Selasa, April 13, 2021
More
    BerandablogHalaman 14

    Gereja Sumba Masuk Babak Baru

    0

    Uskup Edmun diharapkan bisa menjadi gembala yang baik dan lebih dekat dengan umat sehingga kehidupan menggereja di Sumba menjadi semakin maju.
    Upacara tahbisan kemarin dihadiri oleh Duta Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Leopoldo Girelli, Kardinal Julius Darmaatmadja,  22 uskup, empat orang vikjen, sekitar dua ratusan imam, Ketua KWI, Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya dan Nyonya Lusia Adinda Lebu Raya, Ketua Gereja Kristen Sumba (GKS), tujuh pastor dari tarekat Redemptoris dari Jerman dan satu bruder, pimpinan Redemptoris Propinsi Santu Clemens Belanda,  para pendeta, tokoh-tokoh agama dan ribuan umat Katolik di  Sumba.

    Hadir juga Bupati dan Wakil Bupati  Sumba Barat Daya, Bupati Sumba Tengah, Bupati Sumba Barat, Bupati Sumba Timur, Bupati Lembata, dan Bupati Sikka, dan ribuan umat Katolik Sumba.

    Uskup Edmund Woga, CSsR menggantikan Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD yang pindah dan menjadi Uskup Maumere. Uskup Edmund adalah imam Redemptoris pertama di Indonesia yang diangkat Tahta Suci Vatikan menjadi uskup. Mgr. Kherubim bertindak sebagai uskup pentahbis, didampingi Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr (Uskup Agung Ende), dan Mgr. Johannes Pujasumarta, Pr (Uskup Bandung).k

    Sudah sejak pukul 07.00 Wita lapangan upacara tahbisan di Seminari Sinar Buana, dijejali sekitar delapan ribuan umat dan undangan lainnya. Misa pentahbisan dimulai pukul  09.00 Wita hingga 13.00 Wita.

    Beberapa umat yang ditemui oleh Pos Kupang di tempat upacara berharap agar tugas pengembalaan dari uskup baru bisa diwujudkan dengan penuh kasih kepada semua umat. “Sebelumnya saya ucapkan selamat kepada uskup baru. Kami menyimpan banyak harapan pada beliau, khususnya untuk menjalankan fungsi pengembalaan secara konkrit. Umat yang berada di stasi dan paroki-paroki ingin mendapat pelayanan. Kalau bisa kunjungi kami secara rutin, mungkin seminggu sekali,” kata Gabriel Balla Bili, umat dari Paroki Kererobbo.  

    Harapan yang sama juga diutarakan Ketua Lingkungan Santu Agustinus, Paroki Roh Kudus Weetebula, Yoseph Kalumbang. “Harapannya, semoga dengan adanya uskup baru kehidupan Gereja Katolik di keuskupan ini bisa lebih berkembang pesat. Dan umat bisa menerima pelayanan yang maksimal. Untuk itu perlu ada kerja sama yang seimbang antara gereja secara institusi dengan umat, saya juga ucapkan selamat buat uskup baru kita,” kata Yoseph yang ditemui secara terpisah di tempat itu.

    Umat lainnya, seorang siswi kelas III SMA, Ferdiana Mahoga, berharap agar umat di keuskupan itu semakin merasakan fungsi penggembalaan. “Saya hanya melihat semua umat di keuskupan ini bisa digembalakan dengan baik. Karena kita hanyalah domba-domba yang butuh bimbingan. Selamat buat uskup baru,” kata Mahoga dengan polos.

    Uskup Kherubim pada sapaan awalnya mengatakan bangga dengan uskup baru. “Saya bangga bisa mentahbis uskup pengganti saya saat ini,” kata Mgr. Kherubin.  Beliau berharap momen tersebut bisa menjadi babak baru bagi kehidupan gereja yang semakin mengimani Yesus dan berkarya penuh kasih.

    Sedangkan Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr dalam kotbahnya mengatakan, uskup baru telah termotivasi oleh rahmat penebusan, dan rahmat itu harus ditularkan kepada semua umat. “Rahmat penebusan yang telah diterima hendaknya ditularkan kepada semua umat. Allah yang menjamin keselamatan yang paripurna, dan sekarang telah dititipkan ke pundak Mgr. Edmund untuk disebarkan ke semua umat di keuskupan ini,” kata Mgr. Vincentius.

    Setelah ritus pentahbisan, uskup baru diperkenalkan kepada seluruh umat yang hadir. “Saudara-saudara sekalian, Keuskupan Weetebula kini mempunyai seorang uskup baru yang akan memimpin umatnya untuk mempersatukan kita pada  Kristus. Inilah uskup kita, Mgr. Edmund Woga,” kata Mgr. Vincentius disambut tepuk tangan meriah dari semua umat serta pekikan payawau.  (*)



    Artikel ini telah tayang di pos-kupang.com dengan judul Gereja Sumba Masuk Babak Baru, https://kupang.tribunnews.com/2009/07/17/gereja-sumba-masuk-babak-baru.

