Kamis, Mei 13, 2021
More
    Beranda blog

    DIA DI LANTAI ATAS – Renungan Hari Raya Keinaikan Tuhan

    0
    Sumber foto: https://komkat-kwi.org/

    Setetes Embun oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

    “Dan akan Yesus Kristus….yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa Yang Maha Kuasa…”.

    Inilah salah satu bagian credo atau pengakuan iman orang Kristen di mana saja dan dalam aliran atau denominasi apa saja. Bagian ini secara literer berasal dari Injil Markus yang berbunyi:

    “Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.” (26,19). 

    Injil Lukas  melukiskan dengan cara yang sedikit berbeda tapi pada intinya menerangkan hal yang sama: kenaikan Yesus ke surga adalah realitas, seperti halnya kebangkitan-Nya.

    “Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. (24,50-51).

    Tentu saja bisa diperdebatkan apakah Yesus secara pasif ke surga (terangkat) atau aktif (naik). Tapi yang menjadi dasar iman Kristen adalah bahwa Dia tidak lagi berada di bumi secara fisik setelah kebangkitan-Nya, dan bahwa Dia ke surga dengan cara yang istimewa.

    Peristiwa Yesus naik atau terangkat ke surga ini hanya bisa dibandingkan dengan nabi Elia yang juga diangkat ke surga hidup-hidup (2 Raj 2,11).

    Kenaikan Yesus juga sudah diramalkan oleh Daud dalam Mazmur 110,1: “Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu”. Hal inilah yang dikutip oleh Petrus dalam kotbahnya pada hari Pentakosta (Kis 2,34-35).

    Peristiwa kenaikan Yesus ke surga menjadi tanda bahwa Dia telah menyelesaikan tugas-Nya di dunia dan dimuliakan walau pekerjaan belum selesai sepenuhnya. Ibaratnya, pertandingan telah selesai tapi kompetisi masih berjalan. Atau pertempuran usai tapi peperangan masih berlanjut.

    Karena itu menjadi penting juga untuk memahami pesan-pesan terakhir Yesus kepada murid-murid-Nya. Pesan paling utama adalah memberitakan Injil. “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk”. (Mrk 16,15).

    Yesus mengatakan: BERITAKANLAH Injil. Beda dengan KOTBAHKANLAH Injil. Memberitakan atau memproklamirkan atau mewartakan Injil adalah sebuah tindakan dengan kesaksian hidup, melalui pikiran, perkataan sekaligus perbuatan. Berkotbah cukup dengan kata-kata.

    Dengan perintah ini tidak berarti Yesus lepas tangan. Tanda dan kuasa ajaib akan menyertai para murid-Nya agar mereka mampu melaksanakan tugas mereka. Tuhan Yesus pun turut bekerja bersama para murid-Nya.

    Carpenter adalah anak dari keluarga miskin di salah satu pedesaan di Amerika. Dengan bantuan beberapa orang dia berhasil sekolah di kota dan menjadi dokter. Karena sulit menemukan pekerjaan di kota, dia kembali di kampungnya dan membuka praktek dokter. Selama jadi dokter kebanyakan pasiennya tidak mampu membayarnya. Tapi dia tetap melayani sampai usia tuanya. Tempat prakteknya sekaligus tempat tinggalnya ada di lantai dua sebuah ruko. Depan ruko itu ada tulisan: Dr. Carpenter di lantai atas.

    Ketika dia meninggal banyak orang merasa berduka dan kehilangan. Karena itu mereka membuat sebuah monumen untuknya dengan tulisan ini: “Dr. Carpenter di lantai atas”.

    Yesus adalah DOKTER SEGALA DOKTER DAN SEKARANG BERADA DI LANTAI ATAS. Kita pun bisa berada di sana.

    Menepi Bersama Maria-Evaluasi & Rekoleksi Komunitas Wisma Sang Penebus Yogyakarta

    0

    Komunitas Wisma Sang Penebus Yogyakarta mengadakan kegiatan bulanan yakni rekoleksi bersama sekaligus mengevaluasi semua kegiatan yang sudah dan sedang berjalan selama bulan April hingga awal bulan Mei. Ada pun kegiatan itu diselenggarakan selama dua hari yakni pada hari Sabtu dan Minggu (8-9/5/2021).

