Kamis, Mei 12, 2022
More
    Beranda blog

    PHOENIX-KEBANGKITAN – Renungan Minggu Paskah

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsr

    Hesiod, seorang penyair Yunani yang hidup 800 tahun sebelum Kristus menulis sebuah puisi tentang seekor burung ‘phoenix’. Ketika burung itu merasa bahwa saat kematiannya sudah dekat, yang terjadi setiap 500-1461 tahun, burung itu pergi ke pulau Phoenecia lalu membuat sarang di situ dari kayu yang sangat harum baunya. Setelah selesai dia masuk ke sarangnya dan membakar diri dan sarangnya sendiri.

    Tak lama kemudian, dari dalam abu yang tersisa keluarlah seekor burung ‘phoenix’ yang hidup. Itulah sebabnya burung Phoenix sering dipakai sebagai simbol keabadian, kebangkitan, atau hidup sesudah kematian.

    Apa yang terjadi pada burung ‘phoenix’ bisa membantu kita memahami secara simbolis peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus.

    Kematian adalah hal yang biasa bagi setiap makhluk hidup. Tetapi kebangkitan dari mati adalah pengalaman pertama manusia yang diawali oleh Yesus. “Kristus telah dibangkitkab dari antara orang mati sebagai yang sulung dari antara orang-orang yang telah meninggal”. (1 Kor 15,20)

    Kebangkitan Yesus adalah dasar iman kita. Tanpa itu kita sama saja dengan semua orang lain, bahkan semua makhluk hidup lain. Paulus berkata: “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman kita” (1 Kor 15,14).

    Iman bukan sekedar percaya bahwa Yesus dibangkitkan. Iman pun mengandung harapan bahwa kita yang percaya dan mengikuti jalan hidupnya akan mengalami kebangkitan yang sama setelah kematian kita.

    “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yoh 11,25).

    Tetapi hidup dalam kepercayaan dan harapan macam ini mengandung konsekwensi. Kebangkitan Yesus adalah hasil dari sebuah proses yang panjang, melelahkan, menyakitkan, memalukan dan dengan penderitaan yang tak terkira. Kebangkitan adalah buah dari ketaatan kepada kehendak Bapa surgawi. Kebangkitan Yesus bukan peristiwa spontan atau mendadak.

    Karena itu juga bagi kita, mengharapkan kebangkitan tidak cukup dengan ikut merayakan paskah secara meriah dan khusyuk.

    Kebangkitan bagi kita hendaknya menjadi sebuah proses keluar dari diri sendiri, dari segala kelemahan dan dosa, kepada hidup baru yang berorientasi pada keselamatan orang lain juga.

    Saat ini mungkin kita sedang dan masih hidup dalam pengalaman Jumat Agung, tapi ingatlah bahwa Minggu Paskah pasti akan selalu ada selalu ada sebagai harapan kita.

    A man who was completely innocent, offered himself as a sacrifice for the good of others, including his enemies, and became the ransom of the world. It was a perfect act.”

    Seorang pria yang sama sekali tidak bersalah, mempersembahkan dirinya sebagai korban untuk kebaikan orang lain, termasuk musuh-musuhnya, dan menjadi tebusan dunia. Itu adalah tindakan yang sempurna.” ( Mahatma Gandhi)

    PASKAH DUA BABAK: IA TELAH BANGKIT – Renungan Malam Paskah

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Perayaan Paskah diawali dengan Vigili Paskah atau lebih dikenal sebagai Malam Paskah, dan berakhir dengan Hari Raya Minggu Paskah atau Hari Minggu Agung. Hari Raya Minggu Paskah itu sendiri akan berlanjut terus dengan Masa Paskah yang berlangsung selama 7 pekan sampai Hari Minggu Pentakosta.

    Vigili Malam Paskah sesungguhnya adalah Misa Paskah Kebangkitan Tuhan. Ini adalah perayaan utama dan paling mulia dari segala perayaan. Karena itu liturginya pun unik dan paling komplit serta pastinya lama. Disitu ada liturgi cahaya Lilin Pakah, Madah Paskah, liturgi Sabda yang panjang mengisahkan sejarah keselamatan sejak penciptaan sampai kisah kebangkitan Yesus. Selanjutnya ada liturgi Baptis dan berakhir dengan liturgi Ekaristi.

    Simbol utama yang dominan selama Malam Paskah adalah Lilin Paskah sebagai simbol cahaya yang mengusir kegelapan malam. Disini mau ditekankan sikap berjaga-jaga umat dengan cahaya di tangan sambil menantikan Kristus yang bangkit mulia sebagai puncak kemenangan atas kegelapan.

    Kegelapan macam apa yang hendak diusir?

    Prefasi Paskah dengan indahnya melukiskan kegembiraan Paskah:

    “Pada malam ini Yesus Kristus mengalahkan kuasa maut dan bangkit sebagai pemenang yang unggul dari kubur-Nya”.

    “Cahaya suci malam ini mengusir kedurhakaan, membersihkan orang yang berdosa, mengembalikan kesucian kepada yang jatuh, menghibur yang berdukacita”.

    Ini mengingatkan kita akan penciptaan pertama dari Allah, “Jadilah Terang”. Terang ini diciptakan untuk menghalau kegelapan yang merupakan bentuk paling awal dari alam semesta.

    Perjalanan sejarah bangsa Israel diwarnai dengan pilihan-pilihan pada jalan kegelapan. Mereka sering meninggalkan Allah yang adalah sumber terang yang menuntun mereka di jalan yang benar.

