waingapu hadir dan membawakan Katekese secara virtual. Tujuannya agar semua umat Paroki Sang Penebus Waingapu (dan siapa saja yang mengikuti Katekese) bisa berkatekese di masa Pandemi. Selain itu OMK dilatih untuk bisa menjadi pemimpin dan berani tampil. Dalam katekese pekan pertama yang diadakan pada Kamis, 25 Februari 2021 kami menghadirkan Sdri. Ambu Loke, S.Kep.,Ns. dan Sdri. Lia Hadut, S.Kep.,Ns., yang adalah para perawat RSUD Umbu Rara Meha-Waingapu. Keduanya adalah OMK Paroki Sang Penebus Waingapu yang juga adalah anggota tim Covid. Katekese ini dipandu oleh Sdra. Semi Yiwa, A.md.Kep. Para Nara Sumber membagikan pengalaman-pengalaman mereka berkaitan dengan bagaimana bersolider dengan orang-orang yang menderita khususnya mereka yang menderita karena terpapar virus corona.

    Dalam sharing dikatakan bahwa “untuk masuk di dalam tim covid kami harus mempunyai mental yang kuat dan rasa kemanusiaan yang tinggi karena kami harus berhadapan langsung dengan orang-orang yang terpapar. Kami harus siap memberikan diri dan bersolider dengan para pasien. Keluarga kami juga gelisah dan merasa takut jangan sampai kami juga terpapar virus corona. Dibalik itu semua kami merasa bangga dan senang karena bisa bersolider dengan para pasien. Para pasien juga sungguh merasakan kekuatan dengan kehadiran kami. Mereka mengalami kesembuhan bukan hanya melalui obat-obatan tetapi juga kehadiran kami para perawat yang selalu ada bersama mereka. Tidak bisa dielak, beberapa rekan kami juga harus terpapar virus yang mematikan ini. Maka sebagai perawat kami menghimbau kepada semua umat untuk terus mematuhi himbauan pemerintah dan dinas-dinas terkait agar dapat membantu menghentikan penularan virus ini”.

    Katekese ini berlangsung selama satu jam dan dibagi dalam dua sesi yaitu sharing pengalaman dan tanya jawab. Alunan suara gitar dan merdunya suara OMK juga menghiasi katekese ini. Semoga dengan katekese ini, kita terus termotivasi untuk bersolider dengan mereka yang menderita dan menjaga kesehatan dengan mematuhi protokol kesehatan yang ada.

    Salam sehat.

    Berikut link videonya

    Nara Sumber Membagikan Pengalaman bersolider
    Alunan musik dan suara merdu, Leksi dan Helen

    Hari Peresmian Kongregasi

    0

    272 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 25 February 1749, Paus Benedictus XIV, sambil mendengarkan masukan dari para kardinal yang menjadi anggota Kongregasi Hidup Bhakti, meresmikan sebuah kongregasi baru yang bernama Kongregasi Sang Penebus Mahakudus atau yang di dalam bahasa Latin dikenal dengan nama Congregatio Santcissimi Redemptoris yang kemudian disingkat CSsR. Pengresmian Kongregasi Redemptoris oleh Paus ini dibuat tertulis di dalam surat apostoliknya yang berjudul: Ad Pastoralis Dignitatis fastigium.

    Pater Berthe, salah seorang penulis Biography St. Alphonsus menulis tentang momen bersejarah ini di dalam bukunya: Vita di S. Alfonso (halaman 380). Dia menulis:

    Dari para kardinal kunci di Kongregasi Hidup Bhakti Pater Villani telah mendapat “lampu hijau” berkaitan dengan diresmikannya kongregasi kita besera konstitusinya. Namun yang masih diperlukan adalah persetujuan dari Paus atas dekrit yang sudah disetujui kardinal dan sekaligus pengiriman dari bukti persetujuan itu secara tertulis ke kongregasi.

    Pater Villani pun mengajukan audiensi dengan pontificat untuk hal ini.

    Akhirnya, pada tanggal 25 February tahun 1749 sebuah surat apostolik dalam bentuk singkat (forma brevis) pun dipublikasikan yang di dalamnya ada pernyataan pengresmian Kongregasi Sang Penebus Mahakudus.

    Tahun St. Yoseph – Menghidupi Komunitas dengan Hati Seorang Bapak (Rekoleksi Komunitas Sumba Timur)

    0

    Para anggota Redemptoris biasanya mengadakan rekoleksi setiap bulan, bergantian di tingkat propinsi di konventu (rumah retreat Redemptoris propinsi Indonesia) atau di komunitas masing-masing. Di masa pandemi ini rekoleksi konventu tidak mungkin dilakukan. Maka setiap komunitas dianjurkan untuk menetapkan sendiri jadwal rekoleksinya masing-masing.