    Dalam evaluasi kali ini, ada tiga poin penting yang menjadi fokus pembahasan, yakni hidup rohani, akademik, serta relasi sosial antar sesama. Untuk kehidupan rohani sendiri ditekankan lagi soal partisipasi dan keterlibatan para frater dalam mengikuti kegiatan kerohanian seperti ekaristi bersama, doa bersama, dan hal-hal praktis lainnya yang berkaitan dengan aspek kerohanian. Poin kedua yang dibahas ialah bidang akademik, khususnya yang berkaitan dengan proses perkuliahan selama dua bulan terahir ini. Dan poin terakhir yang dibahas berkaitan dengan relasi sosial para frater baik itu dengan sesama konfrater di Wisma Sang Penebus maupun relasi yang dibangun dengan umat beriman lainnya. “Semoga hal-hal baik yang sudah terjadi terus dipertahankan dan hal-hal yang kurang diperbaiki lagi,” kata Rektor Wisma Sang Penebus, Ptr. Yosep Manu Lena, CSsR, saat menutup kegiatan evaluasi tersebut.

    Setelah evaluasi komunitas, kegiatan dilanjutkan dengan rekoleksi bersama pada Minggu, (9/5/2021), pukul 08.00 WIB. Rekoleksi kali ini dibawakan oleh Rm. Toni, CSsR, dengan tema “Sejarah Ikon, Spiritualitas Maria dan Penghayatannya dalam Panggilan Hidup”. Tema ini sengaja diangkat mengingat bulan Mei merupakan bulan Maria. Oleh karena itu, para frater diantar untuk lebih memahami sejarah ikon Bunda Maria Selalu Menolong, melihat spiritualitas yang dihidupi oleh Bunda Maria, serta penghayatan panggilan hidup Bunda Maria sendiri yang menjadi teladan untuk manusia. “Keakraban dengan Bunda Maria diukur dari seberapa sering kita berdoa kepadanya,” ujar Ptr. Toni, CSsR. Ia juga mengajak semua frater agar mampu menemukan doa favorit dan mengembangkan devosi pribadi kepada Bunda Maria.

    Seluruh rangkaian kegiatan rekoleksi dan evaluasi bulanan tersebut diakhiri dengan perayaan Ekaristi bersama pada pukul 11.00 WIB di Kapela Wisma Sang Penebus. Kiranya melalui evaluasi dan rekoleksi bulanan ini, para farater dan staf semakin setia dalam panggilan Tuhan. Semoga Bunda Maria Selalu Menolong dan bantuan doa St. Alfonsus selalu menyertai kita sekalian.

    Menumbuhkan Buah-Buah Kebaikan-Bina Iman Anak Virtual Season 3

    0

    Bina Iman Anak Virtual (BIAV) yang dipromotori oleh para frater Redemptoris kembali tayang pada hari Minggu, 09 Mei 2021. BIAV Season 03 ini ditayangkan di chanel You Tube Wisma Sang Penebus Official pada pukul 14.00 WIB. Para frater pendamping ialah Frater Ure, Frater Varo, Frater Lory, dan Frater Irfan. Program rutin bulanan ini, kini memasuki season (pertemuan) ketiga, setelah pertemuan yang pertama dan kedua telah berlangsung pada beberapa bulan yang lalu.

    Dengan mengusung tema “Di Dalam Yesus, Aku Berbuah”, BIAV hadir di awal bulan Maria, yang nota bene diidentikkan dengan berdoa rosario. Tentunya, tema ini dianggap cocok untuk adik-adik SEKAMI dan PIA untuk mendukung dan menyemangati mereka dalam doa serta bakti di dalam bulan Maria. Tema di atas merupakan intisari dari perikop Injil Yohanes 15, 1-8 yang berbicara mengenai kebun anggur Bapa dan Yesus sebagai pokok anggurnya. Tema in hendak mengajak adik-adik untuk menjadi ranting-ranting yang ber-buah kebaikan. Buah-buah itu adalah buah cinta kasih, buah doa, buah amal, buah ketekunan dalam belajar, dan banyak buah lainnya.