    Kematian sebagai akibat dosa selalu disimbolkan dengan kegelapan. Bahkan segala yang jahat atau negatif, juga disimbolkan dengan kegelapan. Tidak heran kalau ada diskriminasi berdasarkan warna kulit. Mereka yang  berkulit gelap kadang dianggap tidak baik atau sumber kejahatan. Mereka yang berkulit putih atau terang sering diagung-agungkan sebagai penghasil kebaikan dan kesucian. Walau faktanya tak selalu demikian.

    Di pintu Makam Kudus atau Holy Sepulcher, di Yerusalem ada tulisan : He is not here-DIA TIDAK DISINI. Ini adalah kutipan dari Injil Lukas malam ini: “Ia tidak ada disini. Ia telah bangkit!” (Luk 24,6).

    Walau demikian, setiap hari sepanjang tahun, selama berabad-abad, tak henti-henti orang-orang datang berziarah dan berdoa di makam kosong itu.

    Apakah orang tertarik melihat makam kosong?

    Bukan karena makam kosong sehingga orang penasaran dan datang. Tetapi karena di balik itu orang tahu bahwa, Dia yang tak ada disitu SUDAH BANGKIT. Dia yang pernah dibaringkan dalam makam itu sudah hidup.

    Tapi hidupnya bukan lagi hidup yang sama dengan kita, terikat oleh dunia. Hidup baruNya tak lagi dibatasi oleh apa pun. HidupNya melampaui ruang dan waktu. Dan hidup itu mulia. YESUS ADALAH TUHAN. DIA TELAH BANGKIT.

    Kehidupannya inilah yang menjadi inspirasi untuk siapa saja dan tertarik menjadi pengikutNya. Kehidupan yang dijanjikan juga kepada para muridNya.

    Sekalipun kita mampu menjelaskan dengan sangat baik tentang kebangkitan Kristus, jika kita tidak mempunyai IMAN akan KEBANGKITAN, maka itu juga hanya sekedar opini. Tidak menghasilkan apa-apa. Kita hanya berteori tanpa dasar dan pasti tanpa hasil.

    Seperti Yesus HIDUP, iman juga harus HIDUP. Iman harus tumbuh dan berkembang melalui pengalaman jatuh dan bangun, susah dan gembira, dukacita dan sukacita.

    Dan iman itu harus terbuka pada pengajaran dan bimbingan Roh Kudus. Dialah yang membantu orang untuk percaya. Dialah yang menerangi orang untuk melihat.

    Dialah pula yang menggerakkan orang selama 2000 tahun pergi ke makam kosong di Yerusalem untuk mengungkapkan iman akan Kristus yang bangkit.

    Dialah yang menggerakkan kita untuk bersukacita malam ini dan esok pagi!

    SELAMAT HARI RAYA PASKAH. ALLELUIA!!!

    TIGA SALIB – Renungan Jumat Agung

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Di atas bukit Golgota sesungguhnya ada 3 salib yang berdiri. Dua salib di sisi kiri dan kanan adalah dua orang penjahat yang merampok dan membunuh. Di tengah-tengah ada salib Yesus yang mati DEMI DOSA kita.

    Perampok tersalib yang pertama di sisi kiri mengolok-olok Yesus dan mati DALAM DOSANYA. Perampok tersalib yang kedua di sisi kanan (dalam tradisi dikenal dengan nama Dismas), mati KARENA DOSA, tetapi karena percaya pada Yesus, dia mendapat janji pasti: “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk 23,43).

    Penjahat “baik”, Dismas, tidak perlu mengakui semua dosanya, tetap Yesus mengampuni dia sekali untuk semua. Sebuah ungkapan iman yang total di saat-saat paling menentukan dalam hidup, sudah cukup untuk menyelamatkan jiwanya.

    Setiap momen hidup bisa menjadi momen keselamatan jika kita datang pada orang yang tepat yakni Yesus sendiri. Untuk Yesus semua waktu selalu tepat.

    ZHENA!

    Di atas salib Yesus berseru: Zhena! Artinya “Aku haus!” Seruan Yesus ini mengingatkan kita akan kata-kata Mazmur: “Tenggorokanku kering seperti debu, lidahku melekat pada langit-langit mulutku” (Maz 22,16). Ketika Yesus sedang menuju proses kematian-Nya, Dia menderita kehausan yang amat menyakitkan.

    Mati di atas salib adalah salahsatu bentuk penderitaan paling menyakitkan bagi manusia. Tetesan darah dari sekujur tubuh mengakibatkan rasa haus tak terkira. Menderita kehausan adalah sesuatu yang sangat menakutkan. Tak ada kata-kata yang cukup untuk melukiskannya.

    Seluruh tubuh berteriak minta air. Air untuk membasahi mulut yang kering, air untuk membebaskan lidah yang bengkak, air untuk membuka tenggorokan yang serak yang tidak dapat menghirup udara yang cukup, air untuk membuat bertahan hidup hanya beberapa saat lagi.

    Pemazmur berdoa: “Ya Allah, Engkaulah Allahku — aku merindukan-Mu! Untukmu tubuhku merindukan; untukmu jiwaku haus, seperti tanah yang gersang, tak bernyawa, dan tanpa air.” (Maz 63,2).

    Kehausan Yesus bukan terutama karena butuh air, tapi kehausan akan jiwa-jiwa untuk dibawa kepada Allah. Dia haus akan mereka yang perlu diselamatkan. Disini juga Dia mewakili banyak orang yang sesungguhnya haus akan berbagai hal yang perlu untuk hidup mereka termasuk air.

