Rabu, Januari 19, 2022
More
    Beranda blog

    MENGUNDANG YESUS DAN MARIA-Renunga Hari Minggu Biasa II

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Seorang anak usia 8 tahun diundang wawancara dalam acara Late Show, sebuah acara televisi terkenal di Amerika. Anak ini diundang karena menyelamatkan dua temannya dalam tambang batubara di luar kota tempat tinggalnya di West Virginia. John Carson, pemandu acara ini, kemudian menyadari bahwa anak ini seorang Kristen. Dia lalu bertanya apakah anak ini ikut Sekolah Minggu, dan dijawab iya.

    “Apa yang engkau pelajari dari Sekolah Minggu”, tanya John. “Minggu lalu”, jawab anak itu, ” kami belajar tentang Yesus diundang ke pernikahan di Kana dan mengubah air menjadi anggur”. John lalu bertanya: “Apa yang engkau pelajari dari kisah ini?”. Anak itu berpikir sejenak, mengusap rambutnya, lalu menjawab: “Jika engkau ingin mengadakan pernikahan, jangan lupa mengundang Yesus dan Maria”. Semua penonton terpukau dengan jawabannya yang tak terduga dan spontan bertepuk tangan.

    Kisah Injil hari ini tentang pernikahan di Kana (Yoh). Ini merupakan tanda ajaib atau mukjizat pertama dari tujuh mukjizat Yesus dalam Injil Yohanes. Tidak ada penjelasan mengapa Yesus dan Maria diundang ke pesta ini. Sangat mungkin Maria merupakan keluarga dekat pengantin dan juga terlibat langsung dalam urusan perjamuan ini, bukan sekedar tamu.

    Pernikahan biasanya diadakan mulai hari Rabu dan berlangsung selama tujuh hari. Sepanjang tujuh hari ini tamu akan datang dan mengucapkan selamat, memberi hadiah serta menikmati suguhan makanan dan minuman.

    Pada momen itulah tuan pesta kehabisan anggur. Ini sebuah kesulitan besar bagi pengantin dan menunjukkan bahwa mereka dari keluarga miskin. Kehabisan anggur akan sangat memalukan dan merusak nama baik tuan pesta dan pengantin.

    Sadar akan situasi ini Maria datang kepada putranya, Yesus. Percakapan mereka nampak aneh. Sapaan Yesus kepada ibu-Nya, “Mau apakah engkau daripadaku, wanita”. Harafiahnya berbunyi: “Ada apa antara engkau dan aku, hai wanita?”. Ini bisa dimengerti sebagai penegasan Yesus bahwa dia dan ibunya adalah tamu. Dan tamu tidak dalam kapasitas untuk menyumbang kekurangan pesta.

    Ungkapan lain, “saatku belum tiba” bisa dimengerti dalam konteks jauh, yakni penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga. Inilah saat dimana Yesus sungguh-sungguh menunjukkan siapa diri-Nya dengan segala kemampuan dan kekuasaan-Nya.

    Meski ada nada penolakan, Maria tetap yakin bahwa Yesus akan membantu tuan pesta, dan karena itu tetap mengatakan kepada para pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu”.

    Kalimat singkat Maria kepada para pelayan mempunyai makna yang dalam dan luas. Dalam Kitab Suci, inilah satu-satunya perintah Maria. Disini Maria menunjukkan keyakinan sekaligus iman bahwa Puteranya mempunyai kuasa yang tak terduga. Selain itu dia juga tahu hati Puteranya akan tergerak dan tidak tega membiarkan pengantin yang harusnya bersukacita malah mendapat malu. Peran pengantara Maria disini menjadi sangat krusial sehingga layak disebut Mediatrix antara manusia dengan Yesus.

    Kesulitan dalam hidup perkawinan akan selalu ada, bahkan bisa datang sejak awal perkawinan. Santo Yohanes Maria Vianney selalu mengingatkan agar mengundang Yesus dan Maria agar tinggal dalam rumah kita. Karena itu dalam rumah perlu diciptakan suasana doa, membaca Kitab Suci, saling menghargai, dan saling melayani dalam semangat pengorbanan. Hanya dengan ini kehadiran Yesus dan Maria dapat sungguh dirasakan.

    PETRUS DONDERS, BEATO YANG PERNAH PUTUS SEKOLAH

    0

    Petrus Donders berasal dari keluarga yang sangat miskin. Ketika Donders dilahirkan pada tanggal 27 October 1809 di Tilburg, Belanda, Arnold Denis Donders, ayahnya dan Petronella van den Brekel, ibunya tinggal di sebuah rumah sederhana beralaskan tanah yang hanya memiliki satu kamar. Ayahnya bekerja sebagai tukang tenun tradisional yang mengandalkan keterampilan tangan. Alhasil, pemasukannya sebagai tukang tenun sama sekali tidak dapat diandalkan untuk bisa menghidupi keluarganya pada waktu itu. Rupanya kehidupan Donders memang selalu diwarnai dengan situasi kemiskinan dan penderitaan yang ekstrim bahkan sudah sejak dari kelahirannya.

    Ketika Donders memasuki usia sekolah, walaupun dengan perjuangan ekstra keras, ayah Donders akhirnya berhasil mendaftarkan Donders di sebuah sekolah dasar di kota tempat Donders dilahirkan. Awalnya, walaupun harus berjuang keras mendapatkan uang untuk membiayai sekolah anaknya dari pekerjaan menenunnya, beban dari biaya sekolah itu rupanya bisa ditanggung. Namun, ketika Martin, adik bungsu Donders yang lahir beberapa tahun setelah Donders juga memasuki usia sekolah, masalah biaya sekolah kedua anak laki-lakinya menjadi masalah serius untuk Arnold Donders. Sebagai anak sulung Donders segera tanggap akan kesulitan yang sedang dihadapi ayahnya dan merasa bertanggung jawab untuk ikut membantu kedua orangtuanya menghidupi keluarga mereka. Maka Donders pun membuat sebuah keputusan ekstrim. Di usianya yang ke dua belas dia memutuskan untuk berhenti sekolah dan bekerja membantu kedua orangtuanya.