    Redemptoris Ubah Wajah Sumba

    0

    Kisahnya panjang. Adalah Pater Herman Leemker, SJ yang merupakan misionaris yang pertama kali menjejakkan kaki di Pulau Sumba pada tahun 1885. Saat itu dia berusia 32 tahun. Pastor dari ordo Jesuit ini bisa menginjak tanah Sumba atas jasa Tuan Samuel Ros. Samuel Ros ketika itu adalah kontrolir Belanda di Waingapu pada tahun 1866 sampai 1873. Setelah itu dia diangkat menjadi Residen di Ternate. Lalu menjabat sebagai Residen Kupang pada tahun 1883, menggantikan Sikman. Tahun 1884 dia pindah ke Batavia, penggantinya di Kupang adalah W. Greve. Di Batavia inilah, Samuel Ros bertemu dengan Mgr. Claessens, dan membicarakan rencana kunjungan seorang pastor ke Pulau Sumba. Setelah pembicaraan tersebut, Mgr. Claessens mengirim surat ke Pater Kraayvanger, SJ untuk melakukan kunjungan tersebut. Namun kondisi kesehatan Pater Kraayvanger tidak dalam keadaan yang bagus. Karena itu tugas itu dialihkan ke Pater Herman Leemker yang ketika itu bertugas di Atapupu, Belu. Tanggal 31 Juli 1885, tepatnya pada Hari Raya Santo Ignatius Loyola, pendiri Serikat Jesus (SJ), Pater Herman berangkat ke Kupang dengan menumpang kapal asap Sumbawa. Tiba di Kupang, dia menghadap Residen Greve untuk menyampaikan rencana perjalanannya. “Sebaiknya pater pulang saja ke Atapupu. Tetapi kalau pater tetap bertekad ke Sumba, jangan masuk ke pedalaman karena di sana belum cukup aman,” nasehat Greve saat itu. Namun Pater Herman tetap bertekad ke Pulau Sumba. Dia berlayar menggunakan kapal Sumbawa. Sebelum ke Sumba, dia singgah di Rote. Tanggal 4 Agustus tahun 1885, dia berangkat dari Rote dan mendarat di Waingapu beberapa hari kemudian. Sejak saat ini benih iman bertumbuh dan berkecambah di Sumba. Menyusul kemudian datang Pater B. Schweitz, SJ dan Br. W. Busch pada tanggal 21 April 1889. Bersama lima teman Jesuit lain mereka berkarya di Sumba Barat selama 9 tahun dan mempermandikan 1054 orang. Pada tahun 1898 para pastor SJ meninggalkan Sumba atas keputusan pimpinan SJ di Yogyakarta karena tenaga mereka dibutuhkan di Jawa yang dianggap sebagai daerah misi yang lebih subur. Selama 23 tahun berikutnya, 1898-1921, umat Katolik di Sumba tidak mendapat pelayanan pastoral sama sekali. Mengisi kekosongan itu, pada tahun 1921 para misionaris SVD dari Flores diizinkan mengadakan kunjungan pastoral di Sumba tiga kali dalam satu tahun. Pastor SVD yang sangat berpengaruh dan berjasa saat itu adalah Pater Hendrikus Limbrock, SVD. Pastor dari Jerman inilah yang memindahkan pusat kegiatan Gereja Katolik dari Pakamandara ke Weetebula, tepatnya di daerah perbukitan (Gereja Katedral Weetebula sekarang). Selain Pater Hendrikus, ada seorang bruder yang bernama Arnoldus yang juga sangat berjasa. Menurut tokoh masyarakat Weetabula, Laurens Nani Boeloe (80), bruder SVD tersebut saat itu bekerja sebagai tukang kebun merangkap sebagai peternak dan arsitek. Bruder itulah orang pertama yang memperkenalkan kepada masyarakat Sumba tentang batu putih dari gunung sebagai bahan utama untuk mendirikan bangunan. Dalam perkembangannya, pastor-pastor SVD banyak yang datang. Antara lain Pater Yohanes Wolters, SVD, Pater Pit de Zwrap, SVD, Pater Alwisius de Rechter, SVD, Pater Vikerman, SVD, Pater M. Krol, SVD, dan Pater Muisenberg, SVD. Menurut Laurens, yang kepada Pos Kupang, Rabu (15/7/2009), para pastor ini semuanya berkebangsaan Belanda. Setelah mereka menata kehidupan gereja dan pendidikan di Sumba, pada tahun 1960an, ditahbiskan imam pertama orang Sumba, yakni Dominikus Rua Dapa, Pr. Tetapi putra asal Loura, Sumba Barat Daya ini tidak bertugas di Weetebula. Dia bertugas Melolo, Waingapu lalu pindah ke Sumbawa dan menghembuskan nafas terakhir di sana. Sedangkan pastor pribumi pertama yang berkarya di Weetebula adalah Yakobus Modo, SVD sekitar tahun 1980-an. Tokoh masyarakat lainnya, Stefanus Malo Ngogo, menuturkan, saat pertama kali para misionaris datang ke Sumba, masyarakat di daerah itu masih berpegang teguh pada ajaran marapu. Ini menjadi salah satu hambatan bagi misionaris Katolik. Namun sejalan dengan perkembangan waktu, banyak penganut marapu akhirnya menerima permandian dan masuk Katolik. Diserahkan ke Redemptoris Sejak tahun 1929 hingga 1957 karya misi SVD di Sumba mengalami perkembangan yang menggembirakan. Terdapat tujuh pastor dan satu bruder melayani umat dan masyarakat Sumba saat itu. Tahun 1957 jumlah umat Katolik di daerah itu, mencapai 9.500 orang. Perkembangan dan keberhasilan SVD yang luar biasa di Pulau Flores dan Timor, serta kekurangan tenaga dan biaya untuk melayani daerah misi Sumba dan Sumbawa mendorong para misionaris dan pimpinan SVD mengajukan permohonan kepada Vikaris Apostolik Ende pada tahun 1947 agar mencari satu kongregasi lain yang dapat melayani gereja dan masyarakat Sumba serta Sumbawa secara memadai dengan tenaga yang lebih banyak. Permohonan ini disampaikan kepada Superior Jenderal Congregatio Sanctissimi Redemptoris-CSsR/Kongregasi Sang Penebus Mahakudus, atau yang lazim disebut Redemptoris di Roma yang meneruskannya kepada pimpinan CSsR di Koeln, Jerman. Pimpinan Redemptoris di Koln yang pada waktu itu masih mempunyai banyak anggota menerima tawaran ini. Maka pada tanggal 23 Juni 1955 Kongregasi Kepausan untuk Evangelisasi (Propaganda Fide) di Roma mengeluarkan dekrit berupa mandatum dan mempercayakan secara resmi gereja Sumba dan Sumbawa kepada Propinsi Redemptoris Koln, Jerman. Sejak itulah, para pastor dari Redemptoris berkarya di Sumba dan Sumbawa sampai hari ini. Kelompok misionaris CSsR pertama yang diutus oleh Propinsi Koln terdiri dari empat pastor dan satu bruder, yaitu: P. Josef Luckas, P. Georg Kiwus, P. Mario Stutzer, P. Gunter Kellermann, dan Br. Clemens (26). Mereka tiba di Waingapu dengan Kapal KPM Waikelo, pada tanggal 16 Januari 1957. Kelompok kedua tiba pada tanggal 16 Mei 1957, yang terdiri dari P. Gerhard Legeland, P. Heribert Kuper, P. Ludwig Hebert, Br. Albert Eickenbusch, dan Br. Martin Welzel. Pada tahun-tahun berikut muncul kelompok-kelompok misionaris CSsR yang lebih banyak. Penyerahan tugas misi oleh pater-pater dan bruder SVD kepada misionaris Redemptoris, dilaksanakan secara bertahap selama satu tahun mengingat misionaris Redemptoris masih baru berkarya di daerah tersebut. Serikat SVD juga menyerahkan secara cuma-cuma seluruh tanah, dan hasil pembangunan serta hak milik mereka, seperti gedung-gedung beserta inventarisnya, bengkel, ternak (sapi sebanyak 300 ekor) dan banyak lagi. Sejak awal mula Redemptoris berkarya di Sumba, mereka bertekad mempersiapkan pendirian gereja lokal yang mandiri dan dilayani oleh imam pribumi, serta dipimpin oleh uskup pribumi. Mgr. Dr. Edmun Woga, CSsR, yang ditahbiskan menjadi Uskup Weetabula hari ini, adalah imam Redemptoris pertama di Indonesia yang menjadi uskup. Dalam karyanya, Redemptoris memberikan perhatian utama pada pengembangan umat lewat pastoral parokial. Enam paroki yang sudah terbentuk di Pulau Sumba pada tahun 1957 terus dimekarkan. Jumlah gereja/kapela meningkat dalam 30 tahun pertama, dari 4 menjadi 86 gedung. Dari tahun ke tahun umat Katolik di Sumba bertambah rata-rata 3 ribu orang. Menurut statistik terakhir (2006) terdapat 23 paroki, dan 288 stasi yang ada di Pulau Sumba. Sedangkan jumlah umat Katolik sebanyak 125 ribu orang. Perhatian besar Redemptoris juga diberikan kepada pendidikan formal, melalui sekolah-sekolah. Tahun 1957 di Sumba sekolah-sekolah belum banyak yang dibangun. Hal ini yang mendorong Redemptoris membangun sekolah swasta Katolik. Dalam kurun waktu antara tahun 1957 sampai 1986 jumlah SD meningkat dari 27 buah menjadi 80, sedangkan SMP dari satu unit menjadi sembilan. Jumlah guru pun meningkat, dari 79 orang menjadi 495 orang. Tahun 1957 didirikan Sekolah Guru Agama (SGA) St. Alfonsus di Weetebula, yang kemudian dialihkan menjadi SMA. Tahun 1960 SMA Anda Luri didirikan di Waingapu. Panjang lintasan sejarah gereja Katolik di Sumba. Dalam rentang waktu setengah abad, para misionaris Redemptoris telah turut memberi warna dan mengubah wajah Sumba hingga seperti hari ini. *