    Itulah yang terjadi pada hari Senin tanggal 22 Februari yang lalu di Asrama Padadita, Waingapu – Sumba Timur ketika semua Redemptoris anggota Komunitas Sumba Timur yang terdiri dari  anggota Pastoran Paroki St. Andreas – Ngallu, anggota Pastoran Paroki Sang Penebus Wara, Staff Postulan dan Staf Asrama Padadita berkumpul bersama untuk mengadakan rekoleksi komunitas.

    Rekoleksi perdana di tahun 2021 ini dipimpin oleh Pater Sius Kaki CSsR, ketua Yayasan Andaluri sekaligus staf Asrama Padadita. Di renungannya yang inspiratif Pater Sius mengajak semua anggota komunitas untuk menghidupi komunitas dengan hati seorang Bapak, belajar dari keutamaan hidup St. Yoseph.

    Adapun tema ini diambil berkenaan dengan pencanangan tahun ini sebagai tahun St. Yoseph oleh Paus Fransiskus yang pada tanggal 8 Desember 2020 merilis dokumen Patris Corde (teks utuhnya bisa didownload di sini: http://www.dokpenkwi.org/wp-content/uploads/2020/12/Seri-Dokumen-Gerejawi-PATRIS-CORDE.pdf) dan dengan itu membuka secara resmi tahun St. Yoseph.

    Selain mengulas sejarah singkat peran St. Yoseph di dalam kehidupan Gereja Katolik, Pater Sius juga mengulas 7 keutamaan St. Yoseph menurut Paus Fransiskus yang dikutip dari dokumen Patris Corde dan membagikan refleksi pribadinya tentang bagaimana hidup di dalam komunitas seturut teladan St. Yoseph berdasarkan teks Injil Lukas 2:41-52.

    Selanjutnya, rangkaian acara rekoleksi ditutup dengan perayaan ekaristi bersama, dilanjutkan dengan makan malam dan rekreasi bersama.

    “When I have a problem, I’ll write it down and let St. Joseph sleep on it” (Pope Francis on St. Joseph).

    Donor Darah – Paroki Cijantung

    0

    Seksi Kesehatan bekerja sama dengan Seksi Kepemudaan dan Komunikasi Sosial Paroki Cijantung menyelenggarakan kegiatan donor darah pada hari Minggu (21/2) yang lalu bertempat di SMA Ignatius Slamet Riyadi, di samping Gereja. Kegiatan donor darah ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan oleh Seksi Kesehatan selama tiga bulan sekali.

    “Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membantu unit transfusi darah yakni Palang Merah Indonesia (PMI) , selain dengan mendonorkan darah kita juga ingin meningkatkan rasa kepedulian sosial dari umat Paroki Cijantung sebagai wujud pelaksanaan Tahun Refleksi 2021 dengan semangat “ Semakin Mengasihi, Semakin Terlibat, Semakin Menjadi Berkat.”

     “Pertama, kegiatan donor darah ini sangat berguna banget untuk kesehatan kita sendiri dan memberikan dampak positif bagi tubuh kita. Kedua, kegiatan ini merupakan kegiatan sosial yang sangat mulia karena dari mendonorkan darah kita, kita sudah bisa membantu banyak orang dan dapat menyelamatkan nyawa orang lain. Jadi dengan mendonorkan darah kita sudah membuat banyak harapan untuk orang lain,” ungkap salah satu pendonor.

    Kegiatan ini menghasilkan 55 (lima puluh lima) kantong darah yang terdiri dari golongan darah A (16), darah B (13), darah AB (5) dan O (21) dengan jumlah peserta 64 orang dimana 55 pendonor diterima dan 9 pendonor ditolak. Target untuk kegiatan ini adalah 75 kantong darah. Pelaksanaan kegiatan dimulian pada pukul 07.30 dan selesai pukul 09.45 WIB.

    Tuhan memberkati. Amin

    Stasi Lukuwingir, Gereja Sang Penebus – Paroki Waingapu

    0

    SEKALIPUN BANGUNAN INI ROBOH, AKU TAK AKAN GOYAH

    Perjalanan menuju Stasi Lukuwingir ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam 10 menit, untuk merayakan Ekaristi Prapaskah I. Sesaat tiba di lokasi, air mata menetes menyaksikan pemandangan kondisi bangunan yang sudah tua dan rusak karena dihantam badai angin dan derasnya hujan. Dinding-dinding berjatuhan dan atap-atap beterbangan. Dalam suasana hati tak menentu, kuberdoa dalam hati, “Tuhan teguhkan hati umat-Mu. Berikanlah jalan terbaik bagi kami”.