    Donders, dalam banyak hal, tidak dapat diandalkan. Terlahir dari keluarga miskin membuat Donders sering mengalami masalah kesehatan sejak dia masih kecil. Selain itu kemampuan otaknya juga pas-pasan. Satu-satunya hal yang menonjol dari Donders adalah kepekaan dan kebaikan hatinya yang terinspirasi oleh kehidupan rohaninya yang mendalam. Tetapi justru kehidupan rohaninya yang mendalam inilah yang kemudian menjadi ladang subur tumbuhnya benih panggilan imamat di dalam diri Donders. Donders berniat jadi imam dan dia bertekat untuk menjadikan mimpinya ini kenyataan walaupun dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya mewujudnyatakan mimpinya ini.

    Mimpi Donders baru mendapat sedikit titik terang sepuluh tahun kemudian. Waktu itu Pastor paroki Donders yang kagum dengan kehidupan rohani Donders memutuskan untuk membantu melobi pastor rektor seminari menengah di Beekvliet di Sint Michiels Gestel agar Donders diijinkan untuk mengenyam pendidikan di seminari itu, tidak sebagai anak seminari tetapi sebagai pelayan yang bekerja untuk seminari. Lobi pastor itu berhasil. Dengan demikian di siang hari Donders bekerja sebagai pelayan sedangkan di malam hari dia diberi kesempatan untuk belajar di seminari itu. Ketekunan dan kerja keras Donders ini akhirnya membuahkan hasil. Setelah beberapa tahun mengabdi sebagai pelayan sambil “curi ilmu” di seminari itu, Donders akhirnya di terima secara resmi sebegai anak seminari.

    Di tahun terakhirnya di seminari, uskup Jacobus Groof , Vikaris Apostolik Suriname yang waktu itu menjadi salah satu daerah koloni Belanda mengunjungi seminari dan pada kesempatan bertatap muka dengan anak-anak seminari mensharingkan pengalaman misinya di Suriname dan sekaligus meminta tenaga relawan dari seminaris yang kelak setelah ditahbiskan akan diutus ke Suriname. Dari semua anak seminari yang pada saat itu ikut mendengar sharing dari uskup Groof hanya Donders yang merelakan dirinya untuk diutus ke Suriname bila kelak dia ditahbiskan jadi imam.

    Donders ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 5 Juni 1841 dan setahun sesudahnya dikirim ke Suriname – Amerika Selatan. Donders tiba di Paramaribo, ibukota Suriname pada tanggal 16 September 1842. Di sini dia dia ditugaskan sebagai pastor di salah satu paroki Vikariat Apostolic Suriname yang melayani 7000-8000 umat paroki yang sebagian besarnya adalah para budak dari Afrika yang dipekerjakan secara paksa di perkebunan-perkebunan milik Belanda. Tidak butuh waktu lama bagi Donders untuk bisa merasakan dahsyatnya penderitaan para budak Afrika di daerah koloni Belanda itu. Jumlah budak seluruhnya yang hampir mencapai 50000 orang itu dipekerjakan di lebih dari 500 perkebunan dengan tidak ada sama sekali jaminan hidup yang layak untuk para pekerja. Di salah satu suratnya yang dia kirim ke Belanda Donders bercerita: “Jika para pekerja yang banyak ini mendapat pelayanan kesehatan setara dengan pelayanan kesehatan yang diberikan untuk binatang-binatang peliharaan di Belanda, kehidupan para pekerja ini akan jauh lebih baik.”

    Selama kurang lebih 14 tahun Donders mengabdikan diri melayani para pekerja ini. Dia mengunjungi mereka dari satu perkebunan ke perkebunan yang lain dengan jarak dari satu perkebunan ke perkebunan yang lain beberapa kilometer jauhnya dan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Di setiap kunjungannya dia mengajari mereka katekese sederhana, mengajari mereka berdoa dan membaptis mereka. Menyadari kenyataan bahwa dia sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa untuk meringankan penderitaan fisik dan beban hidup ekonomi orang-orang yang dilayani selalu menjadi ganjalan hati Donders. Beberapa kali Donders berusaha untuk meminta bantuan pemerintah setempat untuk bisa lebih memperhatikan nasib hidup para pekerja di perkebunan-perkebunan itu. Usaha Donders ini tidak hanya menemui jalan buntu tetapi lebih dari itu bahkan menyulut kebencian dan kecurigiaan dari pemerintah setempat dan para pemilik perkebunan.

    Di tahun ke empat belas pengabdiannya di Paramaribo, Donders dipindahkan ke Batavia karena di sana ada kebutuhan pastoral yang lebih mendesak, pastoral untuk orang-orang yang mengidap penyakit kusta. Rupanya uskup sudah meminta pastor lain untuk ditugaskan di koloni para penderita kusta itu namun tidak ada satu pastor pun yang berani menerima tugas itu. Menurut cerita, tidak ada satu pastor pun yang bisa bertahan lebih dari tiga tahun di tempat ini. Bahkan ada juga kabar bahwa pernah ada pastor yang dibunuh di tempat itu. Semua cerita ini menjadi alasan masuk akal mengapa pastor lain menolak penugasan itu. Namun hal ini tidak berlaku bagi Donders. Cerita-cerita ini malah membuat dia semakin bersemangat menerima tugas barunya.