    Artikel ini telah tayang di pos-kupang.com dengan judul Redemptoris Ubah Wajah Sumba , https://kupang.tribunnews.com/2009/07/16/redemptoris–ubah-wajah-sumba-.

    PENOLAKAN

    0

    PENOLAKAN

    Seorang wanita bernama Elisabeth Barrett menikah dengan seorang Penyair bernama Robert Browning. Pernikahan mereka ditentang oleh orangtuanya. Mereka sampai tidak menganggap dia sebagai anak mereka lagi.

    Dalam kenyataannya pernikahan mereka diliputi kebahagiaan dan saling pengertian. Penuh kedamaian dan kasih sayang.

    Walaupun demikian Elisabeth secara rutin menulis surat kepada orangtuanya mengungkapkan betapa dia tetap mencintai mereka. Tak ada respon apa pun atas surat-suratnya.

    Akhirnya, setelah 10 tahun relasi yang dingin ini dia menerima sebuah paket dari orangtuanya. Cepat-cepat dia membuka paket itu dengan harapan besar. Ternyata isinya adalah semua surat yang dikirim kepada mereka. Dan tak satupun surat yang dibuka dan dibaca oleh orangtuanya.

    Penolakan itu menyakitkan. Terutama jika itu dilakukan oleh orang yang dicintai dan dikasihi.

    Kisah Yesus dalam Injil hari ini adalah kiasan atau allegori yang berbicara tentang PENOLAKAN. Orang-orang pilihan yang menolak Allah dan rencana-Nya adalah bangsa Israel. Mereka diumpamakan sebagai pekerja di kebun anggur. Yang dimaksudkan adalah orang-orang Yahudi terutama para pemimpin agama.

    Allegori macam ini bukan hal baru. Sejak berabad-abad relasi antara Allah dan Orang Yahudi terjadi dalam tegangan ini. Allah selalu mencintai dan mengharapkan cinta-Nya dibalas tapi yang terjadi adalah penolakan.