    Dahaga Yesus saat ini hanya bisa dipuaskan oleh kita-kita yang menjadi sahabat-Nya, murid-murid-Nya dan rekan sekerja-Nya.

    TETELESTAI

    Seruan Yesus yang terakhir adalah, TETELESTAI. Biasa diterjemahkan, SUDAH SELESAI. Apa sesungguhnya yang sudah selesai? Penderitaan? Tugas pewartaan? Perjalanan hidup? Mungkin semua itu termasuk disitu.

    Akan tetapi ungkapan TETELESTAI lebih dari itu. Dalam salahsatu hasil penemuan arkeologis di Yerusalem, pada laporan pajak seseorang ditemukan tulisan: tetelestai. Itu artinya sudah dibayar lunas.

    Dalam arti inilah kata-kata Yesus bisa dipahami. Manusia yang berdosa adalah orang-orang yang berutang kepada Allah. Utang itu sudah dibayar lunas. Ungkapan Yesus ini lalu menjadi seruan kemenangan, keberhasilan. Sudah selesai artinya SUDAH LUNAS. Utang sudah dibayar utuh. Manusia tidak berutang apa-apa lagi kepada Tuhan.

    Seruan Yesus bagaikan seorang pelari yang setelah melewati perjuangan panjang mencapai garis finis pertama. Bagaikan seorang mahasiswa yang mencapai titik terakhir studinya dengan wisuda. Bagaikan seorang pelukis yang menyelesaikan sebuah karya besar (masterpiece) setelah proses yang panjang.

    Ucapan Yesus adalah seruan seorang Raja di atas tahtanya yakni salib di puncak golgota.

    Di penjara Auschwitz, Polandia pada Pebruari 1941, para tahanan tentara Nazi Jerman, sedang diantri untuk dihukum mati dengan gas. Kebanyakan dari mereka orang Yahudi. Seorang pria bernama Frandishek Gazovnachek, ikut dipanggil. Tiba-tiba dia berseru, “Tolong bebaskan saya. Saya mempunyai istri dan anak-anak.” Seruannya begitu memilukan. Spontan Maximilian Maria Kolbe, seorang Imam Fransiskan maju ke depan dan mengambil alih tempat pria itu. Dia menggantikannya menerima hukuman mati.

    Singkat cerita, setelah perang berakhir, pria itu selamat dan kembali ke rumah bersama istri dan anak-anaknya. Di samping rumahnya ada tulisan yang dipahat dengan indah: Kenangan Akan Maximilian Kolbe. Dia mati menggantikanku! Dia hidup sampai usia 82 tahun, dengan terus membawa kenangan: Aku hidup karena seorang mati untuk aku.

    Di dalam hati setiap orang beriman hendaknya tertera pula sebuah tulisan: Kenangan akan Yesus Kristus. Dia mati menggantikan tempatku.

    Tetelestai.

    WAJAH YESUS – Renungan Kamis Putih

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Lukisan “The Last Supper” yang terkenal itu dibuat oleh Leonardo da Vinci dari Italia. Konon, untuk setiap wajah yang ada dia mencari model dari pria yang ada di Roma saat itu. Untuk wajah Yesus dia menggunakan model seorang anak muda umur 19 tahun. Butuh waktu 6 bulan baginya untuk melukis Yesus dalam gambar itu.

    Kemudian satu persatu dia melukis wajah para rasul. Setelah tujuh tahun tibalah giliran terakhir  mencari wajah yang cocok untuk Yudas Iskariot. Dia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain berhari-hari.

    Akhirnya dia menemukan seorang pria menggelandang di sudut kota Roma. Dia belum lama keluar dari penjara. Penampilannya dianggap cocok mewakili wajah Yudas Iskariot. Dia diminta untuk menjadi model Yudas Iskariot.

    Setelah selesai dilukis, pria itu berkata kepada Leonardo: “Apakah engkau tidak mengenal aku lagi?” Leonardo menggeleng. Pria itu berkata sambil menangis: “Akulah yang menjadi model Yesus tujuh tahun lalu. Oh Tuhan, aku ternyata sudah jatuh terlalu dalam!!”.

    Tradisi Perayaan Ekaristi bisa dirunut jauh ke belakang pada masa Kain dan Habel. Sebagai gembala, setiap tahun Kain mempersembahkan domba terbaik sebagai syukur atas berkat Allah. Upacara ini disebut PESAKH dalam bahasa Ibrani. Cikal bakal kata PASKAH dalam tradisi Kristen.

    Habel sebagai petani juga mempersembahkan hasil terbaiknya berupa roti tak beragi. Kebiasaan ini dikenal dengan nama MASSOTH.

    Perayaan Paskah orang Yahudi pada jaman kemudian merupakan gabungan dari kedua tradisi kuno ini. Perayaan ini mendapat nilai baru karena saat pembebasan orang Yahudi dari perbudakan Mesir diawali dengan perayaan makan paskah bersama. Paskah lalu menjadi kenangan akan pembebasan.

    Tradisi Kristen sekali lagi memberi arti baru karena peristiwa puncak kehidupan Yesus terjadi pada saat perayaan ini. Di sekitar Paskah Yahudi, Yesus makan bersama murid-muridNya kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Kebangkitannya pun terjadi masih dalam suasana Paskah.