    Melayani para penderita kusta yang miskin itu membuat Donders teringat akan keluarganya sendiri. Dia tahu betul betapa beratnya penderitaan mereka yang hidup dalam rumah sederhana beralaskan tanah karena dia sendiri pernah hidup seperti itu. Dia juga menyadari, penderitaan orang-orang yang sedang dia layani ini bahkan jauh melebihi penderitaannya sendiri karena penyakit kusta yang mereka derita. Maka Donders mengabdikan seluruh diri dan hatinya untuk sebisa mungkin meringankan penderitaan mereka. Dia tidak merasa jijik ketika dia harus membersihkan luka para penderita kusta itu dengan perlengkapan kesehatan seadanya. Bahkan ada orang kusta yang memberi kesaksian bahwa Pater Donders tidak hanya membersihkan luka-luka mereka, dia juga membersihkan rumah tempat mereka tinggal. Anehnya apa yang dilakukan Donders ini malah tidak disukai oleh pemerintah setempat. Mereka menganggap usaha Donders yang merawat para penderita kusta itu justru memperpanjang umur mereka dan dengan demikian menambah pengeluaran pemerintah untuk menanggung hidup para penderita kusta itu.

    Pada tahun 1866 serombongan missionaris Redemptoris tiba di Suriname untuk memulai misi mereka di sana. Kehadiran para Redemptoris ini membawa harapan baru di dalam diri Donders. Dia selalu merasa pelayanannya pada orang kusta itu akan lebih efektif kalau dilakukan oleh beberapa orang imam dari sebuah tarekat religius. Maka tidak lama setelah Redemptoris tiba di Suriname, Donders melamar masuk menjadi anggota serikat itu bersama dengan salah satu imam projo yang lain. Donders mengikrarkan kaul pertamanya di kongregasi Redemptoris pada tanggal 24 Juni 1867.

    Sebagai Redemptoris, selain melanjutkan kegiatan pastoralnya di tengah para penderita Kusta, Donders juga mengambil waktu mengunjungi suku asli Indian yang tinggal di tengah hutan di antara perkebunan-perkebunan yang pernah Donders kunjungi. Dia ingin mewartakan kabar gembira Injil bagi orang-orang Indian yag masih menganut paham animisme dan masih kental dengan praktek poligami. Usaha ini tidaklah gampang karena mewartakan Injil untuk orang-orang asli Indian itu sama dengan mempertaruhkan nyawa. Namun Donders tidak menyerah. Salah satu anggota Redemptoris di Suriname waktu itu bercerita bahwa Pater Donders bahkan ikhlas kalau memang dia harus mempertaruhkan nyawanya. “Toh Yesus juga memberikan nyawaNya untuk keselamatan orang-orang itu walaupung orang-orang asli itu lebih suka whisky dari pada liturgy”, kata Donders seperti yang dikutip teman sekomunitasnya.

    Donders memang mengabdikan lebih banyak hidupnya sebagai Redemptoris melayani orang-orang kusta dibandingkan dengan orang-orang asli Indian. Ketika memasuki usianya yang ke 70, pemimpin biaranya meminta Donders berhenti dari kegiatan pelayanannya untuk orang-orang kusta dan menarik Donders dari Batavia kembali ke Paramaribo. Namun, beberapa tahun setelah itu, ketika dia menyadari bahwa dia sendiri juga terjangkit penyakit kusta, Donders memutuskan untuk kembali ke Batavia dan mengabdikan dirinya untuk melayani orang-orang kusta di sana sampai akhir hidupnya. Dia kembali ke Batavia pada tahun 1885 dan tinggal di sana sebagai salah satu penderita kusta sambil tetap melayani orang-orang kusta yang lain. Pada tanggal 14 January 1887 Pater Donders meninggal dunia karena penyakit kusta yang dideritanya. Kesaksian hidup, kesucian dan terlebih pelayanannya membuat takhta suci akhirnya menyetujui usulan dari kongregasi Redemptoris untuk menjadikan Pater Donders beato. Dia dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 23 May 1982 dan menetapkan tanggal kematian Donders, 14 Januari sebagai tanggal untuk gereja semesta merayakan pesta Beato Petrus Donders.

    Mans Wenge CSsR

    HIDUP BARU MELALUI PEMBAPTISAN

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Ada hal yang menarik dari kisah pembaptisan Yesus: Pertama, jika kisah kelahiran Yesus hanya ada pada dua Injil (Mateus dan Lukas) maka pembaptisan Yesus ada pada keempat Injil. Ini sama dengan kisah sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus. 

    Kedua, pembaptisan sebagai tradisi juga menjadi tradisi tertua selain perjamuan kudus. Di luar dua kisah ini, pembaptisan dan sengsara-wafat-kebangkitan Yesus, hanya kisah “memperbanyak roti dan ikan-memberi makan banyak orang” yang sungguh tercatat dalam keempat Injil.

    Apa yang sesungguhnya terjadi dalam peristiwa pembaptisan Yesus? Peristiwa ini sangat bernada simbolis. Ada tiga komponen kunci untuk bisa memahaminya: LANGIT TERBUKA, ROH ALLAH, dan BURUNG MERPATI.

    Dalam pikiran kosmologi Yahudi, ada paham tentang 3 lapisan dunia. Dunia atas yaitu SURGA, dunia tengah yakni MANUSIA DAN CIPTAAN LAIN, dan dunia bawah yaitu ORANG MATI. Bagian atas adalah tempat berdiamnya Allah dan semua makhluk surgawi-malaikat dan para kudus.

    Ketika Yohanes tampil sebagai nabi di tepi sungai Yordan, mengajak orang untuk bertobat dan dibaptis, SURGA telah tertutup selama ratusan tahun. Tertutup artinya apa?