    Mereka menolak harapan Allah akan hasil panenan berupa ketaatan, keadilan, kebaikan dan kesetiaan. Yang terjadi justru sebaliknya. Mereka menolak para nabi yang diutus mengingatkan dan menasihati mereka. Puncaknya mereka menolak Yesus sebagai Putera Allah. Mereka bahkan membunuh Dia.

    Penolakan kali menimbulkan murka dan kemarahan Allah. Status mereka sebagai Bangsa Pilihan, sebagai orang-orang dengan berkat istimewa dicabut oleh Allah. Privilegi mereka dihapus. “Kebun anggur” kesayangan itu diserahkan kepada orang lain untuk digarap.

    Menjadi orang dengan privilegi khusus tidak berarti orang boleh semaunya. Janji keselamatan kepada orang-orang Kristiani harus diimbangi dengan buah-buah yang dihasilkan.

    Penolakan tidak selamanya terungkap secara eksplisit atau secara verbal. Hidup tidak sesuai harapan Allah juga merupakan bentuk penolakan. Mengabaikan perintah dan larangan Allah juga berarti menolak secara tidak langsung.

    Cinta Allah bagaikan hukum gravitasi. Dia akan selalu turun. Melawan cinta Allah atau menolak Dia hanya akan membuat kita terhempas jatuh.

    (SETETES EMBUN, by P. Kimy Ndelo CSsR; ditulis di Biara Santo Alfonsus-Konventu Redemptoris Weetebula, Sumba tanpa Wa).

    Mengenang P Willy Wagener, C.Ss.R

    0

    PEWARTA PENEBUSAN YANG BERLIMPAH KEPADA MEREKA YANG TERABAIKAN

    Biarawan Redemptoris, yang mengikrarkan kaul pada tahun 1954 dan ditahbiskan imam lima tahun sesudahnya, melampaui jamannya dalam karya sosial. Ia tidak tenggelam dalam karya karitatif semata, yang karya ini tetap dilaksanakan secara pribadi sampai akhir hayatnya, namun melihat bahwa ada permasalahan mendasar di balik ketimpangan sosial dan ekonomi serta ketidakadilan masyarakat yang dilayaninya. Oleh karena itu, Rm Willy mengambil inisiatif untuk mengembangkan persekolahan sebagai cara untuk memberdayakan umat dan masyarakat. Banyak sekolah dari tingkat dasar sampai menengah didirikan atas dukungan dan dorongan dari Romo Willy. Selain itu mengambil inisiatif yang dapat disebut gerakan untuk memberikan beasiswa kepada anak sekolah dan mahasiswa yang kemudian dilembagakan menjadi Panurma (Panitia Urusan Mahasiswa Sumba). Dengan penuh perhatian mendampingi dan mengarahkan para mahasiswa di Yogyakarta pada saat Romo Willy menjadi rektor para frater Redemptoris di Wisma Sang Penebus, Yogyakarta (1975-1993). Ia sanggup membagi waktunya dengan baik untuk para frater yang menjadi tanggung jawab utamanya, umat Stasi Nandan (sekarang Paroki Nandan), mahasiswa-mahasiswi Sumba yang tergabung dalam KMKS (Keluarga Mahasiswa Katolik Sumba) dan KBS (Keluarga Besar Sumba) dan banyak orang yang membutuhkannya. Ia menjadi pembimbing rohani untuk para biawaran dan biarawati di Yogyakarta. Romo Willy melayani semua orang dari semua kalangan dan agama. Banyak pribadi yang mengalami karya ini dan sekarang telah menjadi bagian dari pelaku perubahan dalam masyarakat dan gereja, baik di Sumba maupun di tempat lain.
    Perhatian pada dunia pendidikan diberikan juga melalui pendirian perpustakaan di Stasi Nandan pada masa jabatannya sebagai Pastor Stasi. Ia mengajak sejumlah umat untuk menyediakan bacaan berupa buku-buku yang bermutu agar umat makin bertumbuh dan berkembang. Perpustakaan itu kini telah berhenti. Namun, telah membantu banyak anak dan orang pada masa itu yang belum tersedia sarana-sarana melalui internet sekarang ini.