    Sebagai salah satu bentuk kerasulan yang memfokuskan perhatian kepada anak-anak SEKAMI dan PIA, para frater berusaha mengemas konten dengan sederhana, menarik dan seru. Sederhana, menarik dan seru harus menjadi ciri khas konten sehingga dapat mengambil hati adik-adik dalam mengikuti program acara yang ditawarkan. Misalnya saja di dalam konten ini para frater mendampingi adik-adik untuk bernyanyi dan menari bersama. Adik-adik lalu diajak untuk mendengarkan Sabda Tuhan bersumber dari perikop Injil. Kemudian, setelah mendengarkan Sabda Tuhan, adik-adik diberikan renungan sederhana dan pesan-pesan Sabda Tuhan oleh Frater Varo dan Frater Irfan. Menarik bahwa ada pula sesi kreatifitas “Aku, Kamu Kreatif” yang dipandu oleh Frater Ure dan Frater Lory. Agar tetap seru hingga penghujung acara, frater-frater masih mengajak adik-adik untuk bermain bersama.

    Anak-anak ialah masa depan Gereja dan bangsa. Pendidikan dan pembinaan anak-anak dengan kaidah-kaidah iman dan moral yang baik diharapkan menjadi dasar yang kokoh untuk membangun cita-citanya yang baik di masa depan. Usaha ini, dalam rupa bina iman anak secara virtual, diharapkan bisa menambah wahana berpikir dan bertindak bagi anak-anak di dalam Gereja. Pesan terakhir dari para frater kepada adik-adik dalam jumpa virtual kali ini ialah tetap ingat untuk berdoa rosario di dalam keluarga. Bertepatan dengan bulan Mei yang dipersembahkan secara khusus untuk berdevosi kepada Maria, semoga iman adik-adik dibangun atas semangat dan spirit doa dan bakti seperti Bunda Maria.

    Terima kasih adik-adik untuk partisipasinya.

    Kontributor: Fr. Flavianus Raymundus Bere Jawa, CSsR

    BARU-NYA KASIH YESUS

    0
    Sumber foto: https://www.renungankristiani.com/

    Setetes Embun oleh: Ptr. Kimy Ndelo, CSsR

    Seorang pria menulis pesan ini kepada kekasihnya:
    “Kekasih hatiku, jika dunia ini sepanas Gurun Sahara, aku akan merangkak dengan lututku melewati pasir panas untuk menemuimu. Jika dunia ini bagaikan Samudera Atlantik, aku akan berenang melawan ganasnya ikan hiu untuk menjumpaimu. Aku akan berperang melawan naga yang dahsyat agar berada di sisimu. Sampai jumpa Kamis mendatang jika tidak hujan”. (Ttd: Gombal).

    Kata-kata Yesus tentang kasih dalam Injil hari ini singkat dan padat.

    “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, SEPERTI Aku telah mengasihi kamu.” (Yoh 15,12).

    Kata SEPERTI dalam bahasa Yunani bisa bermakna ganda. Pertama berarti mengasihi dengan CARA YANG SAMA dengan cara Kristus mengasihi kita. Kedua, mengasihi sesama KARENA Kristus telah mengasihi kita terlebih dahulu.

    Yang satu berarti MENIRU Kristus dan yang lain berarti menjadikan Kristus sebagai ALASAN atau MOTIVASI untuk mengasih sesama.

    Kristus adalah parameter untuk mengukur atau menilai KASIH Kristiani. Ini jugalah yang bisa membedakan KASIH orang Kristen dibandingkan orang lain.

    Dengan demikian kita tidak mau mengatakan bahwa di luar orang-orang Kristen tidak ada kasih. Kasih itu ada dimana-mana, dalam diri siapa saja. Bahkan bisa jadi, dalam prakteknya “orang luar” lebih mengasihi dengan cara Kristus walau tidak eksplisit mengatakannya.

    Dalam hal KASIH para pengikut Yesus pada jaman dulu mungkin menawarkan sesuatu yang BARU kalau dilihat dari sudut pandang orang Yahudi. Kitab Taurat tidak menawarkan kasih yang universal atau kasih kepada seluruh umat manusia, kepada setiap pribadi. Kasih dalam versi mereka, kalaupun terjadi kepada orang bukan Yahudi, kasih itu harus timbal balik. Artinya mengasihi sebagai balasan atas kasih orang lain.