    Pada momen itulah, SEDER yang terakhir, Yesus memberikan diri-Nya sebagai kurban pengganti domba paskah, karena saat perjamuan itu tidak ada kurban Paskah yang biasanya dipersembahkan. Yesus mengambil roti dan anggur dengan seruan legendaris yang selamanya hidup dalam hati orang-orang Kristen sampai saat ini: “Inilah tubuh-Ku! Inilah darah-Ku! Makan dan minumlah!”

    Yesus bisa saja cukup meninggalkan ajaran-ajaran-Nya yang kemudian menjadi Kitab Suci seperti dimiliki agama-agama besar saat ini. Yesus bisa saja membangun sebuah monumen sejarah yang nampak dan bisa menjadi warisan dunia.

    Namun Yesus memilih memasuki pribadi manusia dan mengubahnya dari dalam. Melalui santapan ekaristi, tubuh dan darah Yesus, yang tampak dalam rupa roti dan anggur, Yesus ingin menjadi daging dan darah setiap pribadi yang menerimanya. Dengannya proses transformasi menjadi manusia baru lebih mungkin dan lestari.

    Proses evolutif bahkan kadang revolutif menjadi semakin serupa dengan Kristus (Imitatio Cristi) telah melahirkan pribadi-pribadi agung dalam sejarah kekristenan.

    Mereka yang menerima tubuh dan darah Kristus dan menjadi satu dengan Kristus adalah:

    • Mereka yang menerima setiap penderitaan sebagai partisipasi dalam jalan salib Yesus.

    *Mereka yang melayani sesamanya bahkan yang paling rendah dan hina tanpa pamrih, tanpa pamer dan tanpa mengharapkan apa-apa.

    *Mereka yang tidak membalas setiap cambuk atau pukulan penghinaan dari orang lain walaupun sesungguhnya dia tidak pantas menerimanya.

    *Mereka yang berani meninggalkan segala kenyamanan dan kemegahan dunia demi saudara-saudari yang miskin dan terlantar.

    *Mereka yang selalu mengucap syukur betapa pun beratnya beban kehidupan karena menyadari inilah cara Allah memakai dia sebagai alat-Nya.

    *Mereka yang tak pernah lelah menolong dan membela orang-orang yang diperlakukan tidak adil dan yang dikuasai oleh orang lain.

    Mereka yang telah menerima wajah Yesus dalam dirinya dan hidup dalam Yesus, tak mungkin berubah menjadi wajah Yudas, apa pun yang terjadi dalam hidupnya.

    MENGOSONGKAN DIRI – Renungan Hari Minggu Palma

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    “Pada tanggal dua puluh tiga, bulan kedua tahun seratus tujuh puluh satu maka Simon memasuki puri itu dengan kidung dan DAUN PALEM, diiringi kecapi dan dandi, sambil menyanyikan madah gita.” (1 Mak 13,51).

    Penggunaan daun palma dan seruan Hossana dalam prosesi diduga dimulai oleh Simon Makabe ketika dia menyucikan Bait Allah pada tanggal 14 Desember 164 SM. Prosesi ini dibuat karena Bait Allah telah dinodai oleh Antiokhus IV Epifanes pada hari yang sama di tahun 167 SM. Pada masa ini, oleh orang Israel, perayaan semacam ini disebut Pesta Hanukh.

    Masuknya Yesus ke Yerusalem dengan semarak meriah seperti ini, dengan seruan Hosanna, yang berarti “Selamatkanlah Kami”, bisa ditafsirkan oleh penguasa Romawi saat ini sebagai protes terbuka atas kekuasaan mereka. Dengan menunggang keledai, seperti seorang raja sebagaimana diramalkan oleh nabi Zakharia, bisa diartikan pula oleh mereka sebagai tanda revolusi dan pemberontakan, walaupun keledai adalah simbol perdamaian.

    Situasi ini membuat perwakilan pemerintah Romawi menjalin kerjasama dengan para Imam, khususnya Imam Agung Bait Allah, untuk merencanakan penangkapan Yesus. Kolusi antara Pilatus dan Imam Agung Kaiyafas terlihat jelas dalam proses penangkapan, pengadilan dan hukuman mati kepada Yesus.

    Tradisi ini diambil-alih oleh Uskup Yerusalem pada abad keempat dengan prosesi dari Bukit Zaitun menuju Gereja Kenaikan Yesus.

    Bagi orang Kristen saat ini, minggu keenam masa Prapaskah ini dikenal juga sebagai Minggu Palma atau Minggu Sengsara. Minggu ini merupakan pintu masuk ke Pekan Suci.

    Perayaan ini merupakan kombinasi antara dua kontras hidup: kemuliaan dan penderitaan. Dari kemuliaan Anak Allah, Yesus turun ke level manusia melewati jalan penderitaan dan penghinaan.

    Injil Lukas menggambarkan sengsara Yesus sebagai sengsaranya orang tak bersalah (innocent martyr). Hanya dalam Injil Lukas inilah Pilatus tiga kali menyebut Yesus tak bersalah. Bahkan Herodes pun menyebutnya demikian. Tapi Yesus tetap memilih jalan ini.

    Dalam bahasa rasul Paulus, tindakan Yesus ini adalah bentuk “pengosongan diri” (Flp 2,7). Dia meninggalkan segala privilegi sebagai Anak Allah dan merendahkan diri mengambil rupa seorang hamba. Pengosongan diri ini adalah harga yang harus dibayar demi sebuah ketaatan pada rencana Allah untuk menyelamatkan manusia.

    Kisah Yesus sesungguhnya adalah kisah hidup umat beriman juga. Sepanjang minggu ini yang direnungkan bukan saja penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus melainkan juga penderitaan, kematian dan kebangkitan kita dalam Yesus.