    Bidang ekonomi juga mendapatkan perhatian yang serius dari Romo yang pernah memimpin Kongregasi Redemptoris Indonesia (CSsR) pada tahun 1967-1970 dan 1993-1996. Secara umum, Romo Willy dikenal sebagai orang yang murah hati. Hal ini tercermin dari semangat kedermawanannya untuk membantu siapa yang berada dalam kesulitan ekonomi. Romo Willy selalu mengatakan bahwa mereka yang datang adalah “Yesus” sendiri yang harus ditolong. Rupanya Romo Willy sangat menghayati spiritualitas belas kasih dalam kehidupannya. Hal ini secara penuh nampak dalam kehidupan sehari-hari baik di dalam komunitas maupun dalam karya-karya serta kebersamaan bersama umat dan masyarakat. Salah satu penghayatannya adalah dalam hal makan bersama. Romo Willy selalu mengatakan jangan memilih makanan, ambil saja, karena konfratermu akan mendapatkan sisa yang paling tidak enak dengan cara itu. Kepedulian dan keberpihakan kepada sesama memang berawal dari lingkup terkecil, dalam keseharian di komunitas.
    Sebelum dunia kita diwarnai dengan jual beli barang secara daring, Romo Willy sudah memikirkan bagaimana mengembangkan ekonomi masyarakat dan umat secara efektif. Banyak hasil karya seni dan budaya Sumba yang berupa kain tenun dan ukiran kesulitan untuk dipasarkan. Padahal, itulah cara menggerakan roda ekonomi masyarakat. Maka, tidak mengherankan bahwa Romo Willy sering membeli kain tenun dari banyak orang sembari menolong meraka. Kain-kain tersebut kemudian ditawarkan lagi kepada orang lain yang mampu membeli baik di Yogyakarta dan sampai ke tanah kelahirannya di Jerman. Inilah tantangan bagi masyarakat untuk berkembang. Selain itu, Romo Willy sangat peduli untuk membantu mereka yang berusaha hidup melalui usaha-usaha pertanian, bengkel, dan yang lainnya. Ia banyak membantu dengan memberikan modal. Namun, rupanya Romo Willy juga memiliki keprihatinan yang lebih mendalam mengenai kondisi masyarakat secara umum. Mengapa orang kecil sulit untuk mendapatkan akses keuangan? Ia belum memberikan jawaban, namun selalu mengatakan setidaknya saya melakukan sesuatu untuk mereka supaya bisa hidup lebih baik.
    Kebersamaan dalam usaha adalah hal yang penting untuk maju dan berkembang, juga secara ekonomi. Selama menjadi Pastor Stasi Nandan, Romo Willy, yang menderita sakit ginjal sampai wafatnya, mendorong koperasi kredit sebagai cara memberdayakan umat secara finansial. Romo Willy menjadi anggota yang tidak pernah meminjam uang tetapi lebih sering menjadi penyimpan uang, terutama pada awal pendirian koperasi. Dengan demikian, ia menemukan cara agar dana sosial dapat dipakai lebih tepat sasaran dan menjangkau lebih banyak orang yang membutuhkan. Setiap peristiwa yang memprihatinkan harus dilihat lebih jauh permasalahan dasar yang sebenarnya harus diatasi. Itulah yang seharusnya dilakukan. Melalui koperasi kredit, dapat setidaknya mengatasi kesulitan keuangan untuk usaha dan menghindarkan dari keterpurukan melalui kebersamaan.
    Pada titik refleksi seperti itu, yang diungkapkan ketika berkunjung ke Kantor Sarnelli, Romo Willy menegaskan bahwa syukurlah kita sudah berbuat sesuatu untuk keadilan di Sumba. Ini bagian dari pewartaan untuk memberikan pengharapan akan kebaikan Tuhan kepada setiap orang yang mengalami ketidakadilan. Dari dulu saya, memikirkan tentang penderitaan orang kecil karena ketidakadilan namun tidak tahu harus berbuat apa. Kira-kira seperti karya inilah, yang seharusnya ada, kata Romo Willy.
    Ketika melihat suasana tidak harmonis di antara gereja-gereja di Sumba, secara khusus antara Gereja Katolik dan Gereja Kristen Sumba (GKS), Romo Willy, mantan pastor paroki Wara, Waingapu 1961-1967, mengambil inisiatif untuk mencairkan hubungan. Usahanya mendapatkan tanggapan positif. Romo Willy terus mendorong kebersamaan ekumenis di antara gereja-gereja di Sumba. Ia sendiri mengambil langkah mendekati dan menawarkan kerja sama dengan gereja-gereja yang ada. Kita harus membangun semangat ekumene untuk sungguh menjadi saksi Kristus kepada masyarakat yang terpecah belah.
    Mantan Administrator Apostolik Keuskupan Weetebula (1970-1975) selalu memperhatikan alih generasi dalam karyanya. Sudah sejak ditunjuk sebagai administrator, ia menegaskan bahwa hanya untuk sementara waktu saja. Saya akan segera mencari penggantinya. Ia berkeyakinan bahwa gereja Indonesia harus dipimpin oleh puteranya sendiri yang lebih mengerti akan situasi Indonesia, secara khusus Sumba dan juga Sumbawa yang pada masa itu masih menjadi bagian dari Keuskupan Weetebula (sekarang Keuskupan Denpasar). Mgr. Haripranata SJ, akhirnya menggantikan Romo Willy sebagai Administrator Keuskupan Weetebula.
    Di samping itu, Romo Willy sangat berusaha agar tenaga pastoral gerejani berwajah Indonesia. Ia, yang pernah menjadi Magister Novisiat Redemptoris Indonesia tahun 1975, sangat memperhatikan panggilan menjadi guru agama, dan juga panggilan hidup bakti serta panggilan imamat. Banyak usaha dilakukan untuk menjamin agar pendidikan dan formasi para tenaga pastoral terlaksana dengan baik dan bermutu. Ia mendukung didirikannya IPGA (Institut Pendidikan Agama Katolik) di Padadita. Sekarang, lembaga pendidikan ini sudah tidak ada. Namun, para mantan peserta didik saat ini sebagian masih berkarya di Pulau Sumba. Gereja Katolik Indonesia haruslah dilayani juga oleh umat katolik Indonesia. Tugas saya, dan para misionaris lainnya, adalah mengantar orang untuk mengalami perjumpaan dengan Kristus. Tidaklah mungkin selamanya para misionaris yang melayani umat. Salah satu buah misi adalah tumbuhnya panggilan pelayanan untuk gereja. Romo Willy menaruh perhatian yang amat sangat untuk tersedianya tenaga imam keuskupan Weetebula yang pernah dipimpinnya. Oleh karena itu, dalam sejarah Keuskupan Weetebula tercatat bahwa para calon (frater) diosesan atau projo menjalani pendidikan yang sama dengan calon imam Redemptoris (CSsR) di Wisma Sang Penebus, Yogyakarta. Rm Marcel Lamunde dan Rm Yosef Dowa adalah hasil dari Wisma Sang Penebus, Yogyakarta.
    Semangat akan alih generasi dan sekaligus keyakinan iman akan keberangsungsan Gereja Katolik di Sumba tersirat pada surat Romo Willy kepada para sahabat dan penderma di Jerman: “Bersama saya berakhirlah kehadiran misionaris Jerman di Sumba. Tetapi tidak berarti bahwa sejarah Gereja di Sumba akan berakhir. Gereja hidup terus berkat persekutuan umat beriman yang berlimpah besarnya dan berkat pelayanan para imam, bruder dan suster gereja lokal yang terus melanjutkan karya para misionaris Jerman….” (Surat P. Wagener CSsR, 2019).
    Kenangan kebaikan dan kehidupan pribadi yang mengagumkan dari Romo Willy amatlah banyak untuk dituliskan dengan tinta emas. Namun, satu hal yang pasti bahwa semuanya itu lahir dari hidup rohani yang mendalam yang dihayati oleh Romo Willy. Kehidupan rohani sangatlah mengagumkan. Relasi dekat dengan Sang Penebus yang diwartakannya terungkap dalam tindakan dan perilakunya. Tidak ada perbedaan antara di dalam gereja dan di luar gereja. Lebih mengagumkan lagi bahwa kehidupan spiritualitas redemptoris yang bertumpu pada karya Penebusan Kristus yang melimpah dapat dihidupi secara biasa dalam kehidupan Romo Willy. Tentu tidak semua menyenangkan sesama dan orang lain. Ada titik-titik perbedaan yang dapat menimbulkan diskusi maupun konflik. Namun, Romo Willy menghadapi semuanya itu dengan senyum dan sangat sering mengemukakan pertanyaan retoris yang ditujukan kepada sesama yang tentunya juga dirinya. Pada titik inilah, kesaksian terdalam bagi para konfrater dan umat beriman serta setiap orang yang berkehendak baik.
    Dalam keheningan dunia yang dilanda pandemi Covid-19, Romo Willy memulai perjalanan menuju rumah Bapa di Surga.