    Selama ratusan tahun tidak ada NABI di Israel. Selama beberapa generasi tidak ada orang yang memberi kesaksian kenabian sejak tumbangnya monarki pada tahun 587 SM.

    Jika tidak ada nabi maka itu berarti tidak ada komunikasi antara manusia dengan Allah atau Yahwe selama itu. Satu-satunya mediator antara Allah dan manusia-orang Yahudi adalah nabi. Tidak ada yang lainnya. DIAMNYA Allah selama ratusan tahun benar-benar menimbulkan tanda tanya bagi bangsa Israel.

    Karena itu, ketika Lukas menulis bahwa langit terbuka saat Yesus dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan, hal itu menandai sebuah peristiwa khusus dalam sejarah pewahyuan.

    Terbukanya langit berarti bahwa Allah sekali lagi mengawali KOMUNIKASI dengan umat manusia. Dia pada akhirnya menjawab doa dan harapan umat manusia sejak jaman Yesaya dan Pemazmur. Allah secara aktif TERLIBAT LAGI dalam kehidupan umat manusia melalui seorang yang dipilihnya secara khusus.

    ROH ALLAH nampak dalam rupa BURUNG MERPATI dan terbang di atas kepala Yesus di atas permukaan air. Gambaran ini mengingatkan kita akan dua kisah dalam Perjanjian Lama:

    Pertama, dalam Kejadian 1,1-2 yang berbicara tentang Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air saat penciptaan awal. Sekarang Yesus, atau saat pembaptisannya, merupakan sebuah kreasi baru dari dunia yang baru. Dunia lama dianggap sudah berlalu.

    Disini pembaptisan Yesus bisa dimengerti sebagai awal hidup yang baru bagi manusia.

    Selain itu, penampakan Roh Allah dalam rupa burung merpati juga mengingatkan kita akan kisah air bah dan nabi Nuh: “Ia menunggu tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya burung merpati itu dari bahtera. Menjelang waktu senja pulanglah burung merpati itu kepada Nuh, dan pada paruhnya dibawanya sehelai daun zaitun yang segar. (Kej 8,10).

    Ini juga menggambarkan awal kehidupan baru setelah bencana yang memusnahkan semua ciptaan lainnya, kecuali yang ada dalam bahtera.

    Oleh karena itu Pembaptisan Yesus oleh Yohanes ini mempunyai kuasa intrinsik untuk pengampunan dosa, bahkan pengampunan dosa asal, karena merupakan sebuah PENCIPTAAN BARU.

    Ini dikatakan oleh Yesaya: Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit dan bumi yang baru, hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati” (Yes 65,17)

    Pembaptisan Yesus tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang terjadi pada diri Yesus melainkan apa yang di hendak disampaikan kepada kita dengan peristiwa ini.

    Di sungai Yordan sebuah awal baru terjadi. Sebuah penciptaan baru terlaksana. Disitu juga Allah turun menyatakan diri serta menyatakan siapa Yesus agar siapa pun yang menerima pembaptisan seperti Yesus menerima HIDUP BARU dalam dirinya.

    Seekor anak harimau ditemukan sendirian oleh sekelompok sapi. Dia diambil oleh mereka dan diajar makan rumput oleh sapi-sapi. Dia berlaku persis layaknya seekor sapi.

    Suatu ketika sekelompok harimau menyerang sapi-sapi itu dan mereka semua lari terbirit-birit. Anak harimau seolah cuek, dia tetap makan rumput tanpa rasa takut. Harimau tua itu heran. Dia mengambil anak harimau itu dan membawanya ke kolam yang bening lalu berkata: “Nih, lihatlah dirimu dan aku! Engkau adalah harimau seperti aku. Jangan berlagak bodoh menganggap dirimu seekor sapi!”

    Sering-seringlah bercermin di air bening. Ini mengingatkan pembaptisan kita sekaligus mengingatkan siapa diri kita. Kita bukan sapi, apalagi onta.

    Hendaklah Kamu Saling Mengasihi-Temu Orang Muda Redemptoris

    0

    Pada tanggal 8 Januari 2022 diselenggarakan Temu Orang Muda Redemptoris. Temu Orang Muda dalam acara Natal bersama kali ini diselenggarakan oleh Sekretariat Kaum Muda Redemptoris dan Komunitas Santo Klemens bertempat di Aula Misi Umat Km. 6, Waikabubak.

    Dengan tema, “Hendaklah Kamu Saling Mengasihi” kegiatan ini diikuti oleh peserta yang berasal dari paroki-paroki yang dipecayakan kepada para Redemptoris ditambah dengan San Kemme Youth yang berada dalam dampingan Komunitas Misi Umat.

    Pertemuan ini adalah yang pertama setelah hampir 2 Tahun orang muda Redemptoris tidak berkumpul. Pertemuaan terakhir terjadi di Yogyakarta pada tahun 2019. Karena itu nuansa sebagai satu keluarga besar sangat terasa mewarnai pertemuan kali. Semangat ini jugalah yang mengikat para peserta sebagai bagian dari keluarga Redemptoris

    Di bawah arahan dan inisiatif Sekretariat Orang Muda Redemptoris, Misi Umat dan San Keme Youth serta dukungan para moderator dari 7 Paroki Redemptoris yang berkarya di pulau Sumba, kegiatan ini boleh berjalan lancar.

    Komunitas orang muda yang berpartisipasi berasal dari Paroki Santo Andreas Ngallu: 15 orang, Paroki Sang Penebus Wara: 20 orang, Paroki St. Klemens Katikuloku: 25 orang, Paroki St. Mikhael Elopada: 31 orang, Paroki Kristus Raja Waimangura: 25 orang, Quasi Paroki St. Paulus Karuni: 40 orang, Paroki Santa Maria HombaKarpit: 45 orang, San Kemme Youth: 25 orang, Para Frater Novis: 14 orang, Moderator dan pendamping OMK, para imam dan undangan: 30 orang.

    Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pater Propinsial Redemptoris Indonesia, P. Kimy Ndelo, CSsR, dan koor dari para novis serta tarian oleh OMK Waimangura.

    Usai perayaan ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan acara hiburan yang menampilkan Savana Roots Band serta acara hiburan berupa puisi, lagu, fragmen, komedi/lawak, dance dan fragmen natal dari setiap paroki.

    EPIPHANIA-UNIVERSALITAS KRISTUS-Renungan Hari Raya Penampakan Tuhan

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Hari Minggu ini merupakan Hari Raya EPIPHANIA. Akar kata Yunani ini berarti “penampakan atau manifestasi”. Aslinya istilah ini digunakan ketika seorang raja berkunjung ke sebuah wilayah kerajaannya. Ketika dia datang semua orang berseru: Epiphania!

    Dalam khazanah iman kristiani istilah ini dimengerti dan dipraktekkan secara berbeda oleh dua Gereja yang mempunyai tradisi liturgi tertua di dunia.

    Yang pertama Geraja Katolik Roma atau dikenal juga sebagai Gereja Barat. Di gereja ini Epiphania merupakan perayaan penampakan Yesus kepada orang-orang Kafir (gentiles), hal mana diwakili oleh ketiga Majus atau dikenal sebagai para ahli bintang dari bagian timur Palestina yani Persia.

    Yang kedua, Gereja Ortodox atau dikenal sebagai Gereja Timur. Di Gereja ini yang dirayakan justru Pembaptisan Yesus di sungai Yordan. Mereka beranggapan bahwa pada saat pembaptisan itulah Yesus menyatakan diri-Nya kepada dunia, dimana Dia diperkenalkan oleh Yohanes Pembaptis dan dinyatakan sendiri oleh Allah; Inilah Anak-Ku yang Kukasihi.

    Konsekwensi dari perayaan Gereja Timur ini lalu berdampak pada perayaan Natal. Bagi mereka perayaan Natal mengenangkan Penampakan Yesus kepada Tiga Majus, dan biasanya terjadi pada tanggal 6 Januari.

    Terlepas dari perbedaan penafsiran akan arti “epiphania”, pada dasarnya Epiphania merupakan cara Gereja untuk mengakui dan mewartakan bahwa Yesus tidak hanya diutus untuk orang Yahudi saja melainkan untuk semua bangsa atau umat manusia. Kristus tidak dilahirkan hanya bagi kelompok manusia tertentu melainkan bagi seluruh penghuni muka bumi.

    Hal ini senada dengan lagu pujian para malaikat pada malam kelahiran Yesus:

     “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Luk 2,14).

    Dan Maria adalah pribadi yang pertama kali mengungkapkan sifat universalitas pribadi dan kelahiran Yesus:

    “Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Luk 1,48b). Istilah “segala keturunan” tentu merujuk pada umat manusia yang datang sesudah peristiwa kelahiran Yesus.

    Hal ini kemudian dirumuskan dengan lebih konkrit oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus:

    “…bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus” (Ef 3,6).

    Istilah “Gereja Katolik” merupakan penghayatan nyata dari sifat dan peran universalitas Yesus Kristus bagi dunia, bukan sebaliknya membatasi diri pada Gereja tertentu yang dipimpin oleh Paus di Roma.

    Simak bagaimana istilah “katolik” pertama kali digunakan oleh Ignasius dari Antiokhia ketika menulis surat kepada jemaat di Smyrna pada tahun 107:

    “Dimanapun uskup nampak, hendaknya demikian juga sejumlah besar orang harus ada; sepertinya halnya dimana pun Yesus Kristus ada, disitu ada Gereja Katolik”.

    Pesta Epiphania mengingatkan kita akan sifat Katolik atau universalitas iman kita, dan dengannya kita terdorong untuk mewujudkannya. Konsekwensinya, kita mempunyai kewajiban “menyatakan” siapa Yesus kepada semua orang dalam jangkauan kita.

    Menjadi orang Katolik berarti menjadi orang Epiphania!

    THEOTOKOS

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Sonny, seorang anak muda tukang semir sepatu sedang menawarkan jasanya di stasiun pusat New York City. Di lehernya ada kalung dengan medali bergambar Bunda Maria. Sementara dia menyemir sepatu, pelanggannya bertanya: “Apa itu di lehermu?” Jawabnya: “Medali Bunda Maria”. “Mengapa pakai medali seperti itu? Dia kan sama saja dengan ibumu sendiri. Tak ada bedanya”.

    Sonny menjawab: “Mungkin benar. Tapi ada beda besar antara puteranya dengan aku”.

    “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk 1,43). ÷ Meter tou kyriou mou÷ artinya Mother of my Lord, Bunda Tuhanku.

    “Theotokos” sebuah istilah Yunani dengan arti harafiahnya “Yang Melahirkan Allah” atau lebih dikenal dengan “Bunda Allah”. Istilah ini lebih berbicara tentang Yesus daripada tentang Maria.

    Artinya status Bunda Maria tak bisa dilepaskan dari status Yesus Puteranya. Bunda Maria menerima dan menjalani rencana Allah dalam dirinya dengan penuh ketaatan sebagai hamba Tuhan. “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu”. Kerelaan, ketaatan dan kesetiaan inilah yang membuat namanya menjadi besar, agung dan terpuji diantara semua wanita.