    Kasih versi Yesus menjadi BARU karena ditujukan kepada siapa saja, bahkan kepada orang-orang yang tidak layak mendapatkan kasih itu. “Kasihilah musuhmu” adalah contoh versi baru ini.

    Kasih versi Yesus ini tentu saja bukan hal yang gampang. Karena itu Yesus memerintahkan, bukan sekedar menyarankan atau menasihati. Kata-kata Yesus harus dimengerti sebagai berikut: Inilah perintahku yaitu KASIHILAH SESAMAMU SEPERTI AKU TELAH MENGASIHI KAMU. Perintah tidak untuk didiskusikan melainkan untuk dilaksanakan.

    Pada jaman sekarang kasih yang sama juga ditawarkan bahkan dipraktekkan oleh orang lain. Kasih orang Kristen menjadi berbeda karena berlandaskan pada Kristus dan ditujukan kepada Kristus. Yesus adalah MODEL kasih kita.

    Bahkan untuk memudahkan kita Yesus mengidentifikasikan dirinya dengan mereka yang harus dikasihi. “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraku yang paling HINA ini, kamu telah melakukannya untuk AKU”. (Mat 25,40).

    Karena pilihan hidup Yesus adalah keselamatan yang universal, bagi semua manusia, maka kita bisa menemukan Yesus dalam diri siapa saja, bahkan dalam diri orang-orang bukan Kristen. Siapa pun layak untuk dikasihi.

    Jika kasih kita masih memerlukan syarat maka kasih ini tak lebih dari sekedar gombal.

    Teologi Penciptaan Manusia-Webinar Redemptoris

    0

    Minggu 2 Mei 2021, Komunitas Stundentat Wisma Sang Penebus, Yogyakarta, mengadakan webinar mengenai “Teologi Penciptaan” yang bersumber pada kitab Kejadian 1:1-31; 2:124. Teologi ini lebih menekankan awal mula penciptaan dan kesetaraan antara laki-laki dengan perempuan. Dua pertanyaan mendasar dalam webinar ini ialah “Benarkah sejak awal mula manusia diciptakan menurut “gambar” dan rupa Allah” dan “Benarkah perempuan diambil dari tulang rusuk laki-laki?”. Acara ini dipandu oleh Fr. Andhika CSsR selaku MC, P. Ricky Misi CSsR selaku Moderator dan Propinsial Redemptoris Indonesia, P. Kimi Ndelo CSsR sebagai nara sumber utama. Selain itu, terdapat juga dua orang penanggap yakni Fr Yansen Lay CSsR dan Fr. Hery Lewar CSsR.

    Ada banyak hal yang dibicarakan dan dipertanyakan dalam webinar ini. Namun yang menjadi pokok pembicaraan ialah mengenai keterlibatan manusia dalam penciptaan dan kedudukan perempuan dengan laki-laki. Menurut P. Kimi Ndelo “Manusia sejak awal tidak diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Tetapi dijadikan menurut gambar dan rupa Allah. Kata “menjadikan” (Kej 1:26) menunjukan keterlibatan manusia dalam penciptaan. Sedangkan kata “diciptakan” (kej 1:27) lebih menunjukan hak prerogratif atau kuasa Allah dalam menciptakan sesuatau. Pendekatan ini bersifat naratif atau dengan membaca teks apa adanya sebagaimana ditulis dan dimaksudkan oleh penulis awal. Dalam tafsiran tersebut, P. Kimi Ndelo mengungkapkan bahwa “Allah sejak dahulu, sudah melibatkan dan mengajak manusia untuk bekerja sama. Penciptaan pertama dalam bentuk “rupa” dan kedua dalam bentuk “gambar”. Bentuk rupa mengidentifikasikan manusia sebagai mahluk berakal budi dan yang membedakan ia dengan ciptaan lainnya. Sedangkan “gambar” lebih menekankan manusia sebagai ciptaan istimewa dan memiliki sifat transendensi. Hal ini tidak berarti bahwa manusia sama dengan Allah dalam keilahian, tetapi pengakuan atas keistimewahan manusia di hadapan Allah”.