    Selamat jalan Romo Willy, bahagia bersama Sang Penebus! Mohon doa untuk kami para penerus Pewarta Penebusan Tuhan yang berlimpah.

    Minggu, 12 April 2020, Hari Raya Paskah. Perayaan kebangkitan Yesus, Sang Penebus. Tepat 17.50, Romo Willy, menghadap Sang Penebus yang diwartakan selama hidupnya dengan penuh semangat. Selama hidupnya sebagai imam, Romo yang lahir 26 Februari 1933 di Essen, Jerman, ini mewartakan penebusan Yesus di Indonesia, secara khusus Pulau Sumba, Sumbawa dan Yogyakarta. Banyak pribadi yang mengalami sentuhan tangannya berkarya di seluruh Indonesia dan juga luar negeri.
    Kepergian Rm Willy, yang juga disapa dengan Pater Willy Wagener, meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi gereja katolik di Indonesia dan masyarakat luas. Selama hidupnya ia sangat peduli pada kehidupan bersama yang lebih baik dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Baik itu bidang rohani maupun kehidupan jasmani. Oleh karena itu, Rm Willy sangat memperhatikan kehidupan sosial dan ekonomi umat dan masyarakat. Dari situ, pendidikan mendapat perhatian yang amat sangat.

    Pater Pater Yoakim Ndelo Sampaikan Terima Kasih Kepada Jacob Nuwa Wea

    0

    Pater Provinsial Kongregasi Sang Penebus Mahakudus atau yang dalam bahasa Latin Congregatio Sanctissimi Redemptoris ( C.Ss.R) Indonesia Pater Yoakim Ndelo, menyampaikan terima kasih kepada Mantan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Almarhum Jakob Nuwa Wea.

    Pernyataan Pater Kimi C.Ss.R sapaan Pater Pater Yoakim tersebut disampaikan pada sambutan usai perayaan Ekaristi Syukur imam baru Pater Lovink L. Wea C.Ss.R , Jumad (4/1/2019) di Kapela St Petrus Kotakeo, Paroki St. Yosep Raja dimana Kapela tersebut juga dibangun atas bantuan Almarhum Yakob Nuwa Wea dan umat Stasi Kotakeo.

    Pater Kimi mengatakan almarhum Yakob Nuwa Wea pada sebuah kesempatan saat di Jakarta ketika rekan Imannya dari Redemtoris yakni Pater Simon Tenda,C.Ss.R akan mendirikan Gereja Katolik di Wara, Waingapu, Sumba Timur orang yang pertama ditemui adalah Yakob Nuwa Wea yang saat itu menjadi Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia.

    Ia menyebutkan bantuan dari Yakob Nuwa Wea maka Gereja Katolik Wara yang merupakan Gereja termegah di Pulau Sumba kokoh berdiri.

    Kepada C.Ss.R juga keluarga Almarhum Yakob Nuwa Wea juga mempersembahkan putra mereka yang adalah ponaan Kandung dari Almarhum Yakob Nuwa Wea yakni Pater Vinsensius L. Wea menjadi Imam dari Konggergasi Redemtoris tersebut.

    “Terima kasih kepada keluarga ini yang mempersembahkan Putra terkasih dalam sebuah kongregasi misionaris
    Santo Alphonsus Liguori .Terima kasih banyak untuk Pak Yakob Nuwa Wea untuk kasih setianya,” ujar Pater Kimi, seperti dalam siaran pers yang diterima POS KUPANG.COM, Selasa (9/1/2019).

    Ia mengatakan anggota kongregasi, imam Katolik, dan biarawan yang dikonsekrasi, dikenal sebagai Redemptoris, yang diasosiasikan dengan gambar Bunda Maria Penolong Abadi dan secara global berkarya di lebih dari 77 negara di seluruh dunia.

    Pater Kimi juga mengatakan Imam baru yakni Pater Lovink bertugas di Australia yang bergabung Provinsial Osiania dimana meliputi Wilayah Australia dan New Zeland sejak Mey 2018 untuk menjadi Imam Misionaris di Australia.