    Hidup di dunia seringkali menjadi hidup yang penuh, bahkan sesak. Segala daya upaya kita bertujuan untuk “memenuhi” apa saja: kehendak, keinginan, selera, kerinduan, nafsu, cita-cita dan harapan.

    Mengikuti jalan salib Yesus berarti “mengosongkan” diri. Ini adalah saat bermeditasi, melepaskan diri dari segala macam bentuk keterikatan dengan dunia. Kita membiarkan Allah mengisi hidup kita sesuai rencana dan kehendak-Nya.

    Cara ini akan menjadi kontradiksi bagi cara hidup dunia. Akan tetapi hanya dengan cara ini kita bisa ditinggikan oleh Allah.

    Albert Schweitzer dari Jerman adalah seorang jenius pada masanya. Dia meraih Doktor Filsafat sekaligus Doktor Teologi. Dia juga seorang musisi hebat pada jamannya. Konsernya selalu dipenuhi penonton di Eropah. Hidupnya dipenuhi kemewahan dan kesuksesan.

    Kemudian dia mengambil keputusan mengejutkan. Dia kuliah lagi kedokteran dan lulus menjadi dokter dalam waktu singkat. Setelah itu dia meninggalkan Eropah dan pergi ke pedalaman Afrika (Gabon), membuka klinik dan rumah sakit disana dan menolong orang-orang miskin. Akhirnya dia memperoleh hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1952, karena pengabdiannya yang luar biasa dengan prinsip etika: Penghargaan Pada Kehidupan (“Ehrfurcht vor dem Leben.”).

    Ada ungkapannya yang terkenal setiap kali dia berhasil menyembuhkan orang sakit: “Alasan mengapa engkau tidak lagi sakit adalah karena Tuhan Yesus memberitahu Dokter yang baik dan istrinya untuk datang ke tepi sungai Ogooue untuk menolongmu. Jika anda berutang terimakasih, maka berterimakasihlah kepada Tuhan Yesus”.

    Dia benar-benar mengosongkan diri.

    RUMAH: SEKOLAH CINTA DAN PENGAMPUNAN – Renungan Minggu Prapaskah V

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Gary Dearing menceritakan sebuah kisah tentang Kolonel Angkatan Udaranya, yang menjabat sebagai inspektur jenderal komandonya, dan memberi perhatian khusus pada bagaimana personel mengenakan seragam mereka.

    Pada suatu kesempatan Kolonel melihat seorang penerbang junior melakukan pelanggaran. ‘Penerbang,’ dia berteriak, ‘Apa yang Anda lakukan ketika saku kemeja tidak dikancingkan?’ Penerbang yang terkejut itu menjawab, ‘Kancingkan, Pak!’

    Kolonel menatap matanya dan berkata, “Lalu!”

    Mendengar itu, penerbang dengan gugup meraih dan mengancingkan saku baju Kolonel.”

    Kisah Yesus dan wanita pendosa ini ada dalam Injil Yohanes 8,1-11 saat ini. Kisah ini tidak dapat disangkal kaya akan makna teologis dan moral, dan penuh drama psikologis dan manusiawi.

    Dalam episode ini Yesus tampak terlalu “lunak” terhadap dosa. Mungkin karena alasan ini, cerita itu untuk sementara dikesampingkan oleh Gereja awal (tidak ditemukan dalam manuskrip Yohanes yang tertua) dan baru kemudian diterima sebagai kisah yang kanonik.

    Benarkah Yesus lunak terhadap dosa? Sebetulnya tidak demikian. Pertama, tuntutan para Ahli Taurat dan orang Farisi sebetulnya tidak terlalu fair. Jika merujuk pada hukum Musa, maka yang harus dihukum bukan hanya wanita melainkan juga pelaku pria. (Im 20,10; Ul 22,22). Nyatanya mereka hanya berani dengan wanita lemah. Kedua, tidak ada contoh tentang perlakuan demikian untuk yang berzinah. Melempari batu sampai mati biasanya terjadi kepada orang yang menghujat atau menghina.

    Ada ungkapan yang berbunyi: “Adalah hal yang buruk jika seorang berdosa jatuh ke tangan sesama pendosa” (F.B.Meyer). Artinya, keadaan bisa lebih mengancam nyawa karena yang jadi hakim adalah penjahat sendiri.

    Jebakan mereka pada Yesus nampaknya sulit dihindarkan. Akan tetapi Yesus terlalu pintar untuk dijatuhkan dengan strategi macam ini.

    Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu. (Yoh 8,7).

    Kata-kata-Nya bagaikan peluru yang menembak relung kesadaran mereka. Alih-alih memusatkan seluruh perhatian, energi dan kemarahan kepada wanita yang berdosa, Yesus menuntut mereka untuk melihat diri sendiri, merenungi diri sendiri: apakah aku juga orang berdosa?

    Santo Agustinus dengan indahnya menggubah kata-kata Yesus dengan nada lain: “Silahkan wanita ini dihukum, tapi jangan oleh pendosa. Hukum harus dilaksanakan tapi jangan oleh mereka yang melanggarnya”.

    Kalimat Yesus membuat para penyerangnya menjadi terdiam. Lalu pergi diam-diam, mulai dari yang tertua sampai yang muda.

    Kalima Yesus berikutnya: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang”. Mungkin ada yang menganggap bahwa Yesus terlalu lunak. Tetapi dengan mengatakan secara tegas, “Jangan berbuat dosa lagi”, Yesus mengakui bahwa wanita itu memang berbuat dosa. Yesus tidak menyangkal dosa wanita itu.