    Dalam kaitannya dengan kesetaraan laki-laki dan perempuan, P. Kimi CSsR mengungkapkan bahwa “Manusia pada awalnya satu dalam diri Adam. Proses pemisahan laki-laki dan perempuan terjadi ketika Allah membuat Adam tertidur. Pada saat tidur inilah, Allah membelah (memisahkan) antara laki-laki dan perempuan dari tubuh Adam. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa perempuan merupakan kembaran dari laki-laki dan berada setara dengan laki-laki”. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Keduanya sepadan karena berasal dari hakikat yang satu dan sama.

    Tema yang dibawakan sangat menarik dan mengundang banyak perhatian dari para peserta webinar. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh para peserta baik melalui zoom dan Youtube. Namun tidak semua pertanyaan bisa terjawab karena terkendala waktu yang terbatas. “Sangat banyak pertanyaan yang diajukan. Tetapi kita terkendala oleh waktu yang sangat diminimalisir oleh panitia,” kata P. Riky selaku moderator seusai acara webinar. Walaupun begitu, keseluruhan acaranya berjalan secara baik dan teratur. Semoga ke depannya kegiatan ini dapat terlaksana kembali dengan tema yang berbeda dan menarik untuk disimak. Terima kasih untuk semua yang telah berpartisipasi.

    Kontributor: Fr. Ronald Mite, CSsR

    SUKACITA DALAM KESEDERHANAAN

    0

    Dalam kesederhanaan dan sukacita, Umat Stasi St. Markus Laindeha, Paroki Sang Penebus Waingapu merayakan Ekaristi hari Minggu Paskah V, Minggu 02 Mei 2021 di alam terbuka. Perayaan kali ini lain dari biasanya. Biasanya umat merayakan Ekaristi dalam bangunan gereja namun lantaran bangunan gereja telah hancur diterpa amukan seroja maka Perayaan Ekaristi kali ini diadakan di halaman gereja. Walau demikian, suasana khusuk tetap dirasakan dan umat tetap semangat merayakan Ekaristi.

    TERHUBUNG DENGAN DALAM KRISTUS -Renugan Minggu Paskah V

    0
    Sumber foto: https://www.sesawi.ne

    Setetes Embun oleh: Ptr. Kimy Ndelo, CSsR

    Seorang Pastor misionaris melayani di sebuah paroki jauh di pedalaman Afrika Tengah yang miskin. Di pastorannya dia mempunyai sebuah genset kecil untuk penerangan di malam hari.

    Suatu malam dia dikunjungi sekelompok tetua kampung yang datang dari jauh. Ketika mereka masuk dia menyalakan lampu ruangan dengan hanya memencet saklar. Orang-orang ini begitu heran bagaimana bola lampu bisa menyala dengan menyentuh tempat lain.

    Saat pulang seorang bapak meminta satu bola lampu untuk dibawa pulang. Pastor pikir mungkin dibawa sebagai kenang-kenangan. Dia memberinya satu yang sudah mati.

    Beberapa bulan kemudian Pastor mengunjungi kampung mereka. Ketika memasuki rumah bapak itu, Pastor kaget melihat bola lampunya digantung di loteng rumah seolah-olah bisa bernyala. Dengan susah payah Pastor harus menjelaskan bahwa bola lampu harus terhubung ke listrik supaya bisa nyala.

    “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku tinggal di dalam dia, ia akan berbuah banyak” demikian kata-kata Yesus dalam Injil hari ini. (Yoh 15,5b). Secara teknis ungkapan ini sulit dimengerti, apalagi dipraktekkan. Kehadiran fisik Yesus berbeda dengan kehadiranNya sesudah kebangkitan. KehadiranNya saat ini terjadi dalam Roh. Namun, justru kehadiran macam ini menjadi tanpa batas.

    Secara rohani, bagi kita, tindakan ini merupakan bentuk penyerahan diri secara total kepada Tuhan untuk dipenuhi dengan rohnya, energinya, semangatnya, dan gairahnya. Ini adalah ekspresi nyata dari kata-kata Santa Teresa dari Calcutta: “Aku hanyalah pensil dalam tangan Tuhan. Dialah yang menulis apa yang dikehendakiNya”.