    Dari Kabupaten Nagekeo baru ada tiga orang imam Redemtoris yakni Pater Simon Tenda asal Mauponggo, Pater Silfester Nusa asal Ndora, Nangaroro dan Pater Lovink asal Kotakeo.

    Di hadapan Bupati Nagekeo dr Yohanes Don Bosko Do diharapkan pula kedepan ada anak muda asal Kabupaten Nagekeo untuk bergabung dengan Konggergasi Redemtoris.

    Kepada imam baru Pater Lovink dikatakan bahwa menjadi Imam karena karena Anugerah Tuhan sehingga kehidupan yang penuh kejutan harus dijalani dengan baik mengikuti jalan Tuhan.

    “Tuhan yang memulai karya baik bagimu Dia pula yang akan menyelesaikan . Jangan selesaikan sendiri. Biarkan Tuhan yang menyelesaikan. Kita ikut apa Tuhan atur, “katanya.

    Sementara itu Bupati Nagekeo dr Johanes Don Bosko Do dalam sambutannya mengatakan Kotakeo mempunyai pesan sejarah sebagai bekas pusat kerajaan Keo.

    Kotakeo juga menghasilkan sejumlah tokoh seperti Yakob Nuwa Wea yang mempunyai karya di luar seperti Gereja di Sumba.

    Ia mengatakan menjadi Imam di abad 21 sekarang menurutnya bukan soal jumlah tetapi mutu karena kalau soal teknis sudah mulai terkikis oleh kemajuan dunia sehingga keteladanan hidup yang penting.

    Dirinya juga meminta agar kaum muda perlu berpaling untuk melawan derasnya arus globalisasi dengan menjadi Imam Tuhan.

    Sementara Imam baru Pater Lovink C.Ss.R dalam sambutannya mengatakan bahwa dirinya ditahbiskan menjadi imam bersama 5 orang temannya di Australia.

    Ia mengatakan keluarga telah menjadi malaikat untuk perjuangan untuk menjadi Imam serta konggergasi yang berperan luar biasa hingga menjadi Imam.

    Panggilan kudus menjadi imam menurutnya akan juga kuat dan bertahan hingga akhir hayat juga tentunya pula membutuhkan doa dari semua pihak.(Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Gordi Donofan)

    Ket: Suasana perayaan misa syukur perdana tahbisan imam baru Pater Lovink di Kapela St. Petrus Kotakeo, Paroki Raja, Kabupaten Nagekeo.

    Kaul Kekal Putera-Putera Konggregasi Sang Penebus Mahakudus (C.Ss. R): “Marilah dan Kamu akan Melihatnya”

    0

    Dihadapan Tuhan para umat yang hadir 12 (duabelas) frater Redemptoris dengan penuh penyerahan diri mengangkat janji dan sumpah kesetiaan kepada Allah dengan dalam misa pengikraran kaul kekal di gereja St. Alfonsus Maria de Liguori, paroki nandan, Jogjakarta, jumat, 27 juli.

    Misa yang dihadiri oleh 300an lebih umat ini berlangsung dengan khidmat dan lancar. Misa dipimpin oleh Rm.Yoakim Rambaho CSsR dan didampingi oleh para pastor konselebran.

    Rm. Sabastian Ani Dato, CSsR yang membawakan khotbah mengajak para yubilaris untuk berani menjadi saksi Kristus yaitu mampu menjadi tanda dan sarana kerajaan Allah ditengah dunia dengan mewujudkan persaudaraan sejati.

    Setelah misa Syukur dilanjutkan dengan acara ramah tamah dengan seluruh undangan. Peristiwa ini merupakan suatu sukacita yang mendalam untuk kongregasi ini.

    Kongregasi Sang Penebus Mahakudus (Congregatio Sanctissimi Redemptoris) disingkat C.Ss.R. Kongregasi C.Ss.R didirikan oleh St. Alfonsus Maria Yohanes Fransiskus Kosmas Damianus Michael Angelo Gaspara de Liguori pada tanggal 9 November 7132 di Scala, Italia Selatan.

    Nama Kongregasi diresmikan pada tanggal 9 Desember 1748. Kongregasi berpusat di Italia. Saat ini kongregasi C.Ss.R sudah tersebar di seluruh dunia (70 negara) dengan 41 Propinsi, 21 Vice Propinsi, 10 Kategori dan 7 daerah misi. Kongregasi C.Ss.R masuk Indonesia sejak tahun 1957 dari Propinsi Koln, Jerman.

    Peristtiwa penting mengenai Peristiwa Penting Redemptoris (C.Ss.R) Indonesia sungguh menarik. Pada tanggal 15 Januari 1957 yang lalu, lima misionaris Redemptoris asal Propinsi Koln-Jerman tiba di Waingapu-Sumba Timur.

    Ini merupakan peristiwa bersejarah karena mereka mengambil alih tugas pengembalaan umat Katolik Sumba-Sumbawa dari misionaris SVD. Tahun 2007 yang lalu juga, Kongregasi Redemptoris Indonesia memperingati 50 tahun karyanya di Indonesia.

    Proficiat untuk para Yubilaris dan Kongregasi Sang Penebus Mahakudus (C.Ss.R).

    Lebih lanjut, setelah ramah tamah dengan seluruh umat, Rm. CSsR yang mewakili para Yubilaris mengucapkan Puji Syukur kepada Yesus Kristus sang Penebus dan Bunda Maria yang selalu menolong menyertai perjalanan panggilannya dan memohon doa restu para umat agar mampu melaksanakan panggilan Tuhan dengan semangat kesetiaan pada Allah.

    Fr.Gusti selaku rekan adik angkatan merasa senang dan bangga kepada kakak-kakak tingkatnya yang telah berhasil ia berharap waktuNya akan juga ingin berhasil menjadi Imam bekerja diladang Tuhan dengan sukacita.