    Yesus saat itu tidak mau fokus pada dosa wanita itu, karena Yesus tahu pengalaman wanita itu, mulai dari penangkapan dan diseret ke depan Yesus sambil diteriaki, sudah menjadi trauma tersediri baginya. Semua itu sudah cukup sebagai hukuman bagi wanita ini.

    Rangkaian kisah dramatis ini mengajarkan kita tentang kemurahan hati Allah yang luar biasa. Paus Fransiskus dalam kotbah minggu perdana setelah dilantik sebagai Paus mengatakan: “Allah tidak pernah lelah mengampuni kita,…kitalah yang justru lelah memohon ampun kepada-Nya”.

    Rumah adalah sekolah pertama orang Kristiani untuk belajar cinta dan pengampunan. Jangan biarkan anak-anak keluar dari rumah sebelum lulus ujian ini.

    BERSALAH DAN MERASA BERSALAH – Renungan Minggu Prapaskah IV

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Raja Prusia, Frederick Agungt, pernah mengunjungi penjara Berlin. Semua tahanan berlutut di hadapannya sambil menyatakan diri tidak bersalah – kecuali satu orang, yang tetap diam. Frederick memanggilnya, “Mengapa kamu di sini?” “Perampokan bersenjata, Yang Mulia,”  jawabnya. “Dan apakah kamu merasa bersalah?” “Ya memang, Yang Mulia, saya pantas menerima hukuman saya.”

    Frederick kemudian memanggil sipir dan memerintahkannya, “Lepaskan penjahat yang bersalah ini segera. Saya tidak akan membiarkan dia ditahan di penjara ini di mana dia akan merusak semua orang tak bersalah yang baik yang ada di dalam!”

    Kisah “Anak Yang Hilang” , dalam injil hari ini (Luk 15,1-32) sejatinya mendapat banyak pujian sepanjang sejarah penafsiran Kitab Suci. Charles Dickens misalnya menyebut kisah ini sebagai “Cerpen teragung di dunia”. Kadang disebut juga Injil dari Injil. Rembrant  seorang pelukis termasyur dari Belanda pada abad 17 melukis kisah ini dengan judul: Kembalinya anak yang hilang.

    Singkatnya para ahli Kitab Suci dan para seniman besar mengangkat tema ini dengan berbagai cara sehingga kisah ini sungguh melekat dan hidup di hati orang beriman selama berabad-abad.

    Ada tiga karakter utama dalam kisah ini. Satu, anak bungsu yang bertoba. Dua, ayah yang mengampuni. Tiga, pembenaran diri oleh anak sulung.

    Satu hal yang menarik disini tetapi kurang mendapat perhatian adalah bahwa anak yang hilang sesungguhnya ada. Yang bungsu maupun yang sulung. Setelah yang bungsu pulang, yang sulung malah pergi dalam kekecewaan atas sikap baik dan pemaaf ayahnya.

    Meskipun kisah anak yang hilang sering diberikan sebagai contoh pertobatan, itu sebenarnya adalah kisah tentang bagaimana Tuhan mengampuni dan menyembuhkan orang berdosa yang bertobat. Seperti Tuhan, ayah dalam perumpamaan itu siap untuk mengampuni kedua putranya yang “berdosa” bahkan sebelum mereka bertobat.

    St Thomas Aquinas menjelaskan bahwa Tuhan sudah mengampuni kita segera setelah kita bertobat, bahkan sebelum kita mengaku dosa atau melakukan penebusan dosa.

    Pengampunan yang ditawarkan ayah dalam perumpamaan ini sejajar dengan pengampunan yang Tuhan tawarkan dalam kehidupan nyata. Itulah sebabnya Yesus dalam Injil sering menggambarkan Tuhan lebih seperti seorang pengacara pembela daripada seorang jaksa penuntut. Janganlah kita menjatah rahmat Tuhan, karena Dia adalah kekasih yang “hilang”.

    Kebebasan yang kita miliki membawa kita pada dua pilihan sikap. Pertama, pergi dan befoya-foya dengan harta kekayaan dan dalam kehancuran moral tetapi pulang dengan penyesalan dan tobat seperti anak bungsu. Atau yang kedua, menjadi anak yang baik dan setia di rumah tetapi dengan menimbun kepahitan dan siap membuat perhitungan kapan saja, seperti anak sulung.

    Kebaikan dan murah hati Tuhan kadang tidak masuk akal dan pertimbangan kita. Tapi itulah kekuasaan Tuhan yang tak bisa kita ganggu gugat.

    Karena itu lebih baik bersalah dan merasa bersalah karena hal ini seringkali lebih mudah membuat kita bebas, daripada tidak bersalah dan merasa tidak bersalah.

    Tapi siapa sih yang tidak pernah salah?

    PERTOBATAN – Renungan Minggu Prapaskah III

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Orang Yahudi mengenal konsep “pertobatan” yang sangat mungkin diadopsi juga oleh orang Kristen. Konsep pertobatan Yahudi pada zaman Yesus dikenal dengan istilah TESHUVÀ. Teshuva adalah konsep kunci dalam pandangan para rabi tentang dosa, pertobatan, dan pengampunan.

    Para rabi Yahudi mengajarkan bahwa pertobatan membutuhkan lima elemen: pengakuan akan dosa seseorang sebagai dosa; penyesalan karena telah melakukan dosa; berhenti mengulangi dosa ini; ganti rugi untuk kerusakan yang dilakukan oleh dosa jika memungkinkan; dan pengakuan.