    Kita mengagungkan Maria karena Allah lebih dahulu mengagungkan dia dengan memilihnya menjadi ibu Putera-Nya. Karena itu peran Maria yang paling utama adalah peran kepengantaraan. Ini diungkapkan dalam doa: “Doakanlah kami yang berdosa ini…”. Dia adalah ibu kita yang tahu kerinduan dan harapan kita dan membawanya ke hadapan Puteranya.

    Di awal tahun ini perayaan Maria sebagai Bunda Allah mempunyai arti yang mendalam.

    Pertama, dengannya kita ingin memberikan penghormatan kepada Maria lebih daripada para kudus yang lain (hyperdulia) tetapi tidak lebih daripada penghormatan terhadap Allah.

    Kedua, kita mengingat awal kehidupan kita di awal tahun ini, dengan belajar dari sang Ibu yang menjadi awal mula hidup kita. Dari dialah kita mendapatkan nafas hidup pertama kali sejak dalam kandungan.

    Ketiga, dalam dunia yang dipenuhi budaya kematian, kita menjadi orang-orang yang memperjuangkan budaya hidup. Pro life, bukan sekedar pro choice.

    Three ways to make the New Year meaningful: SOMETHING TO DREAM, SOMETHING TO DO, SOMEONE TO LOVE. (William Barclay).

    Tiga cara untuk membuat Tahun Baru berarti: Sesuatu yang diimpikan; Sesuatu yang dibuat; dan Seseorang yang dicintai.

    Dengan doa Bunda Maria kita bisa.

    SELAMAT MEMASUKI TAHUN 2022 DENGAN PENUH HARAPAN.

    SILENCE-Renungan Pesta Keluarga Kudus

    0

    Paus Paulus VI pernah mengatakan bahwa perayaan Pesta Keluarga Kudus hari ini mengingatkan kita akan satu kualitas keluarga yang harus dimiliki oleh setiap keluarga. Menurutnya, keluarga kudus adalah keluarga yang menanam dan menyuburkan sikap DIAM.

    Sejak Yosef mengambil Maria sebagai istrinya dan melahirkan Yesus, mereka membangun keluarga dalam sikap DIAM, hening dan lebih banyak berpikir. Mereka bukanlah keluarga yang banyak bicara melainkan bekerja dalam ketenangan.

    Dalam sikap DIAM Maria mendengar pesan Malaikat akan kelahiran Yesus dan menjawab dengan sebuah PENGAKUAN: Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut kehendakmu. (Luk 1:38).

    Dalam sikap diam pula Maria mendengarkan cerita penampakan para malaikat yang disampaikan oleh para gembala. “Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2:19)

    Yusuf juga merupakan pribadi yang DIAM, bahkan tak ada satu kata pun yang diucapkannya dalam kisah kelahiran Yesus. Ketika dia bingung bagaimana mengambil keputusan tentang Maria yang sudah hamil sebelum mereka menjadi suami istri, malaikat mendatanginya dalam mimpi dan menjelaskan apa yang terjadi dengan Maria dan anak yang dikandungnya.

    Tanpa sepatah kata “Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan kepadanya” (Mat 1:24).

    Demikian halnya ketika dia diminta untuk menyelamatkan anaknya ke Mesir, dan kemudian kembali dari Mesir ke Israel, dia melakukan semua perintah Tuhan tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya.

    Keluarga yang DIAM akan mudah mendengar suara ilahi.

    Keluarga yang TENANG akan mudah menghadapi persoalan dan menemukan jalan keluarnya.

    Keluarga yang HENING akan mudah pula menciptakan ruang untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

    Keluarga yang DAMAI akan menjadi oase yang indah bagi anak-anak untuk tumbuh dan berkembang secara sehat.

    Seorang hakim agung pernah mengatakan kepada pasangan muda yang baru menikah: “Ingat, jangan menjadikan rumahmu sebagai ruang PENGADILAN dimana kalian mempersoalkan siapa yang benar dan siapa yang salah, siapa yang menang dan siapa yang kalah. Tak akan pernah ada yang menang.

    Tapi jadikanlah rumahmu sebagai ruang PENGAKUAN dimana masing-masing berusaha menemukan kelemahannya sendiri, mengakuinya dan memperbaikinya”.

    Masalah dalam keluarga terjadi ketika setiap orang berbicara dan tidak lagi mau mendengarkan satu sama lain.

    Jika yang kelihatan saja tak mau didengar apalagi yang tak kelihatan.

    It is better in prayer to have a heart without words, than words without a heart. (Mahatma Gandhi)

    “Lebih baik dalam doa mempunyai hati tanpa kata-kata, daripada kata-kata tanpa hati”.

    Natalan Bersama Redemptoris

    0

    Seperti biasa, tiap tahun para Redemptoris mengadakan kegiatan natalan bersama di Konventu Weetebula. Natalan bersama menjadi saat untuk berbagi kisah, kesan dan kegembiraan natal.

    Acara ini berlangsung selama dua hari, mulai dari tanggal 28-29 Januari 2021. Kegiatan diawali dengan ibadat natal yang dipandu oleh komunitas novisiat dan rekreasi di Konventu yang kemudian dilanjutkan dengan makan siang bersama di Viilla Waikelo pada hari berikutnya.

    Kegembiraan khas Redemptoris sangat tampak dalam kebersamaan ini dan ini juga menjadi kekuatan tersendiri bagi tiap Redemptoris. Persaudaraan menjadi tungku api yang membakar semangat, tidak hanya dalam berpastoral tetapi juga dalam menjalani, menghayati dan ‘menikmati’ indahnya menjadi Redemptoris.