    Kongregasi Redemptorist Jamin Keberlangsungan Yayasan Pendidikan Anda Luri

    0

    Kongregasi Sang Penebus Maha Kudus (Congregatio Sanctissimi Redemptoris, CSsR) yang identik dengan sebutan kongregasi Redemptorist memastikan akan berupaya optimal untuk keberlangsungan Yayasan Pendidikan Anda Luri, sebuah lembaga yang menaungi, mengelola dan membina sejumlah institusi pendidikan mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Pulau Sumba, NTT. Hal itu diungkapkan oleh Pater Willy Ngongo Pala, CSsR, kepada para awak media di Waingapu, Sumba Timur (Sumtim) dalam konferensi pers, Senin (21/10) lalu.

    Pater Willy yang juga menjabat sebagai Direktur Misi Umat Redemptorist Indonesia ditanyai wartawan dalam moment puncak peringatan HUT ke-60 SMA Katholik Anda Luri, pasca digelarnya misa syukur dan reuni akbar 60 angkatan di SMA tertua di bumi Marapu – Humba itu.

    “Sebagai bagian dari redemptorist yang mewartakan penebusan berlimpah, tentunya kami berkomitment pasca kami terima dari Yapnusda (Yayasan Pendidikan Nusa Cendana – dulunya menaungi sekolah – sekolah Katholik di Sumba, – red)dalam situasi yang belum stabil namun perlahan kami mencoba melihat bahwa kondisi itu menjadi bentuk keprihatinan dari kami terhadap apa yang kami sebut perhatian dan kepedulian kepada mereka yang berada dalam kondisi paling miskin dan terlantar,” tandas Pater Willy di pelataran ruang-ruang kelas di SMA yang berada di Wara – Waingapu itu.

    Masih kata Pater Willy, di Anda Luri sebagai tempat ideal untuk pembentukan jati diri ke arah yang positif bagi generasi masa depan. Karena menurut yang dipahaminya sejauh ini, orang muda adalahh kelompok yang paling renan dalam hal keterlantaran dan kemiskinan. Dan itu bukan hanya di daerah perang atau konflik namun juga dalam ragam kondisi.

    Pater Willy yang kala itu didampingi oleh Martha Hebi selaku Sekretaris Tim Adhoc Ikatan Alumni SMA katholik Anda Luri, kembali menegaskan komitmen kongreasi yang didirikan oleh Santo Alphonsus Ligouri di Scala, dekat Amalfi, Italia, 09 November 1732 silam.

    “Kami para redemptorist sudah pasti memberikan support penuh untuk keberlangsungan Anda Luri. Jika ada keluarga besar redemptorist tentu kami juga bagian dari keluarga besar Anda Luri. Dan wajah redemptorist baik atau buruk, salah satunya di Anda Luri. Tentu sebagai kongregasi besar di dunia kami jamin dan berkomitmen untuk keberlangsungan karya penebusan itu, keprihatinan dan kepedulian tetap lestari untuk menghasilkan orang atau pribadi yang terdidik dan mau juga mendidik pribadi lainnya lewat karya-karya danatau pengabdiannya selepas dari Anda Luri,” pungkasnya.

    Deo Locuples Redemptionis: Bersama Tuhan, Penebusan Berlimpah!

    0

    Hari ini Gereja memperingati Santo Alfonsus Maria de Liquori, Uskup dan Pujangga Gereja.

    Alfonsus lahir di Marianella, Napoli, Italia, 27 September 1696.

    Ia adalah seorang jenius. Bayangkan, dalam usia 16 tahun, ia meraih gelar Doktor Hukum di Universitas Napoli.

    Setelah tiga tahun menjadi imam, pada 9 November 1732, ia mendirikan Congregatio Sanctissimi Redemptoris – Kongregasi Sang Penebus Maha Kudus.

    Pada usia 66 tahun, ia diangkat menjadi Uskup Agata. Ia meninggal pada 1 Agustus 1787.

    Santo Alfonsus Maria de Liquori adalah Pendiri Kongregasi Sang Penebus Maha Kudus atau CSsR.

    Santo Alfonsus adalah orang kudus yang dikaruniai Allah dengan kotbah yang menarik dan mendalam, sehingga ia sangat disukai umat.

    Rahasia kedalaman kotbahnya bukan berasal dari kecerdasan otaknya dalam mengutak-atik atau merangkai kata-kata yang indah dan menarik, tetapi justru berpangkal dari pengalaman hidup doanya, pengalaman hidup dengan Yesus.

    Hari ini Gereja memperingati Santo Alfonsus Maria de Liquori, Uskup dan Pujangga Gereja.

    Alfonsus lahir di Marianella, Napoli, Italia, 27 September 1696.

    Ia adalah seorang jenius. Bayangkan, dalam usia 16 tahun, ia meraih gelar Doktor Hukum di Universitas Napoli.

    Setelah tiga tahun menjadi imam, pada 9 November 1732, ia mendirikan Congregatio Sanctissimi Redemptoris – Kongregasi Sang Penebus Maha Kudus.

    Pada usia 66 tahun, ia diangkat menjadi Uskup Agata. Ia meninggal pada 1 Agustus 1787.

    Santo Alfonsus Maria de Liquori adalah Pendiri Kongregasi Sang Penebus Maha Kudus atau CSsR.

    Santo Alfonsus adalah orang kudus yang dikaruniai Allah dengan kotbah yang menarik dan mendalam, sehingga ia sangat disukai umat.

    Rahasia kedalaman kotbahnya bukan berasal dari kecerdasan otaknya dalam mengutak-atik atau merangkai kata-kata yang indah dan menarik, tetapi justru berpangkal dari pengalaman hidup doanya, pengalaman hidup dengan Yesus.