    “Menjadi ranting pada pokok anggur” dapat dinilai dari buahnya. Mereka yang menghasilkan buah-buah kebaikan, merupakan ranting yang subur. Mereka yang menghasilkan kejahatan dan permusuhan merupakan ranting yang akan mati. Cepat atau lambat mereka akan terbakar hangus oleh kejahatannya sendiri.

    Pupuk yang menyuburkan terdapat pada olah rohani melalui doa pribadi dan perayaan sakramen, khususnya perayaan Ekaristi. Di situlah kesatuan rohani dengan Kristus terjadi secara nyata. Persatuan inilah yang menggerakkan setiap pribadi untuk mengamalkan imannya dalam perbuatan kasih.

    Inilah yang membedakan perbuatan cinta kasih antara orang beriman dan tidak beriman. Bagi orang yang tidak beriman, perbuatan kasih mereka digerakkan oleh naluri kemanusiaan. Perbuatan kasih oleh mereka yang beriman digerakkan oleh Kristus dan karena melihat Kristus dalam diri orang lain. Perbuatan kasih oleh mereka yang tak beriman, dibatasi oleh syarat-syarat tertentu. Perbuatan kasih oleh orang beriman dilakukan tanpa syarat, bahkan untuk musuh sekalipun.

    Sayaratnya satu: selalu terhubung dengan Kristus.

    Galeri Foto Aksi Postulan Membantu Ibu Yantina

    0

    Ibu Yantina adalah warga kelurahan Prailiu-Waingapu Sumba Timur yang rumahnya hancur diterpa badai Seroja pada Senin tanggal 5 April yang lalu. Sejak kejadian itu, ibu Yantina dan putrinya menjadikan dapur mereka sebagai tempat tinggal sementara.

    Sejak Kamis, 29 April 2021, berkat bantuan para donatur yang berbaik hati, para Postulan Redemptoris Indonesia dibawa pimpinan Ptr. Avelinus Lede, CSsR membangun Kembali rumah ibu Yantina. Rumah berukuran 4X6 ditargetkan selesai dalam waktu 1 Minggu.

    Sebuah Cara Pandang Baru-Webinar Redemptoris

    0

    Membaca dan Memahami Kisah Penciptaan Manusia dalam Kitab Kejadian.
    Teks Kitab Suci Perjanjian Lama aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani. Pada awal mula pun, teks itu, sebagaimana bahasa Ibrani jaman dulu, ditulis tanpa vocal. Semua kata hanya ada dalam bentuk konsonan. Pembacaanlah yang memberikan vocal. Dan itu berarti tergantung siapa pembacanya. Bayangkan misalnya kata ‘makan’ dalam bahasa Indonesia, ditulis hanya konsonan saja “mkn”. Siapa saja bisa membacanya secara berbeda: makan, makin, mokon, meken, dan sebagainya. Konteks kalimat itulah yang menentukan mana kata yang sebenarnya.
    Teks Kitab Suci Ibrani saat ini ditulis dengan vocal, dan itu baru terjadi pada abad ke 7 sampai abad ke 10 Masehi. Inilah yang disebut teks masoretik (dari kata dasar “masorah”), yakni tulisan dengan vocal dan aksen. Teks masoretik tertua adalah “Codex Aleppo” yang berasal dari abad ke-9.
    Berangkat dari sejarah penulisan ini, maka pemahaman teks kitab suci secara benar, khususnya Perjanjian Lama, juga perlu memperhatikan dan mempertimbangkan tulisan tanpa vocal atau hanya konsonan saja. Mengapa? Karena bisa saja apa yang dimaksud penulis pertama dulu berbeda dengan penyalin kemudian yang memberi vokalnya. Perubahan vocal bisa mengubah arti juga.
    Aspek lain yang penting diperhatikan adalah membaca teks apa adanya sebagaimana ditulis atau dibayangkan dimaksud oleh penulis awal. Kita mencoba untuk menghindari penafsiran yang terlalu cepat atau yang biasa digunakan selama ini. Inilah yang disebut analisis naratif dengan menggunakan retorika semitik; sebuah bentuk dialog dengan teks. Ini berarti membaca teks sebagaimana dihadirkan dalam Kitab, sambil memperhatikan segala aspek yang ada di dalamnya, bukan di luar teks itu sendiri. Dengan kata lain, membaca teks sebagai sebuah cerita/narasi dan dalam sudut pandang antropologi.
    Dengan cara inilah kita bisa menemukan hal yang berbeda dan mengejutkan tentang kisah penciptaan manusia, lain daripada apa yang kita pahami selama ini. Dua pertanyaan mendasar yang akan kita eksplorasi bersama:
    Benarkah sejak awal mula manusia diciptakan menurut “gambar” dan “rupa” Allah?
    Benarkah “wanita diciptakan dari tulang rusuk pria”?
    Ingin tahu jawabannya? Mari BERGABUNG dan BERSHARING bersama.