    Kemudian kami merayakan Ekaristi bersama umat sekalipun suara atap seng terus diterpa badai angin yang memecah kebisuan di tengah padang sabana itu. Saya harus mengeluarkan suara yang keras, bahkan beberapa kali saya harus berteriak untuk memastikan suara saya dapat didengar umat dan mengalahkan suara yang menganggu. Untuk mengurangi energi dan kebersamaan saya memutuskan membawakan renungan dengan turun dari mimbar dan berdiri di tengah-tengah umat. Sekalipun demikian, akhirnya saya pun harus meneguk air untuk membasahi kerongkongan yg kedengaran mulai mengeluarkan suara serak. Selama perayaan Ekaristi berlangsung saya terus berujar dalam hati, semoga dinding-dinding yang masih ada dan terus bergetar dihantam angin tidak roboh disaat kami sedang berdoa. Terima kasih Tuhan, akhirnya kami boleh merayakan Ekaristi hingga selesai.

    Bacaan Injil pada perayaan Prapaskah I ini mengisahkan tentang Yesus berada di Padang Gurun selama 40 hari dan dicobai iblis. Walau cobaan-cobaan silih berganti menghampiri Yesus namun Ia tidak pernah tergoda dan jatuh. Ia terus berjuang mengatasi cobaan-cobaan itu dan akhirnya ia berhasil.


    Peristiwa menarik dan mengharukan yang saya alami hari ini adalah sebuah cobaan bagi saya dan umat Stasi Lukuwingir sendiri. Namun perlu diingat bahwa Iman seorang Katolik bukan terletak dari megah dan indahnya sebuah bangunan. Iman seorang Katolik terletak pada diri sendiri yang mau dan mampu menghadapi cobaan-cobaan dunia. Bangunan yang roboh atau rusak bisa kita cari jalan keluar untuk memperbaikinya.

    Banyak umat yang selalu bermurah hati bersedia untuk berbagi kasih bagi yang membutuhkan apalagi di masa Prapaskah ini, sebagai laku tobat mereka. Tapi jika iman kita goyah hanya karena bangunan gereja rusak, akan lebih sulit untuk membangunkannya kembali. Sekalipun bangunan gereja roboh, janganlah iman kita ikut goyah.


    Maka saudara/i ku, jangan pernah menjadikan megah dan indahnya bangunan gereja sebagai ukuran kekuatan imanmu. Tapi ukurlah imanmu dengan apakah mampu menghadapi cobaan kehidupan atau tidak. Karena Tuhan tidak pernah memberikan cobaan melampaui kemampuan manusia. Toh dengan cobaan-cobaan, iman kita semakin lebih kokoh dan dewasa.

    Sembari kita berdoa memohon rahmat kekuatan bagi diri kita sendiri, marilah kita juga berdoa kepada Tuhan memohon rahmat kekuatan dan ketabahan bagi semua umat Katolik di tempat-tempat yg sulit semoga mereka pun diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi setiap cobaan hidup.

    Salam sehat dalam Kristus Sang Penebus

    GODAAN/COBAAN

    0

    Sebuah dongeng dari Arab berkisah tentang seorang tukang giling yang sedang tidur di dalam kemahnya. Tiba-tiba hidung seekor unta nongol di pintu kemahnya.

    “Di luar sangat dingin”, kata unta. “Aku hanya minta ijin hidungku di dalam kemah”. Pria itu mengijinkan. Tak lama kemudian kepala unta masuk. Terus seluruh tubuhnya ikut masuk.

    Kemah jadi sesak. Tukang giling jadi merasa tidak nyaman berduaan di kemah yang sempit. Dengan cueknya unta itu berkata: “Jika engkau tidak nyaman di dalam, engkau bisa keluar. Aku tetap tinggal dimana aku berada”.

    Dari kisah ini benarlah kata-kata Lancelot Andrew. “Berikan satu inci saja kepada setan, maka dia akan mengambil satu meter. Jika dia memasukkan tangannya, maka dalam sekejap seluruh tubuhnya akan nampak”.

    Yang namanya GODAAN SETAN biasanya bekerja dengan cara demikian.