    NATAL: LAHIR DARI KEILAHIAN-Renungan Natal

    0

    SetetesbEmbun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Seorang Teolog Karl Barth sedang mengajar di depan mahasiswanya di salah satu Fakultas di Universitas Princeton pada tahun 1963. Seorang mahasiswa bertanya: Tuan, apakah anda berpikir bahwa Allah menyatakan diri-Nya tidak hanya kepada agama Kristen melainkan kepada agama lain juga? Karl Barth menjawab: “Tidak. Allah tidak menyatakan diri-Nya kepada agama apa pun termasuk agama Kristiani. Dia telah menyatakan diri-Nya dalam Putera-Nya.” Jawaban ini membuat para mahasiswanya kaget dan terpesona.

    Di ruang publik saat ini beredar macam-macam diskusi, pertanyaan sekaligus sindiran: mengapa orang Kristen “mengangkat” manusia menjadi Tuhan. Pertanyaan semacam ini tidak perlu membuat kaget karena sejak awal Gereja abad-abad pertama hal yang serupa sudah ditanyakan. Aliran Gnostik tertentu adalah contoh yang paling jelas. Aliran semacam ini yang menyangkal realitas (atau kemungkinan) dari Inkarnasi Ilahi. Menurut aliran ini realitas fisik Yesus hanyalah “penampilan” atau “faade,” dan tidak melekat pada siapa dan apa Yesus itu. Jika Yesus sungguh ilahi maka Dia pasti hanya nampak fisiknya saja. Jika Dia sungguh-sungguh manusia maka pasti tidak ilahi. Dia hanyalah “makhluk super”, atau manusia teladan yang kemudian “diangkat” oleh Tuhan.

    Pertanyaan atau perdebatan semacam ini di dunia modern ini membuat orang Kristen merasa tersinggung. Kadang berakhir dengan protes, kadang dengan proses hukum, tapi lebih banyak dengan diam sambil menggerutu atau memaki-maki dalam hati: urusan apa kalian dengan agama kami?

    Sesungguhnya ini bukan salah yang bertanya. Mereka bertanya karena tidak paham. Yang lebih penting adalah bagaimana menjawabnya secara rasional dan tenang. Itulah pentingnya mengenal dan memahami apa yang kita imani.

    Bagi saya, tidak ada jawaban yang jauh lebih tepat tentang keilahian Yesus selain bacaan Injil yang kita dengarkan pada Hari Raya Natal ini, Yoh 1,1-18.

    Secara logika Natal tidak terlepas dari silsilah atau garis keturunan. Hal ini dijawab oleh Injil Mateus dan Lukas. Silsilah injil Matius tentang Yesus mundur jauh sampai ke Abraham, bapa umat Allah. Silsilah injil Lukas tentang nenek moyang Yesus ditarik jauh sampai ke Adam, dengan demikian mencakup seluruh umat manusia.

    Akan tetapi silsilah versi Yohanes berbeda. Dia mengisahkan tentang Yesus kembali ke Allah sendiri, mulai dari awal penciptaan. Yohanes adalah satu-satunya penulis Injil yang tidak berhenti di Betlehem untuk menjelaskan alasan hadirnya Allah dalam diri Yesus.

    Nampaknya Yohanes lebih peduli dengan MENGAPA dan SIAPA Natal daripada MANA Natal. Dia melakukan perjalanan merenung ke keabadian untuk mengungkapkan Pribadi Yesus Kristus. Natal versi Yohanes lebih bersifat teologis ketimbang historis versi Mateus dan Lukas.

    “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita” (Yoh 1,14).

    Bila dikaitkan dengan kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian maka kita bisa menemukan identitas Mesias: Dia lahir dari keabadian dan mempunyai status ilahi.

    “Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah terang’. Lalu terang itu jadi.” (Kej 1,2). Yang pertama kali keluar dari Allah adalah Firman. Dan Firman itu tidak bisa dilepaskan atau dipisahkan dari yang berifirman. Allah dan Firman merupakan satu kesatuan.

    Kesatuan inilah yang dimaksud oleh Yesus ketika Dia mengatakan:  “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yoh 17,21).

    Bacaan Injil hari ini memberi tahu kita bahwa Bayi di dalam palungan adalah Firman Tuhan, ekspresi diri Tuhan. Dia hadir pada saat penciptaan; Dia sebenarnya adalah Dia yang melaluinya segala sesuatu diciptakan.

    Prolog Injil Yohanes dan prolog Surat kepada Ibrani dalam bacaan kedua adalah penegasan yang luar biasa dari Pribadi Yesus Kristus, diungkapkan dalam kata-kata teologis dan metafora yang indah.

    Salah satu Bapa Gereja (St. Irenaeus) pernah berkata, “Gloria Dei, homo vivens,” (Kkemuliaan Allah adalah pribadi yang sepenuhnya hidup”).

    Surat Ibrani memberitahu kita bagaimana Tuhan yang menyampaikan firman-Nya kepada kita di masa lalu melalui para nabi-Nya telah mengutus Anak-Nya sendiri sehingga Dia dapat menunjukkan kepada kita manusia, melalui hidup, kematian dan kebangkitan-Nya, sifat sejati dari Tuhan kita.

    Sifat Firman yang menjadi Manusia adalah sebagai TERANG. Persis itulah yang dijadikan Allah pada awal peciptaan yakni menjadikan terang. Yohanes memperkenalkan kelahiran Yesus sebagai fajar Terang yang akan menghapus kegelapan kejahatan dari dunia. Terang lalu menjadi simbol sempurna dari Natal karena kata-kata Yesus sendiri; “Akulah Terang dunia,” (Yoh 8:12) dan “Kamu adalah terang dunia” (Mat 5:14-16 ).

    Merayakan Natal berarti mengambil salahsatu sifat dari Kristus yakni menjadi TERANG. Menjadi terang bukan saja menerangi orang atau lingkungan sekitar tetapi membuat kita juga terlihat.

