Pada Minggu (25 April 2021), Kongregasi Redemptoris Indonesia komunitas Flores Timur, memberi bantuan kepada korban bencana di Desa Nelelamadike, Kecamatan Ileboleng, Adonara, Kabupaten Flores Timur. Oleh warga setempat lebih dikenal sebagai Lamanele. Bantuan yang diberi berupa pakaian dewasa dan balita; susu dan minuman kepada anak-anak. Pakaian dibagi menjadi 50 paket kantong dan satu kardus pakaian bayi.

Kegiatan peduli saudara-saudari di Lamanele didasarkan cinta kasih Kristus Sang Penebus dan solidaritas yang nyata.  Kegiatan ini adalah bantuan yang ketiga. Kegiatan pertama terjadi pada Rabu, (7/4/2021) dan kegiatan kedua Jumat, (16/4/2021). Kegiatan pertama dan kedua ini dilakukan oleh Pater Maksi Woga, CSsR selaku superior komunitas.

Dalam kegiatan ketiga ini, prioritas utamanya adalah pendampingan trauma healing (penyembuhan trauma) kepada anak-anak korban bencana. Frater Handri Uma, CSsR, sdr. Angga selaku fasilitator kegiatan bersama rombongan bergembira dan bermain bersama anak-anak selama satu jam, yakni pukul 15.30 -16.30 WIT.

Kegembiraan nampak di wajah anak-anak. Semangat dan antusias anak-anak sangat bagus. “Kalau frater bilang Lamanele, Adik-adik harus menjawab, kita harus bangkit!” Anak-anak menyambut dengan satu suara: “Siap frater.” “Lamanele…” “Kita harus bangkit!” Jawab anak-anak dengan suara melengking dan kompak. Sore itu terasa syahdu bagi anak-anak, para pengungsi, sukarelawan dan donatur. Di akhir kegiatan itu, anak-anak diberi hadiah berupa susu, permen dan makanan ringan.

Kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi makam saudara-saudari yang telah dipanggil Tuhan akibat banjir yang terjadi pada Minggu, 4 April 2021. Rombongan berdoa mohon keselamatan jiwa dan kekuatan serta ketabahan bagi keluarga yang masih hidup.

Rasa penasaran akan tempat bencana mengantar kami untuk melihat tempat kejadian banjir dan longsor di Lamanele. Dari pantauan kami, batu-batu besar masih ada di jalur longsor. Lebar jalur longsor sekitar 150 meter.  Beberapa rumah selamat karena berada persis di bibir jalur kiri dan kanan longsor. Pasokan sandang dan pangan untuk korban cukup banyak dan memenuhi kebutuhan beberapa bulan ke depan. Yang sangat dibutuhkan saat ini adalah realisasi pembangunan rumah dan penyembuhan trauma (trauma healing) bagi keluarga yang masih hidup.

Rombongan kembali ke penginapan pada pukul 18.00 WIT. Menurut Pater Maksi Woga, CSsR selaku superior, “kegiatan memberi bantuan, bermain dan bergembira bersama korban dan anak-anak ini adalah bagian dari penyembuhan trauma. Setidaknya, kita masih melihat kegembiraan di wajah anak-anak di tengah duka karena keluarga yang meninggal.”

Kontributor: Fr. Handri Uma, CSsR