    Bacaan Injil hari ini berbicara tentang godaan setan kepada Yesus (Mrk 1,12-14). Tiga Injil Sinoptik berkisah tentang hal yang sama. Surat Ibrani pun menegaskan hal yang serupa.

    “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” (4,15)

    Setelah pembaptisan di sungai Yordan Yesus dituntun oleh Roh ke padang gurun dan dicobai disana selama empat puluh hari. Padang gurun adalah tempat pencobaan atau godaan, dan pada akhirnya sebagai tempat kematian.

    Dalam Perjanjian Lama dikisahkan bahwa Musa bersama bangsa Israel melewati pencobaan selama empat puluh tahun di padang gurun. Elia pun berjalan empat puluh hari empat puluh malam untuk sampai ke gunung Horeb (1 Raj 19,8).

    Waktu empat puluh hari berpuasa bagi Yesus merupakan pengulangan pengalaman kedua tokoh Perjanjian Lama ini.

    Untuk apa? Supaya Yesus, walaupun Anak Allah, juga bisa merasakan pengalaman umat manusia secara penuh. Godaan dan cara kita menghadapinya merupakan bagian integral dari hidup manusia. Tak satupun orang yang luput dari godaan dengan aneka cara.

    Di sungai Yordan Yesus dibaptis dan sekaligus dikuatkan oleh Roh Kudus. Berbekal “senjata” ini Yesus menghadapi godaan setan. Hasilnya, Dia menang. Dia tak terjebak perangkap setan dengan segala tawarannya.

    Godaan atau cobaan bagi orang yang sudah dibaptis dan sudah menerima sakramen penguatan ibarat “uji senjata”. Mereka yang dibaptis dan krisma bagaikan orang yang sudah “divaksin secara rohani”. Setan akan selalu ada tapi kita sudah diperlengkapi dengan alat pertahanan diri.

    Seringkali terjadi, persoalannya bukan pada “senjatanya” tapi pada pemakainya. Senjatanya bagus tapi yang menggunakan tidak paham. Atau mungkin malah senjatanya sering ditinggalkan dan tak dipakai sebagaimana mestinya.

    Masa Pra Paskah adalah masa dimana kita memperbaiki kembali senjata kita dan menggunakannya secara tepat untuk menghadapi godaan setan. Dengan senjata yang mumpuni dan kemampuan terlatih kita siap menghadapi setiap godaan atau cobaan setan.

    “Godaan biasanya datang melalui sebuah pintu yang dengan sengaja dibiarkan terbuka” (Arnold Glasow)

    (SETETES EMBUN, by P. Kimy Ndelo CSsR; ditulis di Biara Santo Alfonsus-Konventu Redemptoris Weetebula, Sumba tanpa Wa).

    JALAN SALIB MOHON KAPELA – Misi Umat

    0

    Kapela kami terlalu kecil untuk dijadikan tempat jalan salib anggota komunitas kami. Setiap hari kalau misa hanya bisa duduk di kursi saja. Kapela kami berukuran dua setengah kali lima setengah meter. Rencana mau bangun kapela baru.. baru dibawa dalam dalam doa. Jika Tuhan berkenan pasti Dia akan menyediakan. Tuhan engkau baik.

    Hari ini adalah hari pertama jalan salib. Kami memilih untuk menelusuri gang-gang rumah kami yang sepi. Gambar perhentian pun tidak ada, tetapi salib ya.. ada. Salib romawi itu kami bawa keliling dari pintu-ke pintu setiap kamar kami, entah penghuninya ada atau tidak ada. Terus terang hari ini kami merasa lain. Baru kali ini kami jalan salib dari pintu ke pintu. Ah jadi ingat lagunya bung Ebiet G Ade. Lagu favoritenya almarhum Pater Efrem Zuba. Beristirahatlah dalam damai anghua.

    Di jalan salib ini bukan hanya kami sendiri yang berprosesi di lorong-lorong rumah kami. Semesta juga ikut. Pohon-pohon sekitar rumah kami juga turut serta. Penghuni lain pun ikut serta. Anjing-najing kami: Mogi, paris, ronda, hector, belo dan misyu tidak ketinggalan. Di antara mereka hanya Paris yang tidak tenang. Yang lain ikut dengan khusuk.

    Ya… mari kita tetap perhatikan aspek doa dari masa prapaskah kita ini. Tentu jangan lupa untuk Puasa dan beramal. Ah Tuhan kami rindu punya kapela yang baik…. Tapi terserah Engkau saja. Satu waktu pasti Engkau akan memberinya.. kami akan selalu berbicara dengan dikau.. apapun situasi kami.