    “Pengakuan” bagi orang Yahudi memiliki dua bentuk: ritual dan pribadi. Pengakuan ritual terjadi saat pembacaan liturgi pengakuan pada saat-saat yang tepat dalam kehidupan doa komunitas. Pengakuan pribadi terjadi sebagai komunikasi pribadi di hadapan Tuhan sesuai kebutuhan atau bisa juga memasukkan pengakuan pribadi ke dalam liturgi pada saat-saat yang ditentukan.

    Seseorang yang mengikuti langkah-langkah teshuvá ini disebut sebagai “peniten.”

    Sebenarnya, ungkapan atau ajakan untuk bertobat yang dilontarkan Yesus kepara pendengarnya yang adalah Yahudi seperti itu caranya. Bukan sesuatu yang baru atau asing.

    “Jikakalau kamu tidak BERTOBAT, maka kamu semua akan binasa dengan cara demikian” (Luk 13,3).

    “Bertobat” (dalam bahasa Yunani, “metanoia”), menyiratkan tidak hanya penyesalan atas masa lalu tetapi pertobatan radikal dan perubahan total dalam cara hidup kita saat kita menanggapi dan membuka diri terhadap kasih Allah.

    Pertobatan, atau berpaling dari satu jalan ke jalan lain, bukanlah terutama menemukan Tuhan. Yang lebih tepat adalah “ditemukan oleh Tuhan”. Pertobatan ibarat, berjalan satu langkah menuju Tuhan dan Allah berjalan sembilan langkah menuju kita.

    Yesus memanggil kita hari ini untuk “bertobat” – bukan tentang perubahan hati satu kali saja, tetapi transformasi hidup kita setiap hari secara berkelanjutan.

    Thomas Merton menulis: “Kita bertobat tidak hanya sekali dalam hidup, tetapi berkali-kali, sebuah seri pertobatan, kecil dan besar, tanpa akhir. Sebuah revolusi mendalam yang membimbing kita pada transformasi dalam Kristus”.

    Bertobat bukan karena adanya ancaman malapetaka, kematian atau neraka. Malapetaka atau kematian tidak selalu menjadi hukuman atas dosa. Dosa dapat menuntun orang pada tragedi, tetapi tidak semua tragedi hidup terjadi karena dosa.

    Bertobat lebih karena menyadari CINTA TUHAN, yang selalu setia menunggu dan mengampuni kembali. Pertobatan sejati inilah yang bisa menghasilkan buah yang baik.

    Orang yang pulang ke rumah karena ketakutan berbeda dengan orang yang pulang ke rumah karena menyadari disitu ada cinta dan belaskasihan.

    Pulanglah sebelum terlambat karena tragedi atau kematian bisa terjadi kapan saja dan dengan cara apa saja.

    Ada seorang gadis yang bercerita kepada pastornya tentang dosa kesombongan. Dia berkata: “Setiap hari minggu, saat di dalam Gereja dan melihat sekeliling, saya selalu berpikir bahwa saya adalah gadis paling cantik disitu. Saya selalu berusaha untuk tidak berpikir demikian tapi tidak bisa. Apakah ini termasuk dosa besar?”

    Pastor menjawab: ” Itu bukan dosa besar, anakku, tapi hanya sebuah kesalahan besar”.

    TRANSFORMASI – Renungan Minggu Prapaskah II

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Kisah Injil minggu pertama Prapaskah memperkenalkan kepada kita kemanusiaan Yesus dengan kisah pencobaan di padang gurun. Pada minggu kedua ini kita merenungkan keilahian Yesus dengan kisah penampakan kemuliaan di atas gunung (Tabor).

    Kisah ini biasa disebut transfigurasi atau perubahan wujud. Karena yang terjadi adalah wujud Kristus manusia nampak dalam keilahian maka peristiwa ini bisa disebut juga sebagai Kristofani. Peristiwa ini dialami Yesus ketika Dia sedang berdoa.

    Penampakan keilahian Yesus terjadi sekurang-kurangnya karena dua alasan:
    Pertama, Dia ingin berbicara dengan Allah Bapa yang mengutusnya, untuk memastikan rencana Allah: penderitaan, kematian dan kebangkitan.

    Kedua, untuk meyakinkan para murid akan status ilahi-Nya, sehingga mereka tidak lagi tergoda untuk mengejar impian politik mereka berdasarkan pemahaman yang keliru tentang Yesus sebagai Mesias politik. Dengan ini mereka juga dikuatkan untuk menghadapi saat-saat penderitaan Guru dan Sahabat mereka, Yesus.

    Ketiga, penampakan Yesus dalam kemuliaan surgawi ini juga untuk menunjukkan bahwa Dia adalah orang benar di mata Allah. Paham Yudaisme abad pertama percaya bahwa mereka yang masuk surga akan memperoleh tubuh surgawi (1 Kor 14, 42-49).

    Hal yang terakhir ini bisa menjelaskan mengapa Musa dan Elia yang tampil saat itu. Di gunung Sinai, setelah perjumpaan dengan Allah, wajah Musa bersinar dengan cemerlang (Kel 21,1; 34,25). Di atas gunung Horeb kemuliaan Allah lewat di depan Musa dalam bentuk “angin sepoi-sepoi basa” (1 Raj 19,12). Dua pribadi ini merupakan tokoh Perjanjian Lama yang mengalami kemuliaan Allah secara langsung.