    Redemptoris Komunitas Flores Timur Memberi Bantuan dan Pendampingan Trauma Healing Kepada pengungsi Lamanele

    0

    Pada Minggu (25 April 2021), Kongregasi Redemptoris Indonesia komunitas Flores Timur, memberi bantuan kepada korban bencana di Desa Nelelamadike, Kecamatan Ileboleng, Adonara, Kabupaten Flores Timur. Oleh warga setempat lebih dikenal sebagai Lamanele. Bantuan yang diberi berupa pakaian dewasa dan balita; susu dan minuman kepada anak-anak. Pakaian dibagi menjadi 50 paket kantong dan satu kardus pakaian bayi.

    Kegiatan peduli saudara-saudari di Lamanele didasarkan cinta kasih Kristus Sang Penebus dan solidaritas yang nyata.  Kegiatan ini adalah bantuan yang ketiga. Kegiatan pertama terjadi pada Rabu, (7/4/2021) dan kegiatan kedua Jumat, (16/4/2021). Kegiatan pertama dan kedua ini dilakukan oleh Pater Maksi Woga, CSsR selaku superior komunitas.

    Dalam kegiatan ketiga ini, prioritas utamanya adalah pendampingan trauma healing (penyembuhan trauma) kepada anak-anak korban bencana. Frater Handri Uma, CSsR, sdr. Angga selaku fasilitator kegiatan bersama rombongan bergembira dan bermain bersama anak-anak selama satu jam, yakni pukul 15.30 -16.30 WIT.

    Kegembiraan nampak di wajah anak-anak. Semangat dan antusias anak-anak sangat bagus. “Kalau frater bilang Lamanele, Adik-adik harus menjawab, kita harus bangkit!” Anak-anak menyambut dengan satu suara: “Siap frater.” “Lamanele…” “Kita harus bangkit!” Jawab anak-anak dengan suara melengking dan kompak. Sore itu terasa syahdu bagi anak-anak, para pengungsi, sukarelawan dan donatur. Di akhir kegiatan itu, anak-anak diberi hadiah berupa susu, permen dan makanan ringan.

    Kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi makam saudara-saudari yang telah dipanggil Tuhan akibat banjir yang terjadi pada Minggu, 4 April 2021. Rombongan berdoa mohon keselamatan jiwa dan kekuatan serta ketabahan bagi keluarga yang masih hidup.

    Rasa penasaran akan tempat bencana mengantar kami untuk melihat tempat kejadian banjir dan longsor di Lamanele. Dari pantauan kami, batu-batu besar masih ada di jalur longsor. Lebar jalur longsor sekitar 150 meter.  Beberapa rumah selamat karena berada persis di bibir jalur kiri dan kanan longsor. Pasokan sandang dan pangan untuk korban cukup banyak dan memenuhi kebutuhan beberapa bulan ke depan. Yang sangat dibutuhkan saat ini adalah realisasi pembangunan rumah dan penyembuhan trauma (trauma healing) bagi keluarga yang masih hidup.

    Rombongan kembali ke penginapan pada pukul 18.00 WIT. Menurut Pater Maksi Woga, CSsR selaku superior, “kegiatan memberi bantuan, bermain dan bergembira bersama korban dan anak-anak ini adalah bagian dari penyembuhan trauma. Setidaknya, kita masih melihat kegembiraan di wajah anak-anak di tengah duka karena keluarga yang meninggal.”

    Kontributor: Fr. Handri Uma, CSsR