    Identitas Kristen kita, betapa pun berat dan menyakitkan, bukan untuk disembunyikan melainkan agar dilihat orang lain, termasuk mereka yang tidak setuju dengan kita. Kelahiran Yesus, sekalipun hanya seorang bayi, tidak membuat Herodes dan Para Imam kepala menerima Dia. Bertahan dalam iman dan terus menjadi Terang akan membawa kita pada jalan Yesus yakni jalan kemuliaan.

    NATAL DAN RASA IBA-Renungan Malam Natal

    0

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    Wally yang berusia sembilan tahun duduk di kelas dua ketika sebagian besar anak seusianya duduk di kelas empat. Dia termasuk besar untuk anak seusianya, seorang anak yang canggung, pembelajar yang lambat. Tapi Wally adalah anak yang penuh harapan, sukarela, tersenyum, pembela mereka yang lemah underdog, dan dia sangat disukai oleh teman-teman sekelasnya.

    Orang tuanya mendorongnya untuk mengikuti audisi untuk drama Natal di parokinya. Wally ingin menjadi gembala. Tapi dia malah diberi peran sebagai pemilik penginapan. Sutradara beralasan bahwa ukuran tubuh Wally akan membuatnya nampak galak ketika menolak Yosef yang mencari penginapan bersama Maria. Selama latihan, Wally diinstruksikan untuk bersikap tegas dengan Joseph.

    Saat drama dimulai, tidak ada yang lebih terjebak dalam aksi selain Wally. Dan ketika Joseph mengetuk pintu penginapan, Wally sudah siap. Dia membuka pintu dan bertanya dengan mengancam, “Apa yang kamu inginkan?” “Kami mencari penginapan,” jawab Joseph. “Cari di tempat lain,” kata Wally dengan suara tegas. “Tidak ada kamar di penginapan.” “Tolonglah, pemilik penginapan yang baik,” Joseph memohon, “ini istriku, Maria. Dia dengan bayi dalam kandungannya dan sangat lelah. Dia butuh tempat untuk istirahat.”

    Ada jeda panjang saat Wally menatap Maria. Pembisik membisikkan kalimat Wally berikutnya: “Tidak! Pergi!” Wally tetap diam. Kemudian pasangan yang sedih itu berbalik dan mulai perlahan menjauh. Melihat ini, alis Wally berkerut prihatin. Rasa iba menguasainya. Air mata menggenang di matanya. Tiba-tiba, dia berteriak, “Jangan pergi! Anda dapat memakai kamar saya. ”

    Rangkaian kisah panjang tentang kelahiran Yesus yang kita renungkan setiap Malam Natal, bagaikan sebuah drama yang memperlihatkan bagaimana cara Allah menghadirkan diri di dunia ini. Akan tetap ini bukan tentang Allah semata. Disitu juga terlihat bagaimana Allah melibatkan manusia dengan peran dan tugas masing-masing.

    Maria menerima Yesus di dalam dirinya, mengandung Dia selama 9 bulan dan melahirkan dia menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.

    Yosef menerima Yesus sebagai putranya, dengan menerima Maria sebagai istrinya walau kehamilannya bukan karena peran dia sebagai pria.

    Perjalanan keluarga kudus memasuki Betlehem di malam hari sambil mengetuk pintu untuk penginapan, adalah sebuah cara lain untuk mengajak manusia terlibat dalam kisah inkarnasi ini. Sayangnya, yang terjadi adalah: “tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Luk 2,6). Tragedi kemanusiaan seringkali berawal dari sikap ini: PENOLAKAN

    Seluruh perjalan kisah karya Yesus selama tiga tahun sesungguhnya juga adalah upaya agar orang MENERIMA Dia sebagai utusan Allah, Penyelamat yang membawa kabar gembira penebusan, dan menyatukan kembali manusia dengan Allah.

    Beriman kepada Yesus Kristus berarti MENERIMA Dia di dalam hidup kita dan menjadikan Dia bagian tak terpisahkan dalam suka dan duka kita. Menjadi murid pada hakekatnya berarti tinggal di dalam Tuhan dan Tuhan tinggal di dalam kita.

    “Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yoh 14,20).

    Hal ini diulangnya lagi dalam doanya menjelang sengsara-Nya:
     “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17,21).

    Yesus di dalam aku dan aku di dalam Yesus adalah persatuan dua pribadi yang saling menghidupkan dan menghidupi. Mereka yang sungguh menerima Dia yakin bahwa kuasa Tuhan di dalam dirinya akan memampukan dia menanggung apa saja, bahkan menciptakan mukjizat di dalam dirinya.

    Seorang wanita muda diduga menderita kanker payudara pada awal tahun ini. Oleh dokter dia diminta untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan mengambil tindakan operasi. Dengan tegas dia menolak dan mengatakan bahwa ” Tuhanku lebih berkuasa daripada siapa pun termasuk dokter”. Dia membawa keyakinan ini dalam doanya dan kepasrahan.

    Hanya mereka yang sungguh MENERIMA Dia untuk tinggal dalam dirinya mempunyai keberanian untuk mengatakan ini.

    Bagaimana caranya MENERIMA Yesus? Mulailah dengan rasa iba. Natal adalah sebuah kenangan sekaligus undangan untuk memiliki rasa iba. Terlalu banyak menggunakan akal membuat banyak penolakan; terhadap sesama dan terutama terhadap Yesus.

    Sekularisme tanpa iman saat ini berawal dari hilangnya rasa iba dan berkuasanya hitungan untung rugi.  Wally di dalam drama Natal sekolah di atas adalah contoh yang baik. Atas dasar rasa iba, skenario hidup bisa berubah, dan itu tidak salah. Selamat Hari Natal, Selamat Memiliki Rasa Iba.