    Hal yang paling menarik disini adalah bahwa kemuliaan Allah dialami secara nyata dalam DOA. Tentu sangat mungkin bahwa Allah dialami melalui pengalaman hidup harian yang biasa-biasa saja. Tetapi dalam DOA, Allah bisa menampakkan kemuliaan-Nya, dan dengan itu hati kita tertuju pada hal-hal surgawi ketimbang duniawi.

    Seperti Yesus, hari-hari ke depan mungkin akan menjadi sulit bahkan penuh dengan ketakutan dan penderitaan. Tapi mengetahui dengan pasti bahwa ini adalah cara Allah untuk membawa kita pada kemuliaan surgawi akan membuat kita kuat dan bertahan.

    Beriman itu biasa, tapi tetap setia dalam iman saat hidup menjadi berat dan sulit, itu luar biasa.

    Kekristenan bukan sejenis mie instan, disiram air langsung jadi makanan enak. Kekristenan merupakan proses transformasi hari demi hari, melalui pencobaan, kesulitan dan penderitaan.

    GODAAN SETAN – Renungan Minggu Prapaskah I

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Santo Antonius dari Mesir pada abad ke-3 meninggalkan hidup normalnya di tengah masyarakat dan tinggal di padang gurun sebagai pertapa. Dia berpikir dengan cara itu dia terhindar dari GODAAN SETAN. Setan dan kawan-kawannya ternyata mengikuti dia. Untuk menghindarkan dia dari hidup suci, mereka menyerang dia dengan segala cara; melalui penampakan yang menakutkan sampai kekerasan fisik.

    Ketika dia berpuasa atau berdoa lebih keras mereka menggoda dia supaya jangan terlalu berpuasa dan berdoa. Jika dia tidak mampu ditipu dengan kesombongan, mereka membuat dia hidup dalam kekecewaan. Antonius terus bertahan, tapi dia benar-benar berjuang sendirian.

    Suatu hari ketika kuasa neraka mencekik dia dengan sisa sedikit sekali kemungkinan untuk hidup, suatu cahaya dari surga tiba-tiba turun menerangi dia dan setan-setan melarikan diri.

    Sadar bahwa dia ditolong oleh kuasa surga, Antonius menyeru kepada Allah: “Dimanakah Engkau Tuhanku dan Guruku? Mengapa Engkau tidak datang sejak awal untuk menghentikan penderitaanku?”.

    Allah menjawab: “Antonius, Aku selalu disini, tetapi Aku ingin melihat bagaimana engkau bertindak. Sekarang, karena Aku tahu bahwa engkau bertahan dan tidak menyerah, Aku akan menjadi penolongmu selamanya, dan Aku membuat engkau termasyur dimana-mana”.

    Setiap orang pasti mengalami godaan setan. Yesus, dalam bacaan Injil hari ini, mengalami godaan itu ketika dia berdoa dan berpuasa selama 40 hari di padang gurun. Gambaran Injil Mateus dan Lukas tentang drama godaan yang dialami Yesus, adalah sebuah penampakan akan perjuangan jiwa dan batin Yesus menghadapi godaan-godaan yang datang selama masa hidup dan karya-Nya. Disini terlihat jelas bagaimana setan hendak membatalkan usaha Yesus untuk memenuhi kehendak Bapa di surga untuk menyelamatkan manusia dari dosa.

    Secara garis besar dapat dilukiskan bahwa Yesus mau ditarik dalam ranah Mesias politik sebagaimana harapan bangsa Israel. Yesus juga digoda untuk memanfaatkan kuasa ilahi demi popularitas pribadi. Yesus bahkan mau dijauhkan dari penderitaan. Semua ini ditolak oleh Yesus karena menyimpang dari kehendak Bapa yang mengutus Dia.

    Menariknya, godaan-godaan yang dialami Yesus bukan untuk melakukan dosa. Ini adalah godaan dalam lingkup ketaatan kepada kehendak Allah. Menurut para Bapa Gereja, godaan-godaan ini berpusat pada keinginan daging (roti untuk dimakan), keinginan mata dan hati (menguasai semua kerajaan) dan kesombongan hidup (menjatuhkan diri dari bubungan bait Allah karena akan ditolong).

    Yesus berhasil mengatasi godaan-godaan ini karena Dia tahu siapa diri-Nya, Dia tahu tujuan hidup-Nya dan Dia tahu kehendak Allah atas diri-Nya. Ketiga aspek ini adalah senjata utama melawan godaan-godaan setan.

    Hidup kita bisa jadi juga penuh godaan. Dunia ilmu pengetahuan yang semakin maju seringkali mengabaikan kehadiran setan. Bahkan seringkali setan dianggap tidak ada. Setan dianggap produk imajimasi liar para agamawan.

    Akan tetapi faktanya dunia tidak hanya tentang apa yang kelihatan atau disentuh. Dunia juga berkaitan dengan apa yang dirasakan; membuat takut, cemas dan gelisah. Ini bukan sekedar simptom psikologis tetapi karena sesuatu yang lain di luar diri kita.

    Mengabaikan kehadiran setan berarti juga meniadakan salahsatu alasan mendasar lahirnya agama-agama di dunia. Percaya adanya setan dan godaannya tidak membuat orang menjadi bodoh. Yesus percaya akan adanya GODAAN SETAN, mengalahkannya, dan karenanya Dia diingat dan dikenang sampai hari ini. Yesus hidup abadi karena tidak dikuasai setan.

    Lebih baik membuat SETAN tetap berada di luar diri kita daripada berjuang melawan setan di dalam